
Pria itu terdiam sejenak dan mempersilahkan mereka bertiga masuk ke dalam.
"Kalian berdua tunggu di luar. Hanya sebentar saja," ucap Bianca.
Mau tidak mau, kedua lelaki itu menunggu sang ratu di depan rumah
"Yang mulia jauh-jauh ke sini pasti ada sesuatu bukan?" ucap Jacob menyerahkan secangkir teh kepada sang ratu.
Jacob Barouske, salah satu komandan dalam 5 'Great Wall' Pemimpin pasukan Aspendia.
Setelah Kerajaan Durtan dikuasai oleh Black Hole yang tentu dibantu oleh Ratu Bianca dengan membawa pasukannya ke sana.
Dan Komandan Baraouske lah salah satunya yang dikirim ke sana. Ia memutuskan pergi tanpa jejak setelah perang itu terjadi dan tidak ada kabar sama sekali.
Berkat bantuan Jenny, sang malaikat, Bianca bisa menemukan Komandan Baraouske dengan cepat.
"Aku ingin bantuan kepadamu, Komandan."
Lelaki paruh baya itu hanya diam saja.
"Sebenarnya... Ada yang aku bicarakan mengenai misiku yang datang ke sini untuk mencarimu."
"Apa itu, yang mulia?" tanya Jacob. Bianca melihat pantulan dirinya di secangkir teh yang ia belum minum.
"Aku diagnosa penyakit yang sangat langka. Aku memiliki satu tahun tersisa selama aku hidup."
"Tolong!! Tolong aku untuk mewujudkan misiku kali ini!!" Bianca berdiri dan memohon kepada Jacob.
"Kenapa harus aku? Kenapa tidak lain?" tanya Jacob langsung ke poinnya.
"Aku sedang mencari keempat lainnya. Untuk itu-UHUUKK!!"
"Kau baik-baik saja, yang mulia?" tanya Jacob khawatir melihat ada darah di telapak tangan sang ratu.
"Aku baik-baik saja," lelaki itu menghela nafas panjang.
Sementara itu, Patrick dan Aaron berjongkok bersama sambil berteduh di teras rumah Jacob.
"Astaga... Tempat ini panas sekali..." keluh si malapetaka itu sambil mengipas badannya yang kepanasan.
"Katanya sebentar, tapi kenapa lama sekali sih?"
"Sabarlah... Dia sedang bernegosiasi dengan pria itu," jelas Patrick.
"Hei, penyihir... Aku mau bertanya sesuatu kepadamu," Patrick melirik ke arah malapetaka dengan ekspresi penasaran.
"Kenapa kamu bisa ada di dimensi ini?"
Ia memalingkan wajahnya ke arah depan sambil berkata, " Aku juga tidak tau. Kamu, kenapa kamu bisa ada di sini? Ini bukan dimensi kita berdua."
"Sama. Aku juga tidak tau kenapa aku bisa di sini," kemudian mata ekornya beralih ke arah daun pintu yang masih tertutup.
"Aku tiba-tiba terbangun dan sudah berada di sini karena klienku memanggilku," tiba-tiba pintu terbuka membuat kedua pemuda tersebut bangkit berdiri.
"Ayo kita pulang," mereka berdua menoleh ke arah Jacob yang ikut keluar membawa 2 tas berukuran besar.
"Kenapa kalian lihat, anak muda?"
"Yang mulia... Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Patrick kebingungan.
"Komandan Baraouske akan kembali ke istana."
"Apa?!" mereka berdua dibuat terkejut dengan pernyataan sang ratu.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Bianca langsung membuka portalnya dan berjalan dengan santainya, mereka bertiga langsung menyusul sang ratu dan memasuki ruang portal tersebut.
...****************...
"Kemana Gerda?" tanya Bianca kepada Kay saat Kay dan sang ratu salju sedang makan malam.
"Aku tidak tau, yang mulia. Dari tadi aku terus berada di perpustakaan."
Bianca menaruh sedikit kecurigaan kepada bocah lelaki itu. Biasanya mereka berdua selalu bersama.
Tetapi, niatnya diurungkan. Jangan berpikiran negatif, Vina. Bisa saja Kay dan Gerda ingin sendiri-sendiri.
Lagipula, usia mereka sudah mulai mandiri.
"Calius..." panggil sang ratu kepada kepala pelayan itu.
"Iya, yang mulia?"
"Tolong panggilkan Gerda di kamarnya atau di tempat latihan," perintah Bianca kepada laki-laki itu.
Calius menurut sang ratu dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana dengan pelajaranmu, Kay?" tanya Bianca basa-basi.
"Lancar, yang mulia. Aku sudah menguasai sihir tingkat 3," Bianca yang mendengarnya dibuat takjub dengan pencapaian Kay.
Kay bisa menguasai sihir tahap 3 begitu cepat, tetapi kekurangannya, ia tidak bisa menguasai bidang bela diri dan fisik. Kebalikannya dengan Gerda yang menguasai bela diri dan fisik, tetapi lemah dengan sihir.
"Yang mulia..." tiba-tiba Calius datang menghampiri sang ratu.
"Gerda..." mendengar nama Gerda Bianca dan Kay saling menoleh ke arah Calius.
"Gerda diculik, yang mulia."
...****************...
"Ini gawat..." ujar Jacob setelah membaca surat tersebut.
"Yang mulia... Lebih baik kita minta bantuan dari lain-"
"Aku akan pergi sendiri," jawab Bianca tegas.
"T-tapi yang mulia... Yang mulia tidak boleh ke sana sendirian. Mengingat kondisi anda..."
Bianca menatap Calius tajam.
"Calius... Di surat ini, aku disuruh mengambil Gerda sendirian. Aku akan baik-baik saja."
"Komandan Baraouske," panggil Bianca kepada komandan di depannya.
"Bisakah kamu mengantarkan surat kepada 'dia'."
"Dia?" ucap Jacob kebingungan.
"Kau akan tau setelah melihat alamat pengirim."
"Kalian berdua," Patrick dan Aaron menatap ke arah sang ratu.
Bianca menatap ke arah dua lelaki itu sebentar, kemudian ia berkata, " Jaga Kay dan istana."
"Kau akan pergi ke sana?" tanya Aaron membuka suara.
Bianca mengangguk serius.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan menjemput Gerda dulu," tiba-tiba tangan perempuan itu ditahan oleh Aaron.
"Kau..."
Aaron menghela nafas panjang. "Kau ingin mati apa?"
"Aku akan ikut."
"Apa?!" Bianca terkejut bukan main ketika si malapetaka ingin ikut bersamanya.
"Jangan ngelak. Lihat kondisi tubuhmu yang lemah. Kalau kau mati duluan, siapa yang akan menolong Gerda?"
Bianca menepuk jidatnya sendiri. Lelaki ini... Benar-benar keras kepala sekali.
"Terserah kau saja," balas Bianca malas.
...****************...
"Jadi ini tempatnya..." gumam Aaron melihat sekelilingnya. Sebuah bekas tambang yang tidak dipakai bertahun-tahun ada di depan matanya.
Bianca dengan sibuknya mengambil 3 butir obat dan meminumnya secara bersamaan dengan obat tersebut.
"Kau tunggu di luar oke? Kalau aku ada dalam masalah yang serius, aku akan memanggil dengan ini."
Bianca meletakan sebuah earphone kepada telinga lelaki di depannya.
"Apa ini?" tanya Aaron bingung sambil memegang earphone yang dipasang oleh sang ratu.
"Benda ajaib. Diam dan tunggu di sini."
Bianca berjalan meninggalkan malapetaka sendirian di luar dan memasuki gedung terbelangkai di dekat mereka.
Aaron menghela nafas panjang dan mencopot earphone yang sudah dipasang oleh Bianca.
Kepalanya miring sedikit sambil memandang benda kecil tersebut. Ini seperti....
"Earphone?" gumamnya tiba-tiba.
Lalu ia memasang kembali ke telinga kanannya dan melihat sekeliling. Ini sudah waktu malam hari dan pencahayaan sangat minim sekali.
Hanya mengandalkan sinar bulan yang tentu saja tidak seterang dengan lampu atau lilin.
Kedua matanya menyipit ketika sebuah suara di earphonenya berbunyi.
"Cepat sekali..." ucapnya heran. Ia segera memasuki ke dalam gedung tersebut untuk mencari sang ratu.
Sementara itu, Bianca sedang bersembunyi di salah satu pilar sambil ngos-ngosan.
Ia sudah menduga kalau penculik itu mendatangkan anak buahnya.
Untung saja ada Jenny yang bisa memback-up kondisi tubuhnya yang lemah dan Aaron yang akan segera datang untuk menolongnya.
"Dimana kau, ratu salju?" ucap si penculik itu dengan lantangnya.
Ia melirik ke arah sebuah tumpukan pasir yang menggunung. Kemudian ia meniup tumpukan pasir itu hingga menjadi debu yang berterbangan ke semua ruangan.
"APAAN INI?!!" Teriaknya yang kesulitan melihat sekelilingnya.
Kesempatan!! Bianca berlari menghabisi seluruh anak buahnya tanpa tersisa hingga debu pasir itu menghilang, semua anak buahnya langsung terpental dengan lemas.
"Kau..."
"Dimana Gerda?"
__ADS_1