Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 12 : Allan


__ADS_3

"Oke sudah cukup latihannya, anak-anak," ucap Oscar sedikit teriak kepada Kay dan Greda.


"Kalian boleh istirahat dulu."


"Baik!!" seru mereka senang.


"Bagaimana perkembangan mereka?"


"Ah!! Yang mulia! Mereka berdua mampu mengikuti arahan dari saya dengan baik, masalahnya..."


"Masalahnya apa, Oscar?" tanya Bianca heran. Oscar membisikan sesuatu kepada sang ratu.


"Sudah kuduga..." balas Bianca memakluminya.


"Bagaimana kelanjutannya, yang mulia?"


"Ajarkan latihan dasar terlebih dahulu. Aku tidak mau mereka lemah dalam fisik dulu."


"Baik, yang mulia," balas Oscar dan memerintahkan Kay dan Greda berlatih.


Calius berjalan mendekati sang ratu dan membisikan sesuatu. Bianca yang mendengarnya sedikit terkejut dan langsung menoleh ke arah Calius.


"Orang itu datang lagi?" tanya Bianca. Calius mengangguk benar.


Maunya apa sih tuh orang batinnya berjalan meninggalkan tempat latihan dengan terburu-buru.


Kay yang melihat kepergian Bianca begitu lama. " Kay... Ada apa?"


Kay menoleh ke arah Greda. " Akhir-akhir ini yang mulia terlihat sibuk."


"Namanya juga sebagai ratu. Tugas dia sangat besar," jawab Oscar membalas perkataan.


"Memangnya tugas yang mulia sangat banyak?" Oscar mengangguk benar.


"Benar. Tugas yang mulia sangat besar, memimpin rakyat. Itulah dia terlalu sibuk akhir-akhir ini."


"Oke kita lanjutkan latihan kalian."


"Siap, Pak!"


"Kenapa kamu datang lagi, hah?" tanya Bianca memasang wajah tidak senang.


Allan tersenyum kecil. " Bagaimana dengan hadiah kemarin?"


"Hadiah?"


"Iya, hadiah berupa kertas itu? Yang mulia tidak membukanya?" Seketika Bianca tersadar sesuatu.


"Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini, jadinya aku tidak membuka hadiah dari anda."


"Tidak apa-apa, yang mulia. Saya paham anda begitu sibuk karena anda adalah pemimpin negara ini," setelah itu mereka berdua terdiam cukup lama.


Bianca sibuk dengan gaunnya, sementara Allan sibuk memperhatikan sang ratu.


KENAPA DARI TADI LIAT-LIAT KE GUE SIH??!!


Bianca berdeham sejenak. " Ada lagi yang kau sampaikan?"


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?"


"Jalan-jalan?"


Kini mereka berdua sedang pergi jalan-jalan di pusat kota.


"Sesuai dugaan, kota ini sangat ramai dan harmonis. Anda telah berhasil menciptakan negara ini dengan sejahtera."

__ADS_1


"Terima kasih atas pujiannya, tuan..." Allan menoleh ke arah Bianca menunggu kelanjutannya.


"Ah... Maafkan saya. Karena saya baru bangun tidur, saya jadi tidak bisa mengingat nama anda."


"Bangun dari tidur panjang?"


"Iya. Saya bangun dari tidur panjang dan seketika saya tidak mengingat pelayan pribadi saya, dan lainnya."


Mereka berdua masih jalan bersama, hingga Allan menjawab, " Allan."


"Apa?"


"Panggil saja Allan. Itu namaku."


Bianca menatap lelaki di sebelahnya dengan tatapan terpukau. " Allan, ya... Aku akan ingat," gumam Bianca kecil, tetapi Allan sudah mendengar perkataan perempuan itu.


"Berarti yang mulia juga tidak mengingat tentang penyerangan waktu itu?"


"Penyerangan apa?" Allan menghela nafas panjang. " Ternyata benar..."


"Benar apa?" tanya Bianca penasaran.


"Tidak apa-apa, yang mulia," mereka berdua melanjutkan perjalanan ke sebuah taman kota.


Walaupun taman kota dipenuhi salju dan jarang tanaman-tanaman yang tumbuh dedaunan bahkan bunga sekalipun, masih kelihatan indah di mata Bianca.


"Indahnya..." gumam Bianca memuji keindahan taman kota kerajaan ini.


Alla menoleh ke arah Bianca dan bertanya, " Kenapa indah? Tidak ada tanaman yang tumbuh di sini."


Bianca menjawab, " Tapi di mataku, tempat ini sangat indah. Enak aja lihatnya," Allan melihat Bianca tersenyum dengan manis.


Bagi pria itu, ini pertama kalinya seorang ratu salju menujukkan senyumnya yang manis di liat tugasnya sebagai ratu.


"Tidur?" tanya Allan kaget dan bingung apa yang ia dengar. Bianca langsung menutup mulutnya.


Ia sampai kecoplosan ngomong begitu karena senang melihat pemandangan taman kota yang serba putih. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Allan.


"Apa yang mulia capek? Kita bisa pulang begitu."


Bianca memandang pria itu tanpa menujukkan ekspresi sama sekali. Kenapa pria itu mengkhawatirkan sang ratu?


"Aku tidak apa-apa...Apa itu Ice Skating?" Bianca menunjuk ke sebuah lapangan ice skating kepada Allan.


"Sepertinya seru," Bianca mengajak Allan untuk mencoba ice skating.


Baru mencoba, Bianca langsung terjatuh. Allan tertawa membuat Bianca kesal. " Tertawa doang, tapi tidak dibantu."


"Ok, ok..." Allan meraih tangan ke arah Bianca dan perempuan itu memegang tangan Allan.


Pria berambut hitam itu mengangkat tubuh Bianca untuk berdiri.


"Anda baik-baik saja, yang mulia?"


"Aku baik-baik saja," ucapnya sambil menempuk gaunnya.


"Ayo kita lanjutkan lagi..." kata Bianca sambil berlari menggunakan ice skating.


"Lagi?" tanya Allan sedikit syok.


Ini pertama kalinya bagi seorang Allan melihat sang ratu salju bersemangat. Terutama soal ice skating.


Laki-laki itu terkejut lagi saat sang ratu terjatuh, udah gitu posisinya tidak bagus lagi.


"Astagaaa... Bikin repot aja," gumam lelaki itu sambil membantu sang ratu bangkit berdiri.

__ADS_1


Bukannya nangis atau apa, justru dia langsung tertawa karena tingkah lucu dirinya. Seketika Allan langsung tertegun melihat sikap unik dari Bianca.


"Kita pulang saja, yang mulia."


"Lahh.. Padahal lagi seru-serunya!!"


"Tapi bukankah tugas anda masih banyak?" Bianca menghela nafas panjang.


"Kapan-kapan kita main ke sini lagi."


"Serius?!" Bianca menoleh ke arah Allan dengan wajah bersinar.


Allan mengangguk mantap.


"Pokoknya kamu harus ngajak aku ke sini."


"Iya, yang mulia."


...****************...


"Yang mulia sudah pulang?" tanya Kay dan Greda berlari menghampiri sang ratu.


"Ada apa ini? Kenapa kalian semangat sekali?" tanya Bianca bingung.


"Lihat ini!" mereka berdua menujukkan sebuah kerajinan tangan dari es berbentuk mirip dengan sang ratu.


Bianca yang melihat itu dibuat terpesona dengan hasilnya. "Woaahh!! Kalian yang membuat ini?"


"Iya. Paman juga membantu kami."


Si malapetaka itu? batin Bianca.


"Ngomong-ngomong... Kakak itu siapa, yang mulia?" Greda menunjuk ke arah Allan.


Allan tersenyum ramah kepada Greda dan Kay. "Perkenalkan nama saya Allan."


Di tempat lain, Decius terbangun dari tidur siangnya. Setelah membantu 2 bocah itu, ia memutuskan untuk tidur karena kecapekan.


Ia bangkit dari kasur sang ratu dan berjalan menuju ke jendela. Ia melihat seorang pemuda berambut hitam sedang bersama dengan Bianca dan 2 bocah itu.


Decius mempertajamkan kedua matanya ke arah Allan. Terutama dengan kalung yang memiliki bentuk yang tidak asing baginya.


"Ahh... Anak ini ternyata bagian dari kelompok itu. Sudah lama tidak melihat anak-anak itu," ia tersenyum menyeringai.


Decius penasaran siapa pria berambut hitam itu.


"Kamu melihat apa?" tanya Bianca tiba-tiba membuat Decius sedikit terkejut.


Perasaan sang ratu berada di sana?


"Pemandangan yang indah," balas Decius asal.


Bianca hanya mendengus saja, kemudian ia mendekati lelaki itu. "Oh ya, terima kasoh sudah membantu mereka membuat patung es."


Bianca meletakan patung es dirinya berukuran kecil di atas meja riasnya.


"Berterima kasih?"


"Bagaimana dengan tugasmu?"


"Ah itu..." Decius menujukkan sebuah rekaman sihir kepada sang ratu.


"Apakah ini cukup?" balas lelaki itu kepadanya.


Bianca tersenyum puas sambil mengangguk. "Kerja bagus."

__ADS_1


__ADS_2