
"Ahh... Aku paling benci dengan tempat ini..." keluh seorang pemuda dengan lantang.
"Kau keluh juga tidak akan orang respon ke kamu, Richard," balas Chris ketus.
Sementara Allan yang berada dalam satu kelompok dengan Chris maupun Richard hanya bisa diam saja.
"Kita harus mulai darimana dulu?" tanya Chris kepada Allan di belakangnya.
"Terserah kamu saja," balas Allan cuek.
Mereka bertiga berada di sebuah padang rumput yang sangat luas. Karena mereka berada di posisi berdekatan dengan 3 desa yang mereka tuju, Chris menentukan kalau mereka akan pergi ke desa yang paling kanan, kemudian ke kiri.
Desa Alpha, desa yang penduduknya hanya sekitar 300-an orang dengan bangunan dan suasana yang sangat tradisional.
Ketiga laki-laki itu berjalan sambil melihat sekeliling.
"Tempat ini... Benar-benar sangat jauh dengan kawasan utama kerajaan."
"Memang secara lokasi, 3 desa itu sangat jauh dengan wilayah kerajaan. Untuk itulah misi kita mempererat hubungan 3 desa tersebut," jelas Chris.
Mereka bertemu dengan kepala desa yang sudah menyambut mereka di depan gerbang desa tersebut.
"Selamat datang di desa kami, tuan-tuan sekalian."
Kepala desa itu mempersilahkan ketiga pria itu masuk ke dalam desa itu.
"Maafkan kami yang tidak mempersiapkan kedatangan anda."
"Tidak apa-apa. Kami datang hanya sebentar saja dan pergi lagi ke desa sebelah."
Setelah acara penyambutan dan pembahasan tentang kerja sama, mereka bertiga melanjutkan perjalanan lagi ke Desa Omega.
Sama dengan Desa Alpha, mereka juga disambut oleh kepala desa dan membicarakan hal yang sama dengan desa sebelumnya.
"Selanjutnya, Desa Delta..." ucap Chris berjalan menuju desa berikutnya.
"Astaga... Ternyata membahas hal-hal seperti ini benar-benar capek sekali," ujar Richard sambil menguap dengan lebar.
"Ngomong-ngomong... Batu kristal itu tampaknya mulai bereaksi," Chris dan Allan berhenti berjalan dan langsung menoleh ke arah pemuda itu.
"Batu Kristal Admend maksudmu?"
"Ya... Masa batu kristal yang lain," balasnya dengan santai.
"Tau darimana batu itu akan bereaksi?" tanya Allan tiba-tiba.
"Saat kamu sedang pergi ke istana beberapa hari yang lalu, batu itu langsung bereaksi."
"Ya baguslah..." jawab Chris sambil berjalan lagi disusul oleh Allan.
"Tapi... Batunya agak aneh."
"Apa maksudnya dengan batunya aneh, Richard?"
Richard hanya menggaruk kepalanya terlebih dahulu kemudian ia menjawab. "Batunya bereaksi aneh.... Biasanya kalau batu kristal bereaksi kan warnanya kuning terang, tapi pas aku dan Vero ke sana, warnanya menjadi abu-abu."
__ADS_1
"Abu-abu?" Richard mengangguk mantap. "Ketua sudah tau hal ini, makanya dia meminta Vero dan Bastian menyelidiki kasus itu."
"Batu kristalnya menjadi abu-abu..."
"Berarti ada yang tidak beres dengan batunya."
"Oh! Tampaknya kita sudah sampai di Desa Delta."
Berbeda dengan Desa Omega dan Desa Alpha, Desa Delta berlokasi cukup jauh dengan kedua desa tersebut dan bisa dibilang bahwa desa itu adalah desa paling pelosok karena aksesnya sangat jauh dengan jalan utama.
"Silahkan diminum tuan-tuan. Anda pasti capek selama perjalanan ke sini," ucap seorang nenek yang meletakan 3 cangkir kepada ketiga pria di depannya.
"Kita langsung intinya saja..."
"Tunggu! Sebelum membahas penting, ada yang saya sampaikan kepada kalian."
Mereka bertiga saling pandang satu sama lain. "Anda ingin menanyakan apa?"
Ia menyerahkan sebuah kotak kepada mereka bertiga.
"Apa ini?" tanya Richard kebingungan.
"Bukalah..." Chris mengambil kotak tersebut dan membuka kotak pemberian kepala desa itu.
"Ini..."
"Permata Biru Aspendia?"
"Darimana anda mendapatkannya?" kepala desa itu hanya bisa diam saja.
"Ini adalah hadiah pemberian ratu Aspendia terdahulu. Nenek moyang saya sudah menyimpan ini dari dulu."
"Ratu Bianca dalam masalah..."
"Ratu... Ratu dalam masalah?" ucap Allan bereaksi.
"Coba lihatlah batu permata itu," tunjuk kepala desa itu ke arah batu permata itu.
"Kalian tau kan batu itu biasanya bewarna biru, tetapi akhir-akhir ini batunya menjadi hitam dan retak dimana-mana."
Richard mengambil kotak itu sambil meneliti lebih dalam. "Benar... Batunya menjadi lebih rapuh dan menghitam."
"Ini persis dengan Batu Kristal Admend."
"Batu Kristal Admend katamu..."
"Iya... Batu Kristal Admend juga mengalami perubahan reaksi," balas Allan kemudian.
"Sudah kuduga... Pasti ada yang tidak beres dengan 'ini'."
" Maksud 'ini' itu apa, kepala desa?"
Dia tidak menjawab lebih dulu, kemudian ia memandang ke arah Chris. "Beritahu ke ketuamu tentang ini. Bahwa ada yang tidak beres dengan kedua batu itu."
"Kalian harus cepat menanggapinya sebelum kejayaan kalian akan runtuh lebih cepat daripada perjuangan kalian mendapatkan kejayaan kalian sendiri."
__ADS_1
...****************...
"Kita harus menuntaskan sebelum kejayaan kita akan runtuh... Aku bingung dengan maksud kepala desa Delta itu."
"Aku juga..." balas Chris berjalan pulang.
"Oh! Bagaimana dengan sang ratu salju itu. Tampaknya ada hubungannya dengan Desa Delta sebelumnya."
Chris dan Richard saling menoleh ke arah Allan bersamaan.
"Kenapa kalian memandangku terus?"
"Kami butuh jawaban," balas Chris dengan polosnya.
"Mana aku tau!! Mungkin saja hubungan mereka sudah terjalin ratusan tahun bahkan saat jaman ratu sebelum Ratu Bianca menjabat."
Chris menghela nafas panjang. "Lebih baik kita akan melaporkan terlebih dahulu kepada ketua."
Setelah sampai di markas, mereka bertiga bertemu dengan ketua Organisasi Black Hole.
"Apa katamu... Batu Permata Aspendia juga berubah?"
"Iya, pak. Kepala desa di Desa Delta memberikan batu tersebut kepada kami."
Kotak itu kini sudah berada di hadapan sang ketua.
"Ada lagi?" tanya sang ketua kepada mereka bertiga.
Mereka saling berpandang satu sama lainnya. "Sebenarnya... Kami dapat semacam 'petunjuk' bahwa kita harus bertindak lebih cepat menangani kasus batu kristal tersebut sebelum organisasi ini akan runtuh."
Sang ketua masih diam sambil berpikir sejenak. "Kalau kasus itu... Biar saya saja yang melakukannya."
"A-apa?!"
"Kalian bertiga boleh pergi."
Tanpa basa-basi, mereka bertiga segera pergi meninggalkan ketua sendirian di ruang kerjanya.
"Tumben sekali ketua langsung turun tangan dengan kasus itu."
"Maksudnya batu kristal itu?" tanya Chris dan dianggukin oleh Richard.
"Ya... Mungkin saja ketua ingin menyelidiki batu itu sendirian. Tapi..."
"Ini pertama kalinya aku melihat ketua tidak mencarimu, Allan."
Allan melirik ke arah Chris dan berdeham sejenak. "Oh ya... Benar juga katamu, Chris. Tumben sekali ketua tidak mencarimu. Biasanya setiap kita selesai dalam misi, ketua memanggilmu."
"Baguslah..." jawab Allan sambil berjalan meninggalkan kedua pria itu.
Saat dalam perjalanan, Burung Pheonix, peliharaan Allan tiba-tiba datang menghampiri lelaki itu.
"Ada apa..." burung itu memberi laporan kepada lelaki itu lewat telepati dan ia membulatkan bola matanya dengan lebar.
"Apa katamu?!" ia segera berlari keluar dari markas tersebut dengan buru-buru.
__ADS_1
Sementara itu, Vero dan Adelyn berpapasan dengan Allan dan hendak menyapanya, tetapi tampaknya pemuda itu sedang buru-buru pergi.
"Tampaknya dia buru-buru... Dia mau kemana, ya?" tanya Adelyn penasaran. Vero hanya bisa diam sambil memperhatikan kepergian Allan yang sudah menjauh dari mereka.