Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 17 : Kekhawatiran Bianca


__ADS_3

Bianca menghabiskan Teh Bunga Cassonia hingga habis. Ia menghela nafas panjang. Setelah rapat itu, Bianca merasa pusing dan ingatan-ingatan buram langsung muncul.


Tampaknya ia harus memberitahu kepada Tuhan. Ada yang tidak beres dengan tubuh ini.


Setahuku, tubuh Bianca terbilang kuat daripada tubuh Annastasia Girdadez 2 tahun lalu. Tapi entah kenapa rasa pusing itu sering muncul 1-2 kali dalam 2 minggu.


Kadang besok, kadang 2 minggu. Apa Bianca mengalami darah rendah?


Kayaknya ia harus memanggil dokter istana deh.


"Calius... Tolong panggilkan dokter istana ke sini," Calius sedikit terkejut, tetapi ia menuruti perkataan Bianca.


Setelah Calius pergi, ia bangkit berdiri dan berjalan-jalan bolak-balik.


*Apa aku panggil Tuhan saja?


Ahh!! Gak dehh... Gue masih belum memanggil Tuhan untuk saat ini*


Tiba-tiba dokter istana datang dan langsung mengecek kondisi tubuh ratu.


"Anda sering pusing?" Bianca mengangguk benar.


"Apa karena darah rendah?" tanyanya kepada dokter.


Dokter itu tampak berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, " Selain pusing, ada gejala lain, yang mulia?"


Bianca menggelengkan kepalanya.


"Kalau merasa tiba-tiba pusing, perkataan anda benar, yang mulia. Anda mengalami darah rendah."


Dokter itu menyerahkan obat penambah darah dan penghilang pusing kepada Bianca.


"Untuk sementara anda istirahat dulu. Saya permisi, yang mulia."


Bianca duduk sambil melihat obat-obat yang diberikan oleh dokter.


"Kau sudah selesai rapatnya?" Mendengar suara Aaron, Bianca langsung menyembunyikan obat di belakang tubuhnya.


"Ooh... Rupanya kamu."


Lelaki itu mendekati Bianca dan menyilangkan kedua tangannya. " Ku dengar kamu dan kelompok itu merencanakan sesuatu."


"Kamu mendengarnya?" tanya Bianca melirik ke arah Aaron.


"Kamu tidak mengenalku siapa aku sebenarnya?" ucapnya berbangga diri.


Bianca memutar bola matanya dengan malas. "Terserah kau saja."


"Oh ya... Aku lihat ada dokter keluar dari kamarmu? Kamu sakit?"


"Hah?" tanya Bianca bingung dan bangkit dari kursinya.


"Ohh... Bukan apa-apa?" ucapnya kecil. Secara mengejutkan Bianca hampir terjatuh ke arah lantai.

__ADS_1


Aaron segera menangkap sang ratu dan menanyakan kepada dia. " Kamu baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja," balasnya cepat-cepat berdiri dan segera menuju ke kasur.


"Aku ingin tidur. Jangan ganggu aku oke."


Aaron berdiri dan mengamati tingkah Bianca yang tertutup itu. Apa yabg sedang terjadi?


Sementara itu, Kay dan Greda sedang makan malam bersama Oscar dan beberapa pasukan lainnya di ruang makan prajurit istana.


Aaron mendekati mereka dan duduk di sebelah Greda.


"Kelihatannya enak sekali," ujar lelaki berambut perak itu.


"Paman cobalah makan ini," ucap Kay memberi sebuah daging berukuran besar kepada Aaron.


"Yang mulia tidak ikut makan bersama?" tanya salah satu prajurit istana.


"Memangnya yang mulia suka makan makan bersama di sini?" Semuanya mengangguk kompak.


"Ya. Tiap hari malahan."


"Dia lagi istirahat," ucap Aaron kecil. Greda yang mendengar suara Aaron merasa khawatir dengan Bianca.


Di tempat lain, Bianca menghela nafas sambil memandang ke arah atas langit kamar. Dia tidak bisa tidur.


Calius datang dengan membawa makanan untuk sang ratu. " Yang mulia, makanlah dulu, setelah itu yang mulia bisa istirahat."


"Calius... Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu."


"Apa itu, yang mulia," ucapnya dengan sopan.


"Kamu bilang kalau kamu sudah bekerja di sini selama 25 tahun, bukan?"


"Ya, yang mulia. Ada sesuatu yang aneh, baginda ratu?"


Bianca terdiam sejenak, kemudian ia menggelengkan kepala tanda tidak apa-apa.


"Kalau begitu saya akan menjenguk ke ruang makan pasukan istana terlebih dahulu," pamit Calius undur diri.


Bianca mengangguk mengiyakan dan Calius menutup pintu kamar sang ratu. Wanita pucat itu menghela nafas panjang.


Ini tidak sesuai rencananya. Ia bangkit dari rebahannya dan mengambil catatan-catatan yang ia sembunyikan di tempat aman agar Aaron ataupun Kay dan Greda melihat apa yang ia tulis.


Walaupun ia menulis dalam Bahasa Indonesia bukan bahasa nasional di dimensi ini, tetapi ia mencegah terlebih dahulu.


𝗕𝗲𝗸𝗲𝗿𝗷𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗕𝗹𝗮𝗰𝗸 𝗛𝗼𝗹𝗲 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗸𝗵𝗶𝗮𝗻𝗮𝘁𝗶𝗻 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮.


Bianca membaca salah satu poin rencana tersebut. Memang ia berencana untuk mendekatkan diri dengan mereka, karena sebelum Vina masuk ke tubuh ini, sang ratu asli sudah dekat dengan kelompok tersebut.


𝗣𝗲𝗿𝗴𝗶 𝗸𝗲 𝗞𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝗮𝗻 𝗔𝗹𝘁𝘂𝘃𝗶𝗮


Hmm....

__ADS_1


Ini salah satu rencana penting bagi Vina. Kenapa? Karena Kerajaan Altuvia merupakan sasaran paling empuk bagi Black Hole.


Ia harus pergi ke Kerajaan Altuvia sebelum Black Hole menyerang kerajaan itu.


Ia tiba-tiba merasa pusing dan ingatan buram kembali lagi muncul. Tetapi ini jauh lebih pusing dari tadi siang.


Ia harus menyelesaikan makanan dan minun obat sekarang.


Setelah melakukan itu, Bianca menulis sesuatu di kertas tersebut.


𝗠𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶 𝘁𝗮𝘂 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗻𝘆𝗮𝗸𝗶𝘁 𝗥𝗮𝘁𝘂 𝗦𝗮𝗹𝗷𝘂.


"Selamat tidur, paman," balas Kay dan Greda mengucap selamat tidur kepada Aaron.


Aaron tersenyum kecil dan menutup pintu kamar Kay dan Greda dengan pelan. Ia tidak menyangka kalau ia melakukan hal di luar tindakannya.


Menemani anak-anak hingga mereka ingin tidur dan mengucap selamat tidur.


Itu semua juga disuruh oleh Bianca. Akhir-akhir ini sang ratu sedang sibuk, sehingga ia tidak bisa membacakan dongeng kepada mereka.


Untuk itulah Bianca menyuruh Aaron menggantikan tugas wanita itu kepada malapetaka.


Seorang malapetaka yang terkenal jahat dan kejam menemani anak-anak kecil hingga tertidur? Itu hal yang tidak bisa ditebak.


Ia memutuskan untuk menghampiri sang ratu. Apakah dia sudah tidur?


Ia berpapasan dengan Calius, kepala pelayan di istana ini. Aaron benar-benar penasaran kenapa sang ratu hanya memperkerjakan satu orang pelayan?


"Yang mulia sudah tertidur, tuan."


"Ahh... Begitu. Terima kasih," balas Aaron dan Calius segera pergi meninggalkan lelaki berbadan tinggi sendirian.


Ia masuk ke dalam kamar dan mendapati Bianca sedang tertidur dengan tenang.


Tiba-tiba perkataan penyihir tua kemarin membuat Aaron teringat.


Ia menghela nafas kasar. Lelaki itu naik ke ranjang dan rebahan di samping sang ratu yang sedang tertidur.


Aaron memandangi wajah gadis itu dengan lembut. Bahkan ia memainkan rambut Bianca dengan hati-hati.


Rasa penasaran akan gadis di depannya semakin tinggi. Walaupun dia adalah klien, tetapi bagi Aaron ini pertama kalinya ia tertarik dengan klien ini daripada klien-klien yang lain.


Ia tersenyum tanpa disadari. Apakah ia harus melindunginya?


Tentu saja. Karena dia adalah kliennya dan itulah tugasnya.


Tetapi, di sisi lain, ia mengingat sesuatu. Ingatan yang sudah ia lupa saat ia bertatapan langsung dengan Bianca.


Ingatan tentang perang sekitar 200 tahun di sebuah ibu kota bernama Kota Ursania.


Ia mendengus kesal. Kenapa dirinya mengingat hal yang menyebalkan seperti itu?


Di sisi lain, Bianca tetap tertidur dengan tenang, bagaikan seorang putri tidur dalam dongeng.

__ADS_1


__ADS_2