
"Aku menyukaimu, Bianca," ucap Allan dengan suara rendahnya dan meyakinkan bahwa rasa cintanya itu nyata dan tidak bercanda.
Bagaimana dengan Bianca?
Vina a.k.a Bianca tentu saja bingung mau membalas apa.
Sejujurnya dia juga tidak terlalu dekat dengan Allan. Baru beberapa bulan Vina kenal pria itu.
Ah! Vina baru saja teringat sesuatu...
Allan mengira kalau wanita di depan matanya adalah Bianca asli.
Vina harus menjawab apa?
"A-aku..." Allan terdiam memandang wajah wanita itu lebih dekat dan dalam.
"Anda tidak perlu menjawab sekarang, yang mulia."
"Ma-maksud?" dia tersenyum lembut kepadanya.
"Setidaknya perasaanku kepada anda sudah tersampaikan dan itu membuatku lega."
Bianca hanya mengedipkan beberapa kali. Yah... Setidaknya tidak perlu susah-susah mencari jawaban yang pas kepada pria itu.
Di sisi lain, ada seseorang yang sengaja melihat mereka berdua di dalam. Ia memandang mereka dengan pandangan misterius.
"Kenapa anda di sini, ketua?" tanya Chris tiba-tiba melihat James berdiri kaku menghadap pintu.
"Ah... Tidak apa-apa, Chris," balasnya sambil tersenyum.
"Kenapa anda tidak masuk ke dalam sana?"
"Baru saja aku sudah keluar dari sana," ia berjalan meninggalkan Chris dan kembali ke ruangannya.
Tiba di dalam ruangan kerjanya ia duduk sambil menghela nafas panjang.
Kenapa juga harus cemburu kalau wanita itu bersama pria lain? Bahkan dia tidak ingat sama sekali kenangan Bianca dengan James.
Belum lagi dengan pria-pria lainnya di Istana Aspendia?
"Ayolah... Dia sekarang bukan Bianca."
"Memang bukan," James menoleh ke arah asal suaran.
"Kanu..."
"Anda mencariku, James?" ujar seseorang.
James mendengus sambil tertawa kecil. " Darimana saja kamu? Aku tau kau pasti sibuk."
"Sudah aku bilang kalau aku sedang sibuk."
James tidak membalas setelah itu dan orang misterius berkata lagi. " Kau pasti memikirkan ratu salju, bukan?"
James melirik ke arahnya. " Bagaimana kelanjutannya? Apakah kamu sudah menemukan lokasi dimana kelompok penculik itu berada?"
"Cih... Malah ganti topik... Aku sudah menemukannya," dia menyerahkan sebuah kertas dimana lokasi itu berada.
__ADS_1
"Kau akan pergi sendirian ke sana, James? Saat aku memasuki lebih dalam, aku merasakan bahwa mereka sangat berbahaya."
James tersenyum kecil di wajahnya. " Seperti yang aku duga. Ya aku akan pergi ke sana sendirian."
"Kamu serius?!" ucap dia tidak yakin.
"Tenang saja. Aku akan baik-baik saja dengan itu. Sudah lama aku tidak bergerak lebih banyak."
Orang itu menghela nafas. " Kau akan pergi menyelematkan Gerda sendirian?" tiba-tiba Allan datang secara mengejutkan.
"Allan?!" ucap mereka kompak.
"Benarkah itu, ketua?"
"Iya. Aku akan pergi ke sana."
"Kalau begitu biar aku yabg ikut!!" baik James dan orang misterius itu langsung menoleh ke arah pemuda berambut hitam itu.
"Kamu mau ikut?! Bagus deh kalau kamu ikut!!" jawab James dengan senyuman sumringah.
"Hah?! Allan... Kamu benar-benar ikut dengannya?" tunjuk ke arah James.
"Aku serius, Demian."
Orang misterius bernama Demian hanya menghela nafas panjang pasrah. " Terserah kalian saja deh... Tapi ingat perkataanku, mereka cukup bahaya."
"Apa kita ajak Chris, ya?" tiba-tiba James bertanya kepada Allan.
"Ya. Itu ide yang bagus, ketua."
"Hei!! Kenapa kalian tidak mendengarkanku??!"
Menurut perkataan Demian, lokasinya berada di daerah Kerajaan Altuva.
James sempat berpikir kenapa mereka tinggal di kerajaan yang terkenal dengan kebebasan itu.
"Aku tidak menyangka kalau mereka bersembunyi di daerah ini."
Mereka bertiga berdiri di depan mansion yang sudah tidak terbelangkai.
"Ayo kita masuk," ajak Chris kepada dua pria lainnya dan memasuki ke dalam.
"Baiklah... Sesuai kesepakatan kita, kamu pergi lewat belakang, sedangkan kamu pergi mengecek keadaan di samping rumah."
Chris dan Allan mengangguk kompak dan semuanya langsung berpencar.
Sementara James, ia memutuskan untuk pergi masuk ke dalam lewat pintu rahasia.
James akhirnya berhasil memasuki ke dalam mansion yang tidak dipakai lewat jendela yang sudah terbuka.
Benar-benar gelap dan pencahayaannya hanya mengandalkan sinar bulan.
Lalu ia menggunakan sihirnya untuk menerangi ruangan. Ia melihat ruangan itu kosong.
"Kenapa mereka menetap tinggal seperti ini?" ucapnya sambil berjalan menyusuri ruangan.
Tanpa sengaja, ia melihat 2 orang misterius berdiri di depan pintu. James langsung cepat-cepat bersembunyi.
__ADS_1
"Ah... Sial! Ternyata bukan dia."
"Maksudnya bagaimana?"
"Sepertinya kita keliru membawa anak itu."
Mereka keliru?!
"Kenapa bisa tau kalau kita keliru?! Tuh anak yang kita cari sama-sama dari desa situ?"
"Aku juga bingung..." mereka berdua kemudian pergi meninggalkan pintu tersebut.
Setelah mereka berdua, James langsung menghampiri pintu tersebut dan berusaha membuka pintu itu.
Setelah ia berhasil membuka kunci pintu, James membuka dan melihat sosok Gerda yang sedang duduk memeluk kedua lututnya.
"Apa kamu Gerda?" gadis itu menoleh ke arah James dan mengangguk lemas.
"Tenang... Aku akan menyelamatkanmu dari sini," James segera melepaskan ikat tangan dan kaki Gerda dan menggendong gadis kecil itu.
James melihat sekeliling mencari adanya jendela di ruangan ini dan syukurnya ada jendela berukuran sedang.
Lelaki itu segera menaiki jendela dan melompat ke bawah bersama Gerda yang sudah memeluk pria itu lebih erat.
"HEII!! SIAPA DI SITU?!"
"Sial!" ucap lelaki itu dan segera kabur dari kejaran orang-orang itu.
James berlari sambil menggendong Gerda dan melihat ke arah belakang dan betapa terkejutnya bahwa orang-orang itu masih mengejarnya dengan kecepatan penuh.
Ia makin kesal dan mau tidak mau ia memaki portal transportasi dan memasuki portal tersebut dan menghilang.
Bagaimana dengan Chris dan Allan?
James keluar dari portal dan melihat kedua pria tersebut juga keluar dari portal. " Bagaimana dengan anak-" Chris dan Allan melihat Gerda yang masih memeluk James dengan erat.
"Kau menemukannya dimana?"
"Aku kebetulan nemu saja. Bagaimana dengan kalian? Tampaknya ada yang kabar buruk bagi kalian."
"Ketua... Perkataan Demian memang benar. Mereka sangat kuat. Bahkan aku hampir ditangkap oleh mereka."
"Kamu hampir ditangkap sama mereka?!" balas Chris terkejut.
James tampak berpikir sejenak, kemudian ia berkata, " Lebih baik kita bawa gadis kecil ini ke istana."
"Tunggu!!" seru Gerda tiba-tiba membuat ketiga laki-laki itu menoleh ke arah gadis kecil itu.
"Ada apa?" Gerda tampaknya ragu-ragu mengatakan sesuatu, tetapi ia memberanikan diri mengatakan kepada mereka.
"Aku tidak sengaja mereka membicarakan sesuatu...."
".... Mereka berencana untuk mengambil kedua batu Aspendia untuk membangkitkan seseorang."
"M-membangkitkan seseorang? Siapa itu?"
Gerda melirik ke arah ketiga pria tersebut dengan malu-malu. " Ratu Demetria..."
__ADS_1
"Ratu Demetria katamu?!" ucap ketiga pria itu terkejut bukan main.
Mereka bertiga saling memandang satu sama lain. Kenapa mereka membangkitkan ibu dari Ratu Bianca?