Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 19 : Telur Naga Putih


__ADS_3

Allan berjalan memasuki sebuah mansion kalangan bangsawan. Marquis Estanol menyambutnya dengan suka cita.


"Selamat datang di rumah kami, Grand Duke. Maafkan kami yang tidak mempersiapkan kedatangan anda dengan matang."


"Tidak perlu meminta maaf, Marquis Estanol. Saya kesini dengan mendadak. Saya seharusnya meminta maaf kepada anda."


Marquis Estanol tertawa dan mempersilahkan Allan memasuki ruang tamu. Mereka berdua disambut oleh istri dan anak perempuan Tuan Estanol.


"Selamat datang di rumah kami, Grand Duke."


"Terima kasih atas penyambutannya," ujar Allan tersenyum ramah.


Mereka berempat duduk dan membahas sesuatu.


"Aku dengar putri anda akan mengadakan pesta kedewasaan, bukan?"


Putri Estanol sedikit terkejut dan mengangguk malu. " Iya. Dia akan menjadi wanita dewasa sebentar lagi."


"Dan tentu saja bersiap-siap untuk menikah," kedua orang itu saling tertawa bahagia. Allan hanya tersenyum tipis, dan anak perempuan itu hanya bisa menunduk ke bawah.


"Siapa namamu, nona?"


"S-saya..." gadis itu menoleh ke arah kedua orang tuanya yang memberi tatapan tajam ke arahnya.


"Patricia.... Patricia Alaska Estanol, Grand Duke."


Allan mengangguk paham. " Salam kenal, Nona Patricia."


Setelah menghabiskan perbincangan ringan, dua wanita itu segera pergi meninggalkan ruangan karena Tuan Estanol menyuruh mereka keluar.


Dan tinggalah mereka berdua sendirian.


"Pesta Kerajaan Arabella?" tanya tuan Estanol kebingungan.


"Ya. Sekitar 3 bulan lalu, anda datang ke sana bukan? Sayangnya saya tidak bisa hadir di sana karena urusan pekerjaan."


"Oh... I-iya. Saya pergi ke sana. Tapi kenapa anda menanyakan hal itu kepada saya?"


"Aku dengar ratu salju itu datang ke sana, bukan?"


Tuan Estanol mengangguk benar.


"Aku juga mendengar kalau ratu tertidur panjang dan..."


"Dan..." ucap Allan mendekatkan wajahnya ke arah Tuan Estanol hingga pria dewasa itu menelan ludahnya.


"Dan..."


...****************...


Allan langsung menjatuhkan dirinya di atas sofanya dan menghela nafas panjang.


Ratu salju itu tertidur panjang karena meminum wine yang sudah dicampuri dengan racun. Pelakunya sudah ditangkap dan dimasukan penjara bagian barat Aspendia.


Seharusnya Allan sudah lega sekarang dan kini, ia ingin berkunjung ke istana Aspendia. Menemui wanita yang membuat dirinya terus memikirkannya.


"Kamu..." ucap Bianca kaget saat Allan tiba-tiba datang menemui dirinya. Tentu saja dengan sihir teleportasi.


"Maafkan saya, yang mulia membuat anda terkejut."


Bianca terdiam sejenak dan menghela nafas panjang. Untung saja dirinya menyuruh Aaron pergi ke Gunung Astadia di Hutan utara untuk mencari telur naga putih.

__ADS_1


Buat apa?


Hanya dirinya dan Tuhan saja yang tahu.


"Anda ke sini untuk membahas rapat kemarin?" Bianca menyadari sesuatu saat rapat bersama Black Hole, Allan tidak menampakan diri di rapat itu.


"Ah... Bukan itu, yang mulia. Aku hanya berkunjung saja."


Bianca mengangguk saja. Kay dan Greda memanggil Bianca dan berlari ke arah dua orang dewasa.


"Oh Kak Allan!" seru mereka berdua melihat kehadiran Allan. Allan tersenyum dengan ramah.


"Ada apa kalian ke sini?" tanya Bianca dingin, tetapi bagi dua anak kecil itu sikap Bianca biasa saja.


Mereka berdua membahas sesuatu dengan semangat. Allan melirik ke arah Bianca yang terus mendengar percakapan Kay dan Greda. Wanita itu tanpa sadar tersenyum saat mereka berdua membicarakan hal konyol kepadanya.


Allan juga tiba-tiba ikut tersenyum. Senyuman wanita di sampingnya itulah membuat Allan terus kepikiran.


"Apa kamu ikut bersama kami?"


"Hah? Kemana?"


"Mereka ingin ice skating di sana. Kamu tau kan tempat itu?" Allan mengangguk tau dan lelaki itu ikut bersama mereka bertiga.


Sementara itu, Aaron menemukan telur naga putih di Gunung Astadia.


"Apakah tidak ada induknya?" tanya lelaki itu sambil melihat sekelilingnya.


Tidak ada satupun naga putih yang ada gua besar ini. Hanya telur naga putih yang terletak dengan baik di sarang naga tersebut.


"Apakah kamu ingin mengambil telurku?" Sebuah naga besar bewarna putih datang menghadap Aaron.


Naga itu terdiam sejenak, kemudian ia berkata, " Apa yang kamu lakukan di sini, malapetaka?"


Aaron tampaknya terkejut dengan perkataan naga itu.


Bagaimana bisa dia tau kalau Aaron adalah malapetaka?


"Bagaimana bisa-"


"Apakah kamu mengambil telurku, bukan?" tanya naga putih sekali lagi.


Aaron terdiam sejenak, hingga naga itu menjawab, " Kalau begitu ambilah..."


"Hah?" Aaron menujukan ekspresi kebingungan.


Apa-apaan ini?


Seharusnya naga itu tidak ingin orang mengambil telur itu, tetapi naga di depannya justru merelakan telur ini dibawa orang lain.


"Kenapa? Kenapa kamu merelakan telur ini kepadaku?"


"Bukankah kamu ingin menginginkan telur ini?"


Benar sih... Tapi bukan Aaron, melainkan kliennya.


"Kalau begitu ambilah telur dan rawatlah dengan baik."


"Tunggu!!" seru Aaron mencegah naga putih itu.


"Bagaimana denganmu?"

__ADS_1


"Tidak perlu kau khawatirkan denganku, malapetaka. Kau bisa membunuhku dan mengambil telur ini."


Aaron masih bingung dengan tujuan naga ini, tetapi sesuai keinginan sang ratu, ia harus membunuh naga putih dan mengambil telur itu segera.


"Baiklah... Kalau itu maumu," balas Aaron bersiap-siap melawan naga putih.


...****************...


Aaron membawa telur naga putih di tangannya dan berjalan memasuki istana. Entah kenapa istana terasa sepi.


Memang sepi sih karena ada dirinya, Calius, si kepala pelayan serba bisa, Ivan, koki beruang, dan pasukan-pasukan istana doang.


Ia berpapasan dengan Calius yang hendak berpapasan dengannya.


"Oh tuan sudah tiba, ya?"


"Kok di sini sepi, ya?" tanya Aaron sambil melihat sekeliling.


"Ah! itu... Yang mulia membawa tuan Kay dan nona Greda ke tempat ice skating."


Ice skating? Kenapa selalu dirinya tidak ikut bersama mereka?


"Mereka bertiga?"


"Tidak. Ada seorang pemuda berambut hitam bersama mereka."


Berambut hitam? Jangan bilang...


Di tempat lain, Bianca dan Allan sedang duduk melihat anak-anak yang senang bermain ice skating.


"Capek juga main ice skating," ujar Bianca menggerakan seluruh tubuhnya karena pegal.


"Tapi, yang mulia sudah mulai meningkat," ucap Allan sambil menujukkan jempol kepada Bianca.


Bianca tertawa kecil lalu memandang Kay dan Greda yang asik bermain dengan seduh. Allan yang berada di sebelahnya memandang Bianca dengan tatapan dalamnya.


"Seandainya aku tidak ada di sini... Menurutmu bagaimana?" tanya Bianca secara tiba-tiba.


"Maksud yang mulia apa?" tanya Allan bingung dengan pertanyaan tersebut.


Bianca langsung menggeleng-gelengkan kepala seraya berkata 'tidak apa-apa'.


"Yang mulia... Boleh saya bertanya sesuatu?"


"Boleh saja. Silahkan mau tanya apa?"


Allan menatap Bianca dengan tatapan dalamnya ke arah Bianca dan Bianca membalas tatapan itu.


"Apakah aku bisa membalas cintaku kepada seseorang?"


"Kau menyukai seseorang? Ngomong saja kalau kamu suka sama dia," jawab Bianca santai.


Kay dan Greda berlari menghampiri Bianca dan Allan. Tampaknya mereka sudah selesai bermain.


"Oh! Tampaknya mereka sudah selesai bermain..." Allan menoleh ke arah sang ratu yang sedang batuk-batukan.


"Yang mulia... Yang mulia baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa, Allan. Aku baik-baik saja. Ayo kita pulang," Bianca bangkit berdiri dan mengajak Kay dan Greda untuk pulang.


Allan ikut berdiri dengan eskpresi khawatir.

__ADS_1


__ADS_2