Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 23 : Tuhan, Engkau Dimana?


__ADS_3

Greda tampak murung belakangan ini. Ini bukan masalah sang ratu yang tertidur panjang lagi, melainkan saat dirinya, Kay, sang ratu, dan Aaron pergi ke Kerajaan Altuvia.


Kay yang selalu bersama Greda tampak khawatir dengan sahabatnya itu. Bahkan ia juga mengkhawatirkan sang ratu yang tidak kunjung bangun.


"Greda. Kamu kenapa? Apa karena sang ratu?"


Ia menggeleng lemah. " Apa karena sang putri?"


Greda menoleh ke arah Kay. " Entah kenapa..."


"Saat aku menyuruhmu pergi, aku merasakan sesuatu dengan sang putri."


"Apa itu?"


"Perasaan mual dan aura dari Putri Tashannie gelap," jelas Greda.


"Apa kamu sudah menemukannya, Kay?" Kay mengangguk dengan mantap.


"Aku menemukan sesuatu yang sangat aneh."


"Aneh?" tanya Greda kebingungan.


Bocah lelaki itu memberikan sebuah bros bewarna emas dengan permata emerald di tengahnya.


"Kamu menemukannya dimana?" tanya Greda terkejut dengan hasil penemuan Kay.


"Jangan kasih tau ke sang ratu, ya..." Greda menunggu Kay yang berusaha menyusun kata-kata.


"Aku menemukannya di kamar tuan putri," Mata Greda langsung lebar mendengar itu.


"Apa katamu?"


...****************...


Bianca memandang pria di hadapannya dengan pandangan bingung.


Tertidur panjang lagi?


Ini sudah kedua kalinya dirinya mengalami tidur panjang.


"Aku tidur panjang lagi?" Aaron mengangguk benar.


Kini Vina butuh bantuan dari sang pencipta.


Bianca menyuruh Aaron untuk keluar dari kamarnya. Ia menurut saja dan pergi keluar kamar sang ratu.


Setelah dirasa aman, Bianca berteriak memanggil Tuhan.


"Tuhan!! Dimana kamu!! Aku butuh bantuan dari kamu!!"


Bianca menunggu keajaiban atau apapun dari tuhan, sayangnya Sang pencipta belum kunjung datang.


Bianca langsung dibuat bingung dan heran. Kenapa Tuhan tidak kunjung datang?


"Aneh..." gumam Bianca dengan keheranan.


Bianca berusaha memanggil Tuhan dengan berteriak. Hingga suara dia habispun, Tuhan tidak mucul sama sekali.


Sebuah ketukan pintu membuat Bianca menoleh ke arah daun pintu. Ia segera berjalan mendekati pintu kamarnya dan membukakan pintu.


Calius muncul dihadapannya dengan wajah kebingungan. " Yang mulia, ada apa? Saya dengar anda berteriak-teriak di kamar anda."

__ADS_1


Bianca menelan ludah menahan malu. Ia segera menggelengkan kepalanya dan segera menutup pintunya.


"Yang mulia..." ucap Calius menahan pintu kamar sang ratu.


"Anak-anak mencari anda," wajah Bianca langsung dibuat kebingungan.


Kenapa mereka mencari dirinya.


Ia segera berjalan menghampiri dua anak kecil tanpa bicara sama sekali. Tentu saja karena ia kehabisan suara gara-gara teriak-teriak selama 3 jam tanpa henti.


Ia bertemu dengan Kay dan Greda. Bahkan Aaron juga ada bersama mereka. Sang ratu berjalan menghampiri mereka dan menyilangkan kedua tangannya.


Ia meng-ekspresikan tanda tanya ke arah mereka.


"Yang mulia baik-baik saja?" tanya Kay sedikit khawatir. Bianca langsung mengangguk dengan mantap.


Ia melirik ke arah Greda yang bersikap aneh. Bianca menepuk lengan Kay dan menanyakan bocah laki-laki itu ke arah Greda.


"Yang mulia menanyakan kabar dia? Dia baik-baik saja."


Sang ratu menujukkan ekspresi yang aneh ke arah Kay dan Kay langsung mengerti maksud ekspresi sang ratu.


"Yang mulia ingin berbicara dengannya?" Bianca langsung mengangguk iya.


"Greda. Yang mulia ingin berbicara denganmu," Greda sedikit terkejut dan tersadar dari lamunannya.


Greda menoleh ke arah sang ratu yang sedang berdiri menunggu dia.


Aaron menghampiri Bianca dan bertanya sesuatu kepadanya. " Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak ngomong sekali?"


Perempuan berambut putih salju itu melirik ke arah Aaron yang heran dengan tingkah Bianca.


Bianca menggelengkan kepalanya tanda dirinya baik-baik saja. " Jangan geleng-gelengkan kepala saja. Ngomong kek," Bianca mendengus kesal.


Wajah Aaron langsung memajukan ke depan dengan ekspresi bingung. " Hah? Apa?! Suaramu tidak kedengeran."


Kampret!! batin Bianca kesal.


Akhirnya Bianca membisikan sesuatu kepada Aaron hingga lelaki itu langsung paham kenapa sang ratu tidak ngomong dari tadi.


"Yang mulia. Yang mulia ingin berbicara dengan saya?" Greda menghampiri mereka berdua dan langsung menanyakan kenapa dirinya dipanggil oleh sang ratu.


Bianca mengajak gadis berusia 9 tahun itu menjauhi para lelaki itu. Biar mereka bermain di sana.


Bianca menggunakan sihir sebagai alat komunikasi dirinya dengan Greda lewat menulis di udara.


"Akhir-akhir ini kamu selalu murung. Ada apa? Ceritain kepadaku," ucap Greda sambil membaca tulisan Bianca.


"Suara yang mulia kenapa?" Bianca diam tidak menjawab. Ini semua gara-gara Tuhan yang tidak nongol-nongol sampai suaranya habis.


Bianca menulis lagi dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.


Tampaknya Greda ragu menceritakan kepada sang ratu. Bianca memiringkan kepalanya tanda masih menunggu mendengar jawaban Greda itu.


Greda menghela nafas panjang, kemudian ia menceritakan semuanya kepada sang ratu.


Setelah gadis kecil itu menceritakan semuanya kepada Bianca, sang ratu tampak berpikir keras.


Dia bilang kalau Greda merasakan sesuatu yang tidak enak pada Putri Tashannie, bukan?"


Ngomong-ngomong minggu depan dirinya kembali lagi ke Kerajaan Altuvia untuk membahas politik negara.

__ADS_1


Sebenarnya dia belum bertemu dengan Putri Tashannie secara langsung. Kemarin, ia berencana bertemu dengannya secara langsung sekaligus menjemput Kay, Greda, dan Aaron di sana.


Tetapi, saat berjalan mencari mereka, mereka bertiga datang duluan dan menyuruh sang ratu untuk pulang.


Greda memberi sebuah bros indah kepada sang ratu. " Apa ini? Bros?"


"Ini bros milik Putri Tashannie, yang mulia," ucap Greda memberikan sebuah bros kepada Bianca.


Tentu saja, Bianca terkejut bukan main. Masalahnya dia mendapat itu darimana?


Tiba-tiba Bianca merasakan sebuah mana aneh di bros tersebut.


Greda hanya diam saja. Seolah-olah dia sudah tau kalau bros ini sangat aneh.


Bianca memutuskan untuk menyimpan bros milik Tashannie. Entah kenap dia memiliki firasat buruk.


"Yang mulia..." Bianca menoleh ke arah Greda.


"Yang mulia jangan pergi ke sana. Terutama dekat-dekat dengan tuan putri."


Ia harus percaya dengan omongan Greda atau tidak?


...****************...


Di sore hari, Bianca sibuk bolak-balik di ruangan kerjanya. Tentu saja dirinya masih memikirkan kenapa Tuhan tak kunjung datang.


Apa dirinya salah manggil?


Tidak sih...


Tuhan saja suka manggil Vina tanpa aba-aba. Bahkan Vina meminta pertolongan kepada sang pencipta pun, Tuhan pun datang dengan sendirinya.


Ini benar-benar aneh...


"Dari tadi bolak-balik mulu. Kamu kenapa sih?"


Bianca menatap malapetaka dengan tatapan tajam. Aaron hanya mendengus kesal saja.


"Kalau kamu tidak menjawab, aku tidak tau apa yang kamu inginkan?" Bianca menatap Aaron dengan intens.


Dia teringat sesuatu dengan bros milik Putri Tashannie.


Bianca menujukkan sebuah tulisan sihirnya kepada Aaron yang menjelaskan bahwa ia meminta pertolongan.


Kemudian ia menujukan sebuah bros emas kepadanya.


"Hah bros?" tiba-tiba Aaron langsung tersadar sesuatu.


"Mana sangat aneh... Kamu mendapat darimana?"


Bianca tidak menjawab karena dirinya juga tidak tau bros ini didapatkan darimana.


Aaron mengambil bros tersebut dan mengamati dengan seksama. "Bros ini... Mirip sekali dengan mata si naga putih."


Naga putih?


"Aku pergi dulu. Jangan aneh-aneh,oke?"


Lah kenapa dia ngatur-ngatur Bianca?


Tetapi perempuan itu diam saja dan melanjutkan misinya.

__ADS_1


Membesarkan naga putih sebagai senjata utama di masa depan.


__ADS_2