
"Saya adalah detektif, boleh saya masuk?" petugas itu melihat lencana yang dipegang oleh Vero dengan teliti dan tiba-tiba ia melotot setelahnya.
"B-baik... Anda boleh masuk."
"Oh! Dan satu lagi..." Vero menoleh ke arah Bianca dan Giselle yang sedang berdiri di belakangnya.
"Mereka adalah asistenku, jadi mereka akan ikut bersamaku."
"Asisten?" tanya Bianca bergumam.
Tetapi mereka berdua menuruti perkataan Vero dan memasuki ruangan tersebut.
Mereka bertiga melihat seorang pria menggantung diri menggunakan tali dan sebuah kursi yang jatuh tidak jauh darinya.
Vero mengecek kondisi tubuh korban dan menemukan sebuah kertas di balik saku jasnya.
"Sebuah tiket teater..."
Ia melihat juga leher korban lebih dekat dan ia menemukan sesuatu. " Permisi... Bisakah kalian menurunkan dia ke bawah?"
Sementara itu, Bianca melihat sebuah tali yang habis dipotong dekat sebuah kotak besar.
"Kenapa ada tali perahu di gudang makanan?"
"Tali perahu?" Vero mendekatkan sang ratu dan melihat lebih dekat.
Ia melihat ke arah tali yang digunakan sebagai alat bunuh diri.
"Ternyata dia menggunakan tali ini..." ujar Bianca dan Vero segera mengecek ke arah korban dan mengecek leher korban.
"Aneh..."
"Aneh kenapa?" tanya Giselle penasaran.
"Lihat bekas di lehernya. Membiru sampai menghitam. Biasanya kalau bunuh diri tidak sampai menghitam begini. Pasti ada seseorang yang mencekik lehernya terlalu kuat."
Lalu, Vero menemukan sebuah kertas bertuliskan nama "Olivia".
"Coba kalian lihat," tunjuk Bianca ke arah pintu gudang makanan.
"Tampaknya ruangan ini dikunci dari dalam dan dibuka dari dalam juga."
Vero tampak berpikir keras.
Mungkin ini sebagai alibi. Karena ini bunuh diri, biar meyakinkan harus dikunci dari dalam.
Tetapi ada yang janggal...
"Sepertinya tidak ada barang bukti lainnya," ucap Vero bangkit berdiri dan menanyakan kepada salah satu petugas kapal.
"Siapa yang menemukan mayat di sana?"
"Dia. Dia yang menemukannya," ujarnya menuju ke arah seorang pemuda yang berdiri di sana.
Vero berjalan mendekatinya. "Apakah kamu yang menemukan korban di sana?"
"Iya. Itu saya."
"Kalau begitu boleh saya bertanya sesuatu?"
Bianca dan Giselle hanya bisa diam saja dengan rasa terpukau dengan tindakan Vero.
Rasanya melihat adegan film detektif yang ia tonton.
"Baik. Saya akan berusaha untuk menjawab."
__ADS_1
Kemudian Vero bertanya, "Kapan anda menemukan korban itu?"
"Sekitar makan siang. Satu jam setelah kapal berangkat."
Vero mengangguk dan bertanya lagi. "Apakah ada orang lain selain anda ke sini?
"Tidak ada. Hanya saya yang pergi ke sana."
"Baiklah... Ini cukup."
...****************...
"Kau sudah menemukan nama korban tidak?' tanya Vero kepada Giselle.
"Namanya Albert Ford, dia hanya seorang seniman teater yang sedang pulang kampung ke Desa Dawn Forest. Dan tempat kamarnya ada di 207."
"Kalau begitu kita harus kesana."
Mereka bertiga mencari bukti-bukti lainnya di kamar korban.
"Hmm... Sepertinya dia sedang ada masalah?" Vero dan Giselle menoleh ke arah Bianca.
"Masalah?"
"Iya. Lihatlah... Aku menemukan sebuah kertas tentang nominal-nominal hutang yang dibayar olehnya kepada seseorang."
"Berapa dia yang bayar hutangnya?"
"8 Juta."
"8 Juta katamu?" Giselle dan Vero terkejut mendengar hutang yang harus dibayar oleh Albert.
"I-itu... Itu sangat besar sekali. Apalagi pekerjaan dia seorang seniman teater saja."
"Berarti ini masalah hutang, bukan? Mungkin dia ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri," tebak Bianca.
"Tidak," Bianca dan Giselle langsung menoleh ke arah Vero.
"Tebakanmu hampir benar, tetapi tidak kemungkinan kalau dia bunuh diri karena masalah hutang yang belum dibayar."
"Coba kalian ingat, bekas leher dia menghitam. Mana ada orang bunuh diri, melompat dari kursi, lubang tali yang seukuran kepala yang bisa masuk itu sampai menghitam begitu. Itu pasti ada orang kain yang terlibat."
"Terus... Bagaimana dengan dikunci dari dalam?"
"Ah... Pertanyaan yang sangat bagus."
"Tapi, sebelum itu, ada orang lain yang ikut bersamanya?"
Giselle menggeleng. " Tidak. Dia hanya datang sendirian saja."
Bianca melirik dan menyadari bahwa ada seseorang yang mengintip mereka bertiga.
"Mau kemana kamu?" Seorang pria berusia 30-an terkejut bahwa ada seseorang yabg menyadari kehadirannya.
"Sial..." Dia segera kabur dan Bianca mengejarnya.
"Kalian berdua!! Kalian lanjutkan penyelidikannya, biar aku yang menangkapnya!"
Mereka berdua saling kejar-kejaran hingga Bianca terpaksa menggunakan sihir esnya untuk menangkap lelaki tersebut. .
"Mau kemana kamu, hah? Kau tidak bisa kabur lagi sekarang."
Bianca akhirnya kembali dengan membawa pria yang dicurigai oleh sang ratu.
"Kau sudah menemukan barang bukti lainnya?" Vero dan Giselle mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah... Sekarang kita eksekusi dia..."
"Ampuni saya, nona..."
"Kenapa kamu mengintip kita bertiga, hah?" tanya Vero to the point.
"Saya ingin bertemu dengan Albert."
"Hubunganmu dengan dia, apa?"
"Kami hanya rekan kerja saja. Dan kebetulan kampung halaman kami sama, makanya kami berangkat bersama."
"Apakah kanu kenal dengan Olivia?"
"Olivia? Maksud kamu Olivia Douglass? Memangnya kenapa dengan dia? Aku dengar dia sedang ikut bersama kami untuk pergi ke Desa Dawn Forest." .
"Dia ada di sini?"
"Dia ada di bar lantai 3."
Kemudian Vero menujukan sebuah kertas bertuliskan nominal hutang yang harus dibayar.
"Apakah kamu tau tentang kertas ini?"
"I-itu... Darimana kamu menemukannya?"
"Dari kamar ini. Tampaknya kamu tau sesuatu."
Pria itu langsung gelagapan mendengar ucapan Vero. " T-tidak... Aku tidak tau apa-apa."
"Bohong... Aku bisa tau dari wajahmu," balas Bianca tau kalau pria itu sedang berbohong.
"Beneran!! Saya tidak tau apa-apa."
"Bagaimana dengan hubungan Olivia dengan Albert?" kini Giselle mengganti topik.
"Ah... Mereka memiliki hubungan spesial. Aku dengar kalau mereka akan menikah. Dan soal hutang itu, Albert berhutang kepadanya sebanyak 8 juta untuk biaya kesehatan ayahnya. Tetapi sampai sekarang, dia belum membayar apapun."
Mereka bertiga langsung terdiam dengan kesaksian pria itu.
"Kalian berdua... Kejar dia. Biar aku yang mengurus orang ini."
"T-tunggu!! Jangan ke sana. Bisa-bisa aku akan dibunuh-"
"Sudah kuduga kalau pembunuhnya adalah dia," Giselle dan Vero segera mengejar perempuan bernama Olivia, sementara Bianca mengawasi pria tersebut.
Tiba di bar, mereka berdua bertemu dengan bartender dan menanyakan tentang Olivia.
Pria itu menunjuk ke arah seorang wanita yang sedang duduk sendirian di pojokan kanan.
"Apakah anda Olivia Douglass?"
"Iya. Itu saya."
"Sepertinya anda bersenang-senang?" tanya Giselle tiba-tiba.
"Iya. Aku sedang bersenang-senang sekarang."
"Oh ya... Apa itu?" tampaknya Olivia sedang mabuk.
"Tentu saja menyingkirkan orang bodoh yabg tidak berguna. Pria bodoh itu... Tidak pernah bayar hutangku hanya karena sibuk... "
"Dan sekarang akhirnya aku bisa menyingkirkan laki-laki berengsek itu."
"Berarti... Anda membunuhnya?"
__ADS_1
Olivia menoleh ke arah Vero dengan keadaan mabuk berat.
"Iya. Aku yang membunuhnya."