
Bianca membuka kedua matanya dan melihat Calius dan malapetaka itu memandangnya dengan khawatir.
Ia bingung kenapa mereka berdua tampak khawatir padanya? Perasaan kemarin baik-baik saja.
"Kenapa raut wajah kalian begitu?"
"Yang mulia. Yang mulia baik-baik saja, kah?"
Bianca memasang wajah kebingungan. Apa yang terjadi?
"Anda tertidur lama, yang mulia," balas Decius yang bisa mengetahui rasa kebingungan Bianca.
Lagi?!
"Berapa lama aku tertidur?"
"Seminggu, yang mulia."
"Apa yang mulia baik-baik saja, Ivan?" tanya Kay kepada koki beruang putih itu. Sudah 10 kali anak lelaki itu bertanya kepada Ivan.
Ivan dengan sabarnya menjawab, " Dia baik-baik saja-" Mereka berdua menoleh ke arah sang ratu yang sedang berjalan menghampiri dapur istana.
"Yang mulia... Ada apa yang mulia datang ke sini?"
"Aku lapar," balasnya dengan lemas. Ia berdecak dengan kecil. Bingung dan kesal kenapa ia tiba-tiba tertidur lama lagi?
Walaupun tidak selama yang pertama, ia masih merasa lemas dan lapar saat ia pertama kali datang di dunia ini.
"Tunggu sebentar, yang mulia. Saya akan buatkan makanan untuk anda," Ivan segera menghidangkan masakan untuk sang ratu.
Ia melirik ke arah Kay yang juga membalas lirikan sang ratu.
Ada aneh di sini.
"Dimana Greda?" tanya perempuan itu membuka suara.
"Dia sedang pergi ke kamar yang mulia."
"Kay!! Yang mulia menghil-" Greda berhenti di tempat saat ia melihat orang yang dicari telah ada.
"Yang mulia..." Ia berlari ke arah Bianca dan memeluknya dengan erat.
"Kami semua khawatir dengan anda."
Bianca hanya menepuk puncuk kepala gadi itu. "Tenanglah... Aku sudah bangun sekarang. Tidak perlu dikhawatirkan."
Akhirnya Greda melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya.
"Apa yang terjadi selama seminggu saat aku tertidur?"
"Tidak ada yang penting, yang mulia. Hanya saja kami sibuk menunggu yang mulia bangun."
Ini aneh...
Terakhir kali, ia sedang membaca buku alkemiah di perpustakaan selama 3 jam. Setelah membaca, ia merasa mengantuk dan memutuskan untuk tidur karena sudah waktunya untuk tidur.
Tidak ada gejala aneh pada tubuh ini.
Dan juga...
Ia bermimpi aneh tentang Bianca semasa kecil. Apa jangan-jangan mimpi itu membuat dirinya tertidur lama.
Bagaimana bisa?
"Apa saya menghidangkan di sini, yang mulia?" tanya Ivan kepada sang ratu.
"Iya. Hidangkan saja di sini."
Enaknya memiliki pekerja yang sedikit. Ia bisa masuk ke dapur dan meminta Ivan untuk memasakan makanan karena lapar.
Saking laparnya, ia malah makan di dapur. Terbiasa hidup mandiri begini.
"Kalian berdua... Apa kalian tidak latihan?"
__ADS_1
"Kami sudah berlatih yang mulia."
"Ah... Begitu. Baiklah... Setelah aku makan, kita akan belajar membaca dan menulis."
"Tapi, yang mulia... Yang mulia masih kelihatan lemas," balas Greda membuat Kay mengangguk setuju.
"Terus... Yang mengajarkan kalian siapa?"
"Si paman."
"Paman?"
Jangan bilang...
...****************...
Allan duduk di sebuah sofa panjang sambil menghela nafas berat. " Kau tampaknya kelelahan, Allan?" tanya seorang perempuan cantik menghampiri lelaki itu.
"Aku ingin istirahat dulu," balasnya sambil menutup kedua matanya.
Ia tau kalau perempuan itu pasti akan mengoceh yang tidak jelas. Entah topik apa yang dia bahas.
"Kudengar ratu salju tertidur panjang lagi," mendengar kabar itu, Allan langsung membuka matanya dengan cepat.
"Benarkah?"
Perempuan itu mendengus kesal. Gara-gara ia membicarakan wanita berambut putih itu, lelaki itu langsung merespon.
"Bella..."
"Iya. Sampai sekarang dia masih tertidur. Tidak tau kalau beliau bangun hari ini."
Allan menegakan posisi duduknya. "Terakhir dia tidur panjang saat setelah ia menghadiri pesta di Kerajaan Arabella, bukan?"
Bella mengangguk mengiyakan. "Aku mendapatkan informasi kalau sang ratu sudah menemukan pelaku membunuh sang ratu."
Allan langsung menoleh ke arah gadis cantik berambut merah-oranye itu. " Dia menemukannya?"
"Iya."
"Siapa?"
Allan mendengus kesal. " Tentu saja pelaku yang mencoba bunuh yang mulia."
"Percuma kamu menemui mereka. Pelaku sudah pasti meninggal karena dimasukan di tahanan bagian barat Aspendia."
Allan tampak berpikir sejenak. Kenapa dia batu tau kalau sang ratu dibunuh oleh kaum bangsawan dari kerajaan lain.
Pasti ada motif atau tujuan lain, bukan?
"Kamu mau kemana?"
"Jalan-jalan," balasnya kemudian ia pergi begitu saja.
Bella menghela nafas panjang. " Anak itu... Setiap kita berbicara tentang ratu salju itu, dia selalu merespon."
"Namanya juga jatuh cinta," balas seorang pemuda remaja berusia 17 tahun.
"Husshhh... Gak mungkin lah dia suka ratu salju," ucap seorang pria botak kepada pria remaja itu.
"Buktinya... Dia selalu respon kalau ada nama ratu salju."
"Sudahlah... Edward. Itu privasi dia. Mau suka atau tidak, itu bukan urusan kita."
Edward, pria remaja itu hanya mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya.
"Bagaimana dengan wilayah A.T?" tanya pria botak mengganti topik.
"Sepertinya kita harus pergi ke sana."
"Sekarang?" Bella mengangguk benar.
"Ada yang tidak beres di sana, jadi kita harus pergi ke sana sekarang."
__ADS_1
...****************...
Bianca melihat dengan seksama bagaimana so malapetaka itu mengajarkan bocah berusia 8-9 tahun membaca dan menulis.
Ia tidak percaya jika laki-laki itu bisa mengajarkan kepada anak-anak.
Pasti dia akan melakukan sesuatu yang aneh ke mereka. Awas saja!! batin Bianca siap-siap jika Decius melakukan hal aneh kepada Kay dan Greda.
"Woo... Kerja bagus! Aku tidak menyangka kalau kalian begitu cepat tanggap."
Bianca langsung terkejut.
LAHHH??!!
Decius melirik ke arah Bianca dan tersenyum mengejek ke arah wanita itu. Bianca langsung kesal.
"Yang muliaa... Lihat!!" ucap Kay dan Greda menujukan hasil karya kepada Bianca.
"Bagus!! Kerja bagus anak-" Bianca langsung terdiam mematung. Entah kenapa ada sebuah ingatan yang buram di kepalanya.
"Yang mulia..." panggil Greda tampak khawatir.
Bianca langsung menggelengkan kepala cepat dan tersenyum kepada mereka berdua seolah-olah dia baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja?" tanya sang malapetaka kepada Bianca.
"Aku baik-baik saja, kok," balasnya sibuk dengan membaca buku.
"Oh ya... Jadi bagaimana? Apakah kita jadi pergi besok?"
Bianca menoleh ke arah laki-laki itu. "Tentu."
"Beneran? Nanti seperti seminggu lalu."
"Tidak. Tenang saja," balas Bianca yakin dengan ucapannya.
"Namamu Decius, bukan?"
"Memangnya kenapa?" tanya laki-laki itu.
"Aku hanya memastikan kalau itu namamu."
"Jangan panggil nama itu," tiba-tiba Decius berkata membuat Bianca bingung.
"Lah terus panggil apa?"
"Decius adalah nama belakangku. Panggil saja Aaron."
"Aaron... Aaron Decius?" dia mengangguk mengiyakan.
Pertama kalinya Bianca mengetahui nama asli dari lelaki di hadapannya.
...****************...
Seorang wanita tua memandang Bianca dan Aaron yang sedang memakai tudung berdiri di depannya.
Wanita tua itu terkejut saat ia melihat Bianca dati dekat. " Kamu..."
"Apakah kamu adalah ratu salju itu?"
"Ya. Itu saya."
"Kau... Aku bisa merasakan..."
"Merasakan apa?" tanya Bianca bingung.
"Kau tampaknya tidak baik-baik saja."
Mereka berdua saling pandang satu sama lain. " Kami ke sini untuk mencari anda."
Wanita tua itu hanya terdiam saja dan menyuruh mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah wanita itu.
"Kalian ke sini untuk mencariku?"
__ADS_1
Bianca mengangguk benar. Akhirnya dia bisa bertemu penyihir tua yang sempat Greda hipnotis agar Greda tidak bisa keluar dari sini.
"Sebenarnya..."