Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 10 : lempar Bola Salju


__ADS_3

Kay, Greda, dan Bianca sedang jalan-jalan di pusat kota.


Hari ini Bianca diajak kedua bocah itu pergi belanja. Belanja baju mereka, alat senjata untuk latihan dan tentu saja, menikmati cokelat panas di sebuah kafe.


"Paman itu tidak diajak?" tanya Kay dengan polosnya.


"Tidak, Kay. Dia sedang menjalani tugas dariku."


Kay tidak menjawab lagi. Ia tahu diri bahwa itu urusan mereka berdua.


"Ngomong-ngomong... Paman itu siapa, yang mulia?" sekarang giliran Greda yang bertanya kepada sang ratu.


"Gelandangan," balasnya dingin.


Mereka bertiga tiba di sebuah butik.


"Selamat datang, yang mulia... Ada yang bisa saya bantu?"


"Ada katalog pakaian untuk anak-anak?"


"Tentu saja saya punya, yang mulia. Tunggu sebentar."


Penjual itu langsung tiba tidak lama setelah mencari katalog baju-baju anak.


Bianca memilih baju-baju yang pas dengan mereka. "Coba keluarin semua yang kamu punya."


"Baik, yang mulia!!"


Setelah hampir 4 jam belanja baju dan senjata untuk mereka, Bianca mengajak mereka ke sebuah kafe yang menyediakan cookies dan cokelat panas untuk mereka.


"Yang mulia tidak makan?" tanya Kay sedikit khawatir.


"Kalian makan saja, aku tidak makan,"


Emang sengaja kalau sang ratu hanya ingin melihat mereka berdua makan dengan imutnya.


Tiba-tiba Greda memberi cookies kepada Bianca. "T-tidakk... Kalian makan saja," Greda memasang wajah memelas.


Kalau memasang tampang begini, Bianca sudah kalah telak dengan gadis itu. Akhirnya ia mau pemberian dari Greda dengan disuapin dari tangan kecil gadis mungil di depannya.


Cookiesnya ternyata enak juga.


Setelah menikmati cookies dan cokelat panas, mereka akhirnya kembali ke istana.


"Lihatlah... Ada 2 anak kecil bersama ratu," Bianca merasa bodoh amat dengan perkataan orang, tetapi langkah mereka berhenti saat seorang anak kecil dengan suara kerasnya berkata, "Ku dengar mereka diculik dari desa yang di serang beberapa minggu yang lalu."


"Memang ratu benar-benar kejam, ya... Menculik tanpa bersalah karena dia sering kesepian."


"Mentang-mentang dia sendiri."


Bianca mengepalkan kedua tangannya. Benar-benar emosi. "Yang mulia..." ucap Kay khawatir.


Bianca cepat-cepat masuk ke dalam kereta sihir menyusul dua anak itu yang sudah masuk duluan.


...****************...


"Cepat juga ya kamu membawa mereka..." kata Bianca saat Decius telah tiba dengan membawa 'pelaku' yang sang ratu minta.


"Apakah kamu yang melakukannya, hm?" tanya Bianca memulai introgasi.


Dia tidak menjawab pertanyaan Bianca.

__ADS_1


"Viscount Fritza..." Mau tidak mau, Bianca menggunakan metode integrosi ala-ala film detektif yang ia tonton.


Bianca menujukkan beberapa bukti kepada Viscount Firtza.


"3 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 4, anda membeli racun Hardoksika di sebuah toko gelap."


"Ada seorang pelayan yang mengaku bahwa anda sedang memberikan racun kepada dia dengan jaminan uang."


"Bagaimana? Ada yang mau berpendapat lain?" tanya Bianca tenang.


"Kalau misalnya anda mengelak, saya kasih bukti-bukti lainnya kepada anda."


Tanpa pikir panjang, Viscount Firtza mengaku kalau tindakannya itu adalah dirinya dan mengaku salah.


"Penjarakan dia di tahanan bagian barat."


"APAA?!! ANDA TIDAK BISA MEMUTUSKAN BEGITU, YANG MULIA!! KALAU ANDA MEMENJARAKAN SAYA, KERJAAN ARABELLA TIDAK AKAN SETUJU DENGAN ANDA!!"


Bianca hanya memutar bola mata malas, ia menyuruh penjaga untuk membawa Viscount Firtza ke penjara bagian barat.


Padahal ia salah, tapi ia protes. Maunya apa sih?


Sementara itu, Decius melirik ke arah masternya dalam diam, kemudian ia menjawab, " Aku punya berita menarik buat anda."


"Apa itu?"


"Mengenai tentang bangsawan aneh tadi. Tampaknya dia bekerja sama dengan seseorang atau lebih dari dua."


"Benarkah? Apa kamu sudah menanyakan dia siapa mereka?" Decius hanya bisa mengangkat bahunya.


"Sampai aku mengancam dia mati, dia tidak mau menjawab itu."


"Kamu mau kemana?" tanya malapetaka melihat Bianca bangkit berdiri dari duduk singgasananya.


"Menemui anak-anak."


"Oh ya!! Sesuai kesepakatan, kamu bisa apakan dengan viscount itu," Bianca beranjak pergi meninggalkan altar begitupun juga dengan Decius yang pergi sesuai kemauan kliennya.


"Main?" tanya Greda dan Kay kompak dan Bianca mengangguk mantap.


"Yang mulia ingin main apa?" tanya Kay.


"Boneka salju," balas Bianca. Sebenarnya di juga tidak tau cara membuat boneka salju.


Mereka berdua saling pandang satu sama lain.


"Kenapa kita main lempar bola salju?"


"Lempar bola salju?" tanya Bianca bingung.


"Iya. Sepertinya seru deh!!"


"Ide bagus sih..." gumam Bianca mengangguk setuju.


"Tapi masa kita bermain bertiga doang?" tiba-tiba sang ratu melihat sekelilingnya. Benar juga... Cuman bertiga saja di sini, taman istana yang dipenuhi salju.


"Ah! Bagaimana dengan paman itu?"


"Benar juga. Yang mulia, bisa tidak ajak dengan paman itu?" Bianca memasang wajah masamnya.


"Tidak, ya?" tanya Kay memasang wajah sedih.

__ADS_1


"Kalian memanggilku?" tanya sang malapetaka tiba-tiba datang menghampiri mereka bertiga.


"Paman, paman!! Ayo kita main lempar bola salju!!" ucap Kay mengajak sang malapetaka main bersama.


"Hah?" tanya pria itu mengangkat alisnya.


"Main? Tidak. Maaf, ya... Aku tidak ingin ma-" perkataan dia tiba-tiba berhenti saat ia tidak sengaja menatap tatapan tajam dari ratu salju.


"I-iya deh. Aku ikut dengan kalian," ucap Decius mengalah.


Kay dan Greda bersorak gembira.


"Kelompoknya jadi 2. Kay sama yang mulia, aku sama paman."


Kay dan Bianca bersembunyi di balik tumpukan salju sebagai banteng mereka berdua.


"Sudah aman?" tanya Bianca kepada Kay.


Kay mengangguk dan mereka melihat sekali lagi, namun Mereka berdua mendapat sebuah bola salju dari kelompok Greda dan Decius.


Kay membalas ke arah Greda dan justru yang mengenai adalah Decius.


"CURAANGG!!" seru Kay kesal.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Decius kepada gadis kecil itu. Greda mengangguk kecil. Ia terpesona dengan tindakan lelaki di depannya.


"KKYAAA!!" dan akhirnya Greda kena juga.


"Kay!!"


"Tangkap aku kalau bisa!" Greda mengambil tumpukan salju dan membuat sebuah bola, ia segera berlari mengejar Kay yang sudah kabir dulu.


Decius tersenyum kecil melihat mereka berdua tampak bersenang-senang.


Lelaki itu kemudian terkejut saat salju mengenai tubuhnya. Ia menoleh dan mendapatkan Bianca sedang membuat bola salju. Bersiap-siap melempar ke arah lelaki itu.


"Ohh... Mau bertanding rupanya."


"Bagaimana kalau kita tidak menggunakan kekuatan kita masing-masing."


"Ide yang bagus," lelaki itu membuat bola salju dan bersiap melempar ke arah sang ratu.


"YANG MULIAA!!" tiba-tiba Calius berteriak sambil berlari terburu-buru menghampiri sang ratu.


Melihat wajah panik Calius, pasti ada kabar tidak enak.


Calius membisik sesuatu ke Bianca. Mata wanita itu terbelalak terkejut.


"Bisakah kamu jaga Kay dan Greda? Aku harus kembali ke dalam."


Wanita itu segera berlari masuk ke dalam disusul oleh Calius. Decius hanya bisa terdiam melihat wanita itu perlahan menghilang di hadapannya.


"Yang mulia kemana?" tanya Greda. Dua anak kecil itu ternyata sudah selesai dengan kejar-kejaran.


"Dia sedang ada urusan sebentar."


"Maafkan saya, yang mulia atas mengganggu waktu anda."


"Kenapa kalian ke sini, hah?" tanya Bianca memasang wajah serius.


Kenapa Black Hole ada di sini? batin Bianca menatap 4 anggota dari Black Hole.

__ADS_1


__ADS_2