
Bianca mengangkat kedua tangannya ke atas sambil berjalan menuju sebuah rumah tua di tengah hutan.
Aaron hanya memutar bola mata dengan malas. " Kita ke sini mau ngapain?"
"Nanti kau juga akan tau dengan sendirinya."
Mereka berdua akhirnya tiba di depan rumah yang Bianca cari. Wanita itu mengetuk pintunya beberapa kali dan menunggu tuan rumah membukakan pintu kepada mereka.
"Lama sekali... Ada orangnya tidak sih?" ujar Aaron sedikit kesal karena harus menunggu tuan rumah itu muncul.
"Sabarlah... Mungkin dia sedang siap-siap."
Tidak membutuhkan waktu lama, pintu rumah itu akhirnya dibuka dan menampakan seorang wanita tua membawa sebuah tongkat panjang.
Wanita tua itu memandang Bianca dan Aaron yang sedang memakai tudung hitamnya.
"Kau..."
"Apakah kau adalah ratu salju itu?"
Bianca tersenyum kecil. " Benar. Itu saya."
"Aku bisa merasakan sesuatu padamu..."
"Merasakan sesuatu?" tanya Bianca penasaran.
"Sesuatu yang tidak baik-baik saja kepadamu."
Aaron dan Bianca saling pandang satu sama lain. "Kami ke sini untuk mencari anda."
Wanita tua itu terdiam cukup lama, kemudian ia menyuruh mereka berdua masuk ke dalam.
"Kalian mencariku?" tanya wanita itu sambil duduk.
Bianca mengangguk benar. Akhirnya ia bisa bertemu dengan penyihir tua, penyihir yang menjebak Greda agar gadis kecil itu tetap bersamanya dan tidak pergi mencari Kay.
"Sebenarnya..."
"Tunggu," tiba-tiba penyihir tua itu memberhentikan Bianca bicara.
"Apa kalian ingin minum sesuatu?" tawar wanita itu.
"Saya i-" Aaron langsung menoleh ke arah Bianca dan ratu salju menggelengkan kepalanya sebagai isyarat kepada malapetaka itu.
"Tidak. Terima kasih atas tawaran anda."
Oke...
Rencana Vina kali ini adalah memastikan bahwa apakah ada insiden yang aneh akhir-akhir ini.
Salah satunya adalah saat Greda sedang berlatih pedang bersama Oscar dan Kay. Oscar memberitahu kepada sang ratu bahwa ada seseorang yang selalu mengintai gadis kecil itu.
"Seperti apa orangnya?" tanya Bianca kepada kepala penjaga istana.
"Hmm... Saya tidak bisa menjelaskan terlalu dalam karena selalu memakai tudung, tetapi yang aku sadari, orang itu selalu kabur ke arah barat perbatasan kerajaan."
"Barat perbatasan kerajaan?" Oscar mengangguk.
"Iya. Kalau keluar ke arah perbatasan barat, langsung menuju ke arah Hutan Argaste."
__ADS_1
Hutan Argaste, hutan yang paling besar dan luas. Kata orang-orang, ada rumor bahwa ada seorang penyihir tua di hutan itu.
Penyihir tua itu selalu menculik anak-anak saat mereka tidak sengaja atau sengaja masuk ke sana. Itulah kenapa banyak orang tua yang memberi kata 'Kalau kamu nakal, ibu/ayah akan membawa kamu ke Hutan Argaste biar dimakan sama penyihir tua'.
Tetapi, kenapa penyihir tua itu bisa tau kalau Greda ada di istana?
Saat ia membawa 2 anak itu ke istana, mereka tidak melewati ke arah hutan itu.
"Apakah anda memastikan kalau saya yang selalu mengintai gadis kecil yang imut itu," ujar wanita tua tiba-tiba.
"Bagaimana..."
"Saya sudah tau kedatangan yang mulia ke sini karena saya. Maafkan saya yang telah mengganggu anda dan anak-anak itu."
Bianca tidak bisa membalas perkataan ke wanita tua itu.
"Aku ingin bertanya sesuatu," wanita itu masih diam sambil menatapnya.
"Tadi... Kamu bilang kalau saya tidak baik-baik saja. Maksudnya apa?"
Wanita tua itu masih terdiam dan belum menjawabnya.
"Kamu akan mengalami sesuatu berbahaya."
"Maksudnya perang gitu?" tanya Aaron buka suara.
"Tidak. Sesuatu berbahaya hanya tertuju pada anda, yang mulia."
"Saya sedikit takut kalau saya mengatakan sesuatu..."
"Apa itu?" tanya Bianca dan Aaron bersama.
Bianca dan Aaron telah tiba di istana dengan perasaan dongkol. Bianca sudah tau kalau penyihir tua itu tidak langsung menjawab pertanyaan Bianca.
Ada syaratnya, dirinya harus membawa Greda ke rumah penyihir tua tiap 3 bulan sekali.
Ia merasa tidak adil. Masa menunggu jawaban doang harus membawa Greda tiap 3 bulan sekali?
Bianca melirik ke arah lelaki di sebelahnya. Tampaknya dia juga kesal dengan wanita tua itu.
"Kau masih kesal dengan jawaban-"
"Yang mulia..."
"Ya?" tanya Bianca bingung.
"Aku harus pergi dulu."
"Mau kemana?"
"Ada urusan penting," Bianca tidak mencegah lelaki itu, justru perempuan itu membiarkan Aaron pergi begitu saja.
Bianca menghela nafas, kemudian ia berjalan menuju tempat latihan dimana Kay dan Greda latihan.
"Mereka berdua sedang ngapain, ya..."
Ternyata 2 anak kecil itu sedang berlatih dengan giat. Bianca hanya melihat mereka berdua sambil menopang dagunya.
Ingat-ingat... Vina jadi teringat waktu kecil dimana ia mengikuti les taekwondo bersama abangnya, Vino.
__ADS_1
Saking sukanya dengan taekwondo, Vina justru mendapat sabuk hitam lebih dulu daripada kakaknya.
Ia tiba-tiba tersenyum sendiri. Mengingat itu, ia juga teringat bagaimana kakaknya ngambek karena adiknya lebih dulu mendapatkan sabuk hitam darinya.
"Yang mulia..." Bianca melirik ke arah Calius yang sedang memberi hormat kepadanya.
"Ada apa?"
"Rumah kaca di taman selatan istana mengalami kerusakan. Apakah perlu diperbaiki?"
Rumah kaca? Vina baru mengetahui hal itu.
"Rumah kaca? Emangnya kita punya rumah kaca?"
Calius langsung mengingat sesuatu kalau sang ratu mengalami amnesia.
"Maafkan saya, yang mulia. Saya lupa memberitahukan anda kalau kita memiliki rumah kaca."
Bianca membalas dengan anggukan saja.
"Kau bilang rumah kaca sedang bermasalah bukan? Bisakah kamu membawaku ke sana?"
"Baik, yang mulia."
"Yang mulia!! Kami boleh ikut, tidak?" tiba-tiba Greda dan Kay datang menghampiri Bianca.
"Boleh saja..." Yah... Sekalian belajar tentang jenis-jenis tanaman di sana.
Mereka berempat tiba di rumah kaca. Benar kata Calius, ada beberapa yang retak di bagian atap dan dinding kaca.
Dan parahnya, penyangga rumah kaca hampir patah. Kalau sampai patah, rumah kaca ini langsung ambruk seketika.
Tanaman?
Mereka baik-baik saja, jika dirawat dengan baik walaupun kondisi tempat ini setengah hancur, tetapi ada beberapa tanaman tropis yang sudah layu.
Mungkin karena angin dingin yang masuk di sela-sela keretakan rumah kaca ini.
"Kita harus merenovasi rumah kaca ini. Tanaman-tanaman yang sudah layu dibuang saja dan sisanya yang masih bertahan di letakan di tempat yang memiliki suhu dan cahaya cukup bagi tanaman ini."
"Baik, yang mulia," balas Calius.
Bianca tiba-tiba melihat sebuah bunga bewarna kuning kemerahan yang cukup besar. Ia mendekat ke arah bunga tersebut dan mengamati bunga itu.
"Bunga apa itu, Calius?" tanya Kay menunjuk ke arah bunga yang diamati oleh sang ratu dan Greda.
"Itu Bunga Cassonia. Bunga yang selalu dijadikan minuman teh oleh baginda ratu."
"Saya?" tanya Bianca menunjuk di sendiri.
"Benar, yang mulia. Tiap 2 minggu 2 hari di sore hari, yang mulia selalu meminum Teh Bunga Cassonia."
"Apakah rasanya enak?" tanya Greda penasaran ke arah Calius.
"Saya tidak pernah meminum itu, tetapi yang mulia selalu bilang kalau teh itu sangat enak."
"Kalau begitu buatkan saya teh ini," ucap Bianca.
Vina penasaran rasa teh dari Bunga Cassonia ini. Apakah seenak yang dikatakan oleh Bianca?
__ADS_1