Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge

Born To Villain : The Snow Queen'S Revenge
Bab 38 : Misi Rahasia


__ADS_3

Akhirnya penyakit Bianca terbongkar oleh seluruh penghuni istana (Kecuali para pasukan istana).


Dokter Atkinson yang berjanji merahasiakan penyakit Bianca mau tidak mau menceritakan kepada Aaron, Patrick, dan Calius karena dirinya didesak oleh mereka.


Bahkan diancam segala.


"Apakah penyakitnya bisa disembuhkan?" tanya Patrick kemudian.


"Saya mencari obat untuk menangkal penyakit yang mulia, tetapi tidak ada ramuan yang cocok dengan penyakit yang mulia."


"Berapa lama yang mulia bisa bertahan?" Aaron dan Patrick saling menoleh ke arah kepala pelayan dengan mata melotot.


"S-saya hanya b-bertanya saja."


"Itu... Kemungkinan setahun."


Bianca memasang wajah keheranan. Saat ia ingin keluar dari kamarnya, ia berpapasan dengan Aaron yang sudah berdiri di sebelah pintunya.


"Kenapa kamu berdiri di situ?" lelaki itu tidak menjawab apa-apa dan hanya melirik ke arah Bianca.


Bianca langsung berjalan meninggalkan malapetaka untuk ke ruang kerjanya.


'Mau kemana kamu?" tanya Aaron akhirnya.


"Ke ruang kerjaku lah. Terus kemana?" tiba-tiba Aaron menarik tubuh Bianca dan menyuruh ia tetap berada di kamarnya.


"Apaan sih? Aku mau kerja!" seru Bianca kesal.


"Hari ini kamu cuti dulu," sang ratu dibuat kebingungan dengan perkataan Aaron.


"Hah cuti? Kenapa kamu ngatur-ngatur aku sih. Aku ini klienmu, tau!"


"Ini bukan masalah klien atau bukan. Ini masalah kesehatanmu."


Ah... Gara-gara itu.


"Aku baik-baik saja, kok," ucap Bianca menyingkirkan Aaron dari hadapannya.


"APANYA YANG BAIK-BAIK??! KAMU SAMPAI MUNTAH DARAH ITU KAMU BILANG BAIK-BAIK SAJA?!"


Bianca tertegun saat pria itu meneriaki dirinya. Seketika Aaron tersadar dan langsung memeluk wanita itu.


"Maafkan aku, aku tidak sengaja..."


Bianca masih terdiam kaku di tempat. Pikirannya langsung blank begitu saja.


"Aku... Aku terkejut kalau kamu selalu membunyikan sesuatu kepada kami. Aku sangat khawatir denganmu."


"Kamu khawatir denganku?" tanya Bianca sedikit terkejut mendengar ungkapan Aaron.


Aaron terdiam memandang Bianca lekat. "Memangnya kenapa?"


"Itu bukan seperti malapetaka yang aku kenal," Aaron awalnya bingung dengan ucapan sang ratu, kemudian ia baru paham.


"Aku masih malapetaka yang kamu tau, yang mulia," balasnya tersenyum lembut.


Bianca tanpa sadar langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan semburat merah muncul di wajahnya.


Entah kenapa jantungnya berdegup kencang. Aaron yang tidak sengaja melihat semburat merah di telinga sang ratu membuat pria itu tersenyum iseng.


"Kenapa kamu memalingkan wajahmu, hah? Apa wajahku tampan?"


"Apaan sih? Wajahmu biasa saja, kok."


"Tapi kenapa kamu memalingkan wajahmu, hmm?"


"Jangan-jangan dekat-dekat!! UHUKK!!" Aaron sedikit terkejut dan menyuruh sang ratu duduk di sisi kasur dan membantu membersihkan darah.


"Sudah kubilang... Kamu mending cuti saja."

__ADS_1


"Bagaimana dengan kerjaanku? Aku tidak mau rakyatku memanggil ratu pemalas."


Aaron menghela nafas panjang. "Baiklah... Tapi kamu kerja setengah hari saja, oke?"


...****************...


"Bagaimana dengan yang mulia?" tanya Patrick kepada Aaron.


"Kondisinya semakin lemah. Walaupun begitu, dia memaksa dirinya sendiri."


"Memaksa dirinya sendiri, ya..." ucap Patrick membuat Aaron melirik ke arah penyihir agung itu.


"Ada apa?" lelaki itu menggeleng dengan senyuman kecil.


"Tidak. Hanya saja aku kepikiran seseorang."


"Istrimu?"


"Bukan. Mantan bosku dulu," Patrick menghela nafas panjang.


"Bagaimana kabar dia sekarang, ya..."


"Bantulah aku, Jenny..." ucap Bianca meminta bantuan kepada Jenny dengan lemas.


"Sepertinya kamu kesulitan, Vina."


"Iya. Sial... Kenapa harus sekarang sih mereka mengetahuinya? Aku tidak bisa bergerak sebebas dulu."


Semenjak itu, tidak hanya Aaron yang selalu protektif kepada sang ratu, tetapi lainnya juga. Bahkan Calius lebih parah lagi.


Jika ketahuan kalau sang ratu pergi ke kota, Calius selalu ngomel dan memarahinya layaknya ayah yang mengetahui anaknya mau pergi diam-diam.


"Kenapa kanu tidak bantuan ke Patrick?" Bianca melirik ke arah Jenny dengan tatapan tajam.


"Kamu gila? Kalau dia curiga ke aku gimana?"


"Terus aku harus bagaimana? Otakku buntu banget."


Benar juga...


"Iya sih... Tapi, kan penjagaannya ketat banget," baik Jenny dan Bianca saling berpikir keras.


Sebenarnya, Bianca berencana pergi ke bagian wilayah barat yang katanya sangat jarang dikuasai oleh Black Hole.


Masalahnya, para pria itu terlalu overprotektif kepadanya. Takut pingsan lah, takut apalah...


Tiba-tiba Bianca mempunyai sebuah ide di kepalanya.


"Bagaimana kalau kita pakai portal pemindahan tempat. Seperti pintu kemana saja dari Doraemon."


"Emangnya bisa?" tanya Jenny penasaran.


"Tentu saja bisa. Aku, kan bisa menggunakan teleportasi."


"Emangnya kamu mau kemana, hah?" mereka berdua langsung menoleh ke arah Patrick dan Aaron yang sudah ada di ruang kerjanya.


"KALIAN??!! KENAPA KALIAN ADA DI SINI?!!"


"SUDAH KUDUGA KAMU PASTI MAU KABUR, YA?!!"


"Jenny, kamu menjadi back up aku, ya..." Jenny hanya bisa menghela nafas panjang saja sambil menggelengkan kepalanya.


"Hei, hei... Kamu mau kemana?"


Setelah Bianca sudah siap-siap, Bianca menggunakan sihir teleportasi dan masuk ke dalam.


Tidak ketinggalan, Patrick dan Aaron segera mengejar sang ratu dan memasuki sebuah portal teleportasi.


"YANG MULIA!!"

__ADS_1


Di sisi lain. Kay menghela nafas panjang. Ia merasa bosan sekali di ruang perpustakaan dan hendak berkeliling ke istana.


"Oh tuan! Apakah anda ingin berkeliling sebentar?" tanya Calius menyadari kehadiran Kay.


"Tapi... Kemana Gerda? Kalian selalu bersama, bukan?"


"Itu..." ucap Kay dengan ragu.


"Aku tidak tau karena aku selalu di ruang perpustakaan," ucap Kay.


"Ah baiklah kalau begitu," ucapnya kemudian ia berjalan meninggalkan Kay sendirian.


Bocah lelaki itu menelan ludahnya sendiri. Ia hampir saja ketauan.


Ia menggenggam sebuah kantong kecil dengan erat.


"Maafkan aku..."


...****************...


"Kenapa kalian ikut sih?!!!" teriak Bianca sambil menunjuk ke arah dua lelaki itu.


"Sudah kubilang, nyawa anda sangat penting, yang mulia."


Bianca mendengus kesal. "Mau kemana?" tanya Aaron.


"Misi rahasia," ucap Bianca judes.


"Misi rahasia? Apa itu?"


"ITU BUKAN RAHASIA NAMANYA!!"


Bianca langsung cabut meninggalkan mereka berdua dengan perasaan dongkol.


Kini mereka berada di sebuah kota kecil, Kota Arabaska.


"Permisi tuan. Apakah anda mengenal Tuan Jacob Barouske?" tanya Bianca kepada salah satu pedagang di sana.


"Jacob Baraouske? Ah! Maksud nona 'Kapten Bermata Satu'? Aku dengar kalau Tuan Baraouske tinggal di pinggir sungai Porta."


"Sungai Porta? Dimana itu?" tanya Patrick bingung.


"Kalau anda keluar dari pintu gerbang Kota Arabaska utara, kalian belok ke arah timur kota, lalu lurus aja terus. Nanti kamu menemukan sebuah gubuk di depan persis sungai itu."


"Terima kasih, tuan," ucap Bianca dan langsung bergegas ke sana.


"Yang mulia. Jangan buru-buru, anda masih sakit."


"Aku tidak mau buang-buang waktu, Patrick."


Sementara Aaron hanya bisa diam saja. Capek ngurusin kliennya itu.


Tiba-tiba Bianca terjatuh ke bawah membuat kedua lelaki itu terkejut bukan main.


Sial... Kepalaku pusing sekali...


"Sudah kubilang, kan..."


"Kalau begitu, kamu gendong aku."


"Apa?" tanya Aaron terkejut. Ia melirik ke arah Patrick, tetapi Patrick menyuruh lelaki itu menggendong sang ratu.


Mau tidak mau, lelaki itu menggendong sang ratu ke arah punggung dia dan melanjutkan perjalanan mereka.


Mereka bertiga telah tiba di sebuah rumah lusuh yang berada persis di depan sungai yang besar itu.


Daerah itu, Daerah Sandian merupakan daerah gurun pasir yang sangat luas dan Kota Arabian merupakan salah satu kota yang strategis karena berdekatan dengan sungai terbesar di daerah itu, Sungai Porta.


Lelaki seusia Calius membuka pintu dan terkejut melihat tamu pada hari itu.

__ADS_1


"Lama tidak jumpa, Komandan Baraouske."


__ADS_2