
"Jadi ini tempatnya?" ujar Bianca melihat sebuah bangunan besar bergaya Gothic di hadapan matanya.
"Selamat datang, Nona Evergreen. Kami sudah menunggu kedatangan anda." .
Bianca melirik ke arah perempuan kurang ekspresi itu. Tak menyangka kalau gadis muda itu adalah seorang nona muda yang cukup berpengaruh.
"Apakah barangnya sudah datang?" tanya Vero kepada salah satu pelayannya.
Pelayan tersebut segera memberikan sebuah kota berukuran sedang kepada Veronica dan Veronica langsung membuka kotak tersebut serta mengambilnya.
"Ini adalah kalung dari keluargaku secara turun temurun. Kami biasanya memakai ini untuk melakukan misi atau investigasi lebih lanjut."
"Pakailah. Aku memberi anda kalung ini secara gratis dan iklhas."
Bianca mengambil kalung tersebut dan memakainya.
"Kalau kamu memakai kalung ini, orang-orang tidak akan menyadari kalau anda adalah rayu yang beberapa hari yang lalu meninggal karena masalah sepele."
"Kamu mengejekku?" Vero mengangkat kedua bahunya.
"Ngomong-ngomong..." Vero melirik ke arah sang ratu dengan pandangan serius.
"Apakah kamu tau seorang Jendral terkuat di Aspendia, Rossaria Harris?"
"Kenapa kamu menanyakan kepadaku?"
"Kata James, kamu paling jago dalam mencari informasi."
Vero berjalan melewati Bianca dan sang ratu menyusul gadis muda itu.
Mereka berdua tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi buku dan dokumen-dokumen penting yang disimpan dengan rapi.
Vero langsung duduk di kursi kerja dan membuka laci meja satu per satu dan mencari sesuatu.
"Kalau kamu mencari Jendral Rosaria Harris, dia sedang berada di wilayah bernama StormBoat. Daerah situ sangat jauh dari Aspendia maupun di sini. Kamu harus menaiki kapal untuk menuju ke sana."
"Jadi... Pelabuhan paling dekat dari sini atau Aspendia ada di mana?"
"Kamu tidak tau?" tanya Vero bingung.
"Ergghh... Maaf. Saking aku jarang keluar dari istana maupun kerajaan," jawab Bianca salah tingkah.
"Kota Dawn Oceana, kota pelabuhan yang berada di barat dari Aspendia."
"Oke. Aku akan ke sana segera."
"Anda akan pergi sendirian?" tanya Vero balik dan Bianca menjawab, " Tentu saja tidak, Veronica. Mana mungkin aku pergi sendirian yang ada aku diomelin sama Calius atau tidak Dokter Atkinson."
__ADS_1
Vero memiringkan kepalanya. Ia penasaran siapa yang dia bawa untuk perjalanan mencari salah satu dari pemimpin pasukan militer terkuat di Kerajaan Aspendia ini.
...****************...
"Ini transportasi yang kita tumpangi?" tanya Giselle dengan rasa takjub.
"Benar! Ini kapal yang kita tumpangi," ucap Bianca yang juga melihat kapal yang mereka tumpangi dengan rasa takjub.
Kapal ini sangat besar dan mewah. Untuk menuju Pulau Every Dawn harus menaiki kapal ini.
Dan hanya untuk menaiki kapal ini tidak murah, itulah banyak kalangan bangsawan yang menaiki, walaupun kalangan biasa juga bisa menaiki kapal ini.
"Tapi..." Giselle menoleh ke arah gadis di depannya itu.
"Kenapa harus aku yang ikut, hah?!" ucap Vero sedikit kesal.
"Hei, hei... Bukannya kamu tau lokasi dimana Jendral Harris dimana?" ucap Bianca sambil berkacak pinggang.
"Iya, aku tau dimana dia berada, tetapi gak harus anda mengajak saya dong..."
"Sekali-kali kamu berjalan-jalan jauh. Lagipula aku sudah bosan membawa para pria menemaniku dalam perjalanan."
Vero hanya menghela nafas pasrah sambil memutar bola matanya. " Baiklah... Aku kalah."
Vero melirik ke arah Giselle dan begitupun sebaliknya. "Oh ya aku lupa mengenai kalian. Perkenalkan dia adalah Giselle Stenberg, asisten pribadi saya. Dan ini Veronica Evergreen."
Mereka berdua memperkenalkan diri mereka masing-masing. Bianca hanya bisa melihat sambil memasang senyum ramahnya.
Daripada membawa Allan, Aaron, ataupun James sekalipun, pasti akan ada perang dingin diantara mereka bertiga.
Entalah Bianca memiliki firasat buruk jika membawa ketiga pria itu bersamanya.
Setidaknya dia membawa para wanita adalah keputusan yang sangat tepat karena tempat dimana Jendral Harris tinggal adalah Desa para wanita.
Mereka menaiki kapal segera setelah ada pengumuman bahwa kapal tersebut akan segera berangkat.
"Hari ini tidak banyak dari kalangan biasa yang menaiki kapal ini," ucap Vero membuat Giselle dan Bianca saling memandangi Vero.
"B-benar... B-benar katamu. Biasanya penumpang dari kalangan biasa lumayan banyak di kapal ini, tetapi kenapa tidak satupun yang naik kapal ini."
"Mungkin dinaikin jauh lebih mahal dari harga normal," tiba-tiba Bianca menjawab.
"Mana ada kalangan biasa mau membayar dengan harga selangit itu. Mereka pasti berpikir berulang kali kalau mau naik kapal ini."
"Padahal cuman kapal ini saja yang mau mengantarkan ke Pulau Every Dawn."
"Kamu dengar kabar akhir-akhir ini... Kudengar ada yang bunuh diri di kapal ini," mereka bertiga menoleh ke arah 3 orang dari bangsawan yang sedang bergosip.
__ADS_1
"Aku pernah dengar kabar itu. Kalau tidak salah dia meninggal gantung diri dalam keadaan pintu dan jendela terkunci."
"Kalau tidak salah dia berasal dari kalangan biasa, bukan? Mungkin itu alasan dinaikin harga tiket 2 kali lebih mahal."
Giselle, Bianca, dan Vero saling memandang satu sama lain.
Ternyata ada kasus bunuh diri di kapal ini?
"Lebih baik kita pergi dari sini saja," mereka bertiga memutuskan pergi ke kamar mereka.
"Kamu baik-baik saja, Vero?" tanya Giselle melihat wajah gadis bergaya emo klasik ini pucat pasih.
"Aku baik-baik saja," jawab Vero sambil memalingkan wajahnya.
Bianca yang melihat itu, mendekatinya dan berkata, " Baik-baik saja bagaimana? Kamu pucat begitu? Apakah kamu mabuk laut?" Vero tetap diam sambil memalingkan wajahnya dari Giselle maupun Bianca.
"Ya udah kamu istirahat dulu, perjalanan kita masih jauh."
Vero tidak menjawab sama sekali dan langsung merebahkan dirinya ke atas kasur.
Giselle dan Bianca segera menuju ke luar kamar mereka. Mereka ingin melihat-lihat.
"Pemandangan yang bagus!!" seru Giselle melihat pemandangan lautan luas dan angin kencang mengenai dirinya.
"Ini pertama kalinya kamu menaiki kapal?"
Giselle menggelengkan kepalanya. " Tidak, yang mulia. Ayah selalu membawa kami berpetualang sebelum ayah memutuskan menjadi peternak."
Bianca mengangguk paham. " Bagaimana menurut anda, yang mulia? Apakah ini juga pertama kalinya naik kapal?"
Bianca hanya tertawa saja, kemudian ia menjawab, " Hmm... Aku lupa berapa kali aku menaiki kapal."
Tiba-tiba sebuah suara gaduh terdengar di area restoran membuat mereka berdua menoleh ke arah asal suara kegaduhan.
"Ada apa ini? Kenapa ada kegaduhan di sini?" tanya Bianca kepada salah satu penumpang kapal.
"Ada orang bunuh diri lagi di gudang..."
Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan bergegas menuju ke gudang kapal.
Di sana sudah ada petugas kapal yang menahan para penumpang untuk melihat korban di dalam gudang.
Di sana ada Vero yabg berjalan mendekati ke sana. "Vero..."
"Maaf, nona. Anda tidak boleh masuk ke dalam."
"Saya ingin mengecek apakah kasus ini kasus bunuh diri atau bukan?"
__ADS_1
"Maksud anda apa?" Vero mencari sesuatu do kantong gaunnya dan menujukkan sebuah lencana kepada petugas tersebut.
"Saya adalah detektif, boleh saya masuk?"