
𝙂𝙧𝙚𝙙𝙖'𝙨 𝙋𝙊𝙑
Semenjak kedatangan kami ke Kerajaan Altuvia, aku merasakan hal-hal buruk terjadi.
Mulai dari sifat Putri Tashannie yang ramah, tetapi dalam penglihatanku, dia digambarkan seperti monster pemakan hewan herbivora.
Raja Altuvia yang selalu memamerkan kekuasaannya kepada ratu, dan permaisuri yang hanya diam bagaikan mayat hidup.
Aku tidak tau kenapa mereka tampak sangat buruk di mataku, tetapi kerajaan ini sangat indah dan menawan.
Aku mengakuinya.
Dan juga...
Alasanku menyuruh Kay menyelinap ke kamar Putri Tashannie adalah aku bermimpi.
Mimpi sebelum kami pergi ke Kerajaan Altuvia.
Di dalam mimpiku ini, Putri Tashannie melakukan segala cara untuk menghancurkan Ratu Bianca.
Dengan menggunakan barang keramatnya, dia bisa mengontrol Bianca apa saja. Masalahnya...
Aku tidak tau barang keramat seperti apa yang dimiliki tuan putri.
Untuk itulah aku meminta tolong Kay untuk menyelinap ke sana. Saat Kay melaksanakan tugasnya, aku sempat bingung kenapa dia membawa paman ikut bersamanya.
Ini sungguh aneh.
Tetapi, dia berhasil membawa apa yang aku jelaskan. Walaupun dia membawa bros yang sangat berkilau, tetapi aku bisa merasakan sesuatu yang aneh pada bros itu.
Apa jangan-jangan ini adalah barang kiamat yang ada di mimpiku?
Aku mengecek dengan teliti waktu itu dan benar saja. Bros ini mirip sekali dengan barang kiamat di dalam mimpiku.
Dan kini, setelah aku memberikan bros ini kepada sang ratu, aku bergegas menuju ke perpustakaan istana karena aku harus belajar tentang seluk-beluk dari kerajaan ini.
Desaku dan Kay terletak di perbatasan Kerajaan Aspendia dan Kerajaan Olvand. Karena kondisi lingkungan yang mengikuti kondisi lingkungan Kerajaan Olvand, penduduk di desaku selalu mengikuti peraturan Kerajaan Olvand.
Karena aku dan Kay sudah berada di kerajaan yang penuh salju dan dingin terus-menerus. Mau tidak mau aku harus mengikuti seluk-beluk dari kerajaan ini.
Ngomong-ngomong...
Aku sempat mendengar pembicaraan calius dan yang mulia mengenai hak asuh aku dan Kay.
Apa yang mulia ingin mengadopsi kami?
Tapi sepertinya tidak...
Mereka hanya bilang kalau yang mulia berencana mengurusi dokumen hak asuhnya saja. Bukan adopsi.
Apa bedanya dengan hak asuh maupun adopsi?
Aku masih bingung dengan itu. Tetapi setidaknya, yang mulia menyayangi kami layaknya anaknya sendiri.
Aku bertemu dengan Kay yang sudah datang ke perpustakaan.
Tampaknya dia sudah datang lebih duluan daripadaku.
"Bagaimana reaksi yang mulia?" Kay langsung bertanya secara langsung kepadaku.
"Dia menerimanya, tapi kita tidak tau selanjutnya," aku menghampiri Kay yang sedang sibuk membaca buku.
"Kamu sedang apa?' tanyaku kepada Kay.
"Baca buku tentang mantra tingkat tiga."
Sejujurnya...
__ADS_1
Aku sangat iri kepada Kay. Ia bisa cepat belajar sampai mantra tingkat ketiga, sementara aku...
Aku masih bertahan di tingkat pertama.
"Jangan khawatir, Greda. Setidaknya kamu lebih unggul daripada aku dalam bidang ahli pedang," aku tersenyum membalas Kay.
Benar. Setidaknya aku lebih unggul darinya di bidang lain.
Aku membuka halaman per halaman dalam buku sejarah tentang Kerajaan Aspendia.
"Bagaimana? Apa kamu sudah mengetahui beberapa hal tentang kerajaan ini?"
"Masih belum mengenal lebih baik," jawabku dengan cepat.
Aku bisa mendengar suara helaan nafas panjang dari Kay di sebelahku.
Kay, temanku sejak kami lahir hingga sekarang. Hanya dia satu-satunya temanku saat ini.
Kalau orang-orang melihat Kay secara pertama kali, orang menganggap Kay adalah anak yang pendiam dan kalem, tetapi kalau sudah mengenali lebih dekat, Kay itu periang dan aktif.
Aku yang selalu bermain kejar-kejaran bersama Kay sudah capek.
Aku menguap dengan lebar. Entah kenapa aku merasa ngantuk sekali.
"Tidurlah... Aku tau kamu selalu tidur cuman 3 jam," ucap Kay yang masih sibuk membaca buku mantra.
Tampaknya dia selalu memperhatikanku dengan baik. Aku menurutinya saja. Tuh nanti dia akan membangunkanku saat makan malam tiba.
Aku terpejam mata dan beristirahat di atas sofa yang panjang, sementara Kay masih duduk di kursi baca dengan buku-buku sihir yang ia pelajarin.
...****************...
Aku membuka kedua mataku. Ini dimana? Ini bukan perpustakaan istana seperti biasanya.
Aku melihat seorang wanita muda menggantungkan dirinya di tengah kerumunan orang-orang.
Aku berusaha mendekati wanita itu yang digantung di atas sebuah Patung besar. Aku melihat seorang wanita muda seusia yang mulia berambut cokelat gelap.
Kedua matanya terbuka dengan lebar dan mulutnya juga sama-sama lebar dengan matanya.
Tolong aku...
Suara apa itu?
Aku mencari asal sumber suara itu, tetapi tidak ada satupun orang yang mengucap minta tolong kepadaku.
Tolongg...
Suara itu lagi...
Sangat dekat di sekitarku. Suara itu masih aku dengar dan aku menoleh ke arah wanita yang digantung itu.
Wajahnya berubah menjadi pucat dan sangat menyeramkan. Aku langsung merinding seketika.
Tolong...
Apa jangan-jangan dia yang minta tolong ke aku?
Tolong selamatkan aku dan Ratu Bianca...
Hah?
Maksudnya apa?
Aku ingin bertanya kepada wanita itu, sayangnya aku langsung terbangun saat Kay berusaha membangunkanku.
"A-ada apa Kaya?" tanyaku dalam kelilungan.
__ADS_1
"Makan malamnya sebentar lagi tiba, kita harus siap-siap kesana,' aku mengangguk dan kami bergegas menuju ke sana.
...****************...
Keesokan paginya, aku, Kay, dan yang mulia berjalan-jalan di pusat kota.
Kata yang mulia, sesekali kita harus jalan-jalan di luar istana.
Aku tidak sengaja melihat sebuah gaun yang sangat indah di etalase. Sangat indah dan berkilau.
"Kau ingin membelinya, Greda?" tanya yang mulia secara tiba-tiba. Aku terkejut karena yang mulia ratu bertanya secara tiba-tiba.
Aku malu mengakui kalau aku ingin mencoba gaun itu. Yang mulia justru tertawa kecil.
Kenapa dia tertawa? Dia menyuruhku dan Kay masuk ke dalam toko butik dan langsung menanyakan tentang gaun yang aku suka.
"Kalau gitu saya ambil gaunnya," aku langsung terkejut mendengar itu. Begitupun dengan penjualnya yang juga terkejut.
"B-baik..."
Yang mulia menoleh ke arahku dan berkata, " Jangan sungkan kalau mau minta sesuatu kepadaku."
Aku mengangguk dengan pelan.
"Kau juga, Kay. Kalau minta sesuatu, katakanlah sesuatu."
"Baik, yang mulia."
"Kamu ingin beli apa, Kay?"
"Aku sedang tidak ingin beli sesuatu yang mulia."
"Baiklah..."
Setelah membeli gaunku, yang mulia mengajak aku dan Kay ke pusat berbelanja.
Katanya ada sebuah patung seorang wanita yang memegang Pedang ke arah langit.
Aku tidak tau patung seperti apa itu. Mungkin saat kita sudah tiba di sana, aku mungkin akan bertanya kepada yang mulia.
Kami tiba di pusat perbelanjaan yang sangat ramai dan hidup, tetapi ada beberapa orang yang berkumpul depan patung yang sangat besar itu.
"Apa yang terjadi?" tanya yang mulia yang juga menyadari ada sesuatu di sekitar patung itu.
Kami segera menghampiri kerumunan di sana.
"Apa yang terjadi? Kenapa banyak orang berkumpul di sana?" tanya yang mulia kepada saah satu penduduk di situ.
"Ada seorang wanita bunuh diri, nona."
Bunuh diri? Kok aku merasa familiar.
Yang mulia menyingkirkan kerumunan begitu pun juga aku dan Kay.
Yang mulia terkejut bukan main. Ia melihat seorang wanita muda digantung menggunakan tali yang diikat di tengah patung pedang.
Wanita itu...
Wanita yang ada di mimpiku?!
Tolong....
Suara itu!!
Oh tidakk...
Sepertinya mimpi aneh dan burukku kemarin menjadi kenyataan.
__ADS_1