
Chris duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dengan Rossa.
"Tidak. Aku hanya... Hanya menemuimu saja," Rossa memandang lelaki itu lumayan lama, kemudian ia segera berkemas karena besok ia harus kembali ke tempat dimana ia dibesarkan.
Rossa menghela nafas panjang, kemudian ia berkata, " Chris..."
"Rossa..." Mereka berdua saling diam satu sama lain.
"Dengar, Chris. Apa yang terjadi di masa lalu sudah berlalu. 'Nasi sudah menjadi bubur'."
Rossa hendak pergi meninggalkan Chris sendirian di sana.
Ia merasa malas berbicara dengannya. Kalau dibahas masalah itu, hatinya perlahan-lahan mulai sakit mengingat kejadian itu.
"Rossa!" panggil Chris mengejar wanita itu.
"Aku tau itu... Tapi bisakah kamu menerima permintaan maaf dariku?" Rossa memandang lelaki singkat dan melanjutkan perjalanan.
"Aku tidak ingin membahas itu lagi, Chris," balasnya dan berusaha mempercepat jalannya supaya menghindari dari lelaki itu.
Chris akhirnya menyerah dan berhenti sambil memandang wanita di depannya.
...****************...
"Astaga... Sudahku bilang kalau kamu tetap di sini saja. Diam duduk gitu. Malah jalan-jalan, jadi pusing kan..." ujar Bianca mengomel Vero yang sedang lemas karena mabuk laut.
Kini mereka keempat wanita itu sedang dalam kapal untuk kembali ke istana. Sementara dua lelaki kemarin sudah pulang dengan jalur berbeda.
"Uugghhh.... Kenapa harus menaiki kapal ini sih? Apa tidak pakai cara lain untuk pulang dari pulau tadi?"
"Tidak ada. Hanya ini saja satu-satunya transportasi yang bisa pulang dari sini," jawab Rossa melipatkan kedua tangannya.
Vero hanya menghela nafas kecewa dan merebahkan dirinya di atas kasur.
"Yang mulia..." panggil Rossa kepada sang ratu.
"Aku akan menjaga gadis ini, anda harus mengawasi Giselle. Anda tau kan kalau Giselle kenapa-kenapa, kota akan kena semprotan dari ayahnya."
"Yah... Kau benar, Jendral Harris. Aku akan mengecek dia," Bianca berjalan mendekati Giselle yang sedang membaca buku.
"Gimana perkembangan kemampuan barumu?" tanya sang ratu sambil duduk disebelah gadis itu.
"Aku sedang berusaha menyesuaikan dengan kemampuan ini, tapi sejauh ini tidak ada kesulitan," Bianca mengangguk paham.
Bianca terdiam sambil menatap Giselle, kemudian ia berkata, " Kamu tidak bertanya soal silsilah keluargamu?"
Giselle menoleh ke arah sang ratu. " Aku bahkan tidak berpikiran seperti itu."
__ADS_1
"Ibuku adalah seorang dokter militer di Kerajaan Hufan. Keluarga ibuku rata-rata masuk dalam militer, walaupun ada yang bekerja di luar bidang militer, seperti ibu."
"Begitupun juga ayah. Ayah juga berasal dari keluarga militer. Aku tidak menyangka kalau aku adalah keturunan seorang penjaga pulau itu."
Bianca sekali lagi mengangguk paham. " Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan melanjutkan profesi keluarga ibu dan ayahmu?"
Giselle berpikir sejenak, " Kurasa iya, tetapi aku lebih suka aktif di belakang layar ketimbang di depan layar."
Benar sih... Giselle memiliki kemampuan strategi yang hebat seperti ayahnya, tetapi dia tidak jago dalam bela diri.
"Bagaimana dengan adikmu? Reina?" ucap Bianca.
"Reina memilih di dunia seni, seperti akting. Dia ingin menjadi seorang aktris."
"Tampaknya kalian sedang sibuk berbincang ya sampai-sampai melupakanku..." mereka berdua menoleh dan mendapati Rossa sedang berjalan menghampiri mereka berdua.
"Ah kamu..." Giselle langsung bangkit. " Aku akan mengecek Vero," setelah Giselle pergi, Rossa duduk di sebelah sang ratu.
Mereka berdua kemudian saling diam satu sama lain, hingga Bianca bertanya, " Kau tampaknya kenal dengan salah satu dari Black Hole."
Rossa melirik ke arah wanita itu. " Dari dulu kita, kan sudah saling kenal."
Dahi sang ratu langsung mengkerut mendengar jawaban Rossa. Seolah-olah dirinya sudah tau hubungan antara Rossa dan Chris.
Apa aku coba tanya saja? batinnya dan berusaha bertanya kepada Rossa dengan hati-hati.
"B-baik saja, yang mulia."
Bianca langsung berpikir sejenak. Ada yang disembunyikan olehnya. Pasalnya Vina, tidak tau hubungan antara Chris dan Rossa. Yang tau hanya Bianca asli-lah yang tau hubungan mereka berdua.
Apakah mereka berdua sempat menjalin hubungan asmara? Lalu di tengah jalan, ada sebuah masalah hingga hubungan mereka retak dan saling menjauh.
Bisa jadi, kan?
"Bagaimana dengan yang mulia sendiri?"
"Hmm?" balas Bianca bingung.
"Bagaimana hubungan anda dengan ketu organisasi itu?"
Hubungannya dengan James?
Ahh... Benar juga...
Vina melupakan hal itu. Pasalnya saat pertama kali dirinya bertemu dengan ketua Black Hole itu, James mengatakan kalau dirinya mengenal Vina sebelumnya, padahal Vina mengaku kalau dia baru pertama kali bertemu.
Bianca hanya diam saja. Bingung mau jawab apa dengan alasan dia masih gak tau asal-usul pertemuan antara Bianca asli dengan James.
__ADS_1
Rossa menoleh ke arah asal suara peringatan bahwa sebentar lagi kapal akan tiba di pelabuhan.
"Sebentar lagi kapal akan tiba. Kita harus siap-siap," ucap Rossa dan dianggukin oleh Bianca.
...****************...
"Sekarang kamu bertambah tinggi, ya..." ujar Bianca memandang Kay yang sedang belajar.
"Eh? Yang mulia bertanya ke saya?" Bianca menghela nafas panjang.
Tidak terasa Kay dan Gerda sudah besar. Padahal belum satu tahun mereka bersama.
"Apa yang kamu baca?" tanya Bianca kepada anak lelaki itu.
"Oh... Ini. Tuan Firlutz menyuruhku membaca buku pengetahuan sihir dan setelah ini aku diberi ujian sama beliau."
Bianca mengangguk paham. " Yang mulia..." Bianca melirik ke arahnya.
"Apakah... Apakah kita bisa bersama seperti dulu? Aku, Gerda, dan yang mulia..."
Ah... Anak itu sudah mengkhawatirkan tentang masa depan. Bianca langsung mengusap pucuk kepala Kay.
"Aku tidak menjamin itu, Kay."
"T-tapi... Tapi aku ingin kita bersama lagi seperti dulu. Aku tidak mau, yang mulia meninggalkan kita sekali lagi."
Bianca menghela nafas panjang. " Jangan mengharapkan seperti itu, Kay. Semakin kamu mengharapkan sesuatu, kau akan sakit jika harapanmu tidak terkabul."
"Nikmatilah selama aku ada di sini, oke?" Bianca tersenyum, tetapi ekspresi Kay sebaliknya.
"Yang mulia akan pergi lagi?" wanita itu terdiam beberapa saat. Faktanya dia akan pergi sesuai kesepakatan dengan Tuhan, tetapi di sisi lain, dia sangat merindukan tempat ini.
"Maafkan aku, Kay," hanya itu yang Bianca jawab.
Bianca melirik ke arah Patrick, penyihir agung yang baru saja datang. " Apakah kamu sudah membaca semuanya, Kay?"
Kay mengangguk dan Patrick memberikan selembar soal kepadanya. " Kamu kerjakan soal ini di sana," Kay mengangguk sekali lagi dan segera mengambil serta pergi ke meja di pojok kanan ruangan itu untuk mengerjakan soal.
"Bagaimana perkembangan Kay, Tuan Firlutz?" ucap Bianca kepada penyihir agung itu.
"Dia mengalami perkembangan yang sangat pesat, yang mulia."
"Baguslah..." Patrick memandang perempuan itu cukup lama membuat Bianca tersadar dan menoleh ke arahnya.
"Ada apa?"
"Anda... Anda mengingatkan kepada mantan bos saya dulu?"
__ADS_1
"Maksudnya?"