
Kay memandang Oscar dan Jacob satu sama lain. Baru saja ia selesai dengan pelatihan sihir dan ingin bermain dengan Oscar, tetapi ia lihat sebuah perang dingin di antara mereka berdua.
"Ingin bermain bersama Oscar?" tanya Markus sembari menghampiri lelaki itu. Kay mengangguk mantap.
Markus melihat kedua pria yang sedang menatap tajam satu sama lain. Ia menghela nafas panjang.
"Tampaknya mereka berdua sedang sibuk, nak. Mau main bersama paman?" tawar Markus dengan senyuman lembut.
"Memangnya paman ingin bermain apa?" tanya Kay dengan polosnya. Markus tampak berpikir keras.
"Ah! Gimana kalau..."
Sementara itu, Oscar dan Jacob masih menatap tajam satu sama lainnya.
Jacob akhirnya menghela nafas panjang, kemudian ia berjalan meninggalkan Oscar yang masih kesal dengan pria yang seumuran Calius itu.
"Hei, pak tua... Kita masih belum selesai bicaranya."
"Kamu saja belum ngomong satu kata pun dari tadi," balasnya sambil berjalan meninggalkan Oscar yang mendengus kesal dengan sikap arogan Jacob.
Di tempat lain, Jenny sudah muncul sambil melihat sekeliling di sekitar ruang kerja sang ratu, Giselle masih berada di bimbing oleh Calius yang sebelumnya merangkap sebagai asisten sang ratu.
Dan Bianca, ratu salju sudah K.O karena kerjaan sebagai pemimpin negara.
"Astagaaa... Kenapa banyak sekali sih yang harus aku kerjakan??"
"Di kehidupanku yang asli tidak seperti itu..."
"Bukannya kamu belum menjadi pemimpin, Vina?"
Bianca langsung tersinggung dan marah kepada si malaikat, "Enak aja!! Gue udah jadi General Manager sekarang!!"
Jenny langsung berkedip beberapa kali, kemudian ia berkata, "Kenapa kamu menggunakan bahasa informal begitu?"
Bianca langsung bingung juga, "Lah? Emangnya gue ngomong ap-" seketika ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"What the hell... Apaan ini? Kenapa gue ngomong informal begini?"
Jenny menggelengkan kepalanya. Pusing. "Sekarang... Kamu harus berbicara dengan cara Bianca, coba?"
"Eheemm..." Bianca berdeham, kemudian ia berkata lagi, " Apa sudah pas, Jenny?"
Jenny terdiam sejenak sambil menatap ke arah Bianca. "Coba kamu ngomong lagi."
"Mau ngomong apa lagi, Jenny? Aku bingung mau ngomong apa?"
"Nah!! Sudah kembali tuh gaya bicaramu!!" seru Jenny sambil menunjuk ke arah sang ratu.
"Tapi, kenapa bisa ya?" tanya Bianca yang masih penasaran dengan barusan.
"Aku juga tidak tau, Vina," balas Jenny sambil mengangkat kedua bahunya.
"Mulai perlahan, ini semakin aneh sekali..." ujarnya sambil merebahkan kepalanya di atas meja.
"Jenny..." panggil Bianca kepada malaikat itu.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Bisakah kamu cek ke lapangan istana."
"Kenapa harus aku?" ujar Jenny protes.
"Ayolah... Calius sedang sibuk, yang lainnya juga sibuk. Cuman kau yang tidak ada kerjaan."
Jenny hanya menghela nafas panjang saja. "Dasar manusia... Bikin meresahkan saja," gumamnya sambil menghilang dihadapan sang ratu.
Jenny melihat sekeliling di atap istana. Ternyata ada atap berlubang. Ia memutuskan untuk melaporkan kepada sang ratu.
Tetapi, mata ekornya melihat seorang yabg sedang berlatih keras di sebuah lapangan yang sangat sepi.
"Siapa yang berlatih sendirian di jam segini?" ucap Jenny heran, tetapi ia akhirnya tidak menghiraukan dan langsung kembali ke dalam.
"SIAALL!!" ucap seseorang itu teriak membuat si malaikat itu kaget bukan main.
Jenny mendengus kesal, bikin orang kaget saja. Ia kemudian segera masuk ke dalam.
"Atapnya memang berlubang, Vina," ucap Jenny setelah ia kembali.
"Ah... Baiklah... Nanti aku suruh Oscar membetulkan atapnya deh."
Seketika ia teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong... Siapa yang berlatih di lapangan latihan. Kalau tidak salah hari ini semua pasukan sedang cuti."
"Hah?" balas Bianca sambil mengangkat kepalanya.
"Emangnya ada yang latihan?"
"Oscar?" tanya Jenny kebingungan.
"Iya. Udah biarin aja. Dia, kan selalu begitu."
Jenny masih terus melihat ke arah laki-laki itu. "Kau mau lihat ke sana? Lihat aja."
"Temani dong..." Bianca berdecak malas.
"Kamu, kan bisa sendiri. Lagian tidak ada satupun yang bisa melihatmu."
Tetapi, Jenny masih ngoto ingin ditemani dan sebagai gantinya, ia akan memback up kondisi tubuh Bianca biar tidak drop.
Mau tidak mau, Bianca bangkit berdiri dan menemani si malaikat tersebut.
Oscar yang sedang sibuk latihan tanpa sengaja melihat sang ratu yang sedang berjalan di area lapangan latihan.
"Selamat pagi, yang mulia," sapa Oscar kepada sang ratu.
"Kenapa kamu latihan sendirian? Hari ini, kan cuti?"
"Aku tidak bisa diam saja walau hari ini atau hari apapun libur," balas Oscar dengan sigap.
"Dia benar-benar pria yang sangat disiplin, ya..." ucap Jenny kepada Bianca.
"Kalau kamu bilang seperti itu, aku tidak mau kalau salah satu anak buahku sakit atau apa-apa karena suka memaksa dirinya sendiri."
__ADS_1
Ia berkacak pinggang seraya berkata, "Kalau kamu adalah orang yang tidak bisa diam, kamu bisa membantu Calius atau Ivan mengurusi istana. Mumpung selama 4 hari para prajurit sedang libur."
"Tapi, yang mulia..."
"Oh ya ngomong-ngomong..." tiba-tiba Bianca mengganti topik.
"Hubunganmu dengan Komandan Baraouske... Ada apa?"
Oscar tampak diam saat mendengar pertanyaan yang menusuk di dalam tubuhnya.
"Yah... Kami hanya sebatas hubungan senior-junior saja, yang mulia," ucap sambil mengecilkan suara volumenya.
Baik Bianca dan Jenny saling pandang satu sama lain.
"Kalau begitu saya permisi dulu, yang mulia. Mungkin saya akan membantu Calius atau Ivan jika mereka kesulitan."
Setelah Oscar pergi, Jenny berkata, "Orang itu... Kelihatannya membunyikan sesuatu."
"Apa kita tanyakan langsung kepada dia?"
"Siapa?"
"Tentu saja Komandan Baraouske," balas Bianca santai.
"Apa? Hubunganku dengan Oscar?" tanya Jacob dan Bianca membalas dengan anggukan saja.
"Hanya rekan kerja saja, yang mulia. Ada masalah?"
Bianca langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Apakah yang mulia melihat Markus?"
Seketika Bianca langsung bingung. "Jendral Stenberg? Aku tidak melihat sama sekali. Ada apa?"
Jacob menujuk ke arah Gerda yang sedang asik makan salad buah buatan Ivan. "Anak ini dari tadi mencari temannya."
Bianca melirik ke arah Jenny, mengkode bahwa ia meminta bantuan kepada si malaikat itu.
Dengan cepat, Jenny langsung pergi mencari Kay.
"Gimana kondisi yang mulia? Apa ada yang sakit?"
"Tenang saja, komandan. Aku sudah lebih mendingan sekarang," balas Bianca sambil tersenyum lembut.
Jacob menghela nafas panjang, "Ini pertama kalinya saya berbicara dengan santai dengan anda, yang mulia."
"Pertama kalinya?" ucap Bianca menyadari sesuatu.
"Iya... Yang mulia selalu diam dan dingin kepada kami."
Bianca langsung diam saja sambil berpikir. Sedingin itukah sifat aslinya Bianca.
"Ah! Maafkan saya yang mulia... Saya tidak bermaksud-"
"Tidak apa-apa. Aku tau maksud perkataanmu."
Jacob hanya diam saja hingga Gerda memanggil mereka berdua.
__ADS_1