
Pagi harinya seperti biasa bi surti menyiapkan sarapan untuk dua orang perempuan yang berada di rumah majikannya, saat ia sedang sibuk di dapur dua perempuan tersebut menghampiri meja makan.
“Mama yakin kalo ayah bakal mati, mama gak salah masukin obat kan,” Ucap mawar sambil mengambil roti
hustt... husstt..
Jesica langsung memberikan kode kepada mawar dan mawar yang mengetahui kode dari ibunya langsung diam.
“Bibi ngapain masih disini,” Ucap jesica yang melihat ART masih berdiri.
“Maaf nyonya, kalo begitu bibi permisi,” Ucap bi surti
Mereka berdua langsung sarapan seperti semula, tadinya bi surti ingin menguping pembicaraan mereka berdua tapi malah ia diusir.
“Ma gimana kalo kita merayakan kesuksesan kita,” Ucap mawar
“Ide bagus. Kalo gitu kita belanja sepuasnya,” Ucap jesica
Mereka berdua sepakat untuk belanja, saat bi surti mendengar ucapan majikannya ia langsung memulai aksinya.
Di tempat lain vanesha masih menjaga ayahnya di rumah sakit, dia tidak tega ninggalin ayahnya sendiri. Saat ia memandang kearah alison pintu kamar inap ayahnya terbuka, ia melihat orang kepercayaan ayahnya datang menghampiri dirinya.
“Pagi mba,” Sapa frey
“Pagi,”
“Mba tidak berangkat ke kantor?” Tanya frey
“Bentar lagi saya ke Kantor, kamu tolong jaga ayah saya. Kalo ada apa-apa kamu kabarin saya segera,” Ucap vanesha
“Baik mba,”
“Ayah vanesha berangkat kerja dulu ya, nanti vanesha jenguk ayah lagi,” Ucap vanesha sambil mencium kening alison
Vanesha langsung menuju kantor, sampai di kantor ia langsung keruang kerjanya. Saat ia sibuk dengan berkas di tangannya tiba-tiba saja telpon kantornya bunyi.
Drrrttt... drrrttt..
Vanesha langsung mengangkat telepon tersebut, “Halo.”
“Halo non ini bibi, bibi mau kasih info ke non. Tadi bibi sempat dengar katanya mereka mau ke mall untuk merayakan keberhasilannya, tapi bibi gak tahu keberhasilan apa non? Tadi juga bibi dengar non mawar membicarakan pak alison terus bahas tentang mati gitu non,” Jelas bi surti
“Mati bi? Maksud bibi apa?” Ucap vanesha tidak paham
“Bibi tidak tahu jelas non, tapi pas bibi mau mendengar pembicaraan mereka berdua bibi diusir non. Jadi bibi gak sempat mendengar pembicaraan mereka berdua non,” Ucap bi surti
“Ya sudah bi tidak papa, nanti kalo ada hal penting lagi bibi kasih tahu saya aja,” Ucap vanesha
“Baik non,”
Vanesha langsung mematikan handphonenya dan melanjutkan aktivitas seperti semula.
__ADS_1
Saat aric berada di ruang kantor ia melihat ayah dan ibu tirinya masuk ke ruangannya.
“Sedang sibuk?” Tanya Rasya
“Iya, ada apa?” Ucap aric
Rasya dan jasmin langsung duduk di sofa, aric menghampiri mereka berdua.
“Tumben sekali ayah datang ke kantor! Ada urusan apa ayah ke kantor,” Ucap aric sambil mengangkat kakinya kearah kaki sebelahnya.
“Dasar anak tidak tahu diri, apa pantas kamu berbicara seperti itu sama ayah sendiri,” Ucap rasya sambil menahan emosinya.
Aric hanya diam dan malah dia tidak peduli dengan kemarahan ayahnya, “Kalo kalian berdua tidak ada urusan lebih baik kalian pergi dari kantor saya.” Tegas aric
“Ayah ingin bicara hal penting sama kamu,” Ucap rasya
“Hal penting apa?” Ucap aric
“Mi bisa keluar sebentar, ayah ingin bicara berdua sama aric,” Ucap rasya kepada jasmin
“Iya,”
Jasmin pun keluar tinggal mereka berdua lah yang berada di ruangan aric.
“Aric ayah ingin kenalkan kamu sama teman bisnis ayah,” Ucap rasya
“Buat apa ayah repot-repot cari aku wanita,” Ucap aric santai
Rasya hanya menghela nafasnya, “Ayah ingin kamu segera menikah, ayah malu sama teman ayah kalo kamu belum menikah sampai sekarang.”
“Tapi ayah ingin kamu menikah, ayah malu sama teman ayah. Teman ayah anaknya sudah pada menikah tinggal kamu saja yang belum menikah,” Ucap rasya
“Lebih baik kamu keluar dari kantor saya, saya tidak ingin membahas tentang pernikahan,” Tegas aric
“Seterah kamu, pokoknya ayah mau kamu temuin anak teman ayah. Kalo kamu tidak dengar ucapan ayah, ayah tidak menganggap kamu anak,” Ucap rasya sambil pergi meninggalkan aric sendiri di ruangannya.
Aric memijit keningnya yang sangat pusing, haruskah ia mengikuti keinginan ayahnya? dengan terpaksa aric mengikuti keinginan ayahnya untuk menemui anak bisnis ayahnya.
Malam harinya yang telah dijanjikan dirinya ia akan menemui anak dari rekan bisnis ayahnya, sekarang ia sedang menatap penampilannya didepan cermin. Sungguh membuat ia muak, dengan semuanya.
Dengan terpaksa aric menuju restoran yang telah dipesan oleh orang tua mereka berdua. Sampai di restoran aric langsung turun dari mobil dan menuju kedalam restoran, di sana ia melihat perempuan cantik yang sedang menunggu dirinya.
“Maaf saya telat,” Ucap aric sambil menarik kursi yang ada disampingnya.
“Iya tidak papa, kamu mau pesan apa?” Tawar dahlia
“Tidak perlu. Saya bisa pesan sendiri,”
“Baiklah,”
Mereka berdua tidak membicarakan apapun hanya terdiam satu sama lain, canggung. mungkin yang dirasakan dahlia saat ini, berbeda dengan aric malah ia sedang fokus dengan tablet yang berada di genggamannya.
__ADS_1
Akhirnya dahlia memulai pembicaraannya, “Saya minta maaf sudah memaksa kamu untuk datang menemui saya dan saya juga minta maaf sudah ngerepotin kamu untuk menuruti permintaan ayah kita berdua.” Jelas dahlia
Tapi aric hanya mengangguk tanpa bersuara, saat aric fokus dengan email yang dikirim sekretarisnya tiba-tiba saja sebuah sentuhan menyentuh tangannya. Dia langsung melihat kearah sentuhan tersebut.
Dahlia yang mengetahui mimik wajah tidak suka dari pemilik tangannya langsung melepaskan sentuhan tangan tersebut, “Maaf kalo saya lancang menyentuh kamu, tapi dari tadi kamu diam saja tidak berbicara satu katapun. Makanya saya menyentuh tangan kamu.”
Aric tidak menjawab pertanyaan Dahlia saat ia selesai dengan tablet nya ia langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan katapun atau mengantarkan dahlia pulang.
Sabar dahlia gue yakin lo pasti bisa menaklukkan sifat aric. Batin dahlia
Saat aric pulang menuju istananya ia tidak sengaja bertemu seseorang yang ia kenal.
Aric membuka kaca mobilnya, “Ada yang bisa saya bantu,” Tawar aric
Vanesha yang dari tadi menunggu pertolongan dari seseorang akhirnya ia mendengar suara seseorang, ia langsung menatap kearah sumber suara tersebut.
Dia terkejut apa yang ia lihat, ternyata orang itu adalah atasannya dulu.
“Tidak perlu saya bisa sendiri,” Tolak vanesha
Aric turun dari mobilnya dan menghampiri vanesha, “Saya boleh lihat mobil kamu.”
“Buat apa?”
“Siapa tahu saya bisa menolong kamu,”
Vanesha mengangguk akhirnya aric memeriksa mobil vanesha, “Sepertinya mobil kamu harus dibawa ke bengkel.” Ucap aric sambil menutup depan mobil vanesha
Vanesha hanya bergumam, “Saya boleh antar kamu pulang.” Tawar aric
“Tidak perlu, saya bisa pulang sendiri,” Tolak vanesha
“Kamu yakin dengan pilihan kamu, coba kamu lihat sekeliling tidak ada satupun mobil lewat di daerah ini,” Ucap aric
Benar juga yang dikatakan aric tidak ada satupun mobil yang lewat akhirnya vanesha menyetujui pulang bersama.
Dalam perjalanan mereka berdua hanya diam, aric yang tidak yaman dengan keadaannya sekarang akhirnya aric membuka suara.
“Kenapa kamu berhenti dari kantor?” Tanya aric
Vanesha langsung melihat kearah samping, “Bukan urusan kamu.”
“Baiklah, saya tidak akan maksa kamu untuk menanyakan hal yang tidak penting,” Ucap aric
Akhirnya sampai juga di rumah vanesha, saat vanesha ingin membuka pintu mobil tangannya ditahan oleh aric.
“Ada apa?” Ucap vanesha sambil melihat tangannya
Aric melepaskan tangan vanesha dan.. “Tidak ada.” Ucap aric
Vanesha pun keluar dan menuju ke pagar rumahnya, yang bodohnya aric tidak bisa bicara didepan vanesha. Seakan-akan mulutnya terkunci begitu saja.
__ADS_1
Saya tidak tahu harus memulai dari mana, entah kenapa mulut saya tidak lancar membuka pembicaraan didepan kamu. Malah saya seperti orang bodoh yang tidak memiliki kata-kata untuk dibicarakan. Batin aric
Aric langsung menancap mobilnya menuju istananya.