
Selesai urusan kantor aric kembali ke rumahnya, ia menuju parkiran dimana mobilnya terparkir. Sampai di rumah aric menyimpan mobilnya di bagasi rumah.
Di sana ia melihat vanesha sedang asik dengan TV dan juga cemilan yang ada dimeja langsung saja ia menghampiri vanesha, vanesha tidak mengetahui kalo atasannya duduk di samping dirinya.
Saat vanesha mengambil kopi buatannya tiba-tiba saja kopinya diminum sama seseorang ia langsung melihat orang tersebut, ternyata orang itu majikannya. Tapi tunggu itukan kopinya? kenapa dia minum kopi buatannya?
“Pak itukan kopi saya kenapa bapak minum kopi saya,” ujar vanesha
Dengan santainya aric meletakkan kembali kopi yang sempat ia minum dan mengambil cemilan, vanesha hanya bisa menghela nafasnya kenapa atasannya tidak mendengar dia ngomong? seakan-akan dia itu hantu penghuni rumah.
“Pak, bapak dengar omongan saya gak. Dari tadi saya ngomong tapi gak dijawab,” terang vanesha
“Iya saya mendengarnya,” jawab aric dengan santai.
“Kalo bapak dengar kenapa bapak gak jawab ucapan saya, malah bapak seenaknya minum kopi buatan saya,” protes vanesha
“Oh ini kopi kamu kirain saya ini buatan pembantu, pantesan aja rasanya beda,” kata aric
“Kenapa? bapak mau menghina saya lagi kalo kopi saya rasanya hambar kaya air comberan,” kesal vanesha karena ia masih mengingat kejadian yang dulu ia sempat membuatkan kopi tapi rasanya tidak enak sama sekali.
“Xixi kamu masih ingat aja kejadian itu, kirain saya kamu sudah lupa,” ujar aric
Vanesha tidak pedulikan ucapan atasannya dan dia mengambil kopi yang sempat diminum aric, saat ia meminumnya ternyata kopinya sudah dihabiskan. Vanesha beranjak dari duduknya menuju dapur, dia ingin membuatkan minuman spesial untuk dirinya. Selesai membuat minuman ia langsung kembali ke ruang tamu dan duduk di samping aric, saat aric mengambil minuman vanesha dengan cepat vanesha merebutnya.
“Kenapa kamu ambil,” ujar aric
“Ini minuman saya, kalo bapak mau bapak bikin aja sendiri,” sahut vanesha
“Besok-besok kamu buatkan kopi setiap hari untuk saya, tapi jangan kaya kemarin gak ada rasa apapun,” perintah aric
“Bapak nyuruh saya buatin kopi, saya buatin bapak kopi tapi gak gratis loh pak ada bayarannya,” jawab vanesha
Aric menatap vanesha dengan tajam dan yang ditatap tidak peduli dengan tatapan tajam yang diberikan oleh aric, “Berapa bayarannya saya akan membayar kopi buatan kamu.” ujar aric
Vanesha langsung tersenyum senang dengan ucapan atasannya, “Benar ya pak.”
Aric hanya mengangguk, “Baik saya akan buatkan bapak kopi setiap hari, tapi bapak harus bayar dua kali lipat dari gaji saya sebagai asisten pribadi bapak. Gimana bapak sanggup gak,” urai vanesha
Aric menatap kearah vanesha, “Iya saya sanggup membayarnya, kalo rasanya lebih enak dari buatan kamu saya akan membayar empat kali lipat dari kamu tawarkan.” tutur aric dengan kesombongan yang ia miliki.
__ADS_1
Vanesha mikir sejenak, lumayan juga empat kali lipat gue bisa belikan apapun yang gue mau dari uang tersebut. batin vanesha dengan senang.
“Oke saya setuju, tapi bapak harus bayar dengan ucapan bapak barusan,”
“Iya, saya tidak akan mengingkari janji saya sama kamu,”
Saking senangnya vanesha berkata 'yes', vanesha tidak mengetahui dari tadi aric melihat tingkah laku konyolnya didepan atasannya.
****
Pagi harinya seperti biasa vanesha terbangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, selesai mandi vanesha turun dari kamar menuju dapur. Di sana ia melihat atasannya sudah mengambil beberapa lauk di atas meja makan.
“Pak, saya boleh kerja lagi gak,” ujar Vanesha sambil menarik kursi
Aric hanya mengangguk dengan senangnya vanesha mengambil sarapan, selesai sarapan vanesha menunggu aric keluar tapi tidak keluar.
Lama banget pak aric keluar, ngapain si dia? Penting banget ya masuk lagi ke dalam. gerutu vanesha dalam hati.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang dan aric duduk di kursi depan, tunggu biasanya pak aric duduk di kursi belakang kenapa dia duduk didepan. batin vanesha
“Pak, kenapa bapak duduk di depan,” ucap vanesha sambil memakai seat belt.
“Saya mau duduk didepan, kenapa kamu keberatan kalo saya didepan?” tanya aric
“Yasudah, kamu langsung jalan aja kekantor,” perintah aric
Vanesha langsung menyalakan mobil dan menuju kantor, sampai di kantor vanesha menuju parkiran, selesai mobil terparkir vanesha turun dari mobil.
Vanesha menuju tempat biasa, tempat yang dulu ia singgah sebelum ia menjadi asisten pribadi seorang aric, di sana ia melihat aulia yang begitu sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Vanesha menarik kursi yang ada di samping aulia, “Sibuk banget ya.” ujar vanesha
“Iya begitulah,”
Selesai aulia menyelesaikan tugas kantor ia beralih menatap vanesha sedang sibuk dengan handphone yang ia genggam, “Sha, lo tidak kembali kerja seperti dulu lagi.” tanya aulia
Vanesha menghentikan aktifitasnya dan menggeleng, “Terus lu ingin fokus jadi asisten pribadi pak aric atau mengurus perusahaan ayah lu.” sambung aulia
“Gue belum tahu lia, gue belum kepikiran kesitu. Gue gak tahu harus melakukan apa! semenjak ayah gue meninggal, gue gak bisa fokus sama urusan kantor dan urusan pribadi gue,” tutur vanesha dengan nada kesedihan.
__ADS_1
Aulia merasakan apa yang dirasakan vanesha pasti susah sekali untuk memulai hidup baru, apalagi dengan seorang diri. “Lu yang sabar ya gue yakin lu pasti bisa ngejalanin semuanya.” jawab aulia sambil mengelus pundak vanesha dengan lembut.
“Iya,”
Jam istirahat kantor aulia dan vanesha pergi ke kantin dan memesan menu makanan yang ada di sana, mereka di kantin tidak hanya berdua melainkan berempat.
“Sha, sorry ya kita gak tahu kalo ayah lu meninggal,” ujar Jack
“Iya gak papa,”
“Terus gimana sama lu? Apa lu masih lanjut sama pekerjaan lu yang sekarang atau mau fokus sama perusahaan ayah lu,” tutur Zulfikar
“Iya mau gimana lagi gue harus ngurus perusahaan bokap gue, sekalian bekerja sebagai asisten pribadi pak aric,” jawab vanesha
Selesai aric bertemu gaston di ruangannya dia bergegas ke cafe bersama lucky dan gaston. Mereka bertiga menuju cafe dekat kantor, sesampainya di sana aric tidak sengaja bertemu dengan vanesha sedang ngobrol dengan laki-laki.
Gaston yang melihat aric langsung menuju pandangan yang ditatap oleh sahabatnya, “Kalo lo gak suka sama tuh perempuan jangan dipandang terus, biarkan dia bahagia. Kalo memang lu suka sama dia lu harus berusaha untuk mendapatkan hatinya, ingat ucapan gue penyesalan datangnya diakhir bukan diawal.” jelas gaston sambil menepuk pundak aric.
Aric hanya terdiam dengan ucapan gaston dan dia langsung menyusul gaston sama lucky, mereka bertiga langsung memesan menu yang ada di kafe.
“Gimana? sama tugas yang kamu kerjakan,” ujar aric kepada lucky
“Beres pak, semuanya sudah saya atur. Tinggal menunggu perintah bapak lagi,” jawab lucky
“Gue gak nyangka sama lu lucky masih bertahan aja lu sama bos lu yang super nyebelin,” lanjut gaston
“Sudah jadi tugas saya untuk menjalankan perintah dari pak aric,” ujar lucky
“Lu yang sabar ya sama sifatnya aric, kalo aric gak butuh lu lagi lu langsung aja ke gue. Nanti gue akan kasih lu kerjaan yang lebih baik dari pekerjaan lu yang sekarang,” tawar gaston
Aric menatap tajam kearah gaston dan gaston yang ditatap tidak peduli dengan tatapan sahabatnya, “Lu jangan hasut orang kepercayaan gue, kalo lu berani macam-macam gue lempar lu pakai gelas.” kata aric
“Santai bro gue cuman bercanda,” kekeh gaston
“Gimana sama hubungan percintaan lu dengan dahlia, lu mau nerima perjodohan orang tua lu apa memilih perempuan yang lu cinta,” ujar gaston
“Gue gak tahu sama pemikiran bokap gue, sebenarnya gue terpaksa menerima semuanya. Gue juga masih bingung sama percintaan gue yang sekarang, haruskah gue maju atau mundur?” jawab aric
“Kalo gue jadi lu gue lebih memilih perempuan yang gue cintai dari pada gue memilih perjodohan yang belum tentu gue bahagia,” saran gaston
__ADS_1
“Ingat bro mencintai seseorang boleh saja, tapi memilih perempuan untuk dijadikan pendamping itu susah karena lu tahu perempuan sekarang mana mau cari pendamping yang memulai dari nol, yang gue tahu perempuan ingin menikahi laki-laki karena kekayaannya bukan perjuangan cintanya,” jelas gaston
Lagi-lagi aric hanya mendengar ucapan gaston, jujur saat ini ia masih bingung sama pilihannya sendiri. Apakah ia harus menuruti keinginan hatinya atau bokap-nya?