BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
Pertemuan Terakhir


__ADS_3

Jeny yang berada di ruangan kantor bersama dengan Aric, awalnya mereka hanya membahas pekerjaan saja. Tapi lama-lama Jeny semakin ingin menginginkan lebih, saat dia mendapatkan info mengenai Aric dia langsung membawa Aric ke dalam genggamannya.


“Apa kamu yakin ingin ke perusahaan Aric,” ucap Sersan.


“Iya, aku ke sana hanya membahas pekerjaan bukan yang lain!” jawab Vanesha.


“Aku akan mengantarkan mu ke sana,” ucap Sersan membuat Vanesha menyerah, percuma dia menolak keinginan Sersan pasti pria itu akan ngotot untuk mengantarkannya.


Sampai di kantor Aric Sersan pun menghentikan mobil dan menyuruh Vanesha untuk keluar terlebih dahulu, malah Vanesha menunggu Sersan keluar dari mobil.


“Kenapa masih di sini!” ucap Sersan yang melihat Vanesha menunggu dirinya.


Vanesha tidak menjawab ucapan Sersan dan Sersan langsung membawa Vanesha ke tempat Aric, sampai di depan pintu Vanesha menghentikan kakinya membuat Sersan menggenggam tangan Vanesha.


“Kamu gak perlu takut, aku akan menemani kamu ke dalam!” ucap Sersan membuat Vanesha mengangguk.


Saat membuka pintu ternyata dia melihat Aric sedang bermesraan dengan Jeny, membuat Sersan menimbulkan suara.


Ehem!


Aric yang melihat ada tamu datang langsung melepaskan tangan Jeny yang selalu menempel kepadanya, ternyata Vanesha yang datang ke kantor. Tapi kenapa harus pria itu yang menemani Vanesha?


“Kalo mau pacaran jangan di sini,” sindir Sersan, Aric malah menaiki alisnya yang mendengar sindiran Sersan.


“Maaf kalo saya mengganggu kencan kalian, saya ingin membahas masalah pekerjaan saja. Setelah itu kalian bebas mau berduaan dimana aja,” kata Vanesha membuat Aric terkejut dengan perkataan Vanesha.


Selesai Aric menandatangani kontrak kerjasama dia hanya memperhatikan Vanesha, sedangkan Vanesha tidak peduli dengan tatapan Aric. Setelah itu Vanesha membawa berkas yang dia bawa dan menuju kepada Sersan.


“Tunggu,” ucap Aric menghentikan langkah kaki Vanesha.


“Biarkan saja dia pergi kenapa kamu malah menghentikan jalan mereka,” ujar Jeny manja dan Aric langsung menatap Jeny dengan tatapan tajam.


Membuat Jeny melepaskan tangannya, Aric menghampiri mereka berdua.


“Apa saya boleh bicara berdua sama kamu,” ucap Aric kepada Vanesha membuat Vanesha menatap kearah Sersan dan dijawab dengan anggukan.


Aric pergi ke sesuatu tempat hanya mereka berdua saja Vanesha hanya mengikuti Aric dari belakang, “Kenapa kamu bawa aku ke sini!” ucap Vanesha.


“Aku ingin meluruskan kesalahpahaman kita,” ucap Aric.


“Kesalahpahaman gimana?”

__ADS_1


“Yang kamu liat bukan seperti itu, kamu sudah tau kalo aku mencintai kamu. Aku tidak pernah berpaling sama perempuan manapun, walaupun banyak wanita seksi ataupun cantik aku gak bakal tertarik sama mereka. Aku memang bekerjasama dengan perusahaan Jeny tapi aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia,” jelas Aric sambil menatap mata Vanesha.


Vanesha ingin sekali percaya kepada Aric tapi dia tidak yakin dengan semua perkataan yang diucapkan Aric, dia tidak mau memercayai siapapun kecuali Sersan dan diri dia sendiri.


“Maaf, masalah hubungan kamu sama perusahaan Jeny aku tidak ikut campur. Aku datang ke sini hanya membahas pekerjaan saja gak lebih dari batas pekerjaan,“ urai Vanesha, dia tidak tau harus melakukan apa sedangkan Vanesha tidak percaya kepadanya lagi.


“Kalo tidak ada yang kamu bicarakan lagi aku akan kembali,” tutur Vanesha, belum juga Vanesha pergi sudah ditarik oleh Aric membuat Vanesha tidak berdaya.


“Aku mohon sama kamu, kamu harus percaya sama ucapan aku. Aku tidak mungkin mengkhianati kamu apalagi berpaling dengan wanita lain,” tutur Aric. “Kamu kembali lagi ya sama aku, kembali seperti dulu lagi!” tambah Aric yang masih mempererat pelukannya.


Vanesha sama sekali tidak berdaya dengan perkataan Aric, dia ingin kembali kepada Aric. Dia masih takut untuk membuka lembaran baru lagi.


Vanesha melepaskan pelukan Aric dan menghadap Aric, “Maaf aku gak bisa, aku gak bisa kembali seperti dulu lagi. Aku ingin hidup bahagia bersama orang lain bukan bersama orang yang sudah membuat aku kecewa,” setelah mengatakan itu Vanesha pun pergi dan dari kejauhan Sersan sudah mendengar ucapan mereka berdua, membuat dirinya berasa kasihan dengan Aric. Apalagi saat Aric mengatakan ucapannya dengan tulus membuat dirinya merasa bersalah membawa Vanesha pergi.


Aric benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri kenapa dia tidak bisa meyakinkan Vanesha malah dirinya tidak bisa membawa Vanesha pulang bersama, sedangkan Jeny menatap Aric dengan senang akhirnya Aric akan menjadi miliknya.


***


“Apa aku sudah melakukan hal yang tepat dengan keputusanku,” ucap Vanesha membuat Sersan berasa kasihan dengan percintaan mereka berdua.


“Aku yakin kamu pasti kuat ngejalanin semuanya, hanya saja kamu butuh waktu untuk melupakannya!” ucap Sersan sambil memberikan ketenangan kepada Vanesha.


Di dalam kamar Vanesha mengambil sebuah kotak yang terdiri dari kenangan yang diberikan Aric, apa dia harus membuang benda kenangan yang selama ini dia simpan. Saat dia tau dirinya memakai kalung pemberian Aric dia langsung melepaskan kalung tersebut dan menyimpan di kotak.


Dia sudah janji pada dirinya sendiri untuk melupakan Aric dan dia harus membuang pemberian yang diberikan Aric, “Apa yang aku lakukan sudah tepat untuk diriku sendiri,” batin Vanesha saat dia menatap kotak kenangan yang diberikan Aric.


Sersan yang melihat pintu kamar Vanesha terbuka langsung datang menemui Vanesha dan duduk di bangku meja rias.


“Aku yakin kalo memang dia jodoh kamu pasti kamu akan disatukan kembali, tapi kalo memang dia bukan pria yang tepat untuk kamu pasti tuhan sudah memberikan kamu pria yang tepat buat kamu,” jelas Sersan membuat Vanesha melirik Sersan.


Mendengar perkataan Sersan dia hanya bisa tersenyum, senyum yang dia tampakkan hanya senyuman kepedihan bukan kebahagiaan. Memang butuh waktu untuk melupakan semuanya apalagi dia kenal dengan Aric sudah lama mungkin butuh waktu sangat lama untuk membuang kenangannya.


“Aku akan berusaha untuk melupakannya dan menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan positif,” ujar Vanesha membuat Sersan senang. Semoga saja Vanesha bisa bertahan untuk melupakan pria itu.


Saat berada di rumah Aric hanya terdiam tanpa melakukan aktifitas lain, asisten rumah tangganya yang menatap majikannya merasa kasihan apalagi saat perempuan itu pergi membuat Aric susah untuk melupakan wanita itu.


“Den, bibi sudah menyiapkan sarapan kesukaan aden. Lebih baik aden makan terlebih dahulu bibi tidak mau aden kenapa-kenapa,” kata Bi Ina.


“Aku tidak lapar bi,” jawab Aric membuat bi Ina tidak tega melihat kondisi majikannya.


Bi Ina menutup kembali kamar Aric dan Aric hanya duduk dengan tatapan kosong, seakan-akan dirinya tidak memiliki semangat hidup. Satu-satunya perempuan yang membuat dirinya berubah sudah meninggalkan dirinya dan membuat dirinya tidak bisa melakukan apapun lagi.

__ADS_1


Kenapa percintaannya seperti ini, kenapa dirinya susah sekali untuk disatukan oleh Vanesha. Perempuan itu sudah merubah dirinya dan membuat dirinya menjadi pria yang berguna, tidak seperti dulu yang melakukan perilaku jahat apalagi kepada orang lain.


Saat matahari sudah terbit dirinya masih saja lesung, seharusnya hari ini dia bekerja seperti biasa tapi nyatanya dia tidak ingin melakukan apapun selain di kamar. Benar yang dikatakan orang hal yang paling menyakitkan ditinggalkan seseorang yang kita cintai dan butuh waktu lama untuk melupakannya.


Dari dapur bi Ina terus memperhatikan kamar majikannya dari semalam Aric tidak turun dari kamar, menoleh untuk mengambil makanan saja tidak. Sekarang dia harus melakukan apa kalo begini terus kesehatannya akan terganggu, apalagi Aric mempunyai penyakit bawaan dari lahir kalo penyakitnya kambuh gimana.


Akhirnya bi Ina menghampiri kamar Aric, “Den bibi sudah menyiapkan sarapan pagi! Mari den makan dulu nanti kalo gak makan penyakit aden kambuh,” tutur bi Ina.


Malah di dalam kamar tidak ada sahutan, sedangkan Aric masih meringkuk dengan selimut. Bi Ina tidak tau bahwa dari semalam Aric merasakan penyakitnya kambuh malah dirinya hanya mendiamkan penyakit yang dia rasakan.


Bi Ina bingung kenapa tidak ada sahutan dari Aric, dia pun menelpon Lucky untuk datang ke rumah dan Lucky yang mendengarkan ucapan bi Ina langsung bergegas ke rumah bosnya.


Sampai di rumah bosnya dia pun menuju lantai atas dan di sana dia sudah melihat bi Ina di depan pintu Aric.


“Gimana bi sudah ada tanda-tanda dari Aric,” ucap Lucky membuat bi Ina menggeleng.


“Pak, bapak ada di dalam. Ini saya Lucky saya masuk ya pak,” ucap Lucky sambil mengetuk pintu kamar Aric malah di dalam kamar sunyi.


Tanpa aba-aba Lucky mendobrak pintu Aric dan menampakan bosnya sedang tidur dengan wajah pucat, bi Ina yang melihat itu langsung menelpon dokter. Akhirnya dokter pribadi Aric sampai di waktu yang tepat.


“Kalian beruntung mengabarkan saya secepatnya kalo kalian sampai telat menghubungi saya mungkin nyawanya sudah tidak terselamatkan,” jelas dokter Abraham.


Abraham memberikan resep obat kepada Lucky, “Tolong resep obatnya kamu tebus, kalo gitu saya pamit dulu!”


“Terima kasih dok,” ucap Bi Ina membuat dokter Abraham mengangguk.


“Ya ampun pak, kenapa jadi seperti ini!” ucap Lucky. “Bi, tolong jaga Aric sebentar ya! Saya ingin mengambil obat ini terlebih dahulu,” tambah Lucky.


Dari tadi bi Ina mendengar Aric mengigau nama Vanesha terus sampai-sampai dia tidak tega melihat itu semua, “Apa aku menghubungi non Vanesha saja dan bilang kalo den Aric sedang sakit,” ucap Bi Ina yang terus menatap Aric.


Tanpa pikir panjang bi Ina langsung menghubungi Vanesha, sedangkan Vanesha yang lagi asik sarapan tiba-tiba saja dia mendengar suara handphone dari dalam tas dan dia langsung mengambil benda tersebut.


Kenapa bi Ina menghubungi dirinya. pikirnya saat mengetahui asisten rumah tangga Aric menelponnya.


“Ada apa? Kenapa tidak diangkat,” ucap Sersan.


Malah handphone Vanesha terus-menerus berdering, “Angkat saja siapa tau penting!” lanjut Sersan yang masih melahap sarapan yang dia genggam.


Vanesha terkejut mendengar kabar bi Ina bahwa Aric sakit dan dia langsung ke rumah Aric, “Ada apa? Kenapa wajah kamu panik begitu!” kata Sersan.


“Aku harus pergi, ada hal yang harus aku urus!” ujar Vanesha yang langsung melangkahkan kakinya dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2