BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
Faktor Bumil


__ADS_3

Aric yang melihat Vanesha sedang menonton film sambil memakan cemilan, dia pun menghampiri Vanesha yang asik dengan cemilan yang perempuan itu genggam.


Aric pun duduk di samping Vanesha sambil mencolek pipi Vanesha yang sudah berisi, sedang Vanesha tidak menyadari bahwa suaminya sudah berada di sebelah. Saat Vanesha ingin memakan cemilan sudah di masukan ke mulut Aric bukan mulutnya membuat Vanesha kesal, saat tau bahwa Aric mengganggu dirinya.


“Sayang jangan gangguin aku dong, nyebelin banget jadi cowok!” lontar Vanesha membuat Aric gemas saat istrinya kesal.


“Ulu... Ulu! Gemas banget kamu, istri siapa sih ini!” ucap Aric yang terus mengganggu Vanesha.


“Istri tetangga sebelah,” ledek Vanesha membuat Aric menghentikan kejahilannya dan menatap kearah televisi.


Vanesha tertawa pelan saat dia tau bahwa suaminya ngambek, “Sayang kamu kenapa?” tanya Vanesha sambil mencolek pipi Aric.


“Tidak tau,” bukannya Vanesha membujuk suaminya supaya tidak marah malah membuat menjahili Aric.


“Sayang! Anak bunda, kalau nanti kamu lahir jangan main sama ayah ya! Masa ayah tukang ngambek, nanti kalau kalian sudah besar jangan kaya ayah kaya ibu aja, oke anak bunda!” Aric menatap Vanesha dengan tajam membuat Vanesha tidak peduli dengan tatapan yang diberikan Aric.


“Dia juga anak aku, bukan anak kamu aja! Masa kamu ngomong gitu sama anak sendiri,” ucap Aric yang masih mengembangkan pipi.


“Siapa suruh kamu ngambek, dari pada ngomong sama kamu lebih baik ngomong sama dede bayinya!”


Bukannya Aric marah malah dia memeluk istrinya sambil menatap Vanesha yang masih sibuk menonton televisi, “Sayang aku minta maaf, jangan diam aja dong!” Vanesha menatap Aric membuat Aric memanyunkan bibir, saat itu juga Vanesha tertawa saat melihat wajah suaminya yang begitu menggemaskan.


“Kenapa ketawa? Memangnya ada yang lucu,” tanya Aric yang masih mendengar tawa Vanesha.


“Besok aku mau kerjasama dengan perusahaan Tiongkok, jadi besok aku akan berangkat ke sana!” pembicaraan Aric mulai dengan nada serius, sedangkan Vanesha hanya mendengar ucapan Aric.


“Harus besok ya,” jawab Vanesha yang membuat Aric sedih saat nada bicara istrinya menjadi sedih.


Vanesha menghela nafas, “Berapa hari kamu di sana?” tanya Vanesha sambil menatap Aric.


“Paling lama seminggu,” ucap Aric.


Vanesha tidak merespon apapun dan dia hanya mengangguk dengan jawabannya, sebenarnya dia tidak tega meninggalkan Vanesha di rumah sendiri apalagi Vanesha sedang hamil.

__ADS_1


“Kamu tidak papa aku tinggal sendiri di rumah,” ucap Aric membuat Vanesha mengangguk.


“Iya tidak papa, kamu ke sana untuk kerja bukan yang lain!” Aric memeluk Vanesha dengan manja, semenjak dia hamil sikap manja suaminya semakin kumat.


“Sayang. Barang-barang aku sudah selesai,” ucap Aric yang masih sibuk dengan dasi.


“Sudah,” jawab Vanesha yang duduk sambil menatap suaminya, kenapa saat Aric ingin pergi hatinya tidak rela apa faktor dia hamil atau gimana.


Aric yang merasa dilihatin langsung menatap Vanesha dan dia pun berjalan kearah Vanesha, “Kenapa sayang?” tanya Aric.


Vanesha tidak menjawab malah dia langsung memeluk Aric dengan erat, sedangkan Aric hanya membalas pelukan istrinya.


Aric melepaskan pelukannya. “Kamu baik-baik ya di sini, aku tidak akan lama di sana. Kalau urusanku selesai aku akan pulang,” kata Aric sambil mencium kening Vanesha dan Vanesha hanya merasakan ciuman suaminya yang terakhir kali.


Vanesha menatap kepergian suaminya dibalik pintu, Aric yang melihat istrinya tersenyum hanya membalas senyuman Vanesha dari kejauhan.


“Mari pak,” ucap supir, Aric pun masuk ke dalam mobil yang masih menatap istrinya dan Aric melambaikan tangan kearah Vanesha.


Setelah melihat mobil suaminya sudah menjauh dia pun masuk ke dalam, Vanesha hanya menatap rumahnya saat tidak ada Aric dan sekarang dia harus terbiasa tanpa suaminya.


Setelah menempuh perjalanan akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan, Aric membawa koper ke dalam kamar yang sudah mereka pesan. Sedangkan Bryan sekretarisnya menuju kamar yang berbeda, selesai merapikan pakaian dia mengambil handphone yang berada di kantong jas.


Aric memberikan pesan kepada Vanesha kalau dirinya sudah sampai dengan selamat, tapi dia menunggu pesan tersebut ternyata tidak di balas apa istrinya sedang sibuk. Aric kembali meletakan handphone dan beristirahat untuk memulihkan tenaganya.


Sedangkan Vanesha yang dari tadi berada di ruang tamu sambil memakan cemilan, saking asiknya dia tidak mengetahui bahwa Aric mengirimkan pesan. Vanesha melihat jam di dinding tepat di depan, Vanesha mematikan televisi dan kembali ke dalam kamar.


Vanesha mengambil handphone yang dia letakkan di atas meja dan melihat pesan tersebut, ternyata suaminya mengirimkan pesan yang dirinya tidak mengetahui dengan cepat Vanesha membalas pesan tersebut dan kembali meletakan handphone.


Keesokan harinya Vanesha sudah bersiap untuk pergi ke kantor, lebih baik dia melakukan kegiatan yang membuat dia sibuk dari pada di rumah membuat dia bosen.


“Mba, ngapain di sini?” tanya Ava yang melihat atasannya datang ke kantor.


“Saya mau melihat perkembangan kantor, apa saya salah datang ke kantor saya!” ucap Vanesha membuat Ava menggeleng.

__ADS_1


Ava menuntun Vanesha ke ruangannya yang di tempatkan oleh Mawar, sampai di ruangan Ava membuka pintu tersebut membuat Mawar mendongak keatas pintu ternyata kakaknya yang datang.


“Kakak kenapa tidak bilang kalau mau ke kantor,” ucap Mawar yang menyuruh Ava membuat minuman.


“Aku bosen kalau di rumah, apalagi Aric sedang melakukan bisnis ke Tiongkok! Dari pada aku bosen di rumah lebih baik aku ke sini,” kata Vanesha, beberapa menit kemudian Ava kembali sambil membawakan minuman untuk bosnya.


Vanesha meminum air yang diberikan Ava, “Apa aku boleh membantu kamu untuk menyelesaikan berkas yang kamu kerjakan!” ucap Vanesha yang menunggu jawaban Mawar.


“Baiklah. Tapi kakak tidak boleh kecapean apalagi kakak sedang hamil,” ucap Mawar yang terus memperingatkan dirinya membuat Vanesha terkekeh saat Mawar mengkhawatirkan dirinya.


“Kamu tenang saja kakak akan baik-baik aja,” ucap Vanesha dan Mawar memberikan berkas yang menurutnya sangat sedikit, biarkan dirinya saja yang melakukan berkas yang paling banyak dari pada kakaknya.


“Gimana hubungan kamu sama Andre, apa baik-baik saja!” ucap Vanesha yang menunggu jawaban Mawar.


Sedangkan Mawar hanya diam saat ditanya tentang suaminya, apalagi sekarang dia sedang mempunyai masalah dengan Andre. Apa dia memberitahu kakaknya tentang masalahnya, tapi dia takut kalau kakaknya kepikiran.


“Hubungan aku sama Andre baik-baik aja, kakak tenang aja Andre suami yang baik!” ujar Mawar membuat Vanesha percaya.


“Maafkan aku kak. Bukannya aku ingin berbohong tapi aku takut kakak kepikiran tentang rumah tanggaku,” batin Mawar yang merasa bersalah sama Vanesha.


Setelah mengantarkan Vanesha pulang, Mawar langsung menyalakan mobil. Vanesha yang menatap kepergian Mawar dia pun masuk ke dalam, sebenarnya dia sedikit curiga dengan Mawar tapi dia tidak mau ikut campur masalah rumah tangga adiknya.


Vanesha merogoh kantong jaket untuk mengambil handphone dan dia melihat pesan, salah satu pesan tersebut dari suaminya dia pun membalas pesan tersebut.


Mawar membuka pintu rumah dan di sana dia melihat Andre sedang berduaan dengan wanita lain, Mawar hanya mengacuhkan keberadaan Andre dan dia melanjutkan langkah kakinya ke dalam kamar tanpa memperdulikan Andre yang sedang bermesraan dengan wanita lain.


Sedangkan Andre hanya menatap kepergian Mawar, apa istrinya tidak cemburu melihat dia dengan wanita lain. Sebenarnya apa yang dipikirkan Mawar saat pandangan istrinya malah acuh tanpa cemburu sedikit pun.


“Ada apa, sayang?” tanya wanita itu sambil merayu Andre yang sedang menatap Mawar.


Andre hanya tersenyum kecut saat melihat wanita yang sedang duduk di pangkuannya, mereka berdua melanjutkan aktifitasnya dan Mawar tidak peduli dengan bisikan di lantai bawah, dia yakin kalau suaminya sedang melakukan kegiatan yang sangat menjijikan.


“Jangan pikirkan macam-macam Mawar, lebih baik kamu melakukan aktifitas lain dari pada mikirin Andre,” batin Mawar yang selalu menyemangati dirinya.

__ADS_1


Andre langsung melepaskan pelukan wanita yang berada di sampingnya, tanpa memperdulikan wanita simpanannya dia pun melemparkan sebuah uang dan dia menyusul istrinya ke lantai atas.


__ADS_2