
Saat semua karyawan yang berada di ruang meeting keluar tinggal ada beberapa orang saja yang masih setia di sana, malah Aric tidak ingin beranjak dari kursi.
“Pak! Kita masih ada pertemuan di restoran seafood untuk membahas kerjasama kita yang selanjutnya,” kata Bryan.
Malah bosnya tidak menjawab perkataan dirinya, dia pun menatap kearah Vanesha yang masih setia ngobrol dengan pria lain. Kemarin Lucky cerita bahwa hubungan Vanesha dengan bosnya sudah tidak seperti dulu lagi, mendengar ucapan Lucky membuat dirinya bersalah. Awal rencana untuk mempertemukan Vanesha dengan atasannya adalah rencana dirinya tapi malah menjadi kacau.
“Pak! Maafin saya ya,” ucap Bryan yang merasa bersalah dengan apa yang dia lakukan.
“Tidak papa,” Aric pun beranjak dari kursi dan pergi meninggalkan dua sejoli yang masih setia duduk di ruang meeting.
“Kalo kamu masih cinta dengannya lebih baik kamu akui saja, dari pada kamu nantinya menyesal entar pria itu mendapatkan wanita yang lain yang lebih dari kamu,” kata Sersan yang masih menatap tatapan Vanesha kepada Aric.
Vanesha tidak memperdulikan ucapan Sersan malah dia ninggalin Sersan di ruang meeting, “Dasar kelas kepala,” gumam Sersan.
Baru saja Vanesha ingin keluar dari perusahaan Aric ternyata dia menyaksikan Aric berpelukan dengan wanita lain yang dia tau wanita itu kakak kelas waktu dia SMP, bernama Dara. Dara memang teman kuliahnya Aric dan dia juga senior Vanesha yang dulu pernah menyukai pria yang sama tapi pria itu direbut oleh Dara.
Menurut dia cerita itu adalah masa lalu buat apa dia mengingatnya kembali, dari kejauhan Sersan melihat tatapan Vanesha melihat bahwa pria yang sahabatnya sukai berpelukan dengan wanita lain. Saat Sersan ingin menghajarnya ternyata sudah di tahan oleh Vanesha.
Sebelum Sersan membuat keributan dia membawa Sersan pergi dan di saksikan dua sejoli yang sedang berpelukan, Aric langsung melepaskan pelukan Dara dengan paksa sambil mengarahkan pandangannya kepada Vanesha.
“Aku kangen banget sama kamu! Apa kamu tidak merindukan ku?” kata Dara dengan penuh rayuan membuat Aric merasa jijik.
“Lepasin tangannya atau saya panggilkan kamu satpam untuk menarik kamu keluar dari perusahaan saya,” ucap Aric dengan tegas dan Dara langsung menjauhkan tangannya.
Di tempat yang sepi mereka berdua sedang terdiam satu sama lain dan pria itu benar-benar kesal dengan perlakuan pemilik perusahaan yang sudah menyakiti sahabatnya.
“Kenapa kamu menarik aku keluar, kalo kamu tidak menarik aku keluar aku akan mengajar pria yang sudah melukai kamu—” Sersan terus menahan emosinya supaya tidak menyakiti Vanesha. “Kamu liat perlakuannya tadi dia sudah mempermainkan kamu VANESHA! Kamu sadar dong kalo laki-laki seperti dia tidak pernah menyukai kamu, malah akan mempermainkan kamu terus-menerus,” hardik Sersan yang masih emosi di puncak yang begitu tinggi.
Vanesha hanya diam tanpa membalas ucapan Sersan, seharusnya dia tau bahwa hubungan dirinya akan seperti ini. Dulu dia hanya berpikir untuk mengambil bunga autaristik buat menyembuhkan luka ayahnya tapi dia tidak menyangka akan seperti ini.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya emosi Sersan mereda dan dia langsung menatap wajah Vanesha. “Maaf! Aku minta maaf sudah membentak mu, aku tidak bermaksud seperti itu,” ucap Sersan lembut.
Sersan membawa Vanesha pergi jauh dari perusahaan Aric dan sekarang mereka berdua sedang jalan-jalan menatap bunga-bunga yang sedang mekar, dari kecil Sersan sudah mengetahui bahwa Vanesha menyukai bunga makanya dia mengajak Vanesha untuk datang ke tempat taman bunga.
“Gimana menurut kamu tempat ini,” tutur Sersan.
“Indah..! Aku suka tempat ini, makasih banyak ya kamu sudah membawaku kemari!” ucap Vanesha sambil tersenyum.
Sersan membalas senyuman Vanesha dan mengajak Vanesha berkeliling taman bunga yang ia kunjungi, setelah mereka berkunjung ke taman bunga mereka berdua pun pulang.
***
__ADS_1
Malah Aric dari tadi tidak bisa konsen dalam pekerjaannya, kenapa Vanesha bisa akrab sama pemilik perusahaan Jepang? Dan dia tidak tau bahwa Vanesha melihat adegan bermesraan mereka berdua.
Aric menatap handphone yang tidak ada pesan satupun, hari ini dia benar-benar galau memikirkan satu perempuan yang membuatnya kepikiran. Apalagi saat di ruang meeting Vanesha terus-menerus terhibur dengan Sersan membuat dirinya terbakar api cemburu.
Di tempat lain Vanesha sedang menonton film percintaan, malah film tersebut seperti kisah percintaan dirinya. Alur yang menyedihkan pikirnya.
Akhirnya film yang dia tonton tamat dan dia juga bingung mau ngapain di rumah yang begitu besar, asisten rumah tangganya cuti karena anaknya sakit. Biasanya asisten rumah tangganya selalu menemani dirinya sampai berbagi cerita, sekarang pembantu rumahnya tidak ada di rumah.
Menyebalkan! Tidak punya saudara kandung sangat kesepian, malah dulu dia berharap ingin memiliki adik tapi kejadian kecelakaan masa lalunya yang harus kehilangan kedua orang tuanya.
“Lebih baik aku keluar dari pada di rumah,” ucap Vanesha.
Vanesha pun mengganti pakaian dan langsung melangkahkan kakinya di arah pintu dia tidak lupa mengunci pintu rumahnya. Di perjalanan dia tidak tau harus kemana? Malah jalan yang dia lewati sangat sepi membuat dia semakin merinding, apalagi jalan ini tidak pernah dilewati pengendara manapun.
Dia tidak sengaja berpapasan dengan Bryan sekretaris Aric sambil menuntut Aric keluar, tanpa pikir panjang dia pun menghampiri mereka berdua.
“Aric kenapa?” tanya Vanesha.
Bryan mendongak, “Kamu bisa memberikan tumpangan untuk kita berdua!” pinta Bryan.
Vanesha mengangguk dan Bryan langsung membuka pintu mobil setelah itu dia langsung menjalankan mobilnya, sampai di rumah dia pun menyimpan mobil dan Bryan membuka pintu mobil sambil menuntun atasannya masuk ke dalam.
Malah Vanesha membantu Bryan untuk menuntun Aric masuk ke dalam rumah, mereka berdua meletakan Aric di kamar.
“Lebih baik kamu pulang aja, aku yang akan menjaga Aric!” Bryan terkejut dengan ucapan Vanesha, walaupun hubungan mereka tidak seperti dulu lagi tapi Vanesha selalu membantu atasannya.
“Baiklah, kalo gitu aku pamit. Kalo ada apa-apa kamu kabarin aku segera,” kata Bryan dan dijawab oleh Vanesha dengan anggukan.
Vanesha membuka sepatu Aric sambil menyelimuti Aric sampai setengah dada, dia tidak mungkin melepaskan pakaian Aric apalagi dia seorang wanita manapun bisa melakukan itu. Saat Vanesha ingin keluar tiba-tiba saja tangannya di cekal membuat badannya tidak bisa maju.
“Jangan tinggalkan aku,” kacau Aric dalam mimpi, Vanesha pun duduk di samping Aric sambil melepaskan tangan Aric.
“Aku tidak akan meninggalkan kamu,” ucap Vanesha sambil mengelus rambut Aric.
Tidak terasa hari sudah pagi malah dari semalam Vanesha tidur di samping Aric, Aric yang merasakan cahaya matahari sudah menerangi kamarnya dia pun terbangun. Saat dia menatap ke arah samping ternyata Vanesha yang menemaninya tidur, membuat dirinya tidak percaya bahwa ini kenyataan bukan mimpi.
Malah Aric tidak ingin beranjak dari ranjang, dia masih menatap Vanesha sambil memainkan hidung Vanesha dan semua wajah yang Vanesha miliki.
“Sekarang kamu tidak bisa meninggalkan aku lagi karena kamu sudah masuk ke rumahku, yang artinya kamu harus menetap di sini!” kata Aric dengan lembut, entah dari dorongan mana tiba-tiba Aric mencium bibi Vanesha yang membuat dirinya candu. Apalagi saat wanita ini datang ke Indonesia dia tidak pernah melakukannya apapun seperti dulu lagi.
Aric bukannya bangun malah dia melanjutkan tidurnya sambil memeluk Vanesha, Vanesha yang merasakan ada sebuah tangan menempel di badannya langsung membuka mata ternyata dia sudah tertidur di kamar Aric sampai-sampai posisi mereka seperti ini.
__ADS_1
Vanesha terus berusaha melepaskan pelukan Aric malah tidak bisa, Aric terus mempererat pelukannya membuat Vanesha terus mendekati wajah Aric.
“Ini orang kebo banget, sudah tau pagi masih aja tidur!” Vanesha terus saja ngedumel, malah dia terus melepaskan pelukan Aric tapi kenyataannya tidak bisa jadi dia membiarkan posisi mereka seperti ini.
“Kalo di liat-liat Aric ganteng juga, malah wajahnya tidak pernah berubah masih yang dulu—” Vanesha terus memainkan rambut Aric. “Aku terus-menerus menghindar dari kamu tapi kenyataannya tidak bisa, malah pikiran aku selalu mengingat kamu. Apalagi saat aku pergi, ragaku memang ikut denganku tapi hatiku tidak bisa dan sekarang kamu berada di sisiku,” tambah Vanesha membuat Aric senang dengan perkataan Vanesha.
Tiba-tiba saja Aric mencium bibir Vanesha sekilas membuat pemilik bibir terkejut, “Selamat pagi!” sapa Aric dengan senyuman.
“Sekarang kamu sudah bangun dan aku akan pergi dari rumah kamu,” ucap Vanesha tapi Aric tidak akan pernah melepaskan Vanesha yang kedua kalinya.
“Aric, kamu bisa lepasin pelukan kamu gak!” ujar Vanesha yang terus melepaskan tangan Aric yang masih kuat memeluk dirinya.
“Enggak,” tolak Aric dengan lembut.
“Tapi Aric A—” belum juga Vanesha melanjutkan perkataannya sudah di sosor dengan bibir Aric membuat Vanesha berontak tapi tenaganya tidak kuat melepaskan ciuman Aric.
Selesai melahap bibi Vanesha dia pun menatap Vanesha dengan tatapan penuh makna, “Aku tidak akan melepaskan kamu lagi, walaupun kamu memohon aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi!” ucap Aric dengan lembut.
Masa ia posisi mereka seperti ini terus, apalagi perutnya sangat lapar. Tidak sengaja Aric mendengar suara perut dari Vanesha membuat Vanesha malu saat perutnya tidak bisa di kompromi.
Aric yang mendengar itu langsung tersenyum ngeledek, malah Vanesha langsung cemberut.
“Bibirnya gak usah begitu, apa kamu mau aku melahap kembali bibir kamu seperti tadi!” dengan cepat Vanesha menggeleng dan Aric langsung turun dari ranjang menuju dapur.
Belum juga Vanesha menampakkan kakinya di ubin, “Jangan pernah berpikir kalo kamu bisa keluar dari sini!” ancam Aric membuat Vanesha merinding dengan tatapan yang diberikan Aric kepadanya.
Kalo kaya gini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan dia menuju toilet untuk membersihkan badannya, selesai mandi dia pun menghampiri Aric yang lagi menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Selesai sarapan mereka berdua saling diam dan Aric menyuruh Vanesha untuk mendekatinya, Vanesha hanya mengikuti kemauan Aric dan Aric memeluk Vanesha dari belakang membuat dirinya merasakan nafas Aric dekat dengannya.
Aric meletakkan dagunya di pundak Vanesha, “Aku tidak mau kamu pergi lagi, aku mau kamu tetap di sini seperti dulu lagi!” kata Aric dengan wajah dibuat sedih.
Vanesha tidak menjawab apapun dan Aric menyingkirkan rambut Vanesha sambil mencium leher jenjang Vanesha dengan bibirnya, Vanesha yang diperlakukan seperti itu terkejut apalagi serangan Aric secara tiba-tiba.
“Aku mau kita menikah,” ucap Aric secara tiba-tiba membuat Vanesha terkejut.
“Menikah?” membuat Aric mengangguk dan Vanesha langsung mengubah posisinya menghadap ke Aric.
“Aku butuh waktu untuk memikirkan itu,” jawab Vanesha yang belum yakin seratus persen.
“Berapa lama,”
__ADS_1
“Aku belum tau kapan! Tapi aku butuh waktu untuk memikirkan itu semua,” tatapan mereka saling bertemu dan mereka saling merasakan nafas mereka satu sama lain.
Aric langsung menghela nafasnya, “Baiklah, aku akan menunggu jawaban kamu!”