
Sebuah tempat yang baginya sangat indah, matanya menatap sekeliling menurutnya tempat ini sangat indah dan bagus. Tapi yang ia bingung kenapa tempat ini tidak ada satupun orang yang tinggal di sini.
Dia pun penasaran dengan tempat tersebut, kakinya terus melangkah saat dia menemukan semua orang yang tidak memakai pakaian berwarna tapi hanya pakaian berwarna putih yang ia lihat.
Orang itu berjalan kearah tangga, dia hanya menatap orang tersebut. Apa mungkin orang itu tinggal bersama keluarganya yang sangat menyayangi dia.
Semua orang pada ke tempat itu tapi tidak dengan dirinya, dia malah terdiam tanpa mengikuti langkah mereka.
Seseorang yang memakai pakaian yang sama menyenggol dirinya. "Buat apa kamu berada di sini, apa kamu sudah siap menuju tempat indah itu." dia hanya mengangguk, wajah orang itu tidak terlalu jelas saat dirinya menatap orang itu.
"Tunggu" panggil Mawar yang terus mengikuti kemanapun dia pergi. Salah satu orang itu menahan dirinya dan dia hanya menatapnya genggaman tangan itu ia lepaskan membuat dirinya mengikuti laki-laki itu.
Bara masuk ke kamar rawat Mawar, wanita itu masih sama saat dirinya menjenguk kekasihnya. Dia terus menatap dengan tatapan sendu, dia duduk di samping Mawar yang terus menggenggam tangan tersebut.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, aku kangen sama kamu. Plus aku mohon bangun demi aku." lirih Bara. Dia memang laki-laki yang lemah saat melihat orang yang ia cintai berbaring tidak berdaya, tiba saatnya dia masih berada di ruangan tersebut sebuah dokter dan suster masuk membuat Bara menatap pintu tersebut.
"Maaf pak lebih baik bapak keluar sebentar, saya dan dokter akan meriksa keadaan pasien." kata suster itu. Bara tidak menjawab malah dia mengikuti kata suster, dia keluar sambil menatap Mawar dari arah pintu.
Bara duduk untuk menunggu dua orang itu keluar, dia berharap kalau Mawar secepatnya akan kembali seperti dulu. Dokter dan juga suster keluar saat mereka berdua sudah memeriksa keadaan Mawar, dokter itu meminta suster untuk meninggalkan dirinya.
Bara yang mendengar langkah kaki seseorang langsung menatap orang tersebut, Bara yang mengetahui dokter itu menghampirinya langsung menatapnya.
"Gimana keadaannya dok? Apa dia baik-baik saja? Apa Mawar akan sembuh seperti dulu." berbagai pertanyaan yang di lontarkan Bara membuat dokter itu bingung, dirinya memang bingung saat mengetahui bahwa pasien yang bernama Mawar masih setia di dalam mimpinya.
Dokter itu memberikan sentuhan di pundak Bara membuat laki-laki mengerutkan dahinya. "Kamu yang sabar ya, saya bukan tuhan yang bisa menentukan kapan dia sadar tapi saya akan berusaha untuk menyembuhkan Mawar."
__ADS_1
Bara terdiam sambil mencerna perkataan dokter itu, dokter itu pamit untuk kembali bekerja. Sejak wanita itu masih menutup matanya dia sama sekali tidak tertarik melakukan pekerjaan kantor, entah kenapa raga dan hatinya jauh berbeda dari biasanya dia ingin sekali Mawar kembali seperti dulu lagi.
"Mau sampai kapan kamu membuat aku menderita seperti ini, aku mau kamu sadar. Mawar apapun yang terjadi aku akan selalu ada buat kamu." batin Bara yang menatap pintu rawat Mawar.
Vanesha kondisinya masih sama saat dirinya kehilangan anaknya dia sama sekali tidak memiliki semangat hidup, hidupnya seakan-akan mati apalagi kalau dirinya tahu kalau dirinya tidak bisa memiliki anak lagi.
Sepulang dari rumah sakit dia tidak sengaja mendengar percakapan suaminya dengan seseorang, dia tidak tahu siapa orang yang sedang di hubungi suaminya tapi dia yakin kalau pembicaraan mereka sangat penting.
Tadinya dia ingin pergi ke dapur tapi pembicaraan mereka sangat menarik, semakin dia mendengar semakin ia penasaran dengan ucapan mereka berdua.
"Apa tidak ada cara lain untuk istri saya memiliki anak, rahim istrinya saya baik-baik saja kan?"
"Kemungkinan sangat kecil bu Vanesha mendapatkan anak, saat kecelakaan itu Vanesha mengalami benturan keras membuat dirinya pendarahan. Saya tidak tahu pasti apakah Vanesha akan memiliki anak atau tidak, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan bu Vanesha."
Dia yakin kalau Aric mendengar dirinya datang, saat melihat pintu kamar terbuka dia langsung pura-pura tidur. Dia tidak mau kalau suaminya tahu kalau dirinya mengetahui pembicaraan mereka berdua.
"Apapun kondisi kamu saya akan selalu ada untuk kamu," ucap Aric pelan. Dia mengelus rambut Vanesha sambil memberikan ciuman di kening istrinya, setelah mendengar pintu kamar tertutup dia langsung membuka mata dan menjatuhkan air matanya.
"Andai kamu tahu kalau aku tidak mungkin bersama kamu, aku terlalu takut kalau nanti kamu akan berpaling sama aku. Aku tahu kondisi aku sangat membuat kamu merepotkan aku tidak ingin membuat kamu susah." batin Vanesha yang menatap pintu kamarnya.
***
"Aku kangen sama kamu" ucap Aric manja. Dia yang baru pulang dari kantor melihat istrinya menatap jendela langsung memeluk tubuh Vanesha.
Vanesha tidak menjawab, dia masih memikirkan ucapan negatif yang ada di benaknya. Dia merasa takut kalau suaminya akan berpaling darinya apalagi dia tidak bisa menjadi wanita sempurna untuk suaminya.
__ADS_1
"Sayang ada apa? Kamu kenapa diam saja." kata Aric yang terus mengecup leher jenjang Vanesha. Gerakan Vanesha hanya menggeleng dia tidak mau membuat suaminya khawatir.
Aric menyuruh Vanesha untuk menatapnya, wajahnya dia dekatkan ke wajah istrinya dan dia merasakan hembusan nafas yang diberikan istrinya.
"Kalau kamu ada masalah kamu cerita sama aku, aku tidak mau melihat kamu seperti ini." ujar Aric lembut. Aric mengecup bibir istrinya sekilas dan menatap lekat wajah Vanesha.
Vanesha membuang nafasnya kasar. "Aku takut kalau kamu akan berpaling sama aku, aku tahu kalau kondisi aku membuat kamu repot. Aku tidak mau merepotkan kamu, kamu juga seorang laki-laki yang menginginkan anak dari pasangannya sedang aku tidak bisa memberikan itu sama kamu."
Aric yang melihat kondisi istrinya sedih, dan dia mengambil dagu Vanesha untuk menatapnya. "Aku sama sekali tidak menanggap kamu nyusahin, kamu itu istri aku apapun yang terjadi aku akan mendukung kamu. Aku yakin tuhan memiliki rencana yang terbaik untuk kita jadi kamu tidak boleh bicara kaya gitu lagi." Aric memberikan pelukan ketenangan untuk istrinya dia tidak mau melihat Vanesha sedih.
"Ya tuhan berikan kami kesabaran untuk menghadapi ujian yang kamu berikan, kalau memang kamu memberikan ujian ini untuk kita berdua biarkan kami menjalaninya dengan ikhlas." batin Aric yang masih memeluk tubuh Vanesha.
Aric mengajak istrinya pergi, dia tidak tahu apakah istrinya akan bahagia atau tidak tapi dia sudah janji untuk membalikan kebahagiaan yang dimiliki istrinya.
"Maaf ya sayang aku ngajak kamu ke tempat ini," tutur Aric membuat Vanesha menatap suaminya. Tempat yang diberikan suaminya sangat indah, mana mungkin dia menolak atau menyakiti perasaan suaminya.
"Tidak masalah, makasih untuk semuanya. Makasih kamu selalu ada untuk aku, maaf aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuk kamu." kata Vanesha dengan tulus. Aric tersenyum sambil mengecup pipi Vanesha walaupun banyak orang yang menatapnya tapi dia tidak peduli.
"Sayang masih banyak orang, malulah kalau dilihatin orang." protes Vanesha sambil mencubit pinggang suaminya. Aric kesakitan saat cubitan yang diberikan tidak berasa apapun, dia memang sengaja melakukan itu supaya istrinya tidak terlalu sedih.
Vanesha tertidur saat berada di dalam mobil sekali-kali Aric melirik istrinya, entah kenapa dia sangat bahagia mendapatkan Vanesha. Dia tidak masalah kalau dirinya tidak memiliki anak yang penting istrinya selalu bersamanya, dia akan berusaha untuk memiliki keturunan mungkin keturunan itu bukan sekarang tapi dia yakin kalau rumah tangganya akan memiliki anak.
Aric menggendong tubuh Vanesha menuju kamar, dia membuka pintu kamar dengan tangan yang satu dan menutup kamar memakai kakinya. Aric meletakan Vanesha di atas kasur sambil menyelimuti tubuh istrinya.
"Tidur yang nyenyak ya istriku" ucap Aric mengecup kening Vanesha. Langkahnya menuju pintu kamar mandi, tidak mungkin dia tidur dengan tubuh yang begitu lengket jadi dia mandi untuk menghilangkan keringat yang sudah menjadi-jadi.
__ADS_1