
Vanesha yang merasakan cahaya matahari menyinari rumah dia pun terbangun dari tidurnya, dan dia beralih menatap Aric yang masih pulas dengan mimpi indahnya.
Vanesha berinisiatif untuk mengambil segelas air putih, saat dia kembali ke ruang tamu ternyata dia sudah melihat Aric bangun.
“Kamu minum dulu,” ucap Vanesha sambil memberikan Aric segelas air putih. “Gimana sama keadaan kamu sekarang?” tanya Vanesha sambil meletakkan kembali gelasnya.
“Saya baik-baik aja,” jawab Aric tanpa melihat dirinya.
“Kamu mau makan?” tawar Vanesha.
Aric menggeleng, “Apa aku kasih tau yang sebenarnya saja? tapi apa dia mau menerima penjelasan aku.” batin Vanesha.
Saat Aric ingin pergi Vanesha mengucapkan sebuah kalimat, “Kamu mau kemana?” tanya Vanesha.
Aric hanya melirik Vanesha sekilas dan dia beralih melangkahkan kakinya menuju lantai atas, sedangkan Vanesha berinisiatif ke dapur untuk membuat sarapan. Selesai membuat sarapan Vanesha menyusun makanannya dimeja makan, saat dia sedang menyusun makanan tiba-tiba saja Aric turun dari tangga dengan berpakaian rapih. Mau kemana dia?
“Kamu tidak sarapan?” tanya Vanesha, “Aku sudah membuatkan makanan kesukaan kamu.”
Aric sebenarnya tidak tega melihat Vanesha sudah bersusah payah membuatkan sarapan untuknya, tapi dia masih tidak percaya kalo perempuan yang dia percaya sudah berbohong kepadanya.
“Aku makan diluar aja....,” Aric beralih menatap handphonenya, “Kalo makanannya tidak habis tinggal berikan makanan itu ke orang lain.” Aric melanjutkan langkah kakinya menuju bagasi tempat mobilnya tersimpan.
Vanesha hanya menghela nafasnya, mungkin ini salahnya tidak mengatakan yang sebenarnya. Dia ingin sekali memberitahu kepada Aric tapi dia takut kalo Aric tidak bisa menerima penjelasan darinya.
“Maaf sudah buat kamu seperti ini! Bukannya aku tidak ingin jujur tapi aku masih ragu dengan semuanya, apalagi kalo kamu sampai tau takutnya kamu tidak mau maafin aku,” batin Vanesha.
Sekarang Aric sudah berada disebuah restoran yang tertutup khusus para bisnis, semua orang yang berada di sana sedang menikmati minuman dan makanan. Tapi tidak dengan Aric malah dia menatap handphone terus tanpa memperdulikan sekitarnya.
“Pak,” panggil Bryan.
Bryan menepuk pundak Aric, “Bapak tidak makan?” tanya Bryan.
“Kamu makan saja. Saya sudah kenyang,” kata Aric yang masih setia dengan handphonenya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Rani membisikkan sesuatu kepada bosnya, “Bu. Sepertinya pak Aric sedang ada masalah.”
Dara melirik Aric, “Saya harus melakukan apa? supaya Aric tertarik sama saya.”
Rani membisikkan rencana supaya bosnya ini bisa berhasil mendapatkan Aric, walaupun Rani tau kalo Dara dulu teman kuliahnya Aric. Tapi Dara sudah menyukai Aric saat masih kuliah malah Aric sama sekali tidak melirik kearah Dara.
“Apa kamu yakin dengan rencana mu itu,” ucap Dara.
“Iya bu. Saya yakin,”
Selesai acara mereka semua pamit ke tempat masing-masing, sedangkan Dara sedang menunggu Aric keluar dari tempat tersebut. Setelah lama menunggu dia langsung mendekati Aric.
“Habis ini kamu mau kemana?” tanya Dara sambil menggandeng tangan Aric.
Aric hanya melirik Dara dengan tatapan tajam dan Dara langsung melepaskan tangannya, “Kamu mau anterin aku ke sesuatu tempat gak.” kata Dara.
“Enggak,”
“Plus. Gue mohon lu mau ya nganterin gue ke sesuatu tempat,” Dara berharap kalo Aric mau pergi dengannya walaupun dia tau membujuk Aric itu susah sekali.
Akhirnya dia berhasil membujuk Aric dan mereka berdua langsung pergi ke sesuatu tempat, entah tempat yang mana yang mau ditunjukkan oleh Dara. Malah Aric mengikuti kemauan Dara walaupun dia tidak suka diperintahkan seperti ini.
Saat dia turun dari mobil ternyata dia melihat sebuah taman yang menurutnya sangat indah untuk dipandang, Dara yang melihat Aric terpukau dengan pemandangan ikut senang karena dia berhasil membawa Aric ke tempat ini.
Dan tiba-tiba saja Dara menarik tangan Aric ke tempat yang sudah disiapkan oleh sekretarisnya, sampai di sana Aric mengerutkan dahinya saat dia melihat sebuah meja dan juga tikar yang dia pikir itu sebuah piknik.
“Buat apa kamu ngajak aku kesini?” tanya Aric. “Saya bukan anak kecil yang suka piknik.” saat Aric ingin meninggalkan Dara tangannya ditahan oleh Dara.
“Plus, kali ini aja kamu ikuti permintaan aku. Aku tidak akan minta apapun lagi selain ini,” ucap Dara sambil memohon dan Aric hanya bisa pasrah.
Saat Dara banyak bicara Aric memandang dua sejoli sedang pacaran yang tidak jauh dari tempatnya, jadi teringat dia dengan Vanesha. Dia juga pernah jalan berdua sambil ngobrol bareng, saat dia mengingat kejadian itu hatinya terasa sakit apalagi sekarang dia dibuat kecewa dengan Vanesha.
Dara yang melihat Aric memandang sepasang kekasih langsung memanggil, “Aric.” panggil Dara.
__ADS_1
“Kamu lanjutkan pikniknya sendiri aku masih banyak kerjaan,” tutur Aric dan dia pun pergi meninggalkan Dara sendiri di sebuah taman.
“Ternyata susah sekali mendapatkan kamu Aric, aku gak tau harus melakukan apalagi untuk mendapatkan kamu,” batin Dara saat Aric sudah menghilang dari penglihatannya.
***
Vanesha mendapatkan kabar bahwa dirinya akan pindah keluar kota untuk sementara, di sana dia bukan untuk berlibur melainkan untuk menguruskan perusahaan. Selesai packing barang bawaan dia membawa barangnya menuju lantai bawah, karena dia sempat memesan taksi online jadi dia menyuruh supir taksi online untuk membantu dirinya.
“Mari mba saya bantu,” ucap supir taksi online saat penumpangnya kewalahan membawa barang bawaan.
Vanesha memberikan barangnya ke supir, sebelum berangkat dia mengirimkan sebuah surat di kamar dan dia melihat rumah Aric yang sudah dia anggap rumah sendiri.
“Makasih kamu sudah mengizinkanku tinggal disini, walaupun aku tau aku tinggal di rumah mu untuk menyembuhkan ayahku. Karena ayahku sudah tidak ada jadi aku akan meninggalkan kamu mungkin untuk selamanya. Suatu saat nanti kita akan bertemu lagi, entah kapan? tapi aku yakin pasti kita ketemu kembali dengan cerita yang baru,” batin Vanesha saat Vanesha memandang rumah Aric tiba-tiba saja supir taksi menghampiri dirinya untuk segera berangkat ke bandara.
“Mba, barang-barangnya sudah saya masukan kedalam mobil,” jelas supir taksi.
“Iya pak, kalo gitu kita berangkat sekarang aja takut ketinggalan pesawat,” kata Vanesha.
Supir taksi itu pun mengangguk dan Vanesha langsung berangkat menuju bandara, didalam perjalanan mobil mereka saling bertemu tapi mereka tidak melihat satu sama lain. Saat Aric sampai di rumah dan dia pun turun dari mobil, saat dia mencari keberadaan Vanesha malah perempuan itu tidak ada?
Dia pun menaiki anak tangga dan menuju kamar Vanesha saat membuka pintu kamar ternyata tidak ada Vanesha, dia terus saja mencari keberadaan Vanesha tapi tidak menemukannya. Saat dia ingin kembali keluar tidak sengaja dia melihat sebuah surat yang diletakan di meja rias dan dia langsung mengambil surat itu sambil membacanya.
Isi suratnya
Aku minta maaf sudah mengecewakanmu, mungkin kalo aku pergi kamu bisa memaafkan aku. Aku tau aku salah sudah mengambil bunga autaristik kamu tanpa memberitahukan kamu terlebih dahulu, aku yakin kalo kamu tau alasan aku untuk mengambil bunga itu pasti kamu akan mengerti.
Mungkin ini satu-satunya cara buat menenangkan pikiranku dan semoga saat kita bertemu kembali kamu sudah memaafkan aku, aku yakin pasti kamu bisa hidup tanpa aku. Karena aku tau kamu itu laki-laki yang tidak mudah putus asa dan bisa mandiri tanpa kehadiranku, terima kasih kamu sudah mengizinkanku untuk tinggal di rumah mu.
Aku akan selalu merindukanmu, salam hangat Vanesha.
Dan Aric menutupnya kembali, dia tau dia salah sudah mendiamkan Vanesha. Seharusnya Vanesha tidak boleh meninggalkan dirinya apalagi mengenai bunga itu? saat dia tau kalo Vanesha mencuri bunga autaristik disaat itu juga dia sudah memaafkan dia, tapi dia ingin tau kejujuran dari mulut Vanesha.
Saat dia melihat jam tangan ternyata sudah terlambat untuk menyusul Vanesha ke bandara, dia berharap kalo dirinya akan dipertemukan kembali.
__ADS_1
“Aku akan selalu menunggu kamu datang ke Indonesia, sampai kapanpun kamu satu-satunya wanita yang aku miliki,” batin Aric sambil memandang foto mereka berdua.