
Saat Vanesha ingin bangun tiba-tiba saja tangan Aric mempererat pelukannya, membuat Vanesha sama sekali tidak bisa bergerak. Satu menit! Dua menit! Dan beberapa menit kemudian Aric masih setia melingkarkan tangannya ke pinggang Vanesha, membuat Vanesha susah untuk beraktivitas.
“Kerjanya besok aja, aku ingin kamu di sini!” ucap Aric dengan suara khas bangun tidur.
Vanesha membalikan badan menghadap suaminya, “Tidak bisa sayang, ada urusan yang harus aku selesaikan di kantor!” kata Vanesha membuat Aric membuka mata sambil memanyunkan bibir seperti anak kecil.
“Oh! Jadi menurut kamu kantor lebih penting dari pada suami kamu,” Vanesha hanya menggeleng kepala, kenapa suaminya tidak bisa sehari saja tidak menggangu dirinya.
Vanesha mengelus pipi Aric, “Sayang dengerin aku ya! Aku ada urusan mendadak di kantor nanti kalau urusan kantorku sudah selesai baru aku ke kantor kamu untuk makan siang, gimana kamu mau 'kan makan siang bareng aku?” lontar Vanesha supaya Aric yakin dengan perkataannya.
“Ya sudah, tapi kamu harus tepati janji kamu untuk makan siang bersama!” urai Aric dijawab anggukan oleh Vanesha.
'Akhirnya dia bisa membujuk Aric, coba kalau suaminya masih keras kepala sama ucapannya urusan kantor akan runyam' batin Vanesha.
Selesai sarapan Aric mengantarkan Vanesha ke kantor, di depan pintu kantor mobil yang Aric bawa terhenti dan Vanesha pun turun dari mobil tanpa memperdulikan suaminya. Membuat Aric kesal sama istrinya, saat Vanesha sibuk pasti dia dilupakan.
Aric pun pergi menuju kantor, Vanesha yang baru sampai langsung pergi menemui Ava.
“Kamu sudah menghubungi mawar,” ucap Vanesha.
“Sudah Bu,” membuat Vanesha mengangguk dan dia pun pergi ke tempat ruangan kantornya.
Sebelum Mawar datang ke kantor Vanesha dia tidak lupa untuk meminta izin kepada Andre, awalnya Andre ingin mengantarkan dirinya tapi dia menolak. Dia tidak mau merepotkan orang lain lagi.
“Permisi mba, kak Vanesha ada di dalam!” ucap Mawar saat dia sudah sampai di depan ruangan Vanesha.
“Ada mba, masuk aja!” Mawar mengangguk dan dia langsung membuka pintu tersebut, ternyata Vanesha sedang fokus sama berkas yang ada di tangan.
“Ehem!” Vanesha mendongak ketika mendengar suara dari seseorang, ternyata Mawar.
“Silahkan kamu duduk,” pinta Vanesha membuat Mawar mengangguk.
__ADS_1
“Kenapa kakak menyuruhku datang kemari,” ucap Mawar membuat Vanesha tersenyum.
“Saya ingin kamu jawab jujur, apa benar kamu bekerja di toko kue tempatnya Andre!” Mawar yang mendengar ucapan Vanesha terkejut, gimana dia bisa tau kalau dirinya bekerja di sana?
“Kamu tidak usah terkejut gitu, saya sudah tau semuanya! Dari awal kamu mau dijual sama pria kaya dan sampai kamu bekerja di tempatnya Andre,” jelas Vanesha membuat Mawar tersenyum kecut.
Saat Vanesha mengetahui itu semua rasanya dia ingin pergi jauh dari Vanesha, apalagi dia sudah bukan adik yang dulu lagi. Dirinya sudah kotor sudah bukan Mawar yang dulu lagi.
“Saya tau kalau ibu kamu memiliki hutang dan saya akan membayar semua hutang-hutang ibu kamu, tapi ada syaratnya–” ucapan Vanesha terhenti saat Mawar sudah memotong perkataannya.
“Apa syaratnya? Aku akan mengikuti syarat yang kak Vanesha berikan, tapi saya mohon sama kakak jangan menyuruhku untuk bersama pria kaya lagi!” Vanesha senyum saat ungkapan Mawar dengan jujur.
“Tidak, saya tidak mungkin melakukan itu ke kamu! Walaupun ibu kamu sudah jahat sama keluarga aku tapi aku tidak mungkin jahat kepada kamu, saya ingin kamu bekerja di perusahaan ini untuk menggantikan saya. Saya tidak mungkin selamanya di kantor ada masanya aku menyerahkan perusahaan ini ke kamu tapi tidak dengan ibu kamu dan saya juga mengetahui kalau kamu menyukai Andre! Mantan pacar kamu dulu,” ucapan Vanesha membuat dirinya tersenyum malu, tapi dia tidak yakin kalau Andre menyukainya.
“Kamu tenang aja aku tidak akan bilang ke siapapun masalah kamu menyukai Andre tapi aku akan membantu kamu supaya Andre menyukai kamu,” mata Mawar berbinar saat Vanesha ingin membantu dirinya.
“Kakak yakin mau membantuku, kalau Andre tidak menyukaiku lagi gimana?” tutur Mawar sambil menunduk.
“Kamu tidak perlu takut pasti Andre bakal menyukai kamu lagi, tapi aku hanya membantu seperlunya saja! Selebihnya aku tidak bisa karena cinta itu tidak bisa dipaksakan, apalagi kembali seperti dulu!” kata Vanesha membuat Mawar mengerti karena dia tau kalau cinta tidak mungkin di paksakan.
Vanesha mengelus tangan Mawar, “Kamu tidak perlu sedih masih banyak lelaki di luar sana yang lebih baik dari Andre, yang penting kamu sudah berusaha untuk mencintai Andre! Masalah Andre membalas cinta kamu atau tidak itukan urusan Andre,” perkataan Vanesha membuat Mawar sadar bahwa cinta tidak mungkin dipaksakan.
***
Selesai mengurus berkas yang ada di tangannya dia pun pergi ke kantor suaminya, sampai di kantor dia tidak sengaja berpapasan dengan Bryan sekretaris suaminya.
“Di dalam ada pak Aric,” ucap Vanesha.
“Pak Aric sedang di kantin Bu,” jawab Bryan membuat Vanesha mengangguk.
Setelah dia pamit kepada Bryan dia langsung pergi ke kantin, di sana dia melihat suaminya berduaan dengan wanita lain. Tapi kenapa perempuan itu malah menggoda suaminya, dia pun langsung menghampiri Aric.
__ADS_1
Saat Jeny ingin menyentuh wajah Aric sudah di cekal oleh Vanesha, membuat Jeny meringis sakit saat tangannya dibuang dengan kasar. Malah Vanesha membuat wanita itu kesal saat
dirinya menggoda suaminya di depan wanita lain.
Jeny ingin menumpahkan jus ke Vanesha ternyata sudah di siram balik sama Vanesha membuat perempuan itu basa kuyup akibat ulahnya, “Perempuan tidak tau diri, kamu mau mengambil pria yang aku sukai! Seharusnya kamu ngaca perempuan seperti kamu masih banyak yang menyukai kamu bukan mengambil pria sudah aku dapatkan!” seru Jeny.
“Oh ya! Kamu yakin kalau Aric menyukai kamu, apa kamu belum tau kalau pria yang kamu sukai sudah mempunyai pawangnya sendiri!” kata Vanesha dengan berbangga diri. Sedangkan Aric hanya tersenyum saat melihat istrinya cemburu dengan wanita lain.
Belum sempat Vanesha melanjutkan perkataannya sudah di dahulu oleh Aric, “Dia istri saya, istri yang aku cintai! Jadi kamu sudah taukan kalau aku sudah mempunyai istri lebih baik kamu mencari pria lain saja, sebelum aku mengakhiri kerjasama kita!” jelas Aric sambil memeluk Vanesha dengan erat.
Jeny yang merasa marah dia pun pergi dari kantin dan Vanesha duduk bersama Aric, “Kenapa kamu ketawa? Memangnya ada yang lucu!” oceh Vanesha.
“Kamu cemburu ya ngeliat aku berduaan sama wanita lain,” ucap Aric sambil menggoda Vanesha.
“Tidak. Hanya tidak suka kamu berdua sama wanita lain,” bohong Vanesha sebenarnya dia cemburu melihat suaminya berduaan dengan wanita lain selain dirinya.
“Baiklah... Baiklah! Aku tidak akan membuat nyonya Vanesha cemburu lagi,” lagi-lagi Aric menggoda dirinya membuat Vanesha mendengus kesal.
“Diam lah, aku malas meladeni kamu lagi! Lebih baik aku pergi dari sini,” saat Vanesha mengatakan itu dia langsung menarik tangan Vanesha dan duduk di pangkuannya.
“Jangan cemberut begitu dong, aku janji tidak akan berani macam-macam sama perempuan manapun kecuali sama kamu!” kata Aric membuat Vanesha tersenyum dan mereka berdua melanjutkan aktifitas makan siang bersama.
Saat makan malam Vanesha langsung tidur di kamar, sedangkan Aric malah sibuk dengan laptop. Selesai mengerjakan tugas kantor Aric menuju ranjang dan di sana dia melihat istrinya sudah terlelap, dia pun menjahili Vanesha. Dia tau bahwa Vanesha belum sepenuhnya tidur jadi dia menindih tubuh Vanesha sambil mencium wajah istrinya.
Vanesha yang merasakan berat di tubuhnya langsung terbangun dan dia melihat Aric sedang menindihnya sambil mencium tubuhnya.
“K–kamu mau apa?” tanya Vanesha saat Aric sedang mencari tempat paling nyaman.
Aric mendongak menatap wajah Vanesha yang begitu indah dan Aric mencium bibir Vanesha dengan lembut, awalnya dengan lembut tapi lama-kelamaan membuat ciuman mereka semakin kasar. Vanesha hanya mengikuti gerakan bibir yang diberikan Aric saat dirinya membuka mulu akhirnya Aric bisa memasukan lidahnya ke dalam mulur Vanesha dan memainkan lidah istrinya.
Tidak itu saja Vanesha mengulurkan tangannya ke pundak suaminya dan memperdalam ciuman mereka, selang beberapa menit mereka berciuman akhirnya Aric menghentikan ciumannya dan beralih mencium ke leher jenjang Vanesha. Awalnya menjilat kuping istrinya lama-lama dia memperdalam ciumannya sampai-sampai Vanesha mengeluarkan desahan nikmat yang membuat Aric semakin cepat mencium Vanesha.
__ADS_1
“Eungh,”
Desahan yang diberikan Vanesha membuat dirinya gencar untuk melakukan lebih dan mereka berdua akhirnya melakukan malam pertama yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.