
Sudah seminggu Bara menunggu Mawar di rumah sakit, dia hanya berharap kalau Mawar membuka mata. Dan melihat dirinya kalau dia sangat merindukan wanita ini, entah sejak kapan dia takut, takut kehilangan wanita ini.
Wawan hanya menatap Bara di luar pintu, baru kali ini dia melihat Bara yang sangat mengkhawatirkan wanita itu. Wanita itu sangat beruntung mendapatkan Bara, lelaki yang tidak peduli dengan wanita akhirnya lelaki itu mendapatkan wanita yang tepat. Tapi alurnya tidak seperti yang dia bayangkan, dia selalu berharap kalau wanita itu secepatnya sadar supaya Bara bisa kembali seperti dulu lagi.
“Mau sampai kapan kamu menutup mata kamu, apa kamu tidak mau melihat dunia. Melihatku, melihatku yang selalu melindungi kamu. Aku mohon sama kamu buka mata kamu demi aku,” ucap Bara yang menatap Mawar yang masih berbaring lemah.
“Saya akan menunggu kamu, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun itu. Aku ingin kamu yang menjadi wanitaku, wanita yang aku miliki!” Bara bangkit dari duduk sebelum Bara pergi dia tidak lupa mencium kening Mawar.
Setelah itu dia keluar dari ruangan ICU, di sana dia sudah melihat Wawan yang sedang menunggu dia keluar.
“Dimana wanita itu? Apa wanita itu sudah tertangkap?” tanya Bara saat Wawan mendongak sambil mengangguk.
“Sudah pak. Mereka berdua sudah berada di kantor polisi dan semua bukti sudah saya kasih ke polisi,”
“Beri hukuman yang setimpal untuk mereka berdua, saya tidak mau melihat dua wanita itu hidup. Malah saya ingin membuat wanita itu menderita seperti yang di alami Mawar,” kata Bara yang tatapannya sudah menjadi iblis.
Wawan hanya diam saat tatapan yang diberikan Bara tidak seperti biasanya, apa bosnya akan berubah menjadi jahat seperti dulu lagi. Apa sekarang pria itu tidak ada hati lagi saat wanitanya terluka.
“Kenapa kamu masih di sini, apa ucapan saya kurang jelas. Kamu minta ke kantor polisi untuk membebaskan wanita itu dan saya mau kedua wanita itu untuk menemui saya, secepatnya!” tukas Bara membuat Wawan mengangguk, secepatnya Wawan pergi dari hadapan Bara dia tidak mau melakukan kesalahan saat Bara sedang marah.
Bara sedang menuju dua wanita yang menyebabkan wanitanya kecelakaan, di dalam hati Bara sudah tidak sabar untuk menghancurkan wanita itu. Sampai kapanpun tidak ada orang yang bisa menghancurkan wanitanya, kalau dia sampai tau dia tidak akan segan-segan membuat orang itu menyesal.
“Kalian semua mau bawa kita kemana? Kalau kalian berdua berani menculik kita, kita akan laporkan kamu ke kantor polisi.” Wawan yang mendengar itu langsung tertawa, dia tidak salah dengarkan dengan perkataan wanita ini. Mana ada yang percaya sama ucapan wanita iblis seperti dia.
“Kalian bisa diam tidak, kalau sekali lagi saya mendengar ocehan kalian. Saya tidak akan segan-segan menghilangkan suara kalian,” dua wanita itu saling diam malah dua wanita tersebut saling menatap saat lelaki itu menampakkan aura iblis.
__ADS_1
Di tempat yang sangat jauh dari permukiman warga, dua wanita itu sudah di tempatkan di ruangan yang sangat gelap dengan mata tertutup.
“Kalian mau apa? Kenapa kita di bawa kemari, lepasin ikatannya dan lepasin penutup matanya.” teriak Erika yang berusaha melepaskan ikatan.
Lelaki bertubuh tegap, dengan aura yang sangat menakutkan. Lelaki itu memasuki ruangan yang cukup gelap, di sana dia melihat dua wanita yang saling terikat. Salah satunya wanita itu hanya mendengar langkah kaki yang diberikan Bara, lelaki iblis yang tidak akan segan-segan menghancurkan musuhnya.
“Erika... Jesica! Nama kalian sangat cocok untuk di jadikan santapan singa yang saya pelihara, saya tidak tau tubuh mana yang akan dilahap oleh peliharaan saya. Tapi saya rasa mungkin kaki kalian dulu yang di santap peliharaan saya, saya ingin melihat kematian kalian berdua. Apakah mengenaskan atau masih ada kerangka tulang yang tersisa,” tatapan Bara masih melihat dua wanita itu, dua wanita itu yang menyebabkan wanitanya menderita.
“Kamu siapa? Jangan macam-macam sama kita berdua, kalau kamu berani macam-macam saya akan melaporkan perbuatan kamu,” sungut Jesica yang masih mendengar suara lelaki itu.
Bara mendekati dua wanita tersebut dan menangkap wajah dua wanita itu secara bergantian, wanita itu hanya merasakan sentuhan yang diberikan Bara. Erika yang merasakan sentuhan dari tangan laki-laki langsung berontak, dia ingin tau siapa lelaki itu.
“Sepertinya wajah kalian sangat cocok untuk dijadikan koleksi pajangan saya, saya ingin tau kalau saya menjual wajah kalian apa mahal atau murah.” Jesica yang mendengar itu langsung marah saat ucapan orang itu menyamakan dia dengan hewan buruan.
“Kamu... Kamu samakan kita dengan hewan, orang seperti apa kamu yang hanya bicara seperti itu.” Jesica sangat marah saat dia disamakan dengan hewan buruan.
Bara pergi dari tempat tersebut, dan di sana dia melihat Wawan yang dari tadi menunggu dirinya.
“Awasi mereka berdua, saya tidak ingin semua orang tau kalau saya membawa mereka kemari. Biarkan wanita itu menderita di sini saya tidak mau melihat wanita ini senang,” kata Bara yang menatap ruangan itu dengan aura tajam, sedangkan Wawan hanya patuh dengan perintah yang diberikan bosnya.
***
Bara yang baru saja memasuki ruangan ICU dan duduk di hadapan Mawar, kenapa wanita ini masih belum bisa membuka mata. Apa wanitanya tidak merindukan dirinya, kenapa wanita ini masih betah dengan mimpinya.
Bara mengambil tangan Mawar dan menggenggam tangan tersebut. “Mau sampai kapan kamu tidak membuka mata kamu, aku merindukan kamu Mawar. Aku ingin kamu bangun, aku ingin terus bersama kamu. Kamu sudah berani melawan saya, apa kamu mau melihat saya marah. Apa kamu masih ingin tertidur pulas di ruangan seperti ini,”
__ADS_1
Tatapan Bara masih setiap menatap wajah Mawar, wajah tenang yang diberikan Mawar membuat dirinya semakin damai. Sikap wanita ini membuat sifatnya berubah saat bertemu dengan wanita ini.
Sedangkan Vanesha yang mendapatkan kabar dari Bara langsung menuju ruangan ICU, tapi sampai di sana Aric menahan dirinya masuk.
“Biarkan mereka berdua sendiri, nanti kalau Bara sudah keluar baru kamu menemui adik kamu. Kamu tidak boleh emosi ataupun sedih kasihan anak kita, saya takut kamu kenapa-napa. Lebih baik kita tunggu di sini,” Vanesha mengangguk dan beralih ke tempat duduk yang berada di luar.
Selang beberapa menit Bara keluar, di sana dia melihat dua orang sedang menunggu dirinya. Vanesha yang merasakan suara pintu tertutup langsung beralih menatap orang tersebut.
“Gimana keadaan Mawar?” tanya Vanesha yang masih menunggu jawaban cowok ini.
Bara hanya menunduk, dengan cepat Bara memeluk Vanesha yang sudah dia anggap sebagai kakaknya. Vanesha membalas pelukan Bara sambil menenangkan lelaki ini, dia pun menyuruh Bara untuk duduk di sampingnya.
“Sebelum kamu cerita tentang masalah ini, lebih baik kamu mengontrol emosi kamu dulu. Saya tidak mau kamu terbawa emosi,” Vanesha masih memberikan ketenangan kepada Bara, sedangkan Aric hanya menatap Vanesha dengan tajam saat istrinya lebih mementingkan cowok lain.
Bara yang berhasil mengontrol emosi dia pun langsung menceritakan semuanya, sedangkan Vanesha dan Aric hanya mendengar perkataan Bara. Saat seperti ini Vanesha baru teringat dengan wanita iblis yang pernah mengganggu keluarganya, dia hanya menebak kalau ulah dari kejadian ini di akibatkan oleh Jesica.
“Apa kamu sudah mengetahui siapa pelaku yang membuat kekacauan ini,” kata Vanesha membuat Bara menatap Vanesha dan menjawab dengan anggukan.
“Dua orang itu ada di tempatku, aku sengaja membawa mereka karena aku ingin menghancurkan mereka berdua. Saya ingin mereka merasakan derita yang di alami Mawar,” Vanesha penasaran siapa dua pelaku tersebut, kenapa mereka tega sekali melakukan ini.
“Baik. Habis ini kamu antar saya ke sana, saya ingin tau siapa orang yang sudah berani macam-macam dengan Mawar.” kebencian yang di berikan Vanesha membuat Aric tersenyum saat istrinya marah dan saat itu juga dia melihat kalau Vanesha sangat menggemaskan.
Sebelum pergi Vanesha menjenguk Mawar di dalam, Vanesha merasakan kesedihan saat hidup adiknya sangat menderita. Malah cobaan yang di alami Mawar sangat berat, apalagi dia mengingat cobaan pernikahan yang dulu dia alami. Tapi dia bangga karena dia sudah melawan badai tersebut, tinggal Mawar lah yang harus melewati badai itu.
“Kakak yakin kalau kamu akan sadar, kakak tau gimana sifat kamu. Semoga kamu mendengar ucapan kakak, kamu harus bertahan untuk pria yang sedang menunggu kamu sadar. Kakak harap kamu bisa kembali seperti dulu lagi,” batin Vanesha yang tersenyum saat melihat masa kecil Mawar.
__ADS_1
“Semangat berjuang adik kecilku, kakak yakin kamu pasti bisa melewati badai ini. Badai yang sudah ada di hadapan kamu,” Vanesha mendekati Mawar sambil mencium kening Mawar, setelah itu dia langsung keluar dari ruangan ICU.
“Apa kamu yakin mau ke sana,” ucap Aric yang melihat Vanesha sudah bersiap, dan Vanesha hanya mengangguk.