
Pagi harinya vanesha terbangun dari tidurnya dan sudah rapih dengan pakaian olahraga, hari ini di pagi yang seindah ini, vanesha akan melakukan joging bersama teman kantornya dulu.
Vanesha pun keluar menuju taman dekat rumahnya, di sana ia sudah menemukan aulia, Zulfikar dan pacarnya aulia. Ia langsung menghampiri mereka bertiga.
“Sorry gue telat,”
Saat mereka asik ngobrol mereka bertiga langsung melihat kearah vanesha, “Ada apa kalian ngeliatin gue kaya gitu.”
“Tidak papa, cie.. cie sepertinya lo berubah drastis ya,” Ledek aulia
“Berubah gimana,”
“Ya, jadi nambah kurus,” Ledek Zulfikar
“Lu jangan ngeledek gue. Emang dari dulu gue kurus,”
“Ya sudah. Lebih baik kita lanjut joging-nya,” ujar tata pacar aulia
Mereka berempat melanjutkan joging-nya, saat sedang menikmati lari pagi, mereka berdua beristirahat sejenak. Zulfikar dan tata sedang memesan minuman sedangkan dirinya dan aulia beristirahat di bangku taman.
“Lia,” panggil vanesha
Aulia langsung menengok kearah vanesha, “Ada apa?”
“Lo tahu bunga autaristik gak,” ujar vanesha
“Bunga autaristik? maksud lo pak aric,” ujar aulia
“Pak aric? Kenapa ngebahas pak aric,” ujar Vanesha tidak mengerti
“Ya pak aric. Pak aric yang mempunyai bunga autaristik-nya, yang gue tahu si begitu,” jawab aulia
“Lo tahu dari mana pak aric punya bunga autaristik,”
Akhirnya aulia menceritakan kejadian atasannya dari awal sampai akhir dan aulia juga menceritakan perjuangan aric untuk mendapatkan bunga autaristik.
“Sumpah ya sha, kalo lo tahu cerita ini dari awal mungkin lo kagum sama pak aric. Gue aja sempat kagum sama dia, pak aric itu laki-laki idaman banget. Udah ganteng, keren, cool, terus dia itu laki-laki yang di film action pokoknya keren banget deh sha kalo lo ngeliat semuanya pasti lo tergila-gila. Makanya banyak karyawan perempuan pada deketin pak aric,” jelas aulia membangga-banggakan atasannya
“Biasa aja kali lo mujinya, gak segitunya juga kali tuh muka. Kalo cowok lo tahu pasangannya memuji cowok lain mungkin dia bakal ninggalin lo,” Ledek vanesha
“Ye, gue serius bambang. Awas aja lo bilang ke cowok gue tentang ini,” ancam aulia
“Iya.. iya,”
“Tunggu lo nanyain bunga autaristik untuk apa?” tanya aulia
“Untuk bokap gue,”
“WHAT? Bokap lo! Emang bokap lo sakit apa,”
“Bokap gue diracun sama ibu tiri gue, makanya gue sering konsultasi sama dokter pribadi ayah gue, katanya bunga autaristik bisa sembuhkan racun. Makanya gue bingung harus gimana,” ujar Vanesha dengan nada pasrah
“Iya lo jujur aja sama pak aric, mungkin pak aric bakal kasih lo bunga autaristik nya. Gue yakin pasti di kasih,” Usul aulia
“Gak segampang itu aulia cantik, lo tahu kan pak aric kaya gimana. Dia pasti ngejaga ketat tuh bunga gak mungkin sampai ngasih ke sembarangan orang,” ujar vanesha
“Ya sih benar juga kata lo, gue gak bisa bantu lo gue cuman bisa bantu lo doa. Semoga ayah lo cepat sembuh,” ujar aulia sambil mengelus pundak vanesha
sehabis joging vanesha dan ketiga temannya mampir ke cafe terdekat, saat ia sampai ditempat ia bertemu dengan aric bersama dengan wanita lain.
“Sha.. sha.. lihat deh bukannya itu pak aric ya,” ucap aulia sambil menunjuk kearah laki-laki memakai kaos hitam.
“Mana,”
“Itu,”
Saat ia mempertajam penglihatannya ternyata benar ia bertemu aric atasannya dulu, tapi dia belum pernah bertemu sama perempuan yang bersama aric.
“Perempuan itu siapa sha, gue kepo nih sama perempuan yang ada di samping pak aric,”
“Lagian ngapain juga lu kepo sama kehidupan orang, lebih baik lo urusin hubungan lo sama cowok lo,”
“Iya.. iya gue tahu kalo itu mah, tapi gue kepo sha,”
“Udah lo jangan urusin hubungan dia, lebih baik kita makan,” ujar vanesha sambil merangkul pundak aulia.
Akhirnya mereka berempat menikmati sarapan pagi, di tempat lain yang tidak jauh dari tempat vanesha seorang laki-laki yang memakai pakaian santai seperti laki-laki pada umumnya.
Aric sedang duduk bersama dahlia teman dari ayahnya, jujur saat ia sedang joging di rumah bersama bryan tiba-tiba saja ayahnya menyuruh dia mengantarkan dahlia makan bersama. Awalnya ia menolak tapi ayahnya mengancam dirinya, akhirnya dia terpaksa mengikuti kemauan ayahnya.
“Kamu mau pesan apa?” tanya dahlia
__ADS_1
“Apa aja,”
“Mba,” ucap dahlia memanggil salah satu pelayan cafe
“Iya mba, ada yang bisa saya bantu,” ucap pelayan cafe sambil memberikan buku menu kearah dahlia
“Saya pesan pisang bakar sama jus alpukat, kalo kamu mau apa?” ucap dahlia sambil memberikan menu pesanan kearah aric
“Samain aja,” ucap aric tanpa memperdulikan dahlia
“Baiklah. Kalo begitu samain saja mba sama pesanan saya,” ucap dahlia
“Baik mba, mohon ditunggu pesanannya,” ucap pelayan cafe ramah
Pesanan yang ditunggu-tunggu pun datang dan aric menikmati makanannya, selesai sarapan vanesha langsung menuju kasir.
“Kamu tunggu di mobil saya akan membayar makanannya dulu,” ucap aric
“Iya,”
Aric langsung menuju kasir tanpa disengaja ia bertemu dengan vanesha, “Pagi vanesha.” Sapa aric
“Pagi pak,” Singkat vanesha
“Terima kasih mba. Kalo begitu saya permisi pak,” ucap vanesha
Vanesha pun pergi menuju temannya, saat aric selesai membayar pesanannya dia langsung menuju parkiran, tapi ia tidak bertemu dengan vanesha. Ia berharap akan bertemunya lagi
Disaat saya ingin sekali mengenal kamu malah kamu seakan-akan tidak mengenal saya, malah kamu bersikap seolah-olah saya tidak pernah ada didalam hidup kamu. batin aric
***
Selesai joging vanesha kembali ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya, “Mba sudah menemukan bunga autaristik.” tanya frey
Vanesha menggeleng, “Sepertinya tidak semudah itu untuk mendapatkan bunga autaristik, cuman ada satu cara supaya saya dapatkan bunga itu.” ujar vanesha
“Caranya apa mba,” ucap frey penasaran
“Saya harus masuk ke rumah pak aric pemilik bunga autaristik dan saya harus bekerja dirumahnya,” ujar vanesha
“Bekerja? Maksud mba jadi asisten rumah tangga, tapi mba saya tidak yakin pak aric mau menerima mba jadi asisten rumah tangga. Apalagi kalo pak aric tahu kalo mba berbohong untuk mendapatkan bunga autaristik,” jawab frey
“Saya akan membantu mba, semoga saja rencana kita untuk mendapatkan bunga autaristik tidak ketahuan mba,” lanjut frey
Vanesha menghela nafasnya, “Semoga saja.”
Pulang dari rumah sakit ia langsung menemukan aulia di jam istirahat, hari ini ia tidak ke kantor. Jadi ia langsung ke tempat kerjanya dulu.
Sampai di kantor ia langsung memarkirkan mobilnya dan menuju tempat kerja aulia, sampai di sana ia langsung menghampiri aulia.
“Sibuk amat mba,” ucap vanesha sambil menghampiri aulia.
Aulia menatap kearah sumber suara ternyata teman satu kantornya dulu yang datang menemui-Nya, “Vanesha, ya nih semenjak lo resign pekerjaan kantor gue lebih banyak.” protes aulia
“Yang sabar ya mba ini ujian,” ledek vanesha
“Lo tumben main ke sini biasanya gak pernah,” jawab aulia
“Gue ingin minta saran dari lo,” ucap vanesha
“Saran? Saran untuk apa?”
“Menurut lo kalo gue kerja dirumahnya pak aric, pak aric mau Terima gue gak jadi asisten rumah tangganya,” ujar vanesha
“WHAT? ART? Lo gak salah sha, seorang vanesha mau jadi pembantu di rumah atasannya dulu,” Aulia terkejut dengan perkataan vanesha. “Lo yakin sha mau jadi pembantu rumahnya pak aric, buat untuk mendapatkan bunga autaristik untuk ayah lo,” lanjut Aulia, untung ruangan aulia tidak ada orang jadi tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.
“Ya gue yakin,”
“Kalo menurut lo itu yang terbaik gue bakal dukung lo,” jawab Aulia
Selesai sarapan vanesha langsung menemui aric di ruangannya, ia tidak lupa mengetuk pintu ruangan aric
Di sana ia tidak sengaja bertemu dengan sekretarisnya aric, “Maaf di dalam ada pak aric.” tanya vanesha
“Ada mba,” jawab Bryan
Tok.. tok
“Masuk,” ucap aric dari dalam
kreek...
__ADS_1
Pintu tersebut terbuka menampakkan seorang wanita yang berpenampilan sederhana, vanesha melanjutkan langkahnya kearah aric
Belum sempat vanesha bicara sudah didahulukan oleh aric, “Kenapa kamu disini.” ucap aric tanpa melihat siapa yang datang ke Ruangannya
Waduh gimana gue ngomongnya, kenapa pak aric ngomong kaya gitu seakan-akan gue virus. batin vanesha
“Maaf pak saya ganggu, saya disini mau minta maaf karena saya sudah lancang masuk keruangan bapak dan saya juga minta maaf kalo saya ganggu bapak, saya disini hanya meminta maaf saja tentang saya mengundurkan diri di perusahaan bapak, seharusnya saya bilang dulu ke bapak bukannya langsung kebagian HRD,” jelas vanesha
Aric hanya diam dengan penjelasan vanesha, malah dia tidak menatap kearah vanesha, dia tidak tahu kalo yang datang vanesha bukan orang lain.
Ko pak aric diam aja, apa gue salah ngomong ya. batin vanesha
“Pak.. pak.. pak aric,” panggil vanesha
“Kamu bisa tidak jangan berisik,” tegas aric, saat aric melihat kearah vanesha dia terkejut ternyata yang ia bentak vanesha bukan orang lain.
“Ma___af pak. Kalo begitu saya permisi,” ucap vanesha dengan nada gugup
Saat vanesha ingin keluar dari ruangan aric, malah aric menghalanginya, “Saya tidak suruh kamu pergi.” ucap aric dengan nada dingin
Vanesha menghentikan langkahnya dan menghadap kearah aric.
“Kenapa pak? Bukannya bapak tidak suka kalo saya disini,” ujar vanesha
Aric berjalan kearah vanesha dan... “Itu orang lain bukan kamu, ada apa kamu mencari saya disini.” ucap aric sambil tangannya dimasukan ke kantong celananya
“Saya.. saya,” ucap vanesha gugup
“Kamu kenapa?” ucap aric sambil melihat kearah vanesha dengan gugup
Aduh ini gimana ngomongnya masa iya gue bilang mau minta bunga autaristik, kan gak etis banget. Nanti dia nanya-nanya gak jelas lagi. batin vanesha
“Saya.. Tidak jadi pak, saya lupa mau ngomong apa,” ucap vanesha
“Kamu yakin,”
“Ya pak saya yakin,”
“Tepat sekali kamu disini saya ingin kamu bantuin saya mengecek berkas di laptop saya,” ucap aric
“Tapi pak..,”
“Tidak ada tapi tapian, hari ini juga kamu bantuin saya,” tegas aric
“Udah minta tolong maksa lagi,” gumam vanesha
Dengan terpaksa vanesha mengikuti perintah aric, awalnya dia datang keruangan aric ingin ngomong sesuatu malah dikasih tugas yang sangat menyebalkan.
“Kalo bantuin tuh yang ikhlas bukannya gerutu,” ucap aric asal
“Akhirnya selesai juga berkasnya,” ucap vanesha sambil meregangkan tangannya yang sangat pegal
“Pak, berkasnya sudah saya selesaikan. Kalo gitu saya pulang ya pak,”
“hmmm,”
Tapi vanesha tidak keluar dari ruangan aric, malah ia masih berdiri.
“Kenapa kamu berdiri di situ, katanya mau pulang. Apa jangan-jangan kamu gak kuat ninggalin saya karena saya terlalu ganteng,” ucap aric dengan penuh percaya diri
“Dih, kepedean banget si pak,”
“Ada yang ingin kamu tanyakan lagi,” tanya aric
“Saya ingin kerja di rumah bapak jadi asisten rumah tangga,” ucap vanesha dengan lancar tanpa dia pikirkan terlebih dahulu.
WHAT? Tadi gue ngomong apa! kenapa gue bisa ngomong kaya gitu, aduh kalo pak aric ngejawab ucapan gue gimana. batin vanesha
“Kamu yakin sama ucapan kamu barusan,” ucap aric sambil melihat kearah vanesha
“Ya saya yakin,”
“Baiklah, besok pagi saya akan mengirimkan alamat rumah saya. Jadi besok kamu bisa tahu tugas kamu apa saja,” ucap aric
“Bapak serius sama ucapan bapak,” jawab vanesha dengan senang.
Aric hanya mengangguk dan vanesha langsung berterima kasih kepada aric dan vanesha pun pergi dari ruangan aric.
Dasar wanita aneh, bukannya tanya kerjaannya ngapain aja malah kegirangan. Aric pun terkekeh dengan sikap vanesha
Akhirnya vanesha berhasil untuk bekerja jadi ART rumahnya aric, dia akan memulai rencana selanjutnya.
__ADS_1