
Vanesha bangun dari tidur dan menatap wajah damai suaminya, dia sangat beruntung mendapatkan Aric. Malah lelaki yang ada di hadapannya sudah membuktikan bahwa pria ini serius dengannya, banyak cobaan yang mereka hadapi dan mulai sekarang dia akan selalu berada di samping suaminya. Walaupun cobaan itu terus datang untuk menguji pernikahannya.
“Aku tau aku ganteng tidak usah di tatap terus, aku tidak akan pergi dari kamu!” ucap Aric sambil membuka mata.
Vanesha hanya menggeleng kepala, “Siapa yang bilang kamu ganteng!” ucap Vanesha.
Aric menarik pinggang Vanesha dan mencium bibir istrinya dengan lembut, “Kamu memang tidak bilang kalau aku ganteng, tapi aku tau dari wajah kamu yang terus memandangiku terus!” lagi-lagi Aric menggoda Vanesha membuat Vanesha memukul suaminya.
“Sakit sayang,” ucap Aric sambil mengelus tangan.
“Aku sudah pesan tiket pesawat untuk bulan madu kita,” kata Aric tersenyum kepada Vanesha.
“Kamu kenapa tidak bilang dulu sama aku, malah main pesan aja!” oceh Vanesha.
“Iya... Iya, maaf. Waktu itu aku mau bilang sama kamu tapi kamu sibuk sama pekerjaan kamu, jadi aku tidak sempat untuk bilang!” jelas Aric membuat Vanesha menghela nafas, saat Vanesha memanyunkan bibir dengan cepat Aric mencium bibi Vanesha dengan lembut membuat Vanesha terhanyut dalam ciuman yang diberikan Aric.
Selang beberapa menit kemudian ciuman mereka terhenti dan beralih mencium leher jenjang Vanesha, membuat Vanesha tidak kuat mengeluarkan desahan pelan dan kasar. Saat Aric mendengar desahan istrinya semakin dia memperdalam ciuman mereka sampai-sampai Aric melakukan hal selayaknya suami istri.
Sekarang mereka berdua sedang berada di dalam pesawat dan berpelukan satu sama lain, perjalanan mereka ke Paris 16 jam 15 menit mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mungkin kira-kira mereka berdua sampai jam 4 pagi dan mereka pun tertidur di dalam pesawat.
Beberapa jam kemudian akhirnya pesawat yang mereka tumpangi sampai di bandara Charles de Gaulle dan mereka berdua sedang menunggu mobil menjemput mereka. Akhirnya mobil mereka sampai di sebuah hotel, sedangkan Vanesha hanya mengikuti Aric dari belakang tanpa membawa koper satupun.
“Akhirnya sampai juga,” ucap Vanesha membuat Aric menggeleng, baru beberapa jam aja istrinya sudah kelelahan. Gimana nanti dia ajak keliling dunia mungkin sudah minta pulang.
Vanesha berjalan ke jendela kabar sedangkan Aric membereskan baju bawaannya ke dalam lemari, selesai merapihkan pakaian Aric menghampiri Vanesha sambil memeluk istrinya dari belakang.
“Kamu suka tempat ini,” ucap Aric membuat Vanesha mengangguk pelan.
“Kalau gitu kita lanjut buat anak supaya tidak ada yang menghalangi kita berdua,” kata Aric sambil mencium leher Vanesha dan tidak itu saja malah tangan Aric sudah liar kemana-mana membuat Vanesha tidak berdaya dengan perlakuan suaminya.
“Aku capek sayang,” ucap Vanesha sambil menahan tangan Aric yang sudah mau masuk ke daerah sensitifnya.
Aric menyingkirkan tangan Vanesha dan melanjutkan aktifitasnya, membuat Vanesha tidak tahan mengeluarkan desahan kenikmatan. Aric dengan cepat membawa Vanesha ke atas ranjang dan Vanesha menatap wajah Aric yang sudah penuh dengan nafsu panas yang suaminya berikan, Vanesha hanya mengikuti gaya yang diberikan suaminya.
__ADS_1
Dan akhirnya mereka berdua melakukan malam pertama mereka di atas ranjang sambil menikmati pemandangan dari luar hotel, karena hari ini musim dingin jadi bagi mereka terasa panas bukan dingin lagi aroma hotel yang mereka tiduri.
***
“Aric aku lapar,” ucap Vanesha pelan saat Aric ingin melanjutkan aksi panasnya.
Aric mendongak menatap Vanesha sambil tersenyum, “Nanggung sayang!” Vanesha pura-pura kesal dan marah sama Aric karena dia tau bahwa suaminya tidak akan menolak keinginannya.
“Baiklah. Karena istriku yang minta jadi kita sudahi dulu, nanti kita lanjut lagi!” ucap Aric sambil membantu Vanesha untuk bangun. “Kamu mau makan apa?” tanya Aric dan menatap Vanesha.
“Sup iga,” membuat Aric menaruh tangannya bertanda hormat kepada Vanesha.
“Siap nyonya Vanesha, suamimu ini akan membuatkan sup iga yang spesial khusus untuk tuan putri!” kata Aric membuat Vanesha tertawa kecil melihat tingkah laku suaminya.
Selesai membuat sup iga Vanesha menghampiri Aric, “Silahkan dinikmati tuan putri!” ucap Aric.
Vanesha mencicipi masakan suaminya, masakan Aric tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang masakan suaminya tetap nomor satu. “Gimana enak gak?” tanya Aric penasaran dijawab dengan anggukan oleh Vanesha.
“Kamu tidak makan?” tanya Vanesha saat melihat Aric memperhatikan dirinya.
“Tidak. Aku lebih suka makan kamu,” goda Aric membuat Vanesha menunduk malu.
Apa-apaan coba suaminya masih pagi sudah gombal membuat dirinya malu, sedangkan Aric hanya tersenyum melihat tingkah laku Vanesha. Dia senang melihat Vanesha malu-malu di depannya, menurutnya sikap Vanesha membuat dirinya gemas apalagi saat Vanesha marah dan kesal kepadanya. Membuat dia semakin ingin melahap istrinya.
“Kalau kamu terus-terusan gombal aku akan marah sama kamu,” desis Vanesha, bukannya takut dengan ancaman Vanesha malah Aric semakin menjahili istrinya.
Selesai sarapan Vanesha dan Aric sedang bersantai di ruang televisi, “Kalau nanti aku sudah hamil aku ingin anak perempuan!” ucap Vanesha membuat Aric tersenyum.
“Perempuan ataupun lelaki sama saja yang penting dia sehat, dan kalau dia perempuan nanti cantiknya sama kaya kamu kalau dia lelaki akan ganteng seperti ayahnya!” kata Aric yang selalu percaya diri.
“Emangnya kamu ganteng,” urai Vanesha membuat Aric menatap istrinya dengan sinis.
“Kalau aku tidak ganteng kamu tidak akan suka sama aku,” lontar Aric membuat Vanesha tertawa. Semakin lama suaminya semakin percaya diri, siapa juga yang bilang kalau dia ganteng?
__ADS_1
“Sombong banget,” gumam Vanesha membuka Aric semakin mendekati Vanesha dan bernafas di leher istrinya.
Lagi-lagi Aric melakukan hal yang membuat dirinya mendesah, dengan cepat Aric menidurkan Vanesha ke sofa dan posisi mereka sekarang sama-sama menatap sama sama lain. Hal yang membuat dirinya jatuh cinta saat dirinya merasakan sensasi panas yang diberikan suaminya, entah kenapa sikap Aric membawa dirinya terbang ke langit.
Saat Aric ingin melanjutkan aktifitasnya ternyata Vanesha sudah tertidur lelap membuat Aric menghela nafas, dia melihat wajah Vanesha yang begitu cantik saat tidur saja istrinya begitu cantik. Apalagi saat Vanesha merajuk membuat dirinya semakin gemas dengan tingkah yang Vanesha berikan.
Aric dengan sigap menggendong Vanesha masuk ke dalam kamar dan dengan perlahan Aric menutup pintu kamar dengan kakinya, dia langsung meletakan Vanesha ke atas ranjang. Sebelum Aric menyusul istrinya ke dalam mimpi dia menuju kamar mandi untuk membersihkan badan, selesai mandi baru dia menghampiri Vanesha ke ranjang sambil memeluk Vanesha dan masuk ke alam mimpi.
Tiga hari mereka berada di paris akhirnya mereka berdua sepakat untuk kembali ke Indonesia, tadinya Vanesha ingin berlama-lama di negara orang tapi ada kendala yang membuat mereka kembali ke Indonesia.
“Jangan cemberut begitu dong sayang, aku minta maaf deh. Seharusnya bulan madu kita seminggu tapi gara-gara urusan kantor jadi terhalang,” kata Aric supaya istrinya dia mendiamkan dirinya.
Jawaban Vanesha 'hm' dan itu juga kalau Vanesha ingat kalau dirinya marah kepada Aric, Aric hanya bisa pasrah saat Vanesha mendiamkannya. Sudah berbagai cara Aric melakukan hal apapun supaya Vanesha kembali seperti dulu tapi nyatanya sikap Vanesha semakin cuek dan dingin kepadanya.
Sampai di bandara Soekarno-Hatta Aric mendorong barang bawaannya dan Vanesha hanya fokus dengan handphone, dari tadi dia mendapatkan kabar bahwa ibu tirinya berulah lagi sampai-sampai mawar kewalahan menangani sikap ibunya sendiri.
“Kamu lagi ngapain? Sepertinya serius banget,” ujar Aric sambil melirik Vanesha memainkan handphone.
“Biasa urusan kantor,” jawab Vanesha singkat. “Pak, nanti mampir ke kantor saya dulu ya!” ucap Vanesha membuat Aric bingung.
Sampai di kantor Vanesha turun dari mobil taksi dan dia langsung buru-buru ke ruangan kerja, sedangkan Aric hanya bisa pasrah dengan sikap istrinya.
“Ada apa ini?” tanya Vanesha saat melihat keributan di kantornya.
Semua orang pada melihat kearah Vanesha dan Mawar langsung membisikkan sesuatu kepada Vanesha membuat Vanesha mengerti maksud kedatangan Jesica, “Kamu tidak ada kapok-kapoknya ya! Saya sudah bilang berapa kali sama kamu kalau saya tidak sudi memberikan aset perusahaan ayah saya ke kamu, walaupun nanti kamu memohon dan bersujud di kaki saya. Saya tidak pernah kasihan sama kamu!” kata Vanesha membuat Jesica semakin marah.
“VANESHA! Saya heran sama kamu kenapa karyawan kamu pada betah bekerja di perusahaan kamu, apa karyawan di sini belum tau kalau kamu wanita murahan yang mau sama pria yang sudah beristri!” perkataan Jesica membuat Vanesha ingin menampar wajah Jesica, saat Vanesha ingin menampar Jesica tangannya sudah di tahan oleh Mawar.
“Sudah kak. Jangan ditanggapi perempuan seperti dia,” kata Mawar membuat Vanesha menatap Jesica dan Vanesha langsung memerintahkan satpam untuk mengusir Jesica keluar.
“Saya akan berusaha untuk mendapatkan perusahaan ini, VANESHA!” teriak Jesica saat perempuan itu di usir paksa sama Vanesha.
“Kamu lanjutkan kerjanya dan kamu Ava kalau ada apa-apa tinggal hubungi saya,” ucap Vanesha membuat mereka berdua mengangguk.
__ADS_1