
Sampai di rumah Aric dia melihat bi Ina sedang membawa makanan menuju kamar Aric dan dia menghampiri bi Ina.
“Gimana keadaan Aric, bi?” tanya Vanesha.
“Den Aric sama sekali tidak menyentuh makanannya, malah bibi sudah membujuk den Aric tapi tidak bisa. Malah bibi bingung harus gimana,” kata Bi Ina.
“Ya sudah bi, aku aja yang mengantarkan makanan ini ke kamar Aric,” ucap Vanesha membuat Bi Ina senang.
Sampai di kamar Aric dia tidak lupa mengetuk pintu kamar tersebut, “Saya sudah katakan barusan kalo saya tidak ingin makan!” ucap Aric dengan penuh ketegasan.
Vanesha hanya menghela nafasnya dan dia langsung membawa pintu tanpa mengucapkan kata apapun, “Apa perlu saya usir Ka–” perkataannya terhenti saat melihat Vanesha berada di kamarnya.
“Kenapa kamu tidak makan,” kata Vanesha membuat dirinya kesal dengan tingkah laku Aric seperti anak kecil.
“Apa peduli kamu, kamu aja tidak peduli kepadaku!” ucap Aric membuat Vanesha menghela nafasnya.
Vanesha duduk ditepi ranjang sambil meletakkan makanan dan dia menyuruh Aric untuk duduk, “Sekarang makan,” pinta Vanesha membuat Aric menggeleng.
Pria ini benar-benar membuat dirinya kesal malah dia sampai menahan emosinya gara-gara pria ini, “Kamu makan atau aku paksa kamu untuk makan!” ucap Vanesha dengan tegas membuat Aric tidak berdaya dengan perkataan Vanesha.
Vanesha memberikan makanan kepada Aric, bukannya dimakan malah dimainin membuat Vanesha tidak bisa mengontrol emosinya. Vanesha merebut makanan dari tangan Aric dan memasukan makanan itu kedalam mulutnya, setelah itu Vanesha dengan terpaksa melakukan ini memakai mulutnya. Awalnya Aric menolak akhirnya dia berhasil membuat pria itu melahap makanan yang sempat ia masukan ke mulutnya.
Aric terkejut dengan perlakuan Vanesha, dengan cepat Aric makan melalui tangannya. Selesai sarapan Vanesha memberikan minum sama obat yang diberikan kepada bi Ina.
Saat Vanesha ingin beranjak dari ranjang sebuah tangan menahan dirinya, “Kamu mau kemana?” tanya Aric dengan nada lemas.
“Aku mau bawa piring ini ke dapur, sekarang kamu istirahat saja. Kalo butuh apa-apa tinggal bilang sama aku,” kata Vanesha membuat Aric mengangguk.
Bi Ina yang melihat Vanesha keluar dari kamar majikan sambil membawa piring yang sudah kosong, “Bibi tidak perlu khawatir Aric sedang istirahat dan dia sudah mau makan!” jelas Vanesha membuat Bi Ina bernafas lega untuk Vanesha bisa memaksa majikannya makan coba kalau tidak mungkin sampai besok Aric tidak akan menyentuh sarapan.
Saat Vanesha sedang cuci piring di wastafel tiba-tiba Bi Ina menyuruh dirinya tinggal di rumah ini, membuat dirinya terkejut saat perkataan bi Ina membuat pikirannya terganggu. Apa dia harus menuruti perkataan bi Ina atau tidak.
Selesai cuci piring Vanesha menghadap kearah bi Ina, “Masalah itu aku akan pikirkan baik-baik nanti kalau bi Ina butuh bantuan aku bakal datang!” ujar Vanesha tersenyum.
Vanesha yang mendapatkan kabar dari sekretaris langsung pergi ke kantor, sampai di kantor dia menuju ruangan Ava.
“Ada apa kamu menghubungi ku secara mendadak,” kata Vanesha.
“Maaf Bu, di ruang tunggu ada seseorang yang ingin bertemu dengan ibu,” ucap Ava.
“Dengan saya,” ujar Vanesha sambil menunjuk kearahnya membuat Ava mengangguk.
__ADS_1
“Baiklah, saya akan ke sana!” Vanesha bergegas menemui tamu, baru juga dia membuka pintu ternyata dia melihat ibu tirinya. Kenapa dia datang ke sini? pikirnya saat dirinya tidak bisa berpikir positif.
“Kamu mau apa datang kemari,” kata Vanesha dingin.
Jesica berdiri menghampiri Vanesha, “Ibu minta maaf sama kamu, selama ini ibu sudah jahat sama kamu. Sekali lagi ibu minta maaf!” kata Jesica menyakinkan Vanesha.
Vanesha mendengar ucapan ibu tirinya hanya tersenyum sinis, memang menurut dia Vanesha yang sekarang bisa ditipu seperti dulu. Tidak akan yang berani menipunya cukup ibunya saja yang ditipu oleh wanita penyihir seperti dia.
“Tidak usah basa-basi sekarang saya mau tanya sama kamu, kamu datang kemari mau apa?” kata Vanesha membuat Jesica senang karena Vanesha mengetahui keinginannya.
Jesica tertawa jahat dan membuat Vanesha menaiki alis, “Ternyata kamu sudah tau kenapa saya datang kemari,” ujar Jesica
Vanesha duduk di bangku kebanggaannya, “Saya ingin kamu turun dari kesombongan kamu itu dan saya ingin perusahaan kamu jadi milik saya!” kata Jesica membuat Vanesha tertawa lepas.
Vanesha beranjak dari kursi sambil menghampiri Jesica, “Mungkin ayah sama bodoh ditipu sama wanita ular seperti kamu tapi tidak dengan saya, sampai kapanpun saya tidak pernah sudi menyerahkan perusahaan yang ayah saya berikan!” Vanesha terus-menerus menunjuk kearah Jesica membuat jesica murka.
Vanesha membalikan badan menghadap Jesica, “Jesica, walaupun kamu bersujud di kaki saya, saya tidak akan menerima kamu yang mendapatkan perusahaan ini! Lebih baik kamu pergi dari ruangan saya atau saya bertindak tegas untuk memanggil satpam untuk mengusir kamu dari sini!”
Jesica dengan kesal pun pergi, dia benar-benar tidak terima diperlakukan seperti itu. Kenapa susah sekali mendapatkan perusahaan yang Vanesha miliki, putrinya sendiri saja enggan membantu dirinya.
“Aaaggghhh, liat saja kamu Vanesha saya akan membuat kamu hancur!” cibir Jesica.
Saat Aric terbangun dari tidurnya dia tidak melihat Vanesha, apa perempuan itu meninggalkannya lagi. Mungkin dia tidak mungkin mendapatkan Vanesha kembali, seharusnya dia merelakan Vanesha pergi bukan seperti ini.
Bi Ina yang membuka pintu ternyata dia melihat majikannya baru bangun dan dia pun menghampiri Aric, “Den Aric mau apa? Nanti bibi siapkan!” ucap Bi Ina memberikan Aric menggeleng.
“Tidak perlu bi, saya ingin istirahat saja!” jawab Aric membuat bi Ina tidak tega melihat perasaan majikannya.
Bukannya pulang ke rumah malah Vanesha pulang ke rumahnya Aric, dia ingin mengetahui kabar pria itu. Apa sudah mendingan atau belum, sampai di halaman rumah dia pun turun dari mobil dan menghampiri bi Ina yang sedang menyiapkan makan malam.
“Gimana bi keadaan Aric,” ucap Vanesha membuat Bi Ina melirik Vanesha.
“Sepertinya sudah mendingan non tapi suasana hati den Aric yang tidak baik-baik saja,” kata Bi Ina.
Vanesha mengangguk sambil membawa makanan kesukaan Aric ke kamar, Vanesha hanya tersenyum menatap Aric yang membelakanginya, Vanesha meletakan makanan yang dia bawa.
“Apa kamu sudah tidur,” ucap Vanesha membuat Aric mendengar perkataan Vanesha.
“Baiklah kalo kamu sedang istirahat saya tidak akan menggangu mu lagi, tapi saya ke sini membawa makanan kesukaan kamu semoga kamu suka sama makanan yang saya bawa!” jelas Vanesha. Membuat Vanesha menghela nafas memang susah membujuk Aric seperti dulu lagi.
“Kalau gitu aku pamit pulang dulu, kalau ada-ada papa kamu bisa menghubungi aku!” jawab Vanesha, saat Vanesha ingin membuka gagang pintu ternyata Aric menyuruh dirinya menetap di kamar.
__ADS_1
“Apa kamu masih ingin pergi,” kata Aric dengan suara serak basah.
Vanesha tersenyum mendengar perkataan Aric dan dia kembali menghampiri Aric, “Kalau kamu mengizinkan aku pergi aku akan pergi, tapi kalau kamu tidak mengizinkan aku pergi aku akan tetap di sini sampai kamu sembuh!” ucap Vanesha dengan lembut.
“Kalau aku sembuh kamu bakal ninggalin aku seperti dulu lagi dan tidak ingin kembali bersamaku lagi!” urai Aric dengan penuh harapan.
Vanesha hanya terdiam, sekarang dia sudah mengerti kenapa Vanesha ingin pergi darinya. Diamnya Vanesha membuat dirinya harus merelakan perempuan yang dia cintai pergi dan meneruskan kehidupan yang baru.
“Kalau kamu maunya begitu enggak papa, aku akan membiarkan kamu pergi untuk memilih jalan hidup kamu. Sekarang aku tidak akan memaksa kamu lagi untuk tetap berada di samping aku,” tutur Aric sambil membuang wajahnya.
Bukannya Vanesha pergi malah dia mendekati Aric dan tanpa harus meminta izin dia pun mencium bibir Aric yang sudah sangat ia rindukan, sekilas tapi berasa untuk menghangatkan suasana hati Aric. Mendapatkan perlakuan Vanesha yang secara tiba-tiba langsung menarik Vanesha kedalam pelukannya dan tidak itu saja malah dirinya menindih badan Vanesha membuat Vanesha tidak berdaya.
“A–Aric kamu masih belum pulih kalo kamu drop lagi gimana,” ucap Vanesha yang begitu terkejut dengan perlakuan Aric.
“Siapa yang mulai duluan membangkitkan gairah aku,” ucap Aric dengan menggoda.
“A–Aku,” jawab Vanesha dengan gugup.
“Jadi jangan salahkan aku kalau aku memulai duluan disaat aku terbaring lemah,” saat Vanesha ingin menjawab perkataan Aric, malah Aric sudah membungkam bibir Vanesha dengan bibirnya.
Membuat Vanesha menikmati sensasi yang diberikan Aric, tidak itu saja malah Aric melepaskan ciuman bibirnya dan berpindah ke leher jenjang yang Vanesha miliki membuat Vanesha merasakan kenikmatan yang diberikan Aric.
“Jangan ditahan kalau kamu ingin mendesah silahkan, aku akan menikmati suara indah kamu!” bisik Aric ke telinga Vanesha membuat wajahnya memerah.
Setelah berkata seperti itu Aric menggigit kuping Vanesha membuat Vanesha tidak tahan mengeluarkan desahan kenikmatan yang dia rasakan.
“Eungh? Lepaskan Ari--Hmph”
Bukannya mendengarkan perkataan Vanesha malah Aric memperdalam ciuman mereka, membuat sensasi Vanesha lebih dari biasanya. Bi Ina yang menghampiri kamar majikannya tidak sengaja dia melihat majikannya sedang menikmati bercinta mereka. Membuat dua sejoli tersebut menjauh dan membenarkan posisi mereka.
“Den bibi sudah--Oh maaf”
Bi Ina malah tersenyum malu saat mereka melakukan hal itu, membuat dirinya teringat masa mudanya dulu.
“Ada apa bi?” tanya Aric dengan datar.
“Bibi sudah menyiapkan makanan malam untuk kalian, kalau gitu bibi keluar kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian selesai sarapan nanti,” ucap Bi Ina menggoda dua sejoli yang sedang terdiam.
Bi Ina menutup kembali pintu tersebut dan menuju ke dapur, “Nanti malam kamu tidak boleh pulang dari rumah ini, sekarang ataupun nanti kamu tidak boleh meninggalkan aku lagi!” ucap Aric tegas membuat Vanesha menunduk malu.
Kenapa dirinya seperti ini, malah dia sudah pernah menikmati bibir Aric sebelumnya. Tapi kenapa malam ini rasanya bibir mereka berbeda dari biasanya. Senyuman yang Aric tunjukan membuat dirinya senang apalagi Vanesha mengikuti keinginannya, mulai hari ini dia tidak akan melepaskan Vanesha lagi.
__ADS_1