BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
Rencana Jahat Dara


__ADS_3

Pulang dari pertemuan bisnis Dara menatap kearah perempuan yang ingin merebut pria yang dia sukai, dia mendapatkan kabar bahwa perusahaan Aric dengan perusahaan ayah violet akan berkerjasama. Jadi ini satu-satunya cara buat membatalkan kerjasama mereka.


Dara langsung membisikan sesuatu ke telinga Rani, Rani yang mendengarnya pun terkejut. Apa bosnya akan melakukan rencana jahat ini?


“Apa ibu yakin dengan rencana ibu,” ucap Rani.


“Iya, saya yakin,” Dara benar-benar yakin dengan rencana yang dia buat, demi cintanya dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan Aric.


“Tapi bu, kalo rencana ibu ketahuan ibu akan masuk penjara,” ucap Rani.


“Saya tidak peduli, yang saya pedulikan hanya Aric satu-satunya pria yang harus jadi milik saya,” sorotan mata Dara berubah menjadi ganas.


Dara melirik kearah Rani, “Kalo kamu tidak melakukan rencana yang saya buat, saya akan pecat kamu.” ancam Dara.


Sekarang Rani benar-benar bingung apa dia harus mengikuti keinginan bosnya atau tidak, satu-satunya cara dia harus mengikuti keinginan Dara.


“Baik bu, saya akan melakukan yang terbaik!” jawab Rani dan Rani langsung memulai rencana yang dibuat oleh Dara.


“Kita lihat nanti siapa yang menang siapa yang kalah,” batin Dara sambil mengepal tangan kanannya.


Aric yang berada didalam kamar sedang bersantai sambil menikmati kasur empuk yang selama ini terus menemaninya, disaat itu juga dia mengingat keberadaan Vanesha. Sekarang gimana kabarnya? Dia ingin sekali menanyakan kabar Vanesha tapi gengsi yang membuat dirinya tertahan.


“Sampai kapan kamu di sana? Aku disini selalu menunggu kamu pulang!” batin Aric dengan tatapan kearah jendela kamar.


Sedangkan Vanesha sedang menikmati angin malam yang berada disebuah taman sambil menatap kearah air mancur yang ada dihadapannya.


“Aku tidak tau berapa hari aku disini, tapi yang aku tau aku sangat nyaman sama tempat ini. Sampai-sampai aku tidak ingin kembali,” batin Vanesha dan dari kejauhan seorang pria menatap kearahnya sambil mendekati Vanesha.


Vanesha terkejut bahwa sebuah jaket menempel di badannya dan dirinya melirik kearah pria tersebut, ternyata Sersan kirain dia siapa?


“Kenapa keluar malam-malam, kalo kamu sakit aku yang repot,” ujar Sersan.


“Iya, aku tau. Tapi aku suka tempat ini!” kata Vanesha.


“Apa kamu tidak mau kembali?” pertanyaan Sersan membuat dia bimbang, dia tidak ingin pulang. Ada saatnya dia akan pulang tapi tidak sekarang.


“Aku gak tau, aku masih ingin disini!” kata Vanesha yang membuat Sersan memeluk Vanesha.


“Ya udah sekarang kita pulang,” ujar Sersan dan membuat Vanesha mengikuti keinginan Sersan.


Sampai didepan pintu apartment dia langsung menyuruh Vanesha masuk ke dalam, “Ya udah kamu masuk, kalo ada apa-apa kamu kabarin aku ya.”

__ADS_1


“Iya,” Sersan langsung pergi dari apartment Vanesha dan dia pun kembali ke rumahnya.


***


Rani yang sudah menyiapkan rencana yang dibuat Dara langsung melaksanakan tugasnya dan setelah rencananya selesai dia langsung menghubungi bosnya.


“Halo bu, saya sudah mengerjakan tugas yang ibu perintahkan,” kata Rani.


“Bagus, kalo gitu kamu pergi dari sana,” perintah Dara sambil memutuskan sambungan telepon, “Kita tunggu permainan yang akan saya lakukan ke kalian.”


Aric bersama dengan Bryan sedang menuju tempat lokasi untuk bertemu dengan clean, sampai di sana mereka berdua duduk dan tinggal menunggu kedatangan clean-nya.


Di tempat lain Justin ayah dari Violet sedang menunggu kedatangan Aric di kafe tapi sampai sekarang dia belum juga sampai, “Kenapa dia tidak datang, apakah ini namanya kerjasama. Lebih baik kita pergi dari sini batalkan kerjasama kita dengan perusahaan Aric.” perintah Justin dengan kesal.


Aric yang sudah menunggu hampir dua jam tapi Justin tidak datang menemui dirinya, “Apa kamu yakin ini tempat yang sudah dijanjikannya?” Aric sambil melihat jam yang ada dipergelangan tangannya.


“Iya pak, saya yakin! Malah dia yang menghubungi saya secara langsung,” kata Bryan.


Dari awal sebenarnya dia sudah curiga dengan ini tidak mungkinkan seorang Justin mengingkari janjinya apalagi masalah dengan bisnis, “Coba kamu telepon Lucky suruh dia selidiki masalah ini.”


“Baik pak,” Bryan langsung menghubungi Lucky.


Aric tidak berbicara satu kata pun malah dia pergi mendahului Bryan, didalam mobil Aric terus menatap handphonenya.


“Sepertinya pak Aric sedang menunggu kabar dari mba Vanesha,” batin Bryan yang terus menatap Aric.


“Kenapa bapak tidak menghubunginya saja tanpa harus dia yang menelpon,” ucap Bryan.


“Saya tidak yakin kalo dia mau mengangkat telepon saya,” jawab Aric.


“Bapak tidak ingin menemui mba Vanesha,” Bryan terus-terusan saja menanyakan pertanyaan yang membuat dirinya tidak bisa menjawab apalagi dia sedang bingung sama pikirannya sendiri.


“Saya akan menunggunya disini!” ucap Aric.


Malah Dara senang dengan rencana dia yang berhasil, tinggal menunggu peperangan yang akan dia tonton nanti.


“Sersan apa aku kembali saja ke Indonesia untuk melihat perkembangan perusahaan ku,” ucap Vanesha yang terus menatap Sersan yang begitu fokus dengan laptop.


“Kalo kamu ingin kembali silahkan saja, tapi apa kamu yakin sampai di sana tidak melihat seseorang yang kamu rindukan,” kata Sersan sambil menggoda Vanesha.


“Aku serius bukannya bercanda,” kesal Vanesha yang dari tadi terus digoda oleh pria yang sangat menjengkelkan.

__ADS_1


“Baiklah.. Baiklah, aku tidak akan menggoda mu lagi. Jadi mau kapan kamu ke Indonesia?” Sersan menghampiri Vanesha sambil memberikan segelas kopi yang sempat ia pesan.


“Mungkin dua minggu lagi aku ke Indonesia,” ucap Vanesha.


***


“Kenapa ayah mukanya kesal begitu?” tanya Violet saat melihat ayahnya pulang.


“Iya, ayah memang kesal. Seharusnya dia menghargai ayah bukan mempermalukan ayah,” ucap Justin pun duduk di samping putrinya.


“Dia? Maksud ayah rekan bisnis ayah yang ingin bekerjasama,”


“Iya,”


“Memang siapa orang yang buat ayah kesal,” kata Violet.


“Aric, perusahaan sanjaya artharama yang membuat ayah menunggu,”


Aric? Sepertinya dia pernah mengenal nama itu?


“Lebih baik ayah bicarakan langsung dengannya dari pada ayah kesal seperti ini,” saran Violet sambil menenangkan ayahnya.


Benar juga yang dikatakan putrinya lebih baik dia tanyakan langsung saja dari pada dia dibuat kesal seperti ini.


“Gimana sama perkembangan perusahaan?” tanya Vanesha saat dia mengabarkan Ava.


“Perusahaan baik mba, mba kapan pulang ke Indonesia?” tutur Ava.


“Dua minggu lagi saya akan kembali ke Indonesia, kamu harus terus kabarin saya mengenai perusahaan,” pinta Vanesha.


“Baik mba, saya akan melakukan tugas saya,” Vanesha langsung menutup teleponnya dan kembali melihat kearah laptop yang sudah dikirimkan email oleh Ava.


Malam harinya Vanesha sedang menonton televisi bersama Sersan, malah posisinya bukan berjauhan lagi tapi semakin dekat. Sersan tidak keberatan kalo sifat Vanesha manja kepadanya malah dia senang kalo Vanesha seperti anak kecil.


Sersan yang melihat Vanesha terus menguap langsung menyelimuti badan Vanesha, “Kamu tidak mau masuk ke kamar untuk tidur?”


“Aku belum ingin tidur,” saat Vanesha mengucapkan ucapannya tiba-tiba saja Vanesha terlelap di samping sersan. Sersan yang melihat Vanesha sudah terlelap hanya menggeleng kepala.


“Ucapan sama hawa ngantuk berbeda,” Sersan hanya tersenyum dengan ucapan Vanesha, malah dia mengelus rambut Vanesha yang sudah sangat lelap.


Sersan melanjutkan aktifitas nontonnya menjadi siaran bola kesukaan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2