
Pagi harinya vanesha terbangun dari tidur dan sekalian dia membersihkan badan, selesai membersihkan badan ia langsung turun menuju dapur. Di sana ia melihat satu art yang menyiapkan sarapan, vanesha langsung menghampiri art tersebut.
“Pagi bi,” sapa vanesha
“Pagi non,” jawab art
“Bibi lagi masak apa?” tanya vanesha
“Masak kesukaan den aric,”
“Emang pak aric suka sama masakan kaya gini bi,”
“Iya non, den aric paling suka seperti ini. Apalagi kalo masakan ibunya pasti dia sangat lahap,” jelas art sambil menumis sayur
“Bibi sudah lama ya bekerja sama pak aric,” tutur vanesha
“Iya non, dari keluarganya den aric belum memiliki apa-apa sampai sekarang,”
Vanesha hanya mengangguk, ternyata tuh orang suka sama makanan sederhana kirain gue anak Sultan makanannya mewah ternyata enggak. batin vanesha
“Bi boleh saya bantu,” tawar vanesha
“Memang non bisa masak,” jawab art
“Bisa dong bi,” ujar Vanesha percaya diri
Saat aric turun dari kamarnya tiba-tiba saja ia langsung mencela pembicaraan vanesha, “Kamu gak boleh masak, nanti masakan kamu asin dan gak enak dimakan. Lebih baik kamu duduk sambil menunggu masakannya selesai.” tegas aric
“Apaan sih pak nyambung-nyambung aja, saya memang bisa masak. Kalo masalah kopi saya memang tidak terbiasa bikin kopi, tapi kalo masak saya bisa,” ujar vanesha dengan nada kesal
“Saya gak percaya sama kamu, bi lebih baik vanesha yang masak. Saya ingin tahu apakah masakannya enak atau tidak,” ejek aric
Akhirnya art mengikuti perintah majikannya dan vanesha langsung memulai aksinya dengan peralatan masak, memulai menumis bumbu dan lainnya. Akhirnya masakannya sudah selesai dan dia menyusun makanannya di atas meja makan.
“Silahkan dinikmati,” ujar vanesha
Aric mengambil tumis jamur dan gorengan yang dibuat oleh vanesha, saat makanan itu masuk kedalam mulut aric, aric langsung ketagihan dengan masakan vanesha
Tumben dia bisa masak, kenapa bikin kopi dia gak bisa. Masalah masak dia memang jago. ujar aric sambil memuji vanesha dalam hati
“Gimana pak masakan saya enakkan,” ucap vanesha
“Biasa aja,” jawab aric dengan wajah datar
Dih biasa aja, tapi dari tadi makan nambah mulu. omongan mulutnya berbeda dengan hatinya. Dasar gengsi ngakuin masakan gue enak. gerutu vanesha dalam hati
“Non ini mah enak banget masakannya, bibi aja baru pertama kali makan seperti ini non. Non memang jago dah urusan masak, lihat tuh non den aric sampai lahap begitu makannya,” puji art dan melihat kearah aric yang sangat lahap dengan masakan vanesha
“Gak usah dipuji bi nanti dia malah jadi keras kepala,” sahut aric
__ADS_1
“Ye, masakan gue mah emang enak lo aja yang gak punya hati jadi orang,” ucap vanesha asal
Jleb
Apakah seperti itukah dia sampai-sampai vanesha seperti itu kepadanya? apakah dia terlalu jahat kepada orang! Itulah yang dipikirkan aric saat mendengar ucapan vanesha
Selesai sarapan aric langsung menuju bagasi sama seperti vanesha ia mengikuti aric dari belakang dan membuka pintu mobilnya. Didalam perjalanan mereka berdua hanya diam satu sama lain tanpa berbicara. Sampai di kantor vanesha membukakan pintu mobilnya dan memarkirkan mobilnya.
Selesai mengerjakan kerjaan kantor ia duduk terdiam dan memikirkan omongan vanesha tadi pagi, dulu dia jahat. Apakah ia bisa mengubah sikapnya kepada siapapun apalagi sama perempuan.
Aric langsung menelpon sekretarisnya Bryan untuk memanggil vanesha ke ruangannya, “Halo Bryan, tolong kamu panggilkan vanesha keruangan saya segera.” ucap aric dengan tegas
“Baik pak,”
Bryan langsung saja mencari vanesha ternyata benar vanesha berada di ruangannya dulu, “Vanesha kamu dipanggil pak aric suruh ke ruangannya.” ujar Bryan
“Baik pak,”
“Gue keruangan pak aric dulu ya, nanti gue balik lagi,” ujar Vanesha kepada aulia
Aulia mengangguk dan vanesha menuju ruangan aric, sampai di ruangan aric dia tidak lupa mengetuk pintu.
Tok.. tok
“Masuk,” ucap aric dari dalam ruangan
“Silahkan duduk,”
Vanesha pun duduk dihadapan aric, “Saya ingin tanya sama kamu apakah saya sejahat itu.” ujar aric
Maksud pak aric apa? aneh banget sikapnya hari ini. batin vanesha
“Maksud bapak apa ya, saya tidak mengerti,” jawab vanesha
“Maksud saya.. Menurut kamu apakah saya jahat dan nyebelin,” ujar aric
“Bapak kenapa? apa bapak sakit kenapa bapak ngomongnya seperti itu,” sahut vanesha tidak mengerti
“Tadi pagi kata kamu saya tidak punya hati, makanya saya tanya sama kamu apakah saya sejahat itu sama orang sampai-sampai kamu juga seperti itu,” jelas aric dengan wajah muram
Dari tadi pak aric mikirin omongan gue tadi pagi, kan gue cuman bercanda tapi memang sih dia orangnya seperti itu. Tapi menurut gue sifatnya seperti itu walaupun bisa diubah akan seperti itu lagi. batin vanesha
Vanesha tersenyum kearah aric, “Pak.. bapak tidak usah pikirkan omongan saya tadi pagi, saya tahu sifat bapak seperti apa, jadi saya harap bapak jangan mikirin hal yang tidak usah bapak pikirkan. saya juga tahu pasti bapak ngomong seperti itu hanya untuk menyenangkan orang lain tapi bapak tidak tahu cara menyenangkan hati orang.” jelas vanesha
Aric menghela nafasnya, “Kamu memang benar saya tidak tahu cara menyenangkan hati orang dan saya juga tidak tahu cara mendapatkan hati perempuan. Makanya saya tidak bisa mendapatkan perempuan, karena hidup saya hanya mementingkan pekerjaan saja bukan pasangan.” ucap aric dengan nada sedih
“Bapak jangan sedih, saya yakin pasti bapak dapat pasangan hanya saja waktunya yang belum tepat pak,” jawab vanesha
“Mungkin sekarang saya tidak akan fokus lagi sama pekerjaan saya, saya akan mencari pasangan saya. Walaupun susah tapi saya harus berusaha,” ujar aric dengan penuh semangat
__ADS_1
“Gitu dong pak, itu namanya pak aric gak gampang menyerah. Masa gara-gara omongan saya bapak jadi lemah, masa laki-laki lemah sama kaya cewek dong. Bapak kalah sama perempuan, perempuan aja gak lemah masa bapak sebagai seorang pria lemah,” jawab vanesha sambil ngeledek kearah aric
Aric hanya tersenyum melihat vanesha tersenyum bersama dirinya, jujur kenapa saat ia dekat dengan vanesha hatinya merasa nyaman beda dengan dahlia yang tidak merasakan apapun.
***
Selesai dari kantor vanesha mengantarkan aric kerumahnya dan sekalian ia meminta izin untuk masalah penting.
“Maaf Pak ini kunci mobilnya, saya ingin minta izin untuk pulang ke rumah. Apakah bapak mengizinkan saya pulang pak,” ujar vanesha
Aric mengambil kunci mobilnya, “Memang kenapa kamu izin pulang, ada hal apa yang bikin kamu pulang.” jawab aric
Kalo gue jujur nanti ketahuan dong, terus gue harus jawab apa. lama-lama kalo gue disini bakal mati rasa, dari tadi pak aric nanya-naya mulu, kalo gue salah ngomong bisa bahaya. batin vanesha
“Mohon maaf pak, saya dikasih kabar bahwa keluarga saya sakit jadi saya harus menjenguknya.” tutur vanesha
Maafin saya ya pak sudah berbohong sama bapak, saya tidak berani mengungkapkan yang sebenarnya pak. Kalo saya ngomong yang sebenarnya takutnya bapak tidak percaya dengan saya. batin vanesha
“Baik. Kamu boleh pergi tapi kamu ingat kalo urusan keluarga selesai kamu kembali lagi untuk bekerja seperti biasa,” tegas aric
“Baik pak. Saya mengerti kalo begitu saya pamit ya pak ke rumah sakit,” tutur vanesha
Aric pun mengangguk dan vanesha langsung saja mengambil motor maticnya. Vanesha menyalakan motornya dan menuju rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Sampai di rumah sakit ia langsung saja memarkirkan motornya dan menuju ruangan dokter pribadi ayahnya.
“Pagi dok,” sapa vanesha saat melihat dokter pribadi ayahnya sedang berada di ruangan ayahnya.
“Pagi mba. Tepat sekali mba datang hari ini, gimana sama perkembangan mba hari ini apa ada hal ingin mba vanesha sampaikan,” ujar dokter hamzah
“Kemarin atasan saya pak aric memberikan lokasi keberadaan bunga autaristik nya, tapi bunga itu dikelilingi penjagaan kalo saya sampai ceroboh untuk mengambilnya takutnya saya akan mendapatkan masalah. Menurut dokter solusinya apa untuk masalah ini,” jelas vanesha
“Terima kasih mba sudah memberikan informasi ini ke saya, saya akan memikirkan cara selanjutnya. Kalo ada perkembangan dari saya, saya akan mengabari mba secepatnya,” tutur dokter hamzah
“Baik dok, kalo begitu Terima kasih dokter sudah merawat ayah saya,” jawab vanesha
“Sama-sama mba, saya hanya menjalankan tugas saja mba. Lagian juga saya sudah mengenal keluarga mba, apalagi orang tua mba saya tahu mba,” ujar dokter hamzah
“Gimana dok atas perkembangan ayah saya,” tanya vanesha
“Kemarin pak alison kondisinya agak melemah mba, tapi mba tidak usah khawatir saya sudah menanganinya dengan cepat. Sepertinya mba harus segera mendapatkan bunga autaristik segera, takutnya pak alison kondisinya semakin melemah,” jelas dokter hamzah
“Baik dok saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan ayah saya, apapun resikonya saya akan hadapi,” ujar vanesha sambil melihat kearah alison
“Baik mba. Kalo begitu saya permisi dulu,” jawab dokter hamzah
Vanesha mengangguk dan vanesha duduk di samping ayahnya yang sangat melemah, dia menggenggam tangan ayahnya dan menatap wajah alison dengan cermat. Jujur saat ini ia merindukan ayahnya yang dulu, yang selalu menjaganya dan melindunginya. Sampai sebesar ini dia masih dilindungi ayahnya tapi saat ia melindungi ayahnya malah ia tidak bisa, sebodoh itukah dia lalai untuk menjaga ayahnya.
“Ayah maafin vanesha, vanesha sudah lalai menjaga ayah. Kalo vanesha tahu ayah seperti ini vanesha tidak akan meninggalkan rumah,” tutur vanesha dengan nada melemah. Ada sebuah penyesalan didalam hatinya tapi baginya buat apa menyesal, nasi sudah jadi bubur tidak bisa dikembalikan keadaan seperti dulu lagi.
“Gue harus secepatnya mendapatkan bunga autaristik nya gimana pun caranya, resiko apapun gue harus hadapin demi kesembuhan ayahnya. Do'ain vanesha ya yah semoga vanesha bisa mendapatkan bunga autaristik nya,” ucap vanesha
__ADS_1