BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
Apa Benar Dia Seperti Itu


__ADS_3

Aric yang berada diruang kantor tiba-tiba saja lucky orang kepercayaan datang untuk menemui dirinya, “Ada masalah apa?” tanya Aric yang masih fokus dengan berkas yang ada di tangannya.


“Maaf pak kalo saya lancang kesini, saya hanya menunjukan CCTV yang berada dihalaman rumah bapak,” ucap Lucky.


Lucky memberikan handphonenya dan Aric begitu terkejut dengan apa yang dia lihat, apa benar dia seperti itu? Pikirannya mulai kacau dia harus mempercayai CCTV yang dilihat atau Vanesha.


“Kamu yakin kalo perempuan itu adalah Vanesha,” kata Aric.


“Iya. Saya yakin, saya terus mencari bukti tapi saya hanya menemukan jejak Vanesha yang ada di CCTV. Coba bapak pikir baik-baik sebelum bapak pergi ke jepang saya sudah mulai curiga kalo Vanesha memiliki niat yang tidak baik. Akhirnya bukti itu saya dapatkan dan hasilnya sudah terbukti kalo Vanesha ingin mencuri bunga autaristik milik bapak,” jelas Lucky.


“Kalo begitu terima kasih info yang kamu dapatkan, nanti saya akan bicara masalah ini dengannya,” ucap Aric.


Lucky meninggalkan bosnya di ruangan, sedangkan Aric hanya memikirkan CCTV yang sempat ia lihat barusan. Apa benar Vanesha seperti itu? tapi untuk apa bunga itu? kenapa Vanesha tidak bilang kalo dia menginginkan bunga autaristik? kalau dia tau dia pasti akan memberikan bunga itu tapi kenapa harus mencuri.


Pulang dari kantor Aric langsung menuju kamarnya tanpa memperdulikan Vanesha yang sedang berada diruang tamu sambil menonton televisi, sedangkan Vanesha hanya menatap Aric dari kejauhan. Ada apa dengan Aric? pertanyaan itulah yang terus dia ungkapkan.


Aric menutup pintu kamarnya dan menuju ke kamar mandi untuk menenangkan pikirannya, di dalam kamar mandi Aric hanya berendam sambil menyenderkan kepalanya dan memainkan busa-busa sabun yang berada ditubuhnya. Jujur saat dia melihat Vanesha barusan dia ingin sekali menanyakan CCTV tersebut tapi dia urungkan takutnya malah menuduh Vanesha yang tidak-tidak. Dia ingin Vanesha mengakui kesalahannya tanpa harus dirinya yang bertindak.


Selesai mandi Aric keluar dari kamar mandi menuju ruang yang berisi bajunya, selesai merapikan penampilannya dia menuju ruang kerjanya.


***


Malam pun tiba Vanesha yang dari tadi memandang kearah pintu kamar Aric, perasaan Aric masuk ke dalam kamar tapi sampai sekarang tidak keluar. Selama itukah didalam kamar dia aja tidak berjam-jam masuk kamar, lah ini Aric sudah hampir tiga jam berada di kamar tapi tidak turun ke bawah. Apa sesibuk itukah dia di sana?


Jadi dia berinisiatif untuk datang ke kamar Aric, saat dia menaiki delapan anak tangga dan disitulah Aric berhadapan dengannya. Aric hanya melihat Vanesha saja sambil melangkahkan kakinya, “Kenapa baru turun? aku dari tadi nungguin kamu di bawah.” ucap Vanesha sedangkan Aric terus melewati Vanesha tanpa memperdulikan ucapan Vanesha.

__ADS_1


Vanesha terus saja mengucapkan hal yang sama kepada Aric dan Aric hanya mendengarkan saja sambil melahap makanan yang ada dihadapannya. Selesai sarapan Aric menatap Vanesha, “Apa kamu tidak menyembunyikan apapun dari saya.” kata Aric.


Deg


Menyembunyikan apa? apa Aric tau mengenai bunga autaristik yang sempat ia ambil tapi kejadian itu sudah lama, terus sekarang dia harus jawab apa? apa karena bunga autaristik atau bukan.


“Menyembunyikan apa ric, Saya tidak mengerti maksud kamu apa?” jawab Vanesha.


“Apa kamu yakin dengan ucapan kamu,”


“Iya aku yakin,”


“Saya tau kamu menyembunyikan sesuatu dari saya, saya ingin mendengar penjelasan kamu Vanesha. Saya ingin kamu jujur kenapa kamu menginginkan bunga autaristik itu? malah sekarang kamu tidak ingin jujur kepada saya,” batin Aric sambil menghela nafasnya.


“Baiklah kalo itu mau kamu, saya tidak ingin memaksa kamu lagi. Tapi kamu harus ingat sepintar-pintarnya orang menyembunyikan bangkai suatu saat nanti bangkai itu akan ketahuan juga,” sorotan tatapan Aric langsung berubah menjadi kejam tidak seperti dulu lagi dan Aric langsung pergi meninggalkan Vanesha begitu saja.


Aric mengambil kunci mobilnya dan menuju ke sesuatu tempat yang membuat dia terasa damai apalagi disaat dia banyak pikiran, jam terus berdetak begitu cepat sampai menunjukan pukul 09 malam. Aric yang masih setia dengan tempat yang dia rasakan saat ini, walaupun banyak musik yang dia dengar tapi dia senang berada di tempat ini.


Saat dia sedang menikmati posisinya dengan wanita-wanita seksi tiba-tiba saja temannya datang menghampiri dirinya, “Tumben banget lu kesini biasanya kalo diajak gak bakalan mau.” ucap Zidan.


“Lu lagi punya masalah bro,” kata Rico.


“Cewek-cewek cantik, seksi, imut boleh cari pelanggan lain tidak aku ingin bicara penting sama pelanggan kamu ini,” kata Zidan kepada perempuan yang berada di samping Aric dan perempuan nakal itu pun pergi meninggalkan mereka bertiga.


Sekarang tinggal mereka bertiga yang berada di sana, “Sekarang hanya kita bertiga saja, gue mau tanya sama lu. Kenapa lu datang ke tempat ini tanpa memberitahu yang lain.” tutur Varo.

__ADS_1


Aric mengambil gelas yang berisi minuman dan meneguknya, “Gue benci sama lu.. Gue benci.”


“Lebih baik bawa dia pulang, dari pada disini makin berabe urusannya,” kata Zidan.


“Ya udah gue bawa dia pulang, lu bawa motor gue nanti pas gue nganterin dia pulang gue bisa naik motor gue,” lontar Rico sambil memberikan kunci motornya ke Varo.


Varo mengambil kunci motor dan mereka berdua langsung mengantarkan Aric pulang, didalam perjalanan Aric masih mengigau tidak jelas dan sekarang Aric sudah terdiam tidak seperti tadi yang terus mengucapkan hal-hal yang ada dihatinya. Sampai didepan rumahnya Aric Rico membuka pintu mobil dan membantu Varo menuntun Aric ke dalam rumah.


Didepan pintu Rico terus memencet bel tapi tidak ada sahutan, didalam Vanesha yang sedang berada di dapur tidak sengaja mendengar suara bel rumahnya bunyi akhirnya ia buru-buru membuka pintu. Ternyata dia melihat sahabatnya Aric dan juga Aric, tunggu kenapa Aric seperti ini?


“Kenapa dengan Aric?” tanya Vanesha.


Varo dan Rico menuntun Aric menuju sofa, mereka berdua membaringkan Aric di atas sofa. Selesai membaringkan Aric mereka berdua duduk di samping bangku sofa yang lain.


“Kenapa Aric bisa sampai seperti ini!”


“Tadi gue sama yang lain main ke tempat anak-anak nakal dan disitu gue ngeliat Aric sama wanita nakal, makanya gue sama Varo menghampiri Aric baru sampai di sana Aric sudah tumbang dan gue berinisiatif untuk bawa dia pulang dari pada dia pulang sendiri nantinya kenapa-napa,” jelas Rico.


Vanesha hanya mengangguk saja dan mereka berdua berpamitan kepada Vanesha, “Kalau gitu kita berdua pamit dulu ya, jaga Aric baik-baik ya Vanesha. Kalo ada apa-apa lu kabarin kita aja.” ucap Varo.


“Iya. Makasih sudah nganterin Aric pulang,”


“Iya. Sama-sama,” mereka berdua langsung meninggalkan Vanesha.


Dia langsung kembali ke tempatnya Aric, di sana dia melihat Aric sangat pucat dan tubuhnya bau dengan minuman yang tidak semestinya diminum. Vanesha menuju kamarnya untuk mengambil selimut dan berjalan ke ruang tamu tempat Aric berada, Vanesha menyelimuti Aric sambil membuka sepatunya Aric.

__ADS_1


“Kenapa kamu bisa seperti ini, aku merasa bersalah sama kamu andai kamu tau kalo aku mengambil bunga autaristik tanpa seizin kamu itu untuk pengobatan ayah aku. Kalau kamu tau apakah kamu akan membenciku,” batin Vanesha sambil mengusap rambut Aric, lama-kelamaan Vanesha terlelap di samping Aric dengan posisi duduk.


__ADS_2