BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
S2 : Kejadian Malam Hari


__ADS_3

Malam itu Mawar sedang menunggu kakaknya di rumah sakit, malam ini dia mengantarkan kakaknya untuk melakukan persalinan. Kandungan Vanesha sudah 9 bulan waktunya untuk menunggu kelahiran buah hatinya, dia meminta seseorang untuk menitipkan Vanesha supaya kakaknya tidak terjadi apapun.


Mawar yang berada di luar sedang membeli makanan tidak sengaja melihat sebuah mobil yang sengat mencurigakan, dari kejauhan dua orang itu keluar dari mobil dan kecurigaannya semakin terkuat saat dua orang itu masuk ke rumah sakit.


Dengan cepat dia masuk dia teringat kakaknya yang masih menunggu persalinan, penjual itu terus berteriak saat kembalian Mawar masih ditangan ibu penjual. Dia tidak peduli dengan ibu penjual itu malah dia memikirkan kakaknya, dua orang itu bertingkah aneh saat dua orang itu memakai baju suster.


Vanesha yang berada di dalam kamar menatap dua orang itu yang membawa troli yang berisi obat, dua orang itu masuk sambil menghampiri Vanesha yang terus merasakan kontraksi saat bayinya ingin melahirkan.


"Kalian berdua suster baru di sini, kenapa tidak ada suster yang dulu yang menangani saya." ucap Vanesha. Dua orang itu menatap secara bersamaan, salah satu orang yang ia tahu laki-laki menghampirinya dan memberikan sesuatu kepadanya.


"Maaf saya di perintahkan untuk menjaga ibu, dokter yang menangani ibu sedang pergi sebentar kita yang akan menggantikan dokter tersebut." Vanesha mengangguk. Malah laki-laki itu menyuruh dia tiduran Mawar yang panik dengan kakaknya langsung berlari secepat mungkin, dia membuka kamar kakaknya saat dua orang itu sedang memberikan sesuatu di cairan infusan dan Mawar menjatuhkan suntikan itu.


"Kalian siapa? Jangan berani-berani menyentuh kakak saya atau saya laporkan polisi dan memanggil kepala rumah sakit." ancam Mawar membuat Vanesha menatap adiknya. Tangan Mawar mencoba memanggil seseorang supaya orang itu datang.


Dua orang itu kabur saat mendengar suara sirine kamar kakaknya, Mawar mengejar dua orang itu bukannya Vanesha istirahat malah menyusul adiknya yang mengejar adiknya.


"Mawar jangan tinggalin kakak, kamu mau kemana Mawar?" kata Vanesha yang jalannya tidak secepat biasanya, Mawar tetap mengejar dua orang itu dan akhirnya dia berhasil menangkap salah satu orang itu.


"Kalian kenapa kabur, saya sedang bicara sama kalian. Kalian siapa? Kenapa kalian mau melukai kakak saya apa mau kalian." lontar Mawar yang sudah marah dengan kelakuan mereka berdua, tangan Mawar berusaha membuka penutup wajah yang ia tangkap orang itu.

__ADS_1


Vanesha berhenti saat melihat Mawar sedang berusaha melawan dua orang penjahat itu. "Mawar berhenti jangan terusin lagi." teriak Vanesha yang tidak di pedulikan oleh Mawar, Vanesha menghampiri Mawar saat tubuhnya mulai keram sebuah mobil datang membuat Mawar melihat itu semua.


"Kak awas," teriak Mawar membuat Vanesha menatap mobil itu, dia sama sekali tidak bisa bergerak saat kakinya tidak bisa di gerakan.


Mawar berlari dan mendorong Vanesha ke tepian, tapi dari arah belakang Mawar di dorong seseorang membuat dirinya terpental saat mobil itu sudah berada di depan matanya.


"Mawar" Aric dan juga Bara yang berada di sana langsung menghampiri mereka berdua, Aric tidak mengejar mobil itu tapi dia menatap plat mobil yang sudah pergi.


Aric tanpa bicara apapun langsung membawa istrinya ke rumah sakit, dia meminta dokter untuk menangani istrinya. Sedangkan Mawar sedang dibawa oleh Bara, tangan itu terus memegang tangan Mawar yang begitu melemah.


"Maaf mas, anda bisa menunggu di luar." ucap salah satu suster itu, Bara duduk melemas saat melihat kondisi Mawar pintu ruangan itu tertutup rapat saat kasur brankas yang terdapat Mawar sudah masuk ke dalam.


***


Ruangan operasi itu sama sekali tidak ada tanda-tanda dari dalam, dia terus menghapal doa untuk kesembuhan Mawar. Dia terus berjaga supaya dia bisa melihat kondisi wanita itu.


Kejadian itu begitu cepat saat mereka berdua datang, mobil yang menabrak mereka berdua pergi begitu saja. Dia sudah meminta seseorang untuk melakukan pengecekan CCTV supaya kasus ini akan lebih lanjut.


"Mawar aku mohon kamu harus kuat dan kamu harus bertahan demi aku... demi kakak kamu" batin Bara yang masih memperhatikan pintu operasi. Luka yang dialami Mawar lebih parah di bandingkan Vanesha, walaupun Vanesha kehilangan anaknya tapi dia masih sehat sedangkan Mawar dia tidak tahu kapan wanita itu sadar.

__ADS_1


Bara meminta seseorang untuk menjaga Mawar dan dia pun pergi, emosinya memuncak saat melihat CCTV yang dikirim oleh seseorang. Orang itu adalah anak buahnya yang begitu parahnya ternyata orang itu dibayar oleh ibu kandungnya sendiri.


Bara meminta anak buahnya untuk mencari keberadaan mobil itu dan juga kedua orang yang dibayar oleh Manda, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya apa wanita itu tidak merasa kapok di sel penjara. Buat apalagi wanita itu melakukan ini, karena ulahnya dua wanita ini masuk ke rumah sakit.


Dia memang sengaja tidak mengetahui Aric kalau dirinya sudah menemukan siapa yang mencelakai dua wanita itu, dia harus melakukannya sendiri dan memberitahu ibunya kalau perbuatannya sudah salah.


Dia melangkah menuju penjara, di sana terdapat ibunya sedang tersenyum entah apa yang dipikirkan wanita itu tapi dia yakin kalau wanita itu habis melakukan kejahatan.


"Mau sampai kapan ibu melakukan ini," ucap Bara secara tiba-tiba membuat Manda mendongak, wanita itu menatap Bara sinis saat putranya datang untuk menginterogasinya.


"Jawab bu, ibu tidak kapok melakukan ini semua. Apa ibu mau hukuman di penjara lebih lama, aku capek bu melihat tingkah laku ibu seperti ini." Bara menatap Manda saat wanita itu enggan untuk bicara, dia menyentuh pintu penjara.


Manda kaget saat suara pintu itu terdengar di dekatnya, tatapan Bara masih sama saat melihat Manda begitu membenci tingkah laku ibunya sendiri.


"Tolong ibu jawab dengan jujur, apa benar ibu yang membayar dua orang sewaan ibu untuk melukai dua wanita yang tidak bersalah. Gara-gara ibu kak Vanesha mengalami sock berat saat kehilangan anaknya." tutur Bara membuat wanita itu menggeleng.


"Baik kalau ibu tidak menjawab perkataan aku... aku akan mencari secepat mungkin siapa pelaku itu dan ibu aku akan hukum seperti ibu melukai dua wanita yang sedang bertaruh nyawa." ancam Bara. Dia dengan cepat pergi saat dirinya tidak ingin menatap ibu kandungnya.


"Sial" umpat Manda melihat kepergian Bara. Tangannya mengepal pintu besi itu, tatapannya penuh kebencian dia tidak menganggap Bara sebagai putranya karena putranya yang membantu orang yang sudah ia benci.

__ADS_1


"Kamu tidak akan bisa melakukan itu kepada saya... saya cepatnya akan menghancurkan kamu dan kamu akan saya usir dari rumah," batin Manda. Dia duduk bersandar di tembok dia menatap empat orang sedang bercerita tanpa ia pedulikan.


__ADS_2