BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
S2 : Kenangan Terakhir


__ADS_3

Hari demi hari Bara masih setia menunggu Mawar sadar, wanita ini tidak ada tanda apapun. Dia terus saja menemani Mawar saat wanita itu masih terlelap, pandangannya terasa galau melihat kondisi Mawar.


"Mau sampai kapan kamu membuatku menderita, aku kangen sama kamu. Kamu tahu kalau aku tidak bisa melihat kondisi kamu seperti ini, aku merindukan kamu yang dulu." batin Bara dengan lirih. Dirinya terus menggenggam tangan tersebut dan menciumnya.


Saat dirinya sedang fokus menjaga Mawar dia mendengar suara handphone dari jaketnya, dia pun menatap handphone tersebut dan menatap Mawar sekilas sebelum dia meninggalkan kamar Mawar.


"Bara kamu cepat kemari ibu kamu datang ke rumah, ayah takut kalau ibu kamu melakukan hal yang aneh-aneh." ucap Ridwan panik. Gimana tidak panik saat melihat wanita itu datang apalagi wanita itu sedang menggenggam benda tajam.


"Gimana bisa ibu sedang ada di kantor polisi," jawab Bara yang tidak percaya dengan ucapan ayahnya, saat dirinya tidak percaya saat itu juga dia mendengar suara aneh di dalam rumah dengan cepat dia mematikan handphone dan kembali ke rumah.


Sebelum pergi dia meminta seseorang untuk menjaga Mawar, dia tidak mungkin meninggalkan kekasihnya sendiri di rumah sakit. Tanpa melihat kondisi pengendara dia pun mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, semua orang pada panik saat melihat mobil hitam sedang melaju cepat.


Tidak butuh lama mobil itu sampai di halaman rumahnya, tangannya langsung membuka pintu mobil dan berlari masuk ke dalam. Dan benar saja kalau ibunya berada di rumah tangannya menggenggam benda tajam, apa wanita itu sudah gila sampai menghancurkan rumahnya.


"Ibu kenapa bisa ada di sini, bukannya ibu sedang berada di kantor polisi. Kenapa ibu bisa bebas" tutur Bara membuat Manda menatap putranya. Senyuman yang diberikan Manda membuat Bara mundur saat wanita itu sedang mendekatinya.


"Kenapa ibu bisa keluar dari penjara karena ibu sudah menipu polisi, Bara... Bara kamu tahukan kalau ibumu ini sangat pintar buktinya saja ibu bisa keluar dari penjara. Sekarang waktunya ibu membalaskan dendam kepada kalian" kata Manda sambil tertawa mengerikan, entahlah dia sedang mentertawakan apa yang jelas wanita ini sudah tidak waras.


Langkah Manda terus mendekati Bara membuat cowok itu mundur. "Kamu jangan mendekat kalau kamu berani mendekat saya tidak akan segan-segan melukai kamu." ancam Bara membuat Manda tertawa, wanita ini terus menerus tertawa tapi dia tidak mungkin menyerah karena wanita ini.


"Coba saja kalau berani menghubungi polisi saya akan melukai Mawar" wanita itu bukannya takut malah mengancamnya balik, langkahnya terhenti saat dirinya tidak bisa mundur malah tembok sudah menghalanginya.


Tangan Manda menyentuh wajah Bara dengan tangan kosong, dia tidak tahu tangan itu mau ngapain wajahnya tapi dia terus menghindar saat dia merasa kalau kuku jarinya begitu panjang.


"Saya sudah bilang sama kamu jangan macam-macam, kamu sama Mawar sama saja sama-sama merusak rencana gue." Bara mengerutkan dahinya, rencana apa yang mereka rusak. Sebenarnya apa yang direncanakan wanita ini.


Manda berhenti dan menjauhi Bara sambil menatap Ridwan. "Kamu tahukan kalau gue sama ayah kamu itu tidak saling cinta dan kamu juga bukan anak kandung kita berdua." ucapan Manda membuat dirinya membisu, antara sedih ataupun apa tapi dia merasa kalau dirinya sudah di hancurkan begitu saja.


Bara menatap ayahnya yang sama sekali tidak bicara apapun, dia beralih menatap orang tuanya.


"Tidak mungkinkan! Tidak mungkin kalian bukan orang tuaku, kalau kalian bukan orang tuaku dimana orang tua asli ku." tutur Bara yang terlanjur kecewa, Manda menatap Bara saat cowok itu hampir melemah.


"Kamu..."

__ADS_1


"Cukup!" teriak Ridwan saat ucapannya Manda terus menganggu telinga, dia tidak mau kalau Manda bicara yang tidak-tidak.


Mereka berdua terdiam saat mendengar amukan Ridwan, sungguh wanita ini tidak percaya saat melihat suaminya marah.


"Kamu lebih membela putra haram ini dari pada istri kamu," kata Manda kesal. Bara semakin bingung dengan mereka berdua, putra haram? Yang dimaksud putra haram dirinya.


"Maksud ibu apa?" Manda menatap Bara saat ucapan Bara melemah, dia sungguh tidak berdaya saat wanita ini bicara tentang anak haram.


"Kamu adalah anak haram yang sudah mengganggu rumah tanggaku, dan kamu juga yang membuat rumah tangga saya hancur gara-gara ibu kamu." hardik Manda. Tangan Manda terus menunjuk kearah Bara saat cowok itu sudah tidak berdaya dengan perkataan Manda.


"Saya akan membalas dendam atas perilaku ibu kamu dan kamu harus merasakan rasa sakit yang kalian buat, kamu harus menyusul ibu kamu ke dalam neraka." Manda dengan tatapan kesal dan jiwanya yang sudah dirasuki jin langsung tidak memiliki perasaan positif saat benda tajam itu hampir mengenai Bara.


Bara terus menghindar saat tangan Manda terus mengikutinya, Ridwan yang melihat putranya dalam bahaya langsung menghubungi seseorang untuk membantunya. Telepon itu terlempar saat Manda sudah menjatuhkannya dan dia menatap dua cowok itu dengan tatapan psikopat.


"Ayah awas," teriak Bara yang hampir saja benda itu mengenai wajah Ridwan, langkahnya menuju Wawan dan menarik tangan pria itu untuk mengikuti langkahnya.


Bara membawa Ridwan pergi jauh dari rumah itu dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, akhirnya dua pria itu bisa bernafas lega saat mereka berdua berhasil menghindar kemarahan Manda.


"Apa ayah tidak apa-apa?" tanya Bara yang begitu khawatir, Ridwan melirik Bara saat putranya mengkhawatirkannya.


***


Mobil yang dikendarai Bara akhirnya berhasil lolos saat dua mobil itu mengikutinya, dia menghubungi seseorang saat orang itu mengangkatnya.


"Bara," gumam Aric. Saat matanya melihat panggilan telepon dari Bara, dengan cepat dia mengangkatnya.


"Gue minta seseorang untuk menjaga Mawar, gue khawatir sama kondisi Mawar. Gue sudah memberikan beberapa orang untuk melindungi adik lu tapi gue sama sekali tidak tenang, gue di sini dalam bahaya tolong bawa orang untuk membantu gue." ucap Bara dengan nada panik, sungguh dia tidak bisa berpikir sejenak saat mobil itu berhasil mendapatkannya.


Tanpa membalas ucapan Bara Aric dengan sigap menolong Bara, dia juga menyuruh beberapa orang untuk menjaga rumah sakit. Aric juga meminta Alaska untuk membantunya, mereka berdua sedang menuju tempat yang diberikan Bara saat itu juga mobil yang dikendarai Bara sudah di kepung dan dua cowok itu berhasil di tangkap.


Dua mobil itu berhenti saat melihat kondisi yang tidak memungkinkan, pemilik mobil itu turun bersamaan dengan orang-orang pilihan mereka. Mereka berdua tidak mungkin datang bersamaan saat polisi belum datang.


"Kak apa kita tidak bisa membantu Bara, kita tidak mungkin berdiam diri di sini saat Bara sedang dalam bahaya." tangan Aric menahan Alaska, dia tidak mungkin melakukan hal bodoh saat musuh masih bersama Bara.

__ADS_1


"Kita tunggu dulu kalau kita ke sana yang ada kita semua dalam bahaya, kamu tahukan mereka berjumlah banyak dari pada kita. Jangan terlalu gegabah untuk mengambil keputusan," tutur Aric. Mata mereka masih melihat Bara sedang di hajar habis-habisan oleh penjahat itu.


"Cukup! Saya bilang hentikan! Kamu sama saja ingin membunuh Bara, hilangkan rasa dendam dan rasa benci kamu semua itu sudah masa lalu jangan diungkit seperti ini." tegas Ridwan. Dia berharap kalau Manda memiliki rasa kemanusiaan, tapi dia salah malah wanita ini tidak mendengarkannya.


"Hentikan! Kalau bukan karena wanita itu melahirkan anak dari kamu aku tidak mungkin melakukan hal seperti ini, dan kamu malah membela anak haram dari wanita yang sudah merusak rumah tangga kita." erang Manda yang tidak habis pikir dengan perkataan suaminya.


"Iya aku tahu, setidaknya kita bisa bicarakan ini tidak usah memakai kekerasan seperti ini." Manda melirik Ridwan saat matanya sudah dirasuki jin, mana mungkin orang yang sudah diselimuti rasa benci bisa memiliki rasa kemanusiaan.


Bara sudah tidak bisa melakukan apapun, pandangannya mulai buram saat dia merasakan sakit disuruh tubuhnya. Pandangannya dan tubuhnya sudah melemah, seluruh anggota tubuhnya terjatuh saat dia sudah tidak bisa melakukan apapun.


Manda menatap Bara yang sudah tidak sadarkan dirinya, bukannya Manda kabur atau apa malah dia merebut tembakan yang berada di salah satu pria gagah yang ada di sampingnya dan tembakan itu ingin mengenai Bara tapi dia gagal saat peluru itu sudah mengenai dirinya.


Polisi itu dengan sigap menangkap semua orang dan juga menangkap Manda, semua orang pada dibawa pergi sedangkan Aric dan Alaska membantu Bara untuk ke rumah sakit.


Mereka bertiga sedang menunggu kabar dokter yang memeriksa Bara, pintu kamar rawat Bara terbuka saat dokter dan juga suster keluar mereka bertiga langsung menghampiri dokter.


"Gimana keadaannya dok?" tanya Alaska sambil menatap dokter itu, sebelum dia mengatakan sesuatu dia menghembuskan nafasnya dan menatap ketiga cowok.


"Keadaan pasien tidak ada masalah dan kalian tinggal menunggu pasien sadar baru kalian bisa menjenguknya," kata dokter itu. Setelah mengatakan kondisi Bara yang tidak terlalu parah dan salah satu mereka menjenguk Bara secara bergantian.


Aric menatap Bara saat pria itu mulai sadar, Aric dengan cepat membantu Bara bangun dan menyuruh pria itu bersandar.


"Lebih baik kamu istirahat saja jangan banyak bergerak," ucap Aric yang duduk di kursi. Bara berusaha untuk menahan sakit sambil menatap pria tersebut.


"Apa mereka sudah di tangkap?" Aric mengangguk atas pertanyaan yang diberikan Bara, laki-laki itu bernafas lega saat semua pelaku termaksud Manda bisa dibawa pergi dan tiba-tiba saja dia mengingat Mawar.


"Kak gimana keadaan Mawar? Apa dia baik-baik saja?"


Deg


Tiba-tiba saja bibirnya kaku saat Bara menanyakan kondisi Mawar, dia tidak mungkin bilang saat kondisi Bara seperti ini.


"Kak! Kakak kenapa diam saja, gimana keadaan Mawar? Apa wanita itu baik-baik saja." Bara terus menanyakan kondisi Mawar dan dia juga bingung harus bicara apa.

__ADS_1


"Lebih baik kamu istirahat dulu nanti kita bahas ini, sepertinya aku tidak bisa lama-lama karena aku masih ada urusan." ucapan Aric selalu mengindari Bara, membuat Bara semakin curiga kalau kekasihnya terjadi sesuatu.


"Kak..." baru juga dia ingin melanjutkan ucapannya malah di hentikan oleh suara handphone, dia mengambil handphone tersebut dan keluar untuk mengangkatnya.


__ADS_2