
Sudah empat hari aric berada di Jepang, dia selalu saja sibuk dengan urusan kliennya. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, sekarang ia berada di apartemen sedang memandang kearah jendela.
Entah kenapa gue merindukan seseorang. Tapi gue tidak tahu siapa yang gue rindukan, gue gak tahu kenapa gue ingin secepatnya pulang. Dulu gue tidak sama sekali merindukan rumah tapi kenapa gue merindukan rumah gue. Sudahlah lebih baik gue fokus ngurusin klien gue disini kalo urusan gue disini sudah selesai gue bakal balik ke rumah. batin aric
Saat ia sedang menatap kearah jendela tiba-tiba saja lucky menghubungi dirinya, langsung saja ia mengangkat handphonenya.
Drrtt... drrrtt
“Halo pak,” ucap lucky
“Iya ada apa?”
“Mohon maaf pak saya ganggu saya ingin memberi kabar mengenai tugas yang bapak berikan kepada saya,”
“Gimana sama perkembangan, sudah menemukan buktinya,”
“Sudah pak. Saya sudah mengirim buktinya lewat email bapak,”
“Baik Terima kasih atas kerja keras kamu, besok kamu datang ke Jepang ada hal penting yang saya bicarakan dengan kamu,”
“Baik pak,”
Di rumah sakit vanesha berada diruang tunggu, menunggu perkembangan ayahnya. Dokter hamzah bilang ayahnya akan baik-baik saja tapi saat ini ayahnya tidak sadar, apakah bunga autaristik bisa menyembuhkan penyakit atau tidak. Dia hanya bisa berdo'a kepada Tuhan meminta kesembuhan untuk ayahnya.
Sudah empat hari dia berada di rumah sakit hanya menunggu perkembangan ayahnya, tapi belum ada tanda-tanda dari ayahnya. Saat ia sedang menutup matanya dengan satu tangan tiba-tiba saja dokter hamzah memanggil dirinya.
“Vanesha,” panggil dokter hamzah
Vanesha pun membuka matanya, “Ada apa dok.” ujar vanesha
“Ayah kamu ingin bertemu kamu,” jawab dokter hamzah
“Ayah dok? ayah sudah sadar,” tutur vanesha dengan terkejut
Dokter hamzah hanya mengangguk dan vanesha langsung masuk ke ruang inap ayahnya, benar yang dikatakan dokter hamzah ayahnya sudah sadar. Saat ia melihat ayahnya, ayahnya tersenyum kearah dirinya.
“Gimana dengan keadaan ayah,” tanya vanesha
“Ayah baik-baik aja, gimana sama kamu nak?”
“Aku baik yah. Ayah istirahat dulu, kata dokter ayah tidak boleh banyak bicara. Aku bakal jaga ayah disini,” ucap vanesha
Alison mengikuti keinginan putrinya dan vanesha masih setia menunggu ayahnya di rumah sakit. Vanesha mendapatkan email dari sekretarisnya, dari pada ia bosan lebih baik ia mengerjakan email yang sudah dikirim oleh ava.
“Akhirnya selesai juga tugas kantor gue, sudah berapa hari ya gue gak ke kantor. Perasaan tugas kantor gue lebih banyak dari kemarin,” ucap vanesha berdialog sendiri sambil merenggangkan otot-otot tangannya
Vanesha menutup laptopnya dan bersandar ke sofa, “Kemarin gue gak sengaja dengar kalo pak aric mau nikah, kenapa gue gak ngeliat calon istrinya.” ujar vanesha sambil memandang kearah lurus
Bodoh lo vanesha ngapain juga lo mikirin atasan lo, gak penting banget lo ngurusin kehidupan bos lo. Lebih baik lo urusin diri lo sendiri bukan orang lain, lagian apa urusan gue mikirin pak aric mau nikah atau gak. batin vanesha
Keesokan harinya lucky berada di bandara soekarno-hatta untuk menunggu penerbangan ke negara Jepang, selesai menunggu penerbangan lucky langsung menuju ke tempat pesawat dan memilih bangku.
Sampai juga di bandara Kansai International Airport, dia langsung memesan taksi online dan menuju apartemen bosnya. Sampai di apartemen dia langsung mengetuk pintu apartemen.
__ADS_1
Tok.. tok
Aric yang mendengar pintu rumahnya diketuk langsung saja menuju pintu dan membuka pintu tersebut ternyata lucky asisten pribadinya.
“Silahkan masuk,” ucap aric
“Terima kasih pak,” jawab lucky
Lucky pun masuk dan duduk di sofa bersama aric, “Gimana? apakah kamu mendapatkan kabar mengenai kasus yang saya berikan kemarin.” jelas aric
“Sisanya saya sudah saya kirimkan ke bapak, tinggal beberapa bukti pak yang saya akan cari. Kemarin saya menemukan kotak ini pak, silahkan bapak periksa siapa tau bapak ingin melihatnya,” jelas lucky sambil memberikan sebuah kotak kecil
Aric membuka kotak yang diberikan oleh bryan dan isinya hanya sebuah kalung yang bentuk ekor duyung, aric menyimpannya kembali.
“Saya tidak tahu mengenai kalung ini, tapi saya akan menyimpan kalung ini,” ujar aric, “Kamu lanjutkan sisa bukti yang belum kamu dapatkan, kalo ada kabar kamu bisa segera kabarin saya.” sambung aric
“Baik pak,”
.........***********.........
Di rumah sakit dua sejoli sedang mengobrol bersama siapa lagi kalo bukan vanesha dengan ayahnya, saat mereka berdua asik dengan obrolannya tiba-tiba saja alison mencari ibu tirinya.
“Vanesha ibu kamu kemana?” tanya alison
“Maksud ayah? Jesica,”
“Iya,”
“Iya,”
“Yah aku ke depan dulu ya, nanti aku kembali lagi. Ayah mau aku belikan apa nanti aku belikan yang ayah mau,” tawar vanesha
“Ayah ingin istirahat saja, lebih baik kamu aja yang makan. Pasti kamu sudah capek jaga ayah semalaman,” ujar alison
“Tidak ayah, aku tidak sama sekali capek ngurusin ayah. Malah aku senang bisa jagain ayah,” jawab vanesha sambil tersenyum kearah ayahnya
“Kalo begitu aku keluar sebentar nanti aku kembali lagi, ayah jaga istirahat kalo ada apa-apa nanti ayah bisa mencet tombol yang ada di samping ayah,” tutur vanesha
Alison hanya mengangguk dan vanesha langsung saja ke kantin dekat rumah sakit, saat di sana ia tidak sengaja menabrak seorang perempuan.
Bruk
“Kamu gimana sih baju saya basah semua,” ujar seorang perempuan sambil membersihkan bajunya.
“Maaf mba saya tidak sengaja,”
“Dasar wanita tidak berguna, main nyelonong aja tanpa bersihin baju gue,” cibir seorang perempuan
Vanesha tau perempuan yang sempat ia tabrak marah kepadanya tapi ia buru-buru untuk bertemu dengan seseorang di kantin.
“Maaf saya telat,” ucap vanesha sambil menarik kursinya
“Tidak papa.. Gimana keadaan kamu,” ucap vino teman satu kuliahnya
__ADS_1
“Aku baik, gimana sama kamu?”
“Aku juga sama kaya kamu baik,”
Mereka berdua pun berbincang-bincang seperti biasanya dan vanesha kembali ke tempat ayahnya.
Sudah hampir seminggu ia berada di Jepang akhirnya ia pulang ke Indonesia, dia sangat-sangat bersyukur karena kerjasama dia dengan kliennya sudah selesai jadi ia pulang ke Indonesia dengan cepat.
Sekarang ia lagi menuju Bandara Kansai International Airport, akhirnya menerbangkannya sudah sampai di bandara soekarno-hatta langsung saja ia mengabarkan sopir untuk menjemput dirinya di bandara.
Akhirnya sopir yang ia kabarkan sampai tepat didepannya, “Mohon maaf Pak saya telat, seharusnya saya sudah standby disini pak. Malah bapak yang menunggu saya bukan saya.” ujar sopir
“Tidak papa, silahkan kamu bantuin saya bawakan koper saya ke bagasi mobil,” perintah aric
“Baik pak,”
Selesai kopernya sudah di bagasi mobil ia langsung membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi belakang, mobil pribadinya langsung jalan menuju rumah.
Akhirnya sampai juga di rumah langsung saja ia masuk sambil diikuti oleh sopir dan membawa barang-barang bawaannya.
“Bi, vanesha kemana?” tanya aric kepada art
“Non vanesha ya den, tadi dia minta izin ingin menjenguk kerabatnya yang sedang sakit den,” jawab art
“Yasudah bi aku kembali ke kamar dulu,” ujar aric
“Iya den,”
Aric menuju kamarnya dan langsung saja ia membersihkan badan, selesai membersihkan badan ia menata barang-barang bawaannya. Dia tidak sengaja ketemu kotak yang diberikan oleh lucky saat dia berada di Jepang dan satu bungkusan oleh-oleh yang sempat ia beli.
Tadinya oleh-oleh yang ia beli ingin ia berikan kepada vanesha dan semua orang yang ada di rumahnya tapi hari ini ia sangat kelelahan jadi besok saja ia membagikan oleh-oleh.
Habis dari rumah sakit vanesha kembali ke rumah atasannya dan kembali bekerja seperti biasa, saat ia kembali ke rumah aric dia terkejut dengan kedatangan aric yang tiba-tiba nongol dari arah bersamaan.
“Ya ampun pak, untung saya tidak punya penyakit jantung kalo saya punya penyakit jantung saya sudah K.A.O duluan pak,” ujar vanesha sambil mengelus dadanya.
“Siapa suruh kamu disitu, saya kan pengen lewat malah kamu nongol udah kaya hantu,” jawab aric dengan nada tinggi
“Lah kenapa bapak nyalahin saya, bapaknya aja yang tiba-tiba di depan saya. Sana pak saya mau ke kamar,” ujar vanesha sambil mengusir aric
“Kemarin kamu kemana aja saya telpon kamu tidak diangkat,” ujar aric saat vanesha ingin menaiki anak tangga
Vanesha pun terhenti, “Saya sibuk ngurusin keluarga saya yang sakit.” jawab vanesha
“Siapa keluarga kamu?”
“Kepo banget si pak, saya aja tidak pernah kepo dengan urusan bapak,” ujar vanesha dengan nada kesal.
“Saya atasan kamu, saya berhak tau urusan kamu apa?”
“Bapak urus aja urusan bapak, lagian juga bapak bukan suami saya, bukan pacar saya dan bukan keluarga saya. Jadi kenapa bapak ngurusin urusan saya,” balas vanesha
Belum sempat aric menjawab vanesha langsung menaiki anak tangga dan sampai juga di kamarnya. Dia langsung saja istirahat di kasur yang sangat nyaman, jujur saat ini ia sangat lelah sampai-sampai dia tidak bisa untuk istirahat.
__ADS_1