
Bara yang baru turun dari kamar menuju ruang makan, di sana dia sudah melihat kedua orang tuanya sedang menunggu dirinya. Manda yang melihat Bara sudah berada di meja makan dia pun menyiapkan sarapan untuk putranya.
Bara hanya menatap sang ibu, saat ibunya memperlakukannya seperti anak kecil. Bara hanya membiarkan sikap ibunya karena dia sudah tau sikapnya Manda.
“Tidak usah ibu repot-repot menyiapkan makanan untukku, aku bisa mengambilnya sendiri.” ucap Bara yang langsung menyantap makanan. “Apa yang ibu pinta saat ibu melakukan ini,” kata Bara saat dirinya selesai sarapan.
Manda meletakkan sendok di piring sambil menatap kearah Bara. “Mama ingin kamu bertemu dengan anaknya teman mama, mama mohon sama kamu kali ini saja. Setelah kamu bertemu dengannya dan kamu tidak menyukai anak teman mama, mama akan menyerah saat kamu mengambil keputusan kamu sendiri.”
“Baiklah. Aku akan mengikuti keinginan mama, setelah ini aku tidak ingin mendengar kata tentang perjodohan.” ucap Bara yang menatap Manda, membuat Manda tersenyum saat Bara menyetujui keinginannya.
Sekarang Bara sedang bersiap-siap untuk menemui anak dari teman ibunya, mobil yang dia kendari langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi. Saat dia melihat sorang wanita dari arah jendela mobil, dia langsung turun dari mobil dan menghampiri wanita itu.
“Kamu sudah menunggu lama,” ucap Bara yang langsung duduk.
Wanita itu hanya menatap Bara. “Belum lama,” di dalam hati wanita itu terus tersenyum saat mengetahui bahwa anak teman ibunya seganteng ini.
“Kamu mau minum apa, nanti aku akan panggilkan pelayan.” kata wanita itu yang masih menatap Bara.
“Tidak perlu. Saya ke sini hanya keinginan ibu saya, kalau kamu sudah selesai aku akan mengantarkan kamu pulang.” tutur Bara yang langsung memanggil pelayan untuk membayar pesanan wanita kencan buta.
“Kamu tunggu sini dulu, saya ingin ke toilet sebentar.” ucap wanita itu membuat Bara mengangguk, dan wanita itu langsung menuju toilet.
Wanita itu menatap dirinya di depan cermin, dia langsung membuka tas untuk mengambil makeup yang sempat ia bawa. Selesai membereskan makeup yang sempat berantakan dia pun menatap cermin kembali.
“Tidak menyangka kalau aku bertemu dengan lelaki itu, lelaki yang sempat terkenal saat lelaki itu seorang CEO terkenal.” batin wanita itu yang langsung mengangkat telepon saat handphonenya berbunyi.
“Gimana pertemuan kamu dengannya, apa kamu menyukai pria itu.” ucap seorang perempuan di balik telepon.
“Aku sangat suka, tapi di sayangkan kalau lelaki itu sifatnya dingin. Tapi aku suka dengan lelaki yang mama kenalkan untukku,” ujar wanita itu membuat wanita yang di sebut mama tersenyum.
__ADS_1
“Kalau kamu menyukainya nanti mama akan membicarakan masalah ini dengan orang tuanya, nanti kita akan tentukan pertunangan kalian berdua.” kata perempuan itu membuat putrinya tersenyum senang.
Wanita itu langsung mematikan handphone, dan langsung ke tempat semula. “Maaf menunggu kamu lama,” ucap wanita ini yang membuat Bara acuh.
Saat itu juga Bara melihat sebuah toko yang terdapat perhiasan wanita, dia pun memasuki toko tersebut untuk mencari sebuah gelang yang cocok untuk Mawar. Sedangkan wanita itu hanya menatap Bara saat memilih gelang, dia pikir gelang yang di berikan Bara untuk dirinya tapi nyatanya dia salah. Malah gelang itu di simpan di saku jaket.
“Buat siapa gelang itu?” tanya wanita itu yang menunggu jawaban Bara.
“Untuk orang yang sangat aku rindukan,” jawab Bara yang membayangkan wajah Mawar.
“Siapa dia? Sepertinya kamu sangat mencintai orang itu,” wanita itu semakin penasaran dengan ucapan Bara. Bara yang tidak menjawab ucapan wanita ini langsung masuk ke dalam mobil dan diikuti oleh wanita tersebut.
Sampai di rumah wanita ini dia pun berhenti sambil menunggu wanita ini turun, malah wanita itu hanya diam tanpa pergi. “Ada lagi yang ingin kamu katakan,” ucap Bara yang hanya menatap wanita itu sekilas.
“Tidak ada. Aku hanya mengucapkan terima kasih saat kamu ingin bertemu denganku, apa aku boleh bertemu dengan kamu lagi.” ucap wanita itu saat seluruh tubuhnya mengarahkan Bara.
***
Bara kembali untuk menemui Mawar di rumah sakit, sampai di sana dia masih melihat Mawar tertidur. Dia hanya bisa pasrah saat wanita ini tidak mau membuka mata, apa Mawar tidak ingin bersama dengannya lagi atau dia masih nyaman seperti ini.
Bara mengambil kotak yang berada di kantong jaket, dia membuka kotak tersebut dan memberikan gelang itu di pergelangan tangan Mawar. Andai Mawar sadar mungkin gelang itu tampak cantik saat wanitanya sadar sambil tersenyum kearahnya.
“Apapun yang saya berikan kamu akan tetap cantik saat kamu memakainya,” ucap Bara saat menatap Mawar dengan penuh harapan kalau Mawar akan sadar.
Saat dokter memeriksa keadaan Mawar dia hanya menunggu dokter itu keluar, dan dia pun langsung menghampiri dokter yang sudah berada di pintu.
“Gimana keadaan Mawar dok?” tanya Bara yang menunggu jawaban dokter itu.
“Kamu yang sabar, saya tidak yakin kalau Mawar akan sembuh. Kamu harus kuat saat dia tidak akan kembali lagi,” ucapan dokter itu membuat Bara memegangi pundak dokter tersebut.
__ADS_1
“Maksud dokter apa?” tanya Bara yang tidak mengerti dengan ungkapan dokter yang ada di hadapannya.
“Saya tidak tau sampai kapan Mawar akan sadar, saat saya periksa keadaan Mawar detak jantung wanita itu semakin lemah. Yang saya takutkan nanti wanita itu tidak akan bertahan,” ucap dokter itu saat Bara menggeleng kepala.
“Tidak mungkin dok. Saya yakin pasti Mawar akan sembuh dan dia akan kembali sehat seperti dulu lagi, apa tidak ada acara lain untuk menyembuhkan Mawar.” kata Bara membuat dokter itu tersenyum.
“Hanya tuhan yang tau kapan Mawar sadar, saya sebagai dokter hanya melakukan yang terbaik. Dan saya tidak bisa melakukan apapun saat tuhan berkehendak lain,” jelas dokter tersebut. “Kalau gitu saya permisi,” dokter itu langsung pergi meninggalkan Bara, Sedangkan Bara hanya terduduk lemas saat perkataan dokter barusan.
Dia yakin kalau Mawar akan sadar, wanita itu tidak boleh meninggalkan dirinya. Bara hanya duduk saat semua raganya lemas dengan ucapan dokter tersebut, wanita itu sudah janji akan mengungkapkan isi hatinya. Wanita itu tidak mungkin mengingkari janji yang di ucapkan wanita itu.
“Kamu tidak boleh meninggalkan aku Mawar, kamu sudah janji sama aku untuk berada di samping aku. Kalau kamu pergi nanti aku sama siapa kalau bukan sama kamu,” batin Bara yang terus menatap pintu kamar inap Mawar.
Wawan masuk ke dalam kamar inap Mawar dia hanya menatap wanita ini yang masih terlelap, apa wanita ini akan meninggalkan bosnya. Apa nanti bosnya akan berubah seperti dulu lagi, yang tidak akan pernah mengenal namanya cinta saat wanita ini pergi.
“Saya tau kamu pasti mendengar ucapan saya, saya mohon sama kamu untuk sadar. Kamu harus kembali demi bosnya, saya tau pasti kamu sangat mencintai bos saya. Makannya saya meminta kamu untuk segera sadar karena kalau kamu tidak sadar bos saya akan bertunangan, apa kamu mau melihat orang yang kamu cintai bersama dengan wanita lain.” ucap Jack yang masih menatap Mawar.
“Saya harap kamu bisa mengakhiri pertunangan ini, saya yakin kamu mencintai bos saya. Makannya dari itu saya mohon sama kamu untuk sadar dan kembali kepada Bara,” kata Jack. Saat Jack ingin meninggalkan ruangan tersebut, tiba-tiba saja dia merasakan sebuah tangan bergerak dan dengan cepat dia memanggil dokter.
“Gimana keadaannya dok?” tanya Jack yang melihat dokter itu selesai memeriksa Mawar.
“Dia sudah melewati masa kritisnya, saya tidak percaya kalau wanita ini akan pulih. Dan secepatnya saya akan memindahkan ke ruang rawat,” ucap dokter itu yang langsung memerintahkan suster.
“Kekuatan cinta. Saya tidak percaya kalau kamu mendengar perkataan saya, semoga kamu cepat pulih dan mengakhiri pertunangan Bara.” ucap Jack dengan pelan.
“Kamu mau kemana Bara?” tanya Manda saat melihat putranya ingin keluar.
“Aku ingin keluar,” jawab Bara yang ingin menghampiri pintu, dan saat itu juga Manda berbicara dengan nada tegas membuat Barang tidak berdaya.
“Masuk. Mama bilang kamu kembali ke dalam kamar, mama tidak mau kamu membuat onar saat pertunangan nanti.” ucap Manda, yang membuat Bara kembali ke dalam kamar.
__ADS_1