
Andre membuka pintu kamar Mawar, di sana dia melihat istrinya sedang tidur membelakangi dirinya. Dia pun duduk di samping Mawar sambil menatap punggung Mawar.
“Sebenarnya aku tidak ingin menyakiti kamu, entah kenapa sikap aku seakan-akan membuat diriku menyesal. Maaf sudah mengecewakan kamu,” ucapan Andre dengan tulus, sedangkan Mawar hanya mendengarkan saja.
Setelah mengatakan isi hatinya dia pun pergi keluar kamar, dia tidak ingin mengganggu istrinya. Mawar yang mendengar pintu kamar tertutup dia pun menatap pintu tersebut, seakan-akan hatinya seperti di tusuk duri tapi baginya hal seperti itu sudah biasa. Jadi dia tidak mau mempersulit kehidupannya, biarkan saja suaminya nanti juga capek sendiri.
Pagi harinya saat mereka sedang berada di ruang makan mereka hanya menikmati sarapan masing-masing tanpa berbicara sedikitpun, Andre terus menerus menghela nafas supaya Mawar menatap dirinya tapi yang dia pikirkan salah, malah istrinya tidak memperdulikannya.
Mawar yang merasakan sarapannya sudah selesai dia pun beranjak dari kursi, sedangkan Andre hanya menatap kepergian Mawar.
“Pagi bu,” sapa Ava yang melihat bosnya baru sampai di kantor.
“Pagi,” Mawar menutup kembali pintu ruangannya, Ava yang melihat bosnya hanya menatap bingung tanpa pikir panjang Ava melanjutkan pekerjaan seperti biasa.
“Selamat atas kerjasama kita hari ini, semoga kedepannya kita bisa melakukan kerjasama dengan baik!” ucap pemilik perusahaan asal Tiongkok.
“Terima kasih kembali,” jawab Aric membuat perusahaan Tiongkok tersebut tersenyum kearahnya.
Perusahaan Tiongkok tersebut pergi dan Aric yang merindukan istrinya langsung menghubungi Vanesha, Vanesha yang baru selesai mandi langsung melihat kearah handphone ternyata dia mendapatkan pesan dari Aric dengan cepat Vanesha membalas pesan tersebut.
Selesai meeting Andre bukannya merindukan istrinya malah membawa wanita lain ke dalam ruangan kerja, Andre meminta wanita simpanannya untuk menunggu dirinya di tempat kerja jadi dia langsung ke ruangannya.
Andre tersenyum licik saat wanita itu sudah membuka setengah baju, “Dasar wanita murahan!” gumam Andre dan Andre langsung mengunci pintu ruangannya sambil menghampiri wanita itu.
Wanita itu mendekati Andre sambil meletakan tangannya ke leher andre, “Aku sudah tidak tahan baby!” ucap wanita itu yang sudah bergairah dan Andre tanpa aba-aba melakukan hubungan intim kepada wanita simpanannya.
Sekitar satu jam setengah Andre menatap wanita itu dengan sendu, sedangkan wanita itu sudah tidak berdaya dengan perlakuan kasar yang dia buat.
Andre mendekati bibirnya di telinga wanita itu. “Kamu begitu seksi baby, aku suka dengan penampilan kamu!” ucap Andre membuat wanita itu semakin bergairah saat bibir Andre nempel di telinganya.
Bukannya Andre memuaskan hasrat wanita itu malah dia berdiri dan menatap wanita itu dengan dingin. “Silahkan kamu pergi dari sini? Dan sekalian bawa pakaian kamu yang sudah begitu berantakan,” kata Andre membuat wanita itu memungut pakaian yang berada di lantai, selesai berganti pakaian wanita itu pun pergi dengan perasaan senang.
Andre hanya duduk di kursi sambil bersandar, dari tadi dia selalu memperhatikan handphone tapi dia sama sekali tidak menghubungi dirinya apa Mawar sedang sibuk tanpa memperdulikan dirinya.
__ADS_1
Saking kesalnya Andre melempar semua barang yang berada di ruangan kerjanya, membuat ruangan semakin berantakan akibat ulahnya.
***
“Wah bu selamat ya, ibu berhasil memenangkan tender dari perusahaan besar!” ucapan selamat Ava membuat dia tersenyum, mungkin hari ini dia akan menyibukkan di kantor dia tidak mau memperdulikan Andre.
“Gimana kalau saya traktir kamu makan,” ucap Mawar.
Ava dan Mawar langsung cafe terdekat, mereka berdua langsung memesan menu yang berada di cafe tersebut. Saking asiknya mereka makan Ava tidak sengaja bertemu dengan Andre suami dari bosnya.
“Maaf bu. Bukannya itu pak Andre suami ibu,” ucap Ava yang membuat Mawar mengikuti pandangan Ava.
Benar yang di katakan Ava bahwa suaminya berada di cafe yang sama, tapi Andre tidak sendiri melainkan dengan ketiga temannya salah satunya seorang wanita. Dengan cepat Mawar Melanjutkan sarapan tanpa memperdulikan Andre, saat Dicky sedang bermesraan dengan wanita saat itu juga lelaki itu melihat Mawar yang sedang di dekati dengan seorang pria.
“Ndre. Bukannya itu istri lu ya,” ujar Dicky membuat Andre menatap pandangan Dicky ke salah satu meja dekat jendela.
“Kenapa istri lu dekat sama pria–” Andre masih setia menatap Mawar dari kejauhan. “Gue kenal sama cowoknya tapi kenapa akrab banget sama istri lu,” kata Dicky membuat Andre panas saat Mawar dekat dengan semua lelaki kecuali dengannya.
Dengan cepat Andre menghampiri Mawar dan Andre langsung menarik tangan Mawar ke luar cafe, setelah mereka berada di luar yang sudah jauh dari cafe Andre langsung menghempaskan tangan Mawar.
“Emangnya kenapa kalau aku sama pria lain, aku aja tidak mempermasalahkan kamu jalan sama semua wanita. Dan saya tidak pernah marah saat kamu membawa wanita lain ke dalam rumah, apa kamu tidak bisa menghargai aku sebagai istri kamu. Tidak 'kan! Sedikitpun kamu tidak mengakui bahwa aku istri kamu dan kamu tidak pernah menganggap aku sebagai istri, jadi mulai sekarang hidup kita masing-masing saja tanpa harus ikut campur!” hardik Mawar.
Setelah Mawar mengatakan isi hatinya dia pun pergi meninggalkan Andre, sedangkan Andre hanya terdiam kaku saat istrinya mengatakan hal membuat hatinya terlempar di lautan.
Perkataan Mawar membuat dia tertampar saat Mawar mengucapkan beberapa kalimat yang membuat dirinya sadar diri bahwa perbuatan dirinya salah, tapi dia tidak bisa meninggalkan aktifitas yang dia jalani.
“Maaf menunggu kalian lama, kalau gitu aku pulang dulu!” ucap Mawar sambil mengambil tas dan langsung pergi begitu saja.
Ava dengan cepat menyusul Mawar, di dalam mobil Ava hanya menatap bosnya dengan kasihan apalagi Mawar menahan tangisan di depan dirinya.
“Bu, ibu kalau mau nangis... Nangis aja tidak usah di tahan bu,” kata Ava membuat Mawar mengeluarkan air mata, saat itu juga Ava menenangkan bosnya.
“Kamu kapan pulang?” tanya Vanesha yang sedang vidio call dengan Aric.
__ADS_1
Aric hanya terkekeh saat istrinya sudah merindukan dirinya, “Aku tidak tau sayang, di sini pekerjaanku banyak jadi aku tidak bisa pulang cepat!” ucap Aric membuat Vanesha memanyunkan bibir.
“Lama banget, bukannya kata kamu hanya seminggu tapi kenapa jadi nambah hari!” urai Vanesha yang sudah bete saat dirinya berada di rumah sendiri.
“Iya maaf. Aku tidak tau kalau selama ini,”
“Ya sudah. Kalau gitu aku tutup dulu,” ucap Vanesha yang langsung menutup sambungan telepon, membuat Aric semakin tertawa saat melihat wajah istrinya.
Sekitar pukul 08 pagi Aric menuju bandara untuk pulang ke indonesia, dia sengaja tidak memberitahu Vanesha. Dia tidak mau kalau istrinya kecapean apalagi kalau Vanesha datang menjemputnya di bandara.
Sampai di depan rumah dia membuka bagasi untuk mengambil koper dan juga oleh-oleh saat dia beli, di depan pintu dia langsung menekan bel rumah dan saat itu juga Vanesha menghampiri suara bel tersebut.
Saat membuka pintu tersebut dia melihat suaminya berada di depan pintu, Aric hanya diam saat Vanesha menatapnya.
“Apa kamu tidak ingin menyambut ku pulang,” ucap Aric yang langsung di peluk dengan Vanesha.
“Kenapa kamu tidak ngabarin aku kalau kamu ingin pulang,” ucap Vanesha saat melepaskan pelukannya.
Dengan cepat Aric mencium bibir Vanesha yang sudah membuat dirinya candu dan saat itu juga Vanesha kehabisan nafas saat ciuman Aric semakin dalam.
“Ihhh! Bukannya jawab ucapan aku malah main nyosor aja,” rajuk Vanesha membuat Arif terkekeh saat istrinya kesal.
“Iya maaf. Aku sengaja tidak ngabarin kamu supaya kamu istirahat saja di rumah tanpa menunggu aku di bandara,” jelas Aric membuat Vanesha mengangguk, bukannya Vanesha membantu membawa koper Aric malah dia mengambil bingkisan yang cukup banyak.
Aric hanya menggeleng saat Vanesha lebih ingat bungkusan oleh-oleh yang dia bawa dari pada dirinya, dengan cepat Aric menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa.
“Sayang masa kamu lebih mementingkan oleh-oleh dari pada suami kamu sendiri,” ucap Aric dengan manja dan Vanesha tidak memperdulikan perkataan Aric malah dia tetap fokus dengan oleh-oleh yang di bawa Aric
“Tau ah aku sebel sama kamu,” Aric langsung menuju perut Vanesha yang semakin membesar.
Aric mendekati perut Vanesha, “Anak ayah apa kabar kamu di sini, kamu sehat-sehat terus ya di dalam perut bunda jangan nakal!”
“Aku baik ayah,” jawab Vanesha membuat Aric mendongak sambil tersenyum melihat Vanesha ikut senyum.
__ADS_1
“Kalau gitu aku mandi dulu ya, kamu tunggu di sini!” ucap Aric membuat Vanesha mengangguk.