
Daren langsung menyuruh orang kepercayaannya untuk membantu rencana azriel, setelah selesai ia langsung mengabarkan azriel secepatnya.
“Gue sudah melakukan apa yang lu mau, jadi lu harus memberikan gue imbalan yang gue lakukan untuk lo,” ucap daren dari luar telepon.
“Iya, gue tidak lupa mengenai janji gue sama lo. Nanti malam lo harus datang untuk merayakan semuanya,”
“Oke. Gue pasti datang untuk senang-senang,”
Malam harinya daren sudah siap dengan stelan pakaian yang menurutnya sangat rapih, selesai ganti pakaian ia langsung turun kebawah. Di sana ia melihat art sedang sibuk menyiapkan makan malam.
“Malam ini saya tidak makan di rumah, kalo bibi mau habiskan makanannya silahkan saya tidak melarang,” perintah daren.
“Baik tuan,”
Daren pun pergi menuju bagasi rumahnya, langsung saja ia menyalakan mobilnya menuju tempat biasa. Sampai di sana ia pun turun dari mobil dan menyuruh satpam untuk memarkirkan mobilnya.
“Parkir kan mobil saya,” daren memberikan kunci mobilnya dan dia langsung pergi begitu saja.
“Baik pak,”
Sampai di sana ia sudah melihat teman tongkrongannya dan juga melihat azriel bersama wanita cantik, sepertinya dia tidak mengenali wanita tersebut? tanpa pikir panjang ia langsung menghampiri teman-temannya.
“Sorry gue telat,”
“Kebiasaan lo telat mulu, untung gue gak jamuran nungguin lo,”
Daren tidak mempedulikan teman tongkrongannya malah dia fokus dengan wanita yang ada di samping azriel, “Siapa dia bro? Cewek baru lo atau simpanan lo.” ledek daren.
“Pelampiasan gue,” jawab azriel sambil tertawa.
“Gue daren temannya azriel,”
“Gue siska,”
“Salam kenal Siska, semoga lo betah di samping azriel,”
“Udah sana lo jangan ganggu kesenangan gue, lebih baik lo cari wanita lain buat kepuasan lo,” ujar azriel.
“Iya.. iya,”
Tidak terasa mereka bermain begitu malam sampai-sampai mereka semua lupa dengan waktu mereka.
Dia terbangun dari tidurnya dan melihat sekeliling ternyata dia tidur dengan tempat yang berbeda, tapi tunggu ini kamar siapa? Bukannya ini bukan kamarnya? kenapa dia bisa ada disini? itulah pikiran yang ia tanyakan kepada dirinya sendiri.
Aric membuka pintu kamar vanesha dan di sana ia melihat vanesha sudah bangun dari tidurnya, langsung saja ia menghampiri vanesha.
“Kamu baru bangun,” tanya aric.
“Kenapa saya ada disini?” tanya vanesha.
“Maaf. Mungkin karena saya memaksa kamu untuk mengerjakan tugas kantor saya jadi kamu ketiduran disini,” tutur aric sambil meletakkan piring dan gelas yang berisi air putih.
__ADS_1
Vanesha menyenderkan kepalanya dibelakang kasur dan aric memberikan sarapan yang ia bawa.
“Lebih baik kamu sarapan dulu mumpung masih panas makanannya,”
Vanesha hanya mengangguk, aric dari tadi hanya fokus dengan vanesha, lucu. Menurut dia vanesha sangat lucu apalagi saat ia sedang makan seperti anak kecil, tanpa ia sadari bahwa dirinya sedang tersenyum sambil memperhatikan gerak-gerik vanesha. vanesha tidak mengetahui hal tersebut malah dia tetap fokus dengan piring yang ada di hadapannya.
Vanesha yang merasakan dirinya ditatap oleh seseorang langsung saja ia menatap atasannya, “Bapak ngapain ngelihatin saya kaya gitu.”
“Tidak papa. Hanya saja dibibir kamu ada bekas makanan,” ucap aric sambil menunjukkan tangannya ke bibir dirinya untuk memberikan kode kepada vanesha bahwa di mulutnya sangat berantakan.
Vanesha dengan cepat membersihkan mulutnya dan melanjutkan sarapan seperti biasa.
“Habiskan makanan kamu saya ingin keluar sebentar,” ujar aric sambil mengusap tangan vanesha.
Vanesha mengangguk dan aric pun pergi dari kamar vanesha, sedangkan aric menuju tempat kerjanya. Saat vanesha ingin memasukkan makanannya kedalam mulut tiba-tiba saja handphonenya berdering, dia langsung mengecek handphonenya.
“Iya ada apa?”
“Besok lo ada acara gak,” Lagi-lagi zaky bertanya kepada vanesha.
“Sepertinya tidak ada, kenapa lo mau ngajak gue kencan,” jawab vanesha.
“Hahaha, lucu lu jadi orang. Gini nih kalo kelamaan jomblo otaknya tidak waras,” ledek zaky.
“Enak aja lo emang gue orang gila gak waras, terus kalo bukan kencan lo mau ngapain ngajak gue keluar besok?”
“Pokoknya besok lo harus ikut gue titik, awas aja lo gak datang,”
“Oke. besok gue tunggu lo,”
“Iya,” Vanesha langsung mengakhiri teleponnya dan melanjutkan sarapannya.
• • • •
Di kantor polisi petugas yang menjaga sel penjara jesica langsung membuka pintu penjara.
“Silahkan keluar anda sudah bebas,” ucap petugas polisi.
“Saya bebas,” jawab jesica dengan senang. Dia pun keluar dan bertemu dengan anaknya mawar.
“Mama sudah bebas nak, makasih banyak kamu sudah membebaskan mama,”
“Tante jangan bangga dulu, tante harus tandatangan berkas ini dulu sebelum tante keluar dari penjara,” tutur azriel sambil memberikan sebuah amplop coklat.
Jesica mengambil amplop tersebut, tanpa ia pedulikan ia langsung menandatangani berkas yang ada di amplop tersebut. Selesai menandatangani berkas jesica langsung memberikan kepada azriel, dan azriel mengambil berkas yang sudah ditandatangani oleh jesica.
“Tante yakin tidak mau membaca isi yang ada didalam kertas tersebut,” jawab azriel.
“Tidak perlu dibaca tante sudah yakin,” ungkap jesica dengan senang.
“Baiklah. kalo tante tidak mau membaca isi yang ada di kertas ini, saya anggap urusan saya sudah selesai jadi saya tidak usah repot-repot dateng kesini lagi,” ucap azriel sambil memberikan dokumen tersebut kepada sekretarisnya.
__ADS_1
“Kalo begitu saya permisi dulu, selamat atas kebebasan tante. Tante sekarang sudah bisa melihat dunia lagi tanpa harus dikurung dalam penjara,” kata azriel dan azriel pun pergi.
“Selamat ya ma. Sekarang mama sudah bebas dari penjara,”
“Iya sama-sama sayang. Mama senang banget sudah keluar dari penjara dan bisa melihat dunia yang mama impikan,”
Mereka berdua pun pergi dan langsung memesan taksi, didalam perjalanan jesica tersenyum senang dengan kebebasannya. Tinggal menunggu waktu untuk membalas perbuatan vanesha kepadanya.
Lihat saja nanti kamu vanesha saya akan membalas perbuatan kamu nanti. batin jesica dengan nada penuh emosi.
Vanesha sekarang sudah ada ditempat yang sudah dijanjikan oleh zaky, sekarang ia sedang bersama zaky untuk membahas masalah yang diceritakan oleh zaky. Dia ke sana tidak hanya berdua tapi berempat, salah satunya orang kepercayaan mereka masing-masing.
“Apa rencana kamu selanjutnya vanesha,” tanya zaky.
“Kamu tenang aja aku akan mengurusnya, lebih baik kamu ikutin kemauan mereka saja. Ada saatnya kita akan melakukan pergerakan selanjutnya,” papar vanesha.
“Oke, gue akan ngelakuin apa yang lo perintahkan. Tapi ingat jangan sampai lo kejebak dengan rencana yang kita buat,”
“Iya tenang aja gue gak bakal ceroboh,”
“Baik. kalo begitu gue pamit dulu,”
“Iya,” jawab vanesha dengan singkat.
Vanesha langsung memerintahkan frey untuk memulai rencananya dan vanesha pun pergi untuk mengecek perusahaannya. Sampai di sana ia langsung menuju ruangan sekretaris pribadinya.
“Selamat pagi ava,” sapa vanesha.
“Pagi mba,”
“Gimana sama perkembangan kantor,” tanya vanesha.
“Semakin meningkat mba, mba tenang aja masalah perusahaan saya akan melakukan yang terbaik mba,”
“Bagus. Saya percaya sama kamu, kalo ada apa-apa kamu bilang aja ke saya,”
“Baik mba,”
“Kalau begitu kamu lanjut kerja lagi saya mau keruangan saya dulu,”
Ava pun mengangguk dan vanesha langsung menuju ruangan kerjanya, dia memandang ruangan kantornya. Dia sangat senang bisa melihat perkembangan perusahaan ayahnya, saat ini satu-satunya peninggalan ayahnya hanya sebuah perusahaan yang menurutnya sangat berarti. Dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan perusahaan.
Di sana ia melihat sebuah bingkai foto yang terdiri dari tiga orang, langsung saja ia mengambil bingkai tersebut dan menatap foto yang ia genggam.
“Terima kasih kalian berdua sudah membuatku tegar sampai saat ini dan vanesha akan terus mempertahankan perusahaan ayah. Walaupun rintangannya sangat berat yang vanesha jalanin, tapi vanesha akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan perusahaan ayah. Vanesha janji tidak akan mengecewakan kalian berdua,” tutur vanesha sambil tersenyum kearah bingkai tersebut.
Vanesha langsung meletakkan kembali foto tersebut dan dia pun duduk di bangku yang sudah ia tidak rasakan.
“Kangen banget gue duduk disini,” gumam vanesha sambil memutarkan kursi yang ia duduki.
“Nanti aja kali ya gue pulang, lagian juga baru jam berapa ini,” ucap vanesha sambil berdialog sendiri dan melihat kearah jam yang ada ditembok ruangan kantornya.
__ADS_1
Akhirnya vanesha menutup matanya dengan santai dan nikmati, baru kali ini ia merasakan kenikmatan yang sebenarnya. Semenjak dia bekerja sebagai asisten pribadi aric dia tidak pernah senyaman ini, baru kali ini dia merasakan tidur tanpa diganggu oleh siapapun.