
Vanesha terbangun dari tidur dan dia melihat Aric tidur di sofa, dia pun beranjak dari ranjang sambil mendekati Aric. Vanesha memandang Aric sambil mengelus pipi suaminya.
“Maafkan aku sudah mau mengikuti kemauan anak kita, entah kenapa kalau kamu mendekati aku rasanya mual. Apalagi kalau kamu dekat-dekat seharusnya aku tidak sejahat itu sama kamu,” batin Vanesha dan dia langsung mencium kening Aric sambil menarik selimut.
Vanesha pun menuju kamar mandi untuk membersihkan badan selesai mandi dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, selesai buat sarapan dia tidak sengaja mendengar suara dari arah kamar. Dengan cepat Vanesha menuju kamar, di sana dia tidak melihat suaminya. Dimana suaminya?
Dengan cepat Vanesha mencari keberadaan Aric yang berada di dalam kamar mandi, “Kamu kenapa, sayang?” tanya Vanesha.
“Aku tidak tau rasanya mual pas aku bangun tidur,” Vanesha menuntun Aric menuju ranjang dan dia pun memberikan teh hangat kepada suaminya.
“Gimana sudah enakan,” ucap Vanesha dijawab anggukan oleh Aric.
“Kamu mau kemana?” tanya Aric saat melihat Vanesha menuju pintu.
“Aku mau ke dapur buat ngambil sarapan untuk kamu,” ujar Vanesha membuat Aric sedih. Eh, kenapa suaminya seperti ini?
Vanesha menghampiri Aric. “Aku mau ke dapur untuk menyiapkan sarapan buat kamu,” kata Vanesha dengan lembut.
“Kamu di sini aja, suruh bibi aja!” pinta Aric.
Baru beberapa suapan Aric sudah memuntahkan isi di dalam mulut, Vanesha dengan cepat menuju toilet untuk membantu suaminya.
Vanesha menuntun Aric untuk istirahat di ranjang sambil memijit kening suaminya. “Apa aku harus memanggilkan dokter untuk kamu,” ucap Vanesha yang dijawab anggukan.
Vanesha pun menghubungi dokter pribadi suaminya dan beberapa menit kemudian akhirnya dokter tersebut sudah berada di dalam kamar untuk memeriksa Aric, sedangkan Rafi tersenyum melihat dua sejoli yang begitu khawatir.
“Gimana keadaan suami saya dok?” tanya Vanesha membuat Rafi tersenyum.
“Saya bingung sama kondisi lu Ric, seharusnya yang ngidam Vanesha bukan lu. Lah kenapa ini lu yang muntah-muntah,” penjelasan Rafi membuat Aric bingung.
Rafi melirik Vanesha. “Selama kamu hamil apa tidak merasakan mual ataupun muntah,” ujar Rafi dijawab gelengan oleh Vanesha.
“Tidak dok, malah saya biasa aja tidak ada gejala apapun!” jawab Vanesha dengan jujur dan Rafi meledek Aric yang berbaring lemah di ranjang.
__ADS_1
“Sepertinya suami kamu yang mengalami ngidam yang dirasakan ibu hamil,” kata Rafi.
“Kenapa suami saya dok, bukannya saya saja yang merasakan ngidam!” tutur Vanesha
“Ada banyak gejala ibu hamil salah satunya yang dialami Aric–” Rafi menatap Aric yang wajahnya sudah pucat. “Mual dan muntah alias morning sickess adalah gejala awal kehamilan yang sangat populer oleh banyak orang. Sebetulnya tidak semua ibu yang sedang hamil muda mengalami ciri-ciri ini. Anda bisa saja tengah hamil muda, tapi tetap dapat beraktivitas tanpa terganggu mual dan muntah, serta tidak menginginkan apa pun selama masa kehamilan. Selain itu, meski bergelar morning (pagi hari), mual dan muntah yang merupakan ciri hamil muda dapat terjadi sepanjang hari. Untungnya, gejala ini biasanya akan membaik pada usia kehamilan 13 atau 14 minggu atau trimester kedua. Meski demikian, banyak juga ibu hamil yang mengeluhkan mual dan muntah hingga memasuki trimester ketiga.” jelas Rafi dijawab anggukan oleh Vanesha.
“Yang saya jelaskan ke kalian itu dari ilmu dokter yang gue pelajari dan yang dialami Aric hal pertama untuk bumil,” Vanesha menatap suaminya, dia kasihan melihat suaminya yang merasakan morning sickess yang bumil ngalamin.
“Kamu tenang aja saya sudah memberikan obat untuk meringankan mual yang dialami Aric jadi kamu tidak perlu khawatir,” kata Rafi. “Yang sabar ya bro! Mungkin ini balasan untuk lu karena lu suka mempermainkan wanita,” ledek Rafi yang ditatap dengan tajam oleh Aric.
“Kalau gitu gue pamit dulu, gue titip Aric ya Vanesha! Kalau dia muntah-muntah lagi diamkan saja,” lagi-lagi Rafi menggoda Aric yang sama sekali tidak berdaya, sedangkan Aric hanya menatap dengan tajam dengan kondisi lemah.
Setelah melihat Rafi pergi dia pun mendekati Aric sambil menyelimuti badan suaminya, sedangkan Aric hanya memeluk Vanesha dengan tubuh yang lemas tidak berdaya.
“Kamu istirahat ya, aku mau ke dapur dulu!” ucap Vanesha dijawab anggukan.
***
Aric yang merasakan sentuhan dari seseorang langsung membuka mata dan menatap istrinya dengan lemah, Aric malah mempererat pelukannya membuat Vanesha tidak tega melihat kondisi Aric.
“Mau aku bawakan teh hangat untuk kamu,” Aric mendongak dan dijawab anggukan dengan pelan.
Vanesha beranjak dari ranjang menuju dapur untuk membuatkan teh hangat buat Aric, selesai membuatkan teh Vanesha menuju kamar dan membantu Aric untuk bangun sambil memberikan teh hangat.
Vanesha mengambil cangkir yang diberikan Aric, “Sekarang kamu istirahat lagi, aku akan temani kamu di sini!” tutur Vanesha dengan lembut dan membantu Aric buat tidur kembali sambil menyelimuti suaminya.
Aric menutup matanya dan Vanesha hanya mengelus rambut suaminya, setelah melihat suaminya sudah terlelap dia pun pergi ke ruang kerja buat mengerjakan pekerjaan kantor.
“Ada apa, mba?” tanya Mawar kepada Ava.
“Mohon maaf Bu, di depan kantor ada keributan. Sepertinya perempuan yang waktu itu,” kata Ava membuat Mawar mengerti, dia tau siapa yang datang ke kantor Vanesha.
“Baiklah. Saya akan ke sana, kamu tunggu di sini aja!” ucap Mawar untuk menyakinkan Ava.
__ADS_1
Sampai di lantai bawah Mawar melihat mamanya datang ke kantor sampai-sampai membuat keributan, kedua satpam yang melihat atasannya datang langsung melepaskan tangan Jesica yang terus berontak.
“Mama mau apa datang ke sini,” ujar Mawar.
Jesica menatap putrinya dengan sinis. “Mama mau kamu bilang sama Vanesha untuk menyerahkan perusahaan yang kamu ambil ahli,”
Mawar yang mendengar perkataan mamanya langsung tersenyum sinis. “Aku tidak akan pernah bilang sama kak Vanesha untuk menyerahkan perusahaan ini ke mama, lebih baik aku mati dari pada menyerahkan perusahaan kak Vanesha sama mama!” cibir Mawar membuat Jesica murka.
Plaaakkk!
Tamparan itu mendarat ke pipi Mawar membuat Mawar memegangi pipinya yang terasa perih. “Dasar anak tidak tau diri sudah dibesarkan bukannya bantuin mama untuk merebut harta yang dimiliki Vanesha malah kamu membantu wanita seperti Vanesha,” erang Jesica.
Mawar benar-benar kesal sama Jesica apalagi dengan terkejutnya Mawar mengetahui bahwa Jesica menampar putrinya sendiri. “Lebih baik anda pergi dari sini dari pada saya panggil satpam untuk mengusir kamu,” desis Mawar membuat Jesica pergi dengan emosi yang dia rasakan.
“Apa mba baik-baik saja?” tanya Ava saat mengetahui atasannya di tampar oleh ibu kandungnya sendiri.
“Saya tidak papa,” jawab Mawar dan Mawar pun kembali ke ruangannya.
Dari kejauhan seorang lelaki melihat kejadian yang menimpa Mawar lelaki itu adalah Andre mantan pacar Mawar, semenjak Mawar mengundurkan diri dari tempat kerjanya dia terus memantau Mawar dari kejauhan. Dia tidak tega melihat Mawar di tampar seperti itu, tadinya dia ingin membantu Mawar tapi dia mengurungkan niatnya karena dia tau bahwa masalah yang dialami Mawar adalah masalah keluarga Mawar.
“Kamu benar Jeny walaupun saya sudah putus dengan Mawar saya tidak bisa melupakannya, malah saya sudah mencoba untuk mendekati kamu tapi hati saya tidak bisa untuk meninggalkan Mawar secepat itu!” ucap Andre dengan pelan dan dia langsung menjalankan mobilnya.
Tok! Tok!
“Masuk,” ucap Mawar dari dalam ruangan.
Ava membuka pintu tersebut sambil membawakan beberapa berkas kantor. “Mohon maaf mba saya ganggu, saya ingin memberikan berkas penting yang harus mba tandatangan!” ucap Ava dijawab dengan anggukan.
“Apa mba tidak memberikan kabar ini ke mba Vanesha,” ucap Ava yang langsung menghentikan tangan Mawar.
“Tidak perlu Ava, saya tidak mau kak Vanesha kepikiran. Apalagi kak Vanesha lagi hamil saya tidak mau kak Vanesha stres saat hamil,” tutur Mawar.
“Baiklah mba, kalau gitu saya permisi!” ujar Ava dan Ava pun pergi ke tempat kerjanya.
__ADS_1