
Dua wanita itu sedang berada di klub malam untuk merayakan keberhasilan mereka, keberhasilan untuk menghancurkan Mawar. Tujuan wanita itu hanya ingin menghancurkan Mawar, apalagi Erika yang sangat membenci Mawar saat pertama ketemu wanita itu.
“Kenapa kamu mau membantuku, apa kamu punya masalah dengan Mawar!” ucap Erika yang masih menunggu jawaban wanita yang sudah membantu dirinya.
Wanita itu meletakkan minuman tersebut sambil tersenyum, “Kamu ingin tau kenapa saya membantu kamu!” Erika hanya mengangguk saat wanita itu masih menggantung ucapannya.
“Karena Mawar adalah putriku dan dia sudah menentang ku saat aku ingin merebut harta yang di miliki Vanesha, awalnya Mawar memang wanita penurut yang mau saya suruh. Tapi lama-kelamaan wanita itu membangkang saat saya ingin menghancurkan Vanesha,” kata Jesica membuat Erika mengangguk.
Dia tidak menyangka kalau ibu kandung dari Mawar ingin membalaskan dendam, baru kali ini dia bertemu wanita seperti dia. Dia pikir hanya di sinetron saja tapi ini kenyataan dalam kehidupan nyata.
“Saya tidak menyangka kalau kamu seorang ibu yang jahat, hanya warisan kamu membuat putrimu menderita. Apa kamu tidak memiliki belas kasihan sama sekali dengan Mawar,”
“Buat apa saya kasihan dengannya, sekarang saya menganggap dia orang lain bukan putri saya. Saya harap kamu mengerti maksud perkataan saya,”
Wawan sebagai kaki tangan Bara sudah merekam pembicaraan kedua wanita itu, dia hanya menggeleng saat ibu kandung dari wanita yang di cintai bosnya yang merencanakan ini semua. Ibu macam apa yang melakukan kejahatan untuk menghancurkan putrinya sendiri demi harta yang dimiliki Vanesha.
Saat kedua wanita itu pergi dia pun pergi untuk mengikuti kedua wanita tersebut, dia ingin mengetahui rencana selanjutnya yang diberikan wanita itu. Wawan yang sudah mendapatkan berbagai bukti langsung menghubungi Bara, sedangkan Bara hanya tersenyum puas saat Wawan berhasil mendapatkan alamat kedua wanita tersebut.
“Kenapa kamu senyum-senyum,” ucap Mawar yang melihat Bara tersenyum sendiri, Bara menatap Mawar yang berada di kantornya.
“Sejak kapan kamu ada di sini,”
“Sejak aku melihat kamu tersenyum,” Mawar mendekati Bara sambil duduk di bangku dekat lelaki itu.
Bara menghentikan aktifitasnya yang terus menatap Mawar, sedangkan Mawar yang di tatap langsung beralih menatap kucing. Apa-apaan coba Bara menatapnya seperti itu, kalau kaya gini dia yang baper di tatap oleh Bara.
__ADS_1
“Jangan menatapku seperti itu, lanjutkan saja pekerjaan kamu. Kalau kamu menatapku terus aku akan pergi dari sini,” ucapan Mawar seperti ancaman bagi Bara, tapi pria itu malah tidak peduli dengan ancaman yang diberikan Mawar.
“Saya heran saja sama kamu, kenapa semakin hari kamu semakin cantik. Malah melebihi wanita yang pernah saya liat, mungkin kalau saya jadi mantan suami kamu saya tidak akan melepaskan kamu. Karena bagi saya kamu terindah saat di tatap oleh orang lain,” kata Bara membuat Mawar menatap Bara.
“Apa kamu sudah menemukan jawaban yang aku berikan ke kamu,” tutur Bara yang masih menunggu jawaban Mawar.
“Beri aku waktu untuk menjawab ucapan kamu, saya tidak mau mengambil keputusan yang salah. Saya masih takut untuk menjalin hubungan dengan pria lain, jadi saya harap kamu bisa menungguku!” perkataan Mawar membuat Bara helaan nafas yang terdengar oleh Mawar, dia tau kalau lelaki ini sangat bosan dengan jawaban yang dia berikan tapi itulah yang dia lakukan. Dia tidak mau mengambil kesalahan yang kedua kalinya.
Erika yang menunggu kedatangan Jesica langsung bersiap untuk merencanakan niat jahatnya, beberapa menit kemudian akhirnya Jesica datang menghampirinya.
“Kamu sudah siap untuk malam ini,” kata Jesica membuat Erika mengangguk.
***
Dari kejauhan sebuah mobil sudah menunggu seseorang untuk nyebrang, saat Andre sedang melangkahkan kaki disitulah Erika menyalakan mobil. Awalnya dua perempuan tersebut ingin melukai Mawar tapi Erika malah menyalahgunakan mobil tersebut untuk melukai Andre, dan di situlah Mawar yang melihat Andre sedang nyebrang ternyata dari arah yang berlawanan sebuah mobil berjalan menghampiri Andre.
“Andre awas,” teriak Mawar saat melihat Andre hanya menatapnya. Mobil itu semakin cepat kearah Andre sedangkan Mawar dengan cepat menyelamatkan Andre saat mobil tersebut berjalan dengan kecepatan tinggi.
Mawar langsung mendorong tubuh Andre membuat wanita itu terpental hebat, membuat mobil itu hanya menatap kematian Mawar dari arah spion mobil. Sedangkan Bara yang melihat itu semua langsung berlari untuk menghampiri Mawar yang sudah terluka parah.
“Mawar... Mawar bangun, aku mohon buka matanya!” ucap Andre saat kepala Mawar berada di pangkuannya sambil menepuk pipi Mawar supaya wanita itu mendengar suaranya.
“Cepat panggil ambulan,” ucap Bara. Andre yang hanya menatap Mawar, dengan cepat kaki tangan Bara menghubungi Ambulan dan beberapa menit kemudian mobil tersebut membawa Mawar ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit dua lelaki itu hanya duduk terdiam sambil menunggu dokter keluar, Bara hanya menatap Andre saat lelaki itu yang membuat wanitanya kecelakaan. Kenapa harus Mawar yang berada di rumah sakit, kenapa tidak lelaki ini.
__ADS_1
“Mau sampai kapan kamu terus mengganggu kehidupan Mawar,” ucap Bara yang membuat Andre menatap lelaki itu.
“Saya...” saat dia saling menatap dengan tatapan dingin dan kebencian yang terpancar oleh Bara, dan saat itu juga dokter keluar dari ruangan ICU.
Membuat kedua lelaki itu langsung menghampiri dokter, “Gimana keadaan Mawar, dok!”
“Untung kalian dengan cepat membawa Mawar kemari, kalau kalian sampai terlambat mungkin Mawar akan mengalami pendarahan yang terjadi di otaknya!”
“Apa Mawar bisa di sembuhkan dok,” kata Andre yang sangat khawatir dengan keadaan Mawar.
“Kita serahkan sama tuhan, apapun yang terjadi semuanya kehendak tuhan. Jadi saya sebagai dokter hanya bisa memastikan keadaan pasien, kalau gitu saya permisi!” tutur dokter tersebut membuat Andre merasa bersalah saat mengetahui kondisi Mawar sangat parah, ini semua kesalahannya yang membuat wanita itu masuk ke rumah sakit akibat ulahnya.
Saat Andre ingin masuk keruangan ICU ternyata Bara menahan dirinya, membuat lelaki itu hanya diam saat dirinya di cegah oleh lelaki ini.
“Siapa yang menyuruh kamu masuk, apa kamu tidak tau diri setelah kamu menyebabkan Mawar masuk rumah sakit. Dan tiba-tiba kamu ingin menjenguk wanita itu,” kata Bara yang sudah tidak bisa mengontrol emosi.
Andre hanya diam saat perkataan Bara menusuk hatinya, jadi Andre hanya mengalah dan dia hanya bisa melihat kondisi Mawar lewat kaca pintu. Dia sangat menyesal membuat wanita itu terluka, terluka saat bersamanya. Yang dikatakan lelaki itu benar bahwa dia tidak pantas mendapatkan Mawar kembali, saat Mawar berada di sisinya selalu membuat wanita itu terluka.
“Maaf. Maafkan saya Mawar, saya menyesal membuat kamu menderita. Andai aku bisa menjauhi kamu mungkin semuanya tidak akan terjadi, aku memang pantas kehilangan kamu. Kehilangan wanita yang sangat baik, sedangkan aku hanya menyesal saat kamu tidak lagi bersamaku...” sebelum pergi Andre menatap Mawar yang sedang bertaruh nyawa di ruangan ICU. “Saya hanya berharap kalau kamu bisa sadar kalau saya punya satu kesempatan, saya ingin bertemu kamu dan meminta maaf atas perbuatan aku yang sudah melukai kamu,”
Bara hanya menatap Mawar, kenapa wanita yang dia cintai terluka kenapa tidak dia saja yang berada di posisi ini. Seharusnya dia lebih awal datang untuk menjemput Mawar tapi nyatanya dia terlambat untuk melindungi wanita ini.
Bara mengambil tangan Mawar, “Mawar. Saya mohon sama kamu untuk buka mata kamu. Saya ingin kamu kembali seperti dulu lagi, saya ingin melihat kamu tersenyum, ceria seperti dulu. Saya mohon sama kamu untuk membuka mata kamu dan saya mohon jangan tinggalin saya lagi!”
Bara terus mencium tangan Mawar, wanita itu hanya menutup mata tanpa membalas ucapannya. Baru kali ini dia kehilangan wanita yang paling berharga, wanita yang membuat dirinya merasa bersalah. Wanita yang membuat hidupnya berubah, wanita yang selalu membuat dirinya menyesal dan menangis.
__ADS_1