
“Aku...”
“Aku sudah tau jawaban kamu apa, seharusnya aku tau dari awal kalau kamu tidak mencintaiku. Aku memang laki-laki bodoh yang mencintai wanita tapi wanita itu tidak mencintaiku.” ucap Bara yang tidak menatap Mawar.
Mawar hanya diam tanpa menjawab perkataan Bara, saat Bara ingin kembali ke tempat semula dengan cepat Mawar mencium pipi Bara. Membuat lelaki itu menyentuh pipi dan menatap kearah Mawar, wanita itu hanya diam saat Bara menatap kearahnya.
“Mawar.” panggil Bara membuat Mawar mendongak.
“Kamu...”
“Mungkin kamu sudah tau jawaban aku apa, apa aku perjelas lagi tentang pertanyaan yang kamu berikan kepadaku.”
Bara tersenyum saat Mawar menerimanya, semua orang yang berada di sana langsung bertepuk tangan. Saat kedua pasangan saling bertukar cincin, sedangkan keluarga Nadira sudah mengikhlaskan pertunangan yang sempat batal dan di gantikan oleh orang lain.
Selesai acara pertunangan semua tamu undangan pada mengucapkan selamat kepada mereka berdua, saat itu juga keluarga Bara sudah berada di rumah. Manda yang melihat wanita pilihan anaknya langsung menatap tidak suka, kenapa anaknya sangat bodoh memilih wanita seperti dia.
“Kenapa kamu malah menggantikan Nadira dengan wanita seperti dia,” hardik Manda membuat Mawar terdiam.
Ridwan yang melihat istrinya marah langsung menenangkan Manda, Bara bukannya takut dengan kemarahan ibunya malah dia menarik pinggang Mawar.
“Mah. Aku sudah bilang sama mama, kalau aku tidak menyukai perjodohan ini. Apa mama tidak memikirkan perasaan aku, mama yang menginginkan perjodohan ini bukan aku.” Bara menatap Mawar sambil menangkan wanita yang dia cintai.
“Mah. Aku sudah besar aku bisa menentukan pilihan aku sendiri, aku tidak peduli dengan status yang di miliki Mawar. Aku sama Mawar saling mencintai sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan wanita ini.” ucap Bara yang masih menggenggam tangan Mawar.
“KAMU!” saat Manda ingin membalas perkataan Bara dengan cepat Ridwan menghentikan emosi istrinya.
Bara langsung membawa Mawar ke lantai atas, di sana mereka berdua saling diam. Dan saat itu Mawar mendekati Bara dan menenangkan pria ini.
“Bara. Aku minta maaf gara-gara aku hubungan kamu sama ibu kamu akan seperti ini, aku tidak ingin melakukan ini Bara. Aku takut kalau kamu akan membenci ibu kandung kamu sendiri.” Bara hanya menatap Mawar saat itu juga Bara memeluk Mawar.
__ADS_1
“Aku tidak menyalahkan kamu, aku berhak memilih pasangan untuk hidupku. Bukan di atur-atur seperti ini, sampai kapanpun aku akan memilih kamu.” kata Bara yang sudah melepaskan pelukannya.
“Kamu mau kemana?” tanya Mawar yang melihat Bara ingin pergi.
“Aku ingin keluar sebentar nanti aku akan kembali,” jawab Bara yang tidak lupa mengelus rambut Mawar.
Bara yang mendapatkan pesan dari Wawan dia pun langsung menemui kaki tangannya, di sana dia melihat Wawan yang sedang sibuk menatap dua wanita yang berada di dalam.
“Gimana dengan wanita itu?” tanya Bara membuat Wawan melihat kearah Bara.
“Wanita itu masih sama, apa bapak tidak bisa meringankan hukuman mereka. Apalagi membuat dua wanita itu ketakutan saat peliharaan bapak berada di dekat mereka.”
“Tidak. Saya ingin tau apa wanita itu akan menyerah dengan hukuman yang saya berikan, atau mereka berdua ingin peliharaan saya mengamuk.”
Wawan hanya diam saat aura yang diberikan bosnya semakin menakutkan, tiba-tiba saja dia teringat dengan wanita itu. Wanita yang sempat dia sukai walaupun dia sadar diri kalau dia tidak mungkin mendapatkan wanita itu.
“Gimana kabar Bu Mawar pak? Apa dia baik-baik saja.” Bara yang mendengar perkataan Wawan langsung menatap Wawan, apa lelaki ini mengkhawatirkan wanitanya apa ada niat lain dari ucapan Wawan.
“Dia baik-baik saja. Kamu jangan mengkhawatirkan Mawar, masalah Mawar akan menjadi urusan saya. Sekarang dia sudah menjadi milik saya jadi kamu tidak usah ikut campur dengan Mawar.” lontar Bara yang masih menatap dua wanita yang berada di dalam ruangan.
***
Bara yang membuka pintu kamar langsung menatap Mawar, senyuman yang dia berikan membuat dia senang saat wanita ini sudah menjadi miliknya. Bara mendekati Mawar saat wanita itu masih tertidur lelap, Bara hanya menatap setiap inci wajah Mawar. Wanita sederhana yang membuat dirinya jatuh cinta.
Sebelum Bara beranjak dari ranjang dia tidak lupa mencium kening Mawar. “Selamat Malam my honey.”
Mawar yang merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya langsung menatap orang tersebut, dia hanya menatap wajah Bara saat senyuman yang dia berikan saat berada di samping cowok ini.
Dia hanya berpikir apakah ini mimpi, mimpi yang menjadi kenyataan. Malah dirinya tidak menyangka kalau bertemu dengan lelaki ini, cowok yang dia benci yang selalu mengganggu dirinya. Tapi tidak menyangka kalau lelaki ini sudah menjadi miliknya dan bersama dirinya, terkadang dia tidak habis pikir dengan takdir yang dia miliki, takdir yang buruk menimpanya akan menjadi baik seperti ini.
__ADS_1
Bara membuka matanya saat dia merasakan ada sentuhan dari seseorang, dia hanya melihat Mawar yang sedang memandang kearahnya. Senyuman yang di berikan Mawar membuat dia senang kalau wanita ini sudah menjadi miliknya.
“Kenapa kamu melihat ku seperti itu, apa ada yang salah di wajahku.” ucap Mawar yang memastikan wajahnya.
Mawar yang ingin beranjak dari ranjang tiba-tiba saja tangannya di tarik, membuat dirinya terjatuh dalam pelukan Bara.
“Bara lepasin pelukannya, aku ingin berangkat kerja.” Bara hanya diam tanpa memperdulikan ucapan Mawar, malah dia semakin mempererat pelukannya.
“Saya ingin seperti ini dulu,” pelukan yang berada di tubuh Mawar membuat dirinya nyaman, beberapa menit kemudian akhirnya pelukan mereka terlepas dan dia tidak lupa memberikan ciuman pagi untuk kekasihnya.
Kedua orang tuanya Bara sedang sibuk dengan sarapan pagi, dan mereka berdua baru saja turun. Membuat mereka dengan santainya menghampiri mereka berdua.
“Pagi mah.. pah!” sapa Bara membuat mereka berdua tersenyum. Saat Mawar memberikan senyuman kepada Manda, saat itu juga Manda membuang wajahnya.
“Tidak usah hiraukan mama. Mama emang seperti itu, yang penting kamu makan jangan mikirin apapun.” bisik Bara membuat Mawar mengangguk.
“Bara. Kalian berdua sudah tunangan gimana kalau pernikahan kalian di percepat, dari pada menunggu waktu lama.” ucap Ridwan membuat Manda tersedak saat suaminya membahas pernikahan.
“Mama tidak setuju kalau pernikahan Bara di percepat, kita belum tau asal usul wanita tidak jelas seperti dia. Mama tidak mau kalau Bara memilih wanita yang salah,” tolak Manda yang secara langsung tidak menyukai Mawar.
“Mah. Papa yakin kalau Mawar wanita yang baik, dan dia juga wanita yang tepat untuk Bara. Tidak mungkin kalau Bara memilih wanita yang salah.” jawab Ridwan. Manda hanya kesal saat Mawar selalu di dukung oleh suaminya.
“Pokoknya sampai kapanpun mama tidak akan setuju dengan hubungan mereka, pah! Masih banyak perempuan yang masih gadis bukan janda seperti Mawar.”
Mawar hanya diam saat kedua orang tuanya Bara ribut gara-gara dirinya, seharusnya dia tidak ada di sini. Seharusnya dia tidak membuat keributan dengan keluarga ini, dia memang salah berada di tempat ini. Apalagi dia seorang janda mana mungkin orang tua Bara menyetujui pernikahan mereka.
“Maaf om tante saya permisi dulu,” ucap Mawar yang langsung meninggalkan mereka bertiga.
“Mah pah. Kalau gitu aku berangkat dulu,” ujar Bara membuat Ridwan mengangguk.
__ADS_1
Dengan cepat Bara mengejar Mawar, saat itu juga dia kehilangan selangkah saat mobil itu sudah pergi. Mawar hanya diam di dalam mobil, dia hanya memikirkan perkataan Manda ucapan wanita itu ada benarnya juga. Seharusnya dia tidak berada di antara keluarga Bara, mana ada seorang ibu yang menyetujui pernikahan anaknya dengan seorang janda seperti dirinya.
Mawar beralih menatap cincin tunangannya, cincin ini yang selalu setia di jari manisnya. Apapun yang terjadi akan berusaha untuk bersama dengan Bara, dia akan berusaha membuat Manda yakin kalau dia wanita yang tepat untuk Bara. Dia akan membuktikan kalau statusnya tidak seburuk yang di pikirkan Manda.