
Kringggg....
Bunyi alarm terdengar ditelinga vanesha ia meraba-raba jam tersebut dan mematikan bunyi alarm yang begitu nyaring ditelinga nya, ia terbangun dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai rapih dengan pakaian kantor ia membeli sarapan yang ada di dekat kosannya, tapi ia melihat tukang jualan lontong sayur keliling. Akhirnya ia memanggil si penjual lontong sayur tersebut.
“Pak,” Teriak vanesha kepada penjual lontong sayur keliling
“Iya neng,”
“Saya pesan satu iya pak, ini mangkoknya,” Ucap vanesha sambil menaruh mangkok
Penjual lontong sayur pun langsung menyiapkan pesanan vanesha, selesai meracik lontong sayur penjualan itu langsung mengasih mangkok yang diberikan vanesha
“Berapa pak,”
“10.000 neng,”
Vanesha mengambil mangkok dari tangan penjual dan mengasih satu lembar sepuluh ribu ke penjual. Dia langsung kembali ketempat kos, dan memakan lontong sayur tersebut. Selesai sarapan ia langsung menuju kantor.
Sampai di kantor ia langsung menuju ketempat ruang kerjanya, didalam ia melihat beberapa orang dan merapihkan berkas yang sudah standby di atas meja kantornya.
“Masih pagi sudah dikasih berkas,” Ucap vanesha sambil menarik nafasnya
“Pagi sha,” Sapa aulia
“Pagi lia,”
“Tunggu itu kenapa muka ditekuk gitu,” Tanya aulia
“Ini lia, masa pagi-pagi aku sudah dikasih berkas sebanyak ini. Apalagi ini masih pagi,” Curhat vanesha
“Sabar iya sha,” Ucap aulia sambil mengelus pundak vanesha
Dengan terpaksa vanesha mengerjakan berkas tersebut tanpa ada rasa semangat sama sekali, sudah dua jam setengah ia berkutak dengan komputer yang ada dihadapannya.
“Aduh, segala minta tanda tangan bos lagi. Males banget kan gue nungguin nya, apalagi nanti gue disalahin kaya kemarin atau dimarahin lagi. Gimana ini,” Ucap vanesha bingung
Tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya dari belakang siapa lagi kalo bukan aulia teman satu bangkunya, “Ada apa sha? muka kamu kaya gak enak dilihat!” Ucap aulia
“Ini loh lia, masa gue harus keruangan bos. terus kalo nanti gue dikasih ceramah lagi kaya kemarin gimana, males banget gue dengerin ocehan pak aric,” Ucap vanesha
“Ya udah. Lebih baik kamu jalanin aja tugas kamu, kalo kamu ngeluh mulu kaya gitu nanti pak bos dengar loh sama ucapan kamu,” Ucap aulia
“Ya udah deh,” dengan wajah yang tidak menyenangkan ia langsung menuju ruangan aric.
Belum sempat ia mengetuk pintu ruangan aric, tiba-tiba saja aric sudah ada didepan pintu ruangan.
“Ada apa kamu kesini,” Ucap aric
Tuh kan belum juga masuk udah diomelin, ngeliat mukanya aja gak enak dilihat. Batin vanesha
“Kenapa kamu diam aja, saya lagi bicara sama kamu bukan sama batu,” Ucap aric
“Maaf pak, saya mau mengantarkan berkas ini ke bapak,” Ucap vanesha musam
“Taruh saja dimeja saya,” ucap aric
Vanesha langsung menaruh berkas tersebut dan aric langsung masuk ke ruangannya, belum sempat vanesha membuka gagang pintu sudah ditahan oleh aric.
“Bikinin saya kopi dan belikan cemilan yang ada di cafe dekat kantor,” Ucap aric dengan lantang membuat pemilik badan memutar badannya.
Vanesha menghampiri aric dan menyodorkan tangannya untuk meminta uang
__ADS_1
Aric yang melihat tangannya karyawannya membuat dia bingung, “Ngapain tangan kamu kaya gitu.” Ucap aric
Vanesha menghela nafasnya, “Saya minta uang lah pak emang mau minta apa?” Ucap vanesha sambil menahan emosinya
Aric mengkerut dahinya, “Minta uang? Emang saya bapak kamu harus ngasih kamu uang.”
Sabar vanesha.. sabar, masih pagi jangan emosi nanti lo tua. Batin vanesha
“Emang saya beli cemilan di cafe gak pakai uang, terus saya harus nyolong atau ngemis gitu untuk dapat makanan yang bapak minta,” Ucap vanesha
Aric mengambil empat lembar seratus ribu dan memberikan uang itu ke vanesha, vanesha mengambil uang itu dengan kesal dan pergi membeli apa yang diperintahkan bosnya.
Diluar pintu ruangan vanesha tidak berhenti ngedumel dan memaki-maki atasannya, “Dih, dasar nyebelin. cowok rese emang gue pembantunya dia, gue ini sarjana bukan OB yang main nyuruh-nyuruh aja. dasar cowok gila, rese, nyebelin. NYEBELIN.” gerutu vanesha sambil menghentakkan kakinya
Dengan terpaksa vanesha membeli apa yang diperintahkan aric, selesai membeli ia langsung membawa pesanannya keruangan pak aric.
Tok.. tok
“Masuk,”
Vanesha membuka pintu sambil membawa pesanan atasannya, “Ini pesanan bapak dan ini juga kembaliannya. kalo begitu saya permisi dulu.” Ucap vanesha
“Saya tidak nyuruh kamu pergi,”
Vanesha terhenti langkah, ini orang maunya apa sih. bikin kesal orang aja, lama-lama gue buang ke laut. Batin vanesha kesal
“Ada apa lagi pak?” Tanya vanesha
“Seharusnya kamu ambil piring sama sendok, emang saya seperti kamu yang makan pakai tangan,” Ucap aric
Ini orang belagu amat iya, tinggal makan aja ribet banget. kalo gue vampir gue gigit lo sampai K.A.O. batin vanesha
Vanesha mengambil piring dan sendok di pantry dan kembali lagi keruangan atasannya, “Ini pak sendok dan piringnya.”
“Susun makanan saya ke piring, jangan sampai kotor. saya tidak suka orang kotor,” Ucap aric tegas
“Tidak ada,” aric masih fokus dengan berkas yang ada ditangannya tanpa menoleh kearah vanesha.
Vanesha kembali ke ruangannya dan mengerjakan beberapa berkas yang ada dimeja kantornya, setelah selesai vanesha beristirahat sejenak sambil meregangkan otot-ototnya.
“Selesai juga kerjaan gue, coba tadi gak disuruh sama tuh cowok terkutuk mungkin kerjaan gue udah selesai dari tadi,” Gerutu vanesha
“Sha istirahat lo mau makan dimana?” Tanya aulia
Vanesha menoleh kearah aulia, “Tempat biasa aja.”
Jam istirahat pun tiba vanesha dan aulia langsung menuju kantin, tiba-tiba saja Zulfikar datang menghampiri meja vanesha dan aulia.
“Saya boleh gabung disini?” Tanya Zulfikar
“Kak zu, bolehlah masa gak boleh,” Ucap vanesha
Mereka bertiga makan sambil bercanda riang sambil membahas tentang masa kuliahnya dulu dan lainnya.
Dari kejauhan aric dan lucky pergi ke kantin bersama, aric yang tidak sengaja melihat dua perempuan dan satu laki-laki karyawannya ngobrol bersama dengan tanpa ada beban sedikitpun.
Lucky yang melihat aric diam sambil memandang kearah satu tempat yang paling ujung ia langsung menatap pandangannya kearah tersebut, ternyata dia hanya melihat tiga orang lagi bercanda tapi kenapa wajah atasannya tidak suka melihat pemandangan seperti itu.
“Pak,” Ucap lucky
“Pak.. pak aric,” Ucap lucky sekali lagi.
Aric tersadar dan menatap kearah lucky, “Ada apa?”
__ADS_1
“Bapak jadi sarapannya atau gimana pak,” Ucap lucky dengan hati-hati
Aric pun masuk mendahulukan lucky dan lucky mengikuti atasannya dari belakang, “Pak saya ingin memberitahu tentang kejadian penggelapan dana di perusahaan X, saya sudah mengatasinya dan bapak diminta untuk datang mengasih bukti dan keterangan bapak ke pihak berwajib dan saya juga sudah menahan bawahannya pak Daniel yang menipu perusahaan kita pak.” Ucap lucky panjang lebar
Tapi aric tidak tertarik dengan ucapan lucky malah ia masih fokus dengan ia lihat barusan, lucky yang mengetahui sumber permasalahan atasan langsung menatap apa yang ditatap aric.
kenapa pak aric tertarik sama tiga orang itu? sampai-sampai gue memberitahu dia tentang masalah penting saja dia tidak fokus sama ucapan gue. Batin lucky
“Pak aric,” Ucap lucky memanggil nama atasannya tapi tidak ada sahutan dari pemilik nama.
Akhirnya lucky menepuk pundak aric, “Pak.”
Akhirnya aric sadar dari pandangannya dan kembali menatap lucky, “Kenapa? Tadi kamu ngomong apa? saya tidak mendengarnya!” ucap aric
Gimana gak dengar sama ucapan gue, dianya aja fokus sama tuh orang. batin lucky
“Kayanya bapak hari ini ada sedikit masalah, jadi tidak fokus dengan ucapan saya. lebih baik saya ngomong ini saja nanti pak, biar bapak istirahat dulu nanti saya akan membahas ini lagi,” Ucap lucky
...****...
Di dalam rumah yang tidak begitu mewah tapi nyaman untuk ditinggalkan, rumah itu adalah rumah ayahnya vanesha alison. Yang awalnya rumah itu terdiri dari anggota keluarga vanesha tidak dengan sekarang.
Rumah itu ditempatkan oleh ibu tiri dan anak perempuannya, makanya dari itu vanesha tidak ingin tinggal di rumah itu.
“Sayang kamu lagi ngapain?” Tanya perempuan cantik istri dari alison
Alison melihat kearah istrinya, “Ini aku lagi telpon vanesha, tapi gak diangkat.”
“Mungkin dia sibuk sayang,” Ucap jesica manja. “Lebih baik kamu jangan urusin dia, eh maksud aku bukan itu. Vanesha kan sudah besar mungkin dia sibuk dengan pekerjaannya makanya gak bisa ngangkat telepon dari kamu.” Sambung jesica
“Ya, nanti aku telepon lagi,”
Alison pergi meninggalkan jesica, Kenapa juga mikirin anak gak tahu di untung, pergi gak bilang-bilang. malah si tua bangka nyariin anaknya lagi. batin jesica kesal
“Mah,” Teriak seseorang dari atas
Jesica melihat ke sumber suara ternyata putrinya yang memanggil, “Mah, bagi duit dong. aku mau belanja.” Ucap mawar anak dari jesica
“Kamu nih iya, bukannya bantuin mama malah minta duit. di otak kamu itu duit.. duit mulu, mama pusing dengerinnya. bukannya bantuin mama buat dapatkan rumah dan kekayaan ayah tiri kamu malah duit mulu yang ada di otak kamu,” Ucap jesica kesal
“Iya itu urusan mama, yang aku tahu aku minta uang untuk belanja,” Ucap mawar sambil mengulur telapak tangannya
Jesica mengambil uang lima lembar seratus ribu di dompetnya dan memberikan uang tersebut ke mawar.
“Mah ko segini, gak cukuplah segini. keperluan aku masih banyak,” Protes mawar
Jesica menghela nafasnya dan menambahkan uang lagi, setelah mawar mendapatkan uang yang dia inginkan ia pun pergi ke mall bersama temannya.
Di dalam ruang kerjanya vanesha mendengar suara handphone berdering ternyata handphone tersebut dari dalam tasnya, ia pun mengambil handphone tersebut dan melihat siapa yang menelpon ternyata ayahnya.
“Iya yah,” Ucap vanesha
“Gimana keadaan kamu nak,”
“Aku baik yah, gimana keadaan ayah?”
“Ayah juga baik, sekarang kamu dimana? ayah cemas cari kamu. kamu pulang nak jangan kabur, kamu tinggal sama ayah lagi iya. uhuk.. uhuk,” dengan nada lemah
“Ayah sakit, ayah sakit apa? ayah gak bilang vanesha kalo ayah sakit,” Ucap vanesha khawatir
“Ayah tidak papa nak, kamu pulang iya. kamu tinggal lagi di rumah, kamu mau 'kan pulang,” Ucap Alison memohon
Vanesha menghela nafasnya, “Iya yah, nanti aku akan pulang.”
__ADS_1
Alison yang mendengar kata 'pulang' dari mulut putrinya langsung senang, dia langsung menutup teleponnya dan kembali seperti semula.
Akhirnya vanesha memutuskan untuk pulang besok, sebenarnya ia tidak ingin pulang apalagi bertemu sama ibu tirinya yang sangat kejam. dia gak mungkin menolak permintaan ayahnya apalagi ia mendengar kalo ayahnya sakit pasti ia tidak tega meninggalkan ayahnya sendiri, dia gak percaya dengan ibu tirinya untuk menjaga ayahnya, dia tahu otak dari ibu dan anak tirinya yang tinggal di rumah ayahnya sekarang. gak mungkin ibu tirinya mengurus ayahnya sakit.