
Vanesha terus-menerus memikirkan Aric, dia penasaran kepada Aric. Apa dia menyembunyikan sesuatu darinya? Tapi apa?
Saat dia fokus dengan urusan kantor tidak sengaja dia mendengar handphonenya berdering dan dia langsung melihat handphone tersebut, Sersan ngapain dia nelpon?
“Iya, ada apa?” tanya Vanesha.
“Pulang kantor kamu sibuk, gak?” tanya Sersan.
“Tidak, memangnya kenapa?”
“Biasalah, gue bosen banget lama-lama di kantor. Sekali-kali jalan sama lu,” tutur Sersan.
“Oke! Nanti gue hubungi lu lagi,” Vanesha langsung menutup teleponnya.
Pulang kantor mereka berdua sepakat untuk jalan bersama, di pertengahan jalan Vanesha melihat Aric dengan wanita lain. Tapi dia tidak tau wanita itu siapa? Sersan beralih menatap pandangan Vanesha dan lagi-lagi dia dibuat emosi dengan pria itu.
Saat dirinya ingin menghajar pria itu ternyata sudah ditahan oleh Vanesha, membuat dirinya tidak berdaya saat Vanesha ingin meninggalkan dua sejoli tersebut.
Vanesha menarik lengan baju Sersan dan Sersan menatap Vanesha, “Apa aku boleh tinggal sama kamu!” ucap Vanesha membuat Sersan tersenyum.
“Iya, aku akan menemani kamu buat mengambil barang-barang kamu di tempat Aric dan aku akan mengantarkan kamu ke rumah!” kata Sersan dan dia langsung pergi ke rumah Aric.
Sampai di rumah Aric Vanesha menuju kamar untuk mengambil baju dan Sersan menunggu Vanesha di ruang tamu, selesai barangnya siap dia pun menghampiri Sersan. Belum juga mereka berdua pergi Aric datang dan melihat Vanesha membawa koper.
“Kamu mau kemana, bawa koper?” tanya Aric.
Saat Aric ingin mengambil koper yang di bawa Vanesha sudah di tahan oleh Sersan, “Bukan urusan lu dia mau kemana? Kalo lu gak bisa jaga Vanesha gue yang akan jaga dia dan lu gak usah repot-repot untuk mencari Vanesha lagi!” ucap Sersan langsung membawa Vanesha pergi.
Aric tidak mau kehilangan Vanesha lagi dan dia langsung mengejar Vanesha tapi dia terlambat mobil yang mereka tumpangi sudah berlaju dengan cepat.
__ADS_1
“Apa kamu tidak rela pergi meninggalkan dia,” ucap Sersan saat dia melihat Vanesha menatap Aric di kaca mobil.
“Sampai kapanpun pria itu tidak akan pernah berubah, saya tau sifat dia yang dulu. Jadi kamu jangan berharap bisa mengubah sifatnya kembali,” Vanesha hanya menghela nafasnya.
Apa dia melakukan hal ini sudah tepat dan sudah siap untuk melupakannya, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah dan mereka berdua langsung turun dari mobil sambil membawa koper.
“Sekarang ini kamar kamu dan anggap saja rumah ini seperti rumah kamu sendiri, aku berharap kamu bisa melupakan pria bejat seperti dia!” ucap Sersan saat dirinya dia buat kesal dengan Aric. “Lebih baik kamu bereskan barang-barang kamu dan setelah itu aku akan membawa kamu untuk makan malam,” tambah Sersan dan dia pun pergi.
Selesai merapikan pakaiannya ke dalam lemari dia pun bersiap untuk makan malam bersama dan mereka berdua sedang duduk di bagian dekat jendela.
“Gimana, enak?” tanya Sersan membuat Vanesha mengangguk.
Saking asiknya makan mereka berdua tidak sengaja berpapasan dengan Aric yang lagi makan juga, Aric ke restoran bersama dengan Bryan dan Lucky. Saat dia ingin memilih tempat duduk ternyata Vanesha berada di tempat yang sama membuat dirinya tidak percaya bahwa Vanesha berada di restoran yang sama.
“Jangan memperhatikannya lagi, sampai kapan kamu mau melupakannya kalo kamu seperti ini terus!” kata Sersan dan Vanesha lanjut makan seperti biasa.
“Saya tidak tau masalahnya apa? Setelah saya bertemu dengan clean saya tiba-tiba saja Vanesha sudah membawa koper dan dia langsung pergi bersama pria yang lagi bersamanya,” tutur Aric sambil memperhatikan dua sejoli sedang bercanda.
“Mungkin bapak bermesraan sama clean bapak,” urai Lucky.
“Coba bapak pikir baik-baik, pas bapak bertemu dengan clean bapak. Apa yang bapak lakukan saat bertemu,”
Aric pun memikirkannya sejenak dan dia baru ingat bahwa clean dia yang tadi minta tolong untuk mengikat rambut setelah itu dia tidak ingat itu, masa ia Vanesha cemburu dengan masalah itu.
“Bapak sudah ingat kenapa mba Vanesha bisa pergi,” Aric hanya menjawab dengan anggukan dan dia langsung menceritakan kejadian yang dia alami.
“Menurut saya clean bapak yang ini, ingin mendapatkan bapak. Apalagi bapak kan bos terkenal dikalangan perempuan pasti dia mengira bahwa bapak belum punya pasangan jadi clean bapak ingin mendapatkan hati bapak,” ungkap Lucky.
“Bapak juga yang salah kenapa bapak tidak mengakui kalo Mba Vanesha milik bapak, kalo semua orang tau pasti tidak akan seperti ini!” sosor Bryan.
__ADS_1
Setelah dia mendengarkan ucapan sahabatnya dia sekarang sudah mengerti kenapa Vanesha selalu menjauhi dirinya dan berpikir kalo dirinya akan mencari wanita lain selain Vanesha.
Pulang dari makan malam dia pun pulang dan Aric harus menyelesaikan masalah ini supaya Vanesha menjadi miliknya, pagi harinya seperti biasa Aric melakukan rutinitas seperti biasa dan dia pun pergi ke kantor tanpa sarapan pagi. Biasanya kalo ada Vanesha dia selalu sarapan bersama tapi sekarang untuk sarapan aja dia tidak nafsu.
***
“Terima kasih atas kerjasama kita hari ini,” ucap Vanesha saat dia tau bahwa dirinya bekerjasama dengan perusahaan Malaysia.
“Terima kasih sekali lagi, saya harap kerjasama kita dapat berjaya!” balas Nayla dan perusahaan Malaysia pun pamit kepada Vanesha.
“Sepertinya saya tepat waktu untuk datang kemari,” ucap Sersan saat melihat Vanesha sudah selesai meeting.
Vanesha mendongak, “Makan siang seperti biasa!” tutur Sersan membuat Vanesha senang. Walaupun Sersan bukan Aric tapi dia semakin bertahap melupakan Aric.
Sersan menyeruput kopi yang sempat dia pesan dan meletakan kembali cangkir tersebut, “Gimana perasaan kamu yang sekarang, apa sudah membaik!” ucap Sersan membuat Vanesha tersenyum.
“Sepertinya kamu berhasil untuk melupakan pria itu, gue berharap lu bisa mendapatkan pengganti Aric!” kata Sersan tapi di dalam hati Vanesha bukan yang di pikirkan Sersan. Malah dia berharap bisa kembali dengan Aric.
Jeny dan Aric sedang berada di lapangan golf awalnya permaninan ini sangat membosankan tapi nyatanya tidak, malah bermain golf menghilangkan sedikit lelahnya dia selama bekerja.
Jeny meletakan tongkat golf dan dia membawa minuman sambil menghampiri Aric, Aric hanya menatap minuman tersebut. Dia langsung meminta Bryan untuk mengambilkan minuman yang sempat ia bawa, Aric memang dari dulu tidak suka mendapatkan minuman dari orang lain. Apalagi dari tangan wanita hanya wanita yang dia cintai, yang bisa memberikan perlakuan spesial darinya.
Selesai minum Aric pun pamit kepada Jeny untuk kembali ke kantor dan membuat Jeny semakin penasaran, kenapa pria ini susah untuk di taklukan.
“Apa kamu sudah mendapatkan bukti mengenai perempuan itu,” kata Jeny saat anak buahnya datang menemuinya.
Anak buahnya memberikan sebuah bukti hasil dari penyelidikan yang dia lakukan, dia senang bahwa anak buahnya cepat sekali mendapatkan info mengenai perempuan yang bernama 'Vanesha'.
“Sudah waktunya untuk membalaskan perbuatan kamu,” batin Jeny dengan tatapan sinis.
__ADS_1