
Vanesha tidak tau bahwa Sersan datang ke kantornya dan sekarang Sersan sudah berada di depan ruang kerja Vanesha, “Di dalam ada Vanesha?” tanya Sersan.
“Ada pak,” jawab Ava membuat Sersan mengangguk dan Sersan langsung membuka pintu tersebut.
“Sepertinya aku salah masuk ruangan,” tutur Sersan saat melihat Vanesha berduaan dengan Aric.
“Ngapain lu di sini? Mau ganggu istri gue lagi,” kata Aric membuat Vanesha tertawa.
“Santai dong bro! Gue gak bakalan rebut Vanesha dari lu, gue ke sini mau ngomong berdua sama istri lu!” Aric langsung menyoroti mata Sersan dengan tajam.
“Mau ngomong apa, Sersan?” tanya Vanesha membuat Sersan mengisyaratkan untuk keluar kantor.
“Kamu duluan aja, nanti aku nyusul!” membuat Sersan mengangguk dan Vanesha pun menatap suaminya yang sedang marah seperti anak kecil.
“Aku–” belum sempat Vanesha melanjutkan perkataannya Aric sudah pergi.
Vanesha hanya menghela nafas dan dia pun keluar untuk menemui Sersan, Sersan yang melihat Vanesha menghampirinya langsung menarik tangan Vanesha.
“Aku gak salah dengarkan sama ucapan kamu,” ucap Vanesha terkejut dengan perkataan Sersan.
“Enggak. Aku serius berkata seperti it–” belum sempat Sersan melanjutkan ucapannya langsung di tahan oleh Aric.
“Sudah tiga menit kalian ngobrol, apa sepenting itukah kalian ngobrol berjauhan. Sampai-sampai lelaki yang ada di sini sedang menunggu penjelasan kalian!” Sersan dan Vanesha saling menatap, Vanesha tersenyum saat melihat Aric cemburu melihat dia berduaan dengan Sersan.
“Sepertinya pawang kamu sedang mengawasi kita, liat saja dia sedang menahan api cemburu!” ledek Sersan dengan pelan membuat Vanesha tertawa saat mendengar perkataan Sersan yang terus-menerus menggoda Aric.
“Ya sudah, kalau gitu aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa kamu kabarin aku segera,” kata Sersan membuat Vanesha mengangguk.
Tidak itu saja malah Sersan mengerjai Aric untuk mencium kening Vanesha, dari kejauhan Aric langsung melempar kaleng soda tepat di kepala Sersan membuat Sersan meringis sakit.
“Lu modus sama istri gue awas lu,” ancam Aric membuat Sersan tertawa puas.
“Jangan kaya gitu sayang, kalau nanti dia masuk ke rumah sakit gimana. Kamu mau tanggungjawab,” tutur Vanesha dengan lembut dan Aric langsung pergi ke ruang baca.
Vanesha bukannya menyusul Aric malah dia pergi ke dapur, selesai membuatkan minuman kesukaan suaminya dia pun menyusul ke ruang baca. Di sana dia melihat Aric sedang fokus dengan buku-buku yang ada di hadapannya, membuat Vanesha menggeleng kepala.
Vanesha meletakan cangkir teh buatannya. “Apa kamu masih marah kepadaku, kalau sudah reda bilang ya! Aku ingin keluar dulu,” ujar Vanesha membuat Aric menutup buku yang dia baca dan menarik tangan Vanesha.
__ADS_1
“Suami lagi marah bukannya di samperin malah di diemin,” gerutu Aric membuat Vanesha tersenyum.
Vanesha memegangi dagu Aric membuat Aric menatap istrinya, “Kalau kamu cemburu bilang jangan kaya anak kecil, aku 'kan tidak tau kalau kamu cemburu gara-gara Sersan datang!”
Aric memeluk Vanesha sambil menenggelamkan wajahnya di balik badan Vanesha, “Aku tidak suka kamu berdua sama lelaki lain selain aku, kamu taukan kalau aku pria yang mudah cemburu!” Vanesha memainkan rambut Aric dan Aric pun mendongak.
“Kamu masih marah sama aku,” kata Vanesha membuat Aric menggeleng dengan cepat Vanesha mencium kening Aric, Aric pun menarik Vanesha untuk duduk di pangkuannya.
“Maafkan aku sudah cemburu tidak jelas sama kamu, aku tidak suka kamu berpaling sama lelaki lain. Maaf. Sikap aku seperti anak kecil,” lirih Aric membuat Vanesha menggeleng, dia tidak mungkin menyalakan Aric sepenuhnya karena dia tau bahwa suaminya mudah cemburu.
“Kamu tidak perlu minta maaf, aku yang minta maaf sama kamu karena buat kamu cemburu. Sekarang kamu minum teh dulu,” kata Vanesha sambil memberikan cangkir teh buatannya.
Pulang kantor mereka berdua langsung pulang dan Vanesha pun tiduran di atas ranjang, dia bingung sama dirinya sendiri kenapa hari ini dia mudah sekali lelah. Dulu dia paling suka jalan-jalan kenapa hari ini dia terasa lelah terus dan moodnya kadang berubah-ubah.
“Ada apa, sayang? Ada yang sakit,” kata Aric yang sudah duduk di samping Vanesha.
“Aku cuman pusing saja,” jawab Vanesha dan Aric dengan sigap mencari minyak kayu putih dan memijit kening Vanesha dengan pelan.
Selesai memijit kening Vanesha dia melihat istrinya sudah terlelap dan dia pun menyelimuti badan Vanesha dengan selimut.
“Tidur yang nyenyak ya istriku,” ucap Aric pelan sambil mencium kening Vanesha.
“Sayang kamu jangan dekat-dekat dong,” omel Vanesha membuat Aric mengkerut kening.
“Aku 'kan mau bawain makanan ke kamu,”
“Iya, pokoknya aku tidak suka kamu di sini! Kamu pergi jauh-jauh sana aku tidak suka kamu di sini,” usir Vanesha membuat Aric bingung, memang dari semalam dia sudah dibuat bingung sama Vanesha.
“Oke! Aku akan pergi dari sini, aku letakan sarapan kamu di sini ya!” ucap Aric sambil menaruh makanan di atas meja.
Vanesha hanya menatap makanan yang diberikan Aric dan dia pun mencoba untuk makan, baru masuk ke dalam mulut dia sudah memuntahkan makan itu alhasil kamarnya jadi kotor membuat Aric masuk ke dalam kamar saat mendengar suara Vanesha.
Aric membantu Vanesha untuk membersihkan muntahan istrinya dan dia menatap Vanesha bukannya Aric membantu Vanesha malah di usir kembali, membuat Aric selalu sabar menghadapi sikap Vanesha.
“Aku sudah bilang sama kamu jangan kemari, aku tidak suka kamu di sini. Udah tau badan kamu bau,” cela Vanesha membuat Aric mencium badannya, perasaan dia sudah mandi kenapa dikatain belum mandi.
Aric pun keluar sambil membawa makanan yang sempat dia bawa dan di dapur dia langsung menghubungi Lucky.
__ADS_1
“Iya pak, ada yang bisa saya bantu!” ucap Lucky.
“Kamu bisa panggilkan dokter ke rumah saya,” perintah Aric.
“Baik pak,” Lucky mengakhiri sambungan teleponnya dan langsung menghubungi dokter pribadi bosnya.
Sekarang dia sedang menunggu dokter selesai periksa Vanesha, “Gimana dok keadaan istri saya?” tanya Aric sambil menatap Vanesha.
Dokter tersebut tersenyum. “Selamat ya bro. Sebenar lagi lu jadi ayah,” Ayah? Dia tidak salah dengarkan kalau Rafi bicara seperti itu.
“Tidak perlu bingung begitu, sekarang istri lu sedang hamil. Usia kandungannya sudah berjalan empat minggu, jaga baik-baik istri lu jangan sampai kelelahan!” tutur Rafi dijawab anggukan dan Rafi memberikan resep obat ke Aric.
“Kalau gitu gue pulang dulu, ingat pesan gue jaga istri lu baik-baik. Perempuan yang lagi hamil pasti sensitif lu harus jaga istri lu jangan sampai kenapa-napa,” jelas Rafi dijawab 'iya' dan Rafi pun pamit untuk kembali ke rumah sakit.
Dia benar-benar tidak percaya kalau Vanesha hamil dan dia tidur di samping Vanesha sambil mengelus perut Vanesha yang masih rata. “Terima kasih kamu sudah memberikan aku hadiah terindah yang aku miliki, aku janji bakal jaga kamu dan tidak akan meninggalkan kamu lagi,” batin Aric yang masih mengelus perut Vanesha dan dia tidak lupa mencium kening istrinya.
“Kamu mau kemana, sayang?” tanya Aric saat Vanesha turun dari ranjang.
“Aku mau keluar,” Aric mengkerut 'kan dahinya, permintaan bumil pasti aneh-aneh.
“Sudah malam sayang, nanti kamu masuk angin. Kasihan anak kita kalau kamu keluar malam-malam,” ucap Aric dengan lembut.
Bukannya nurut malah Vanesha menangis dengan ucapan Aric, sedangkan Aric harus ekstra sabar menghadapi sikap bumil.
“Iya... iya, aku akan temani kamu keluar!” kata Aric membuat Vanesha tersenyum.
Baru beberapa menit Aric sudah mengajak masuk ke dalam membuat Vanesha cemberut. “Sudah dong sayang jangan marah lagi, bukannya aku tidak mau ngajak kamu keluar rumah. Kamu 'kan lagi hamil masa ya bumil keluar jam segini,” ucap Aric dengan lembut.
“Sebentar lagi, aku ingin di sini dulu!” rengek Vanesha membuat Aric mengikuti kemauan istrinya.
Beberapa menit kemudian akhirnya Aric bisa membawa Vanesha masuk ke dalam dan membawa istrinya untuk tidur di dalam kamar, istrinya kalau sedang hamil pasti tidak mau dekat-dekat dengannya. Jadi dia terpaksa tidur di sofa sambil menjaga Vanesha dari kejauhan.
“Kamu mau ngapain di sini,” ucap Vanesha.
“Mau tidur sama kamu,” jawab Aric dengan santai.
“Kamu tidak boleh tidur di sini, kamu tuh tidur di sofa aja. Aku tidak suka kamu tidur di samping aku lebih baik kamu tidur di sofa sana dan jauh-jauh dari aku,” lontar Vanesha dan Aric hanya pasrah dengan perkataan istrinya.
__ADS_1
Terpaksa Aric tidur di sofa dan dia pun meletakan bantal sama selimut di sofa, malah Vanesha sudah tidur nyenyak tanpa dirinya. Aric hanya bisa memandang istrinya dari jauh, semenjak Vanesha hamil dia tidak bisa peluk tubuh Vanesha dan sekarang dirinya seperti anak hilang yang selalu mengikuti keinginan bumil.