BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
Malam Yang Begitu Indah


__ADS_3

Saat makan malam Vanesha lebih dulu menuju lantai atas di mana kamarnya berada, baru sampai di pintu kamar Aric menarik Vanesha dan membawa Vanesha ke dalam kamarnya.


“K–Kamu mau apa,” ucap Vanesha gugup saat Aric sedang menghimpitnya.


“Menurut kamu kalau perempuan masuk ke kamar pria kamu taukan resikonya apa,” kata Aric dengan menggoda Vanesha.


Dirinya tidak mungkin bodoh dia tau dengan perkataan Aric, walaupun dia tidak pernah pacaran tapi dia tau pembicaraan Aric mengarahkan kemana.


Aric masih menunggu jawab Vanesha dan dia membisikan sesuatu ke telinga Vanesha. “Aku sudah mengucapkan hal penting tentang hubungan kita, malah aku ingin menikahi kamu. Tapi kamu mengabaikan perkataan aku dan sekarang lebih baik kita buat anak terlebih dahulu baru menikah, gimana nyonya Vanesha apa kamu sudah siap untuk malam ini.” kata Aric dengan menggoda membuat dirinya meneguk air yang berada di tenggorokannya.


Tanpa meminta persetujuan dari Vanesha dia langsung mencium bibir Vanesha dengan lahap, tidak itu saja malah dirinya melanjutkan ciuman mereka sampai di ranjang dan sekarang posisi mereka tidak bisa terhalang oleh siapapun.


Lidah Aric masuk ke dalam mulut Vanesha menjelajahi rongga mulut wanita itu dan mengabsen setiap gigi rapih yang dimiliki Vanesha.


Tidak lupa tangan pria itu yang menganggur mulai masuk ke dalam baju tidur yang dikenakan Vanesha.


“Eungh,”


Vanesha mendesah pelan, Aric mencium bibir bawah dan atas Vanesha membuat wanita itu merasakan sensasi yang begitu nikmat bagaikan dia terbang melewati awan. Vanesha berkali-kali dibuat tersedak oleh ciuman Aric yang membuat dirinya candu.


Erangan pelan terlontar dari mulu Vanesha saat Aric memindahkan bibirnya ke leher wanita itu dan mengambil nafas di sana, menyiksa diri dengan aroma tubuh yang dimiliki Vanesha yang terasa pekat di rongga hidung.


Aric memberikan kecupan-kecupan di sana, meninggalkan tanda kepemilikan.


Vanesha yang merasakan cahaya matahari sudah masuk ke celah jendela kamar dengan terpaksa membuka mata, dia pun melirik pria yang berada di sampingnya yang masih tertidur dengan begitu damai. Dia hanya merasa tersipu malu saat dia mengingat kejadian semalam yang begitu ekstrim baginya tapi dia senang melakukan hal itu sama pria yang dia cintai.


Aric yang merasakan ada seseorang yang menatap kearahnya langsung membuka mata dan di sana dia melihatnya dengan tersenyum dan Aric membelai rambut Vanesha sambil mengelus pipi Vanesha.


“Pagi sayang,” ucapan Aric membuat Vanesha memerah tidak itu saja malah Aric mencium pipi Vanesha dengan lembut.


“Pagi,” balas Vanesha.


Saat Vanesha ingin bangun dari ranjang tiba-tiba saja dia merasakan sakit di bagian kewanitaannya membuat dirinya susah berjalan ke kamar mandi.


“Apa perlu aku bantu mengantarkan kamu ke kamar mandi,” ucap Aric.

__ADS_1


“Tidak usah aku bisa sendiri,” percuma dia mengatakan seperti itu tapi kenyataannya dia tidak berdaya, gara-gara ulah Aric semalam membuat dirinya menderita sampai-sampai dirinya tidak bisa melangkahkan kakinya.


Tiba-tiba saja Aric menggendong Vanesha menuju toilet membuat Vanesha berontak, “Aric lepasin aku bisa sendiri!” tapi Aric malah tidak mendengar perkataan Vanesha malah dia membawa Vanesha ke kamar mandi.


Aric merendam Vanesha di bathtub sambil menggosok punggung Vanesha dengan lembut, Aric yang merasakan tubuh Vanesha terangsang langsung menjahili Vanesha kembali.


“Sepertinya kamu mau aku melakukan hal lebih seperti semalam,” goda Aric di telinga Vanesha membuat Vanesha mendengus kesal.


“Kalau kamu melakukan hal itu aku akan melempar mu keluar dan aku tidak akan kembali ke rumah ini,” ancam Vanesha membuat Aric mengalah dia tidak mau Vanesha pergi lagi.


“Baiklah, aku tidak akan menggoda mu lagi tapi kalau kamu yang memulai duluan kamu akan siap-siap menerima aksi ganas ku yang lebih dalam seperti semalam,” tutur Aric membuat Vanesha kesal, bukannya meredakan emosinya malah pria itu tertawa jahil.


Selesai memandikan Vanesha dia menyuruh Vanesha untuk tetap di dalam kamar sedangkan dirinya membawa makanan ke dalam kamar, “Silahkan di makan nyonya Vanesha!” ucap Aric.


“Diam lah, kalau kamu seperti itu lagi aku tidak akan menerima makanan yang kamu berikan!” ancam Vanesha begitu tegas.


Vanesha yang merasa kesal dengan Aric langsung mendiamkan Aric dan Aric hanya menggeleng kepala dengan tingkah laku Vanesha yang sudah membuat dirinya gemas, apalagi dia senang membuat wanita ini marah dan kesal oleh dirinya.


***


“Surat nikah? Apakah tidak terlalu cepat untuk menikah,” jawab Vanesha yang begitu terkejut.


Aric memeluk Vanesha, “Tidak, lebih cepat lebih baik bukan!” bisik Aric tepat di telinga Vanesha.


Vanesha menatap surat nikah yang baru saja dia buat bersama Aric, sedangkan Aric hanya melirik Vanesha yang masih bingung dengan surat nikah yang dia pegang.


“Ada apa nyonya Vanesha sepertinya kamu bingung,” ucap Aric.


“Tidak, kirain aku buat surat nikah lama ternyata mudah,” kata Vanesha.


Aric memeluk Vanesha dengan erat sambil mencium pipi Vanesha yang sudah menjadi istri sahnya, “Apa kita harus merayakan pernikahan kita!” goda Aric.


Vanesha hanya menjawab dengan gelengan dan Aric langsung membawa Vanesha ke rumah lama untuk mengambil barang-barang yang berada di rumah lama.


“Bawa seperlunya saja sayang jangan semuanya, kalau masih kurang lebih baik kita beli saja perlengkapan kamu!” ujar Aric yang masih menunggu Vanesha di depan pintu kamar.

__ADS_1


Selesai merapikan koper Aric membawa koper Vanesha ke bawah, tadinya Vanesha ingin membantu Aric tapi Aric menahan dirinya. Aric pun menjalankan mobil menuju rumah, sampai di rumah dia merapikan baju yang berada di dalam koper.


Malam harinya Aric mengajak Vanesha makan malam di luar sambil menikmati pemandangan di malam hari, Vanesha hanya mengikuti kemauan Aric saja.


“Gimana enak makanannya,” ucap Aric dijawab dengan anggukan.


Dan tiba-tiba saja sebuah kembang api menyala di langit dan Vanesha hanya menatap dengan kagum, baru kali ini dia melihat kembang api biasanya dia tidak pernah. Semenjak ibunya meninggal dia tidak pernah merasakan main kembang api, apalagi bermain dengan anak kecil pada umumnya.


Aric yang melihat Vanesha tersenyum langsung memeluk pinggang istrinya dan mencium pipi Vanesha dengan lembut, tuhan sudah menemukan kebahagiaan yang selama ini belum dia rasakan dan sekarang dia menemukan kebahagiaan itu bersama pria yang sudah menjadi suaminya.


Selesai makan malam mereka berdua pun pulang dan Aric masih setia memeluk Vanesha, “Kita sudah sampai Ric, kenapa masih memeluk seperti ini!” ucap Vanesha sambil melepaskan tangan Aric.


“Aku tidak mau kamu pergi lagi,” Vanesha membalikan badan dan menghadap kearah Aric.


“Sekarang aku ini istri kamu bukan Vanesha yang dulu lagi, jadi aku tidak akan meninggalkan kamu!” kata Vanesha dengan lembut membuat Aric percaya dengan perkataan istrinya.


“Ya sudah, aku mandi dulu nanti kamu menyusul setelah aku selesai mandi!”


“Iya,”


Vanesha mengambil laptop dan mengerjakan berkas yang sudah dikirimkan oleh Ava, lagi-lagi Vanesha dibuat pusing dengan perilaku ibu tirinya. Kenapa Jesica selalu mengganggu hidupnya, apa dia tidak puas membuat orang tuanya celaka sampai-sampai dirinya tidak bisa memaafkan kejahatan yang Jesica lakukan.


“Terima kasih Ava, kamu sudah memberikan kabar mengenai Jesica! Besok kamu hubungi mawar untuk datang ke kantor saya, saya ingin bicara sama dia!” pinta Vanesha.


“Baik Bu,” Aric yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat Vanesha habis menelpon seseorang dia pun menghampiri istrinya.


“Siapa yang menelpon mu malam-malam begini,” ucap Aric.


Vanesha mendongak, “Ava. Sekretaris aku,” jawab Vanesha membuat Aric mengangguk.


“Ada apa? Kelihatannya kamu sedang memiliki masalah,” kata Aric saat melihat Vanesha memijit kening yang terasa pusing.


“Tidak, hanya pusing saja!” Aric menyuruh Vanesha untuk merapikan laptop dan menyuruh Vanesha untuk tiduran di pahanya sambil memijit kening istrinya.


“Gimana enakkan pijitan aku,” ucap Aric yang tidak mendengar jawaban dari Vanesha. Saat dia melihat Vanesha ternyata istrinya sudah terlelap lebih dulu dan dia melihat itu hanya tersenyum sambil menyelimuti Vanesha.

__ADS_1


“Selamat malam my wife, semoga mimpi indah!” kata Aric sambil mencium kening Vanesha.


__ADS_2