
Aric yang mendapatkan telepon dari rumah sakit langsung ke tempat Mawar, dia meminta Alaska dan juga Ridwan untuk menjaga Bara sedangkan dirinya pergi.
Aric dengan kecepatan tinggi langsung sampai saat mobilnya sudah terparkir, dia membuka pintu dan berlari menuju ruang rawat Mawar.
Aric terhenti saat melihat semua orang menangis dan matanya tertuju menatap istrinya. "Sayang kamu kenapa? Kenapa semua orang pada berkumpul di sini?" banyak pertanyaan di dalam benak Aric malah Vanesha terus menangis saat suaminya memeluknya.
"Mawar... Mawar!" itulah ucapan yang dikeluarkan Vanesha, mulutnya tidak sanggup berkata apa-apa.
Aric melepaskan pelukannya dan menatap istrinya. "Sebenarnya ini ada apa? Kenapa kamu nangis? Kondisi Mawar baik-baik aja kan?" Aric menatap kamar rawat Mawar dan dokter itu keluar.
"Gimana keadaan Mawar dok? Adik saya baik-baik saja kan?" dokter itu membuang nafasnya kasar dan dia menatap Aric saat tangannya menyentuh pundak Aric.
"Kamu yang sabar ya! Mungkin ini sudah takdir tuhan, adik kamu sudah tidak ada dia sudah meninggal." kata dokter itu. Aric yang mendengarnya langsung terdiam lemas, kepalanya menggeleng ini tidak mungkin! Tidak mungkin adiknya meninggalkan dirinya.
"Dokter bohong kan? Adik saya tidak mungkin meninggal, dokter jangan bercanda sama saya adik saya baik-baik saja!"
"Maaf pak perkataan saya benar, pasien sudah tidak ada." kata dokter sekali lagi, dia pasti mimpi ini tidak mungkin.
Aric masuk ke dalam ruang rawat dan benar saja yang dikatakan dokter itu kalau Mawar sudah meninggal, saat dirinya menyentuh tubuh Mawar dia merasakan kalau tubuhnya sudah menjadi dingin... sedingin es batu.
Suster yang sedang mencatat tanggal kematian Mawar langsung pergi saat catatan itu selesai, Aric terus menangis saat dirinya tidak bisa berbuat apapun.
"Mawar kenapa kamu ninggalin kakak, kenapa kamu ninggalin kita semua. Kamu janji mau menikah sama Bara kakak mohon bangun, kamu jangan bercanda sama kakak." tutur Aric sambil menggoyangkan tubuh Mawar, tapi percuma semuanya sia-sia Mawar tidak mungkin hidup kembali.
Vanesha yang berusaha kuat walaupun hatinya sangat hancur atas kepergian adiknya, dia pun mendekati suaminya dan mengusap pundak lebar suaminya.
__ADS_1
"Sayang kita keluar yuk! Kamu harus sabar kita tidak mungkin menunggu Mawar bangun dia sudah tidak ada." Aric menatap istrinya, dan memeluk tubuh Vanesha.
Aric menangis di pelukan istrinya dan Vanesha mencoba untuk menenangkan suaminya, setelah merasa tenang Vanesha membawa Aric keluar dan mayat Mawar sudah di pindahkan di kamar Mayat.
Aric mengurus semua surat-surat kematian di rumah sakit sedangkan Vanesha hanya duduk menatap kesibukan suaminya, berita kematian adiknya membuat dirinya tidak berdaya apalagi melihat mayat Mawar.
"Kamu janji sama kakak akan selalu bersama kakak, malah kamu yang meninggalkan kita semua." batin Vanesha. Dia tidak mungkin sedih saat semuanya merasa kehilangan, secepat ini Mawar meninggalkannya dan takdir tidak bisa di salahkan begitu saja.
Keesokan harinya Bara sudah di perbolehkan pulang, kabar baik bahwa dirinya keluar dari rumah sakit membuat dirinya senang dan dia akan menjenguk Mawar.
Sampai di rumah sakit Bara datang menuju kamar rawat Mawar tapi sampai di kamar dia sama sekali tidak melihat siapapun, suster pun datang saat seseorang datang menemui kamar nomor 19B.
"Maaf mas cari siapa?" Bara menatap suster itu.
"Pasien atas nama Mawar tidak ada di kamar, apa pasien sudah pulang sus!" suster itu diam dan bingung, antara tahu atau tidak dan dia memanggil suster yang dulu merawat kamar 19B.
"Pasien atas nama Mawar kemana ya sus?"
"Pasien atas nama Mawar sudah meninggal pak, kemarin jenazahnya sudah di bawa oleh pihak keluarga." jelas suster itu. Bara yang mengetahui informasinya langsung lemas, ini tidak mungkin mana mungkin Mawar meninggalkannya.
"Suster bohong kan? Mana mungkin Mawar meninggal!" ucap Bara sambil memegang kedua tangan suster itu, suster itu hanya bisa pasrah saat Bara terus menggoyangkan badannya.
"Saya tidak bohong pak! Kemarin pihak keluarga langsung membawa mayat pasien ke rumahnya." kata suster itu dan Bara melepaskan tangannya, kedua suster itu pun pergi sedangkan Bara masih tidak menyangka kalau Mawar secepat ini meninggalkannya.
"Mawar kamu janji sama aku kamu tidak akan ninggalin aku, tapi kenapa kamu ninggalin aku. Kamu bilang akan menikah sama aku dan kita akan menjadi suami istri tapi apa yang kamu berikan sama aku malah kamu ninggalin aku secepat ini!" batin Bara yang masih duduk di kursi tunggu.
__ADS_1
***
Bara memberikan pesan kepada Vanesha, dia ingin tahu dimana pemakaman Mawar. Setelah mendapatkan alamatnya dia pun bergegas untuk ke sana.
Yang dikatakan suster itu benar kalau Mawar sudah tidak ada, dan dia hanya menatap nama itu saat air matanya sudah menetes. Dia menyamakan posisinya dan mengusap batu nisan yang tertulis nama Mawar.
"Sayang kamu kenapa ninggalin aku, kamu sudah janji akan sama-sama sama aku. Kamu bilang akan selalu ada di samping aku tapi apa buktinya malah kamu ninggalin aku secepat ini." ucap Bara yang terus menatap batu nisan itu, dan tangannya langsung memeluknya seakan-akan dia memeluk Mawar.
"Aku kira ini mimpi ternyata kenyataan, gimana sama aku saat kamu pergi apa aku bisa hidup tanpa kamu." Bara terus mengucapkan kata-kata yang ia ucapkan, dia tidak peduli dengan penilaian orang lain yang penting dia bisa meluapkan isi hatinya.
Bara masih setia dengan posisinya dia sama sekali tidak ingin kembali, malah dia masih ingin berada di samping gundukan tanah. Tanpa ia sadari dia malah tertidur dan kebablasan sampai pagi, saat penjaga kuburan itu sedang memantau pemakaman tidak sengaja melihat seseorang di kuburan dan dia langsung membangunkan orang itu.
"Pak bangun pak!" ucap penjaga itu sambil menggoyangkan tubuh Bara, seketika Bara terbangun saat mendengar suara seseorang.
"Bapak ngapain tidur di sini, ini sudah pagi pak!" kata penjaga itu. Bara menatap sekeliling dan benar saja dia sudah tertidur di samping kuburan Mawar, sebelum pergi dia menatap batu nisan itu dan kembali untuk pulang.
Hari ini dia tidak ingin ke kantor dan dia malah ke tempat favoritnya dulu dengan Mawar, dia masuk ke tempat itu dan duduk di tempat biasa.
"Mawar andai kamu di sini mungkin kita akan berdua datang kemari, sekarang kamu sudah ninggalin aku dan aku yang akan datang ke tempat ini sendiri bukan sama kamu lagi." batin Bara. Bara mendongak menatap semua orang, dulu tempat ini menjadi tempat favorit mereka berdua dan sekarang tempat favoritnya.
Bara masih setia di tempat itu walaupun matahari sudah terbenam tapi dia masih setia, belahan hatinya sudah tidak ada dan dia akan menjalankan hidupnya sendiri tidak ada canda tawa dulu saat bersama Mawar. Tidak bisa mendengarkan wanita itu sedang marah, tertawa dan ngambeknya dia tidak bisa mendengarnya lagi.
Bara memejamkan matanya dan dia tersenyum saat mendengar wanita itu masih ada di sampingnya, walaupun wanita itu sudah pergi tapi suara dan kelembutannya masih ia rasakan.
Bara membuka matanya dan menatap kearah depan. "Terima kasih kamu sudah mau bertahan sama aku, mungkin aku tidak akan bisa melupakan kamu dan tidak akan pernah tergantikan kamu dengan wanita lain. Aku beruntung memiliki kamu walaupun takdir tidak mengizinkan kita bersama tapi aku bahagia bertemu sama kamu!"
__ADS_1
Bara berdiri dan kembali ke tempat mobilnya, mulai saat ini dia akan hidup sendiri tanpa ada seseorang di hatinya. Dia tidak tahu apakah dia bisa membuka lembaran baru atau malah dia akan hidup tanpa ada seseorang yang menggantikan Mawar.