
Hari semakin hari Mawar semakin membaik, dia hanya sendiri tanpa di temani oleh siapapun. Saat pertama kali dia sadar hanya ada seorang pria yang sedang menunggu dirinya, cowok itu mengaku kalau dirinya kaki tangan Bara.
Saat dirinya pulih Wawan menceritakan semuanya, kalau Bara akan tunangan dengan wanita lain. Saat mendengar itu semua hatinya terasa sakit, entah kenapa dia merasa tidak rela kalau Lelaki itu meninggalkan dirinya. Malah Wawan meminta dirinya untuk menghadiri pertunangan Bara, apa dia bisa datang ke sana sebelum pertunangan itu di mulai.
Apalagi dirinya belum bisa pulang saat dokter belum mengizinkan dirinya pulang, saat itu juga dia melihat pintu terbuka dan di sana dia melihat lelaki yang sama saat pertama kali menatap lelaki itu.
“Ada apa? Kenapa wajah kamu seperti itu, apa ada masalah.” ucap Mawar yang terlihat jelas kalau lelaki itu sedih.
“Pertunangan Bara di percepat, saya kira minggu depan. Tapi kenyataan besok pagi mereka mengadakan pertunangan,”
Mawar yang mendengar kabar dari mulut Wawan terasa kaku saat bibir ini tidak bisa di ucap, apa dia harus merelakan cowok itu dengan wanita lain. Andai dia bisa mengutarakan isi hatinya lebih awal mungkin tidak mungkin terjadi seperti ini.
“Gimana kata dokter, apa saya boleh pulang.” ucap Mawar yang menatap Wawan.
“Hari ini kamu pulang, kalau gitu saya akan membantu kamu menyiapkan perlengkapan kamu.” urai Wawan membuat Mawar tersenyum, dia tidak lupa mengucapkan 'terima kasih' kepada lelaki ini.
Sebelum pulang Wawan sudah membayar Administrasi rumah sakit, jadi dia akan mengantarkan wanita ini. Wawan dia tidak memberitahu Bara kalau wanita ini sudah pulih, saat dia menghubungi Bara malah yang menjawab orang tua Bara bukan bosnya. Jadi dia terpaksa untuk mengurus Mawar sampai wanita ini sembuh, dia hanya berharap kalau Mawar akan mengakhiri pertunangan ini.
Mobil yang di kendarai Wawan sampai di depan rumah, dia membantu untuk membawa barang-barang Mawar saat masih berada di rumah sakit. Wanita itu turun dari mobil menuju ke depan pagar rumah, di sana Wawan memberikan koper kepada Mawar membuat wanita itu tersenyum.
“Terima kasih kamu sudah mengantarkan saya, kalau saya tidak bisa mengakhiri pertunangan bos kamu. Apa saya boleh pergi jauh dari kehidupan Bara, lelaki itu lebih pantas mendapatkan wanita yang tepat dari pada saya.”
Wawan menatap wanita itu dengan iba, dia merasa kasihan saat kisah percintaan mereka berdua tidak semulus yang dia bayangkan. Dia yakin pasti wanita ini akan mendapatkan lelaki yang tepat, dia hanya berharap kalau dia sempat membawa wanita ini ke tempat acara pertunangan Bara.
Kamu harus kuat Mawar, kamu tidak boleh lemah. Walaupun kamu tidak bisa mendapatkan dia lagi, aku yakin masih ada cowok yang masih mau menerima kamu dan bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari Bara.
“Besok pagi Bara akan bertunangan, sedangkan dirinya hanya menatap kebahagiaan orang lain. Saat seperti ini dia hanya bisa mengikhlaskan orang yang dia cintai, mungkin ini takdir tuhan yang harus dia relakan.”
__ADS_1
Mawar hanya menatap cermin, mungkin saat ini tubuhnya masih terasa lemas tapi tidak dengan hatinya. Apa hatinya akan kuat dengan semuanya? Apa dia bisa menerima semuanya?
Mawar berdiri dan menghampiri kasur yang sangat ia rindukan, dulu saat dia bersama dengan lelaki itu. Pasti Bara akan menemaninya sampai dirinya tertidur pulas, tapi sekarang cowok itu hanya bisa menatap kearah jendela kamar.
“Sekarang gimana keadaan kamu Mawar, apa kamu baik-baik saja. Aku merindukan kamu, andai pertunangan ini tidak terjadi mungkin aku akan memilih untuk menemani kamu.” batin Bara yang hanya menatap langit kamar.
Hari ini pagi ini dia akan memulai kehidupan baru, kehidupan bersama dengan wanita lain bukan dengan Mawar. Saat ini dia butuh Mawar, hanya wanita itulah yang bisa menjadi pasangan hidupnya bukan orang lain.
Manda yang hanya menatap putranya sedang berias langsung mendekati Bara, anak terakhir dari dua bersaudara sudah besar. Dia tidak menyangka kalau putranya akan bertunangan dan sebentar lagi menikah, tidak kerasa waktu begitu cepat dan hari ini dia melihat putranya dengan berpakaian seperti pasangan.
“Kamu sudah siap,” ucap Manda membuat Bara menatap ibunya.
“Sudah bu,”
Manda membawa Bara ke tempat acara, di sana dia sudah melihat banyak orang yang akan menyaksikan acara pertunangan ini. Pertunangan yang di saksikan oleh banyak orang.
Wawan yang mendapatkan telepon dari Mawar langsung menghampiri wanita itu, saat dia baru saja duduk di ruang tamu dia tidak sengaja menatap Mawar yang begitu cantik. Dia hanya terpana dengan kecantikan alami yang dimiliki Mawar, walaupun wanita ini sudah pernah menikah tapi kesan kecantikannya semakin bertambah.
Mawar yang hanya menatap Wawan aneh langsung menyadarkan lelaki ini, membuat Wawan tersadar kalau dirinya menatap Mawar tanpa bilang kepada orangnya.
Mawar hanya berjalan lebih dulu dari Wawan, sedangkan Wawan yang mengikuti Mawar dari belakang hanya bisa menatap punggung wanita ini. Mungkin kalau dia bosnya dia akan memilih Mawar untuk menjadi istrinya, baginya status tidak di permasalahkan yang penting dia bisa membahagiakan wanita ini.
“Ada apa? Kenapa kamu menjadi bisu, apa ucapan aku membuat kamu sakit hati.” ucap Mawar yang menatap Wawan.
Wawan melepaskan jaket dan memberikan jaket itu kedalam tubuh Mawar, Mawar hanya menerima jaket yang di berikan Wawan. Mungkin sekarang dia mengetahui kenapa Wawan bersikap aneh, karena penampilannya yang terlalu terbuka membuat lelaki itu gugup saat di dekatnya.
Sampai di tempat acara mereka berdua keluar dari mobil, di tempat acara semua orang sudah pada datang untuk menemui calon tunangan pengusaha besar. Semua orang pada memperhatikan mereka berdua, sedangkan Mawar hanya melihat mereka dari kejauhan. Dia tidak tau dari sentuhan mana tiba-tiba saja air matanya terjatuh, membuat dirinya terdiam saat melihat pasangan serasi yang sedang tersenyum.
__ADS_1
Saat cincin yang di ambil oleh Nadira, dia pun meminta Bara untuk memberikan tangan kiri dan cincin itu berhasil memasuki jari manis. Semua orang pada bertepuk tangan saat cincin itu terpakai di jari manis Bara, lelaki itu langsung melanjutkan mengambil cincin untuk dia pakaikan ke jari Nadira. Saat itu juga Bara menatap Wawan bersama dengan pasangannya, semakin dia menatap wanita itu semakin dia sadar bahwa wanita itu adalah Mawar.
Saat itu juga semua orang pada menatap kearah Bara, tidak dengan tamu undangan yang melihatnya melainkan orang tua mereka yang menatap Bara bingung.
Manda dengan cepat menyenggol tangan Bara untuk menyadarkan putranya, saat itu juga Bara tidak bisa melakukan kegiatan yang membuat dirinya tidak terima dengan acara seperti ini.
Mawar hanya heran kenapa Bara tidak memakai cincin pertunangan ke jari wanita itu, apa ada masalah dengan Bara yang secara tiba-tiba berhenti.
“Maaf om tante, aku tidak bisa melanjutkan pertunangan ini.” ucap Bara membuat semua orang pada berbisik.
“Kamu kenapa Bara, kenapa kamu tidak bisa melakukan pertunangan ini. Bukannya kamu menyetujui pertunangan ini,” ucap Manda yang sedikit kesal dengan ucapan Bara.
“Mah... Pah! Maaf Bara tidak bisa melakukan keinginan kalian, Bara hanya mencintai satu wanita yang sekarang berada di sini. Bara tidak menerima pertunangan ini kalau bukan orang yang Bara cintai,” ucap Bara yang tidak lepas menatap Mawar, lelaki itu bukannya mendengar perkataan ibunya malah dia berjalan menghampiri Mawar.
Mawar hanya menatap lelaki itu saat mengarahkan kearah dirinya, kenapa Bara datang kemari bukannya lelaki itu ingin bertunangan dengan wanita pilihan orang tuanya. Bara menatap Mawar saat dia berada di hadapan wanita ini, semua orang yang berada di tempat acara hanya menatap dua pasangan tersebut.
“Bara kamu ngapain berada di sini, seharusnya kamu melakukan pertunangan ini bukan bersamaku.” tatapan Bara masih melekat di wajah Mawar, Mawar yang di tatap hanya menahan gugup saat lelaki ini menatap dirinya tanpa penjelasan apapun.
Bara mendekati Mawar membuat wanita itu semakin gugup, saat wajah mereka saling dekat saat itu juga Bara mencium bibir Mawar di depan semua orang. Semua orang hanya tersenyum saat dua pasangan tersebut saling mencintai, saat Manda ingin memisahkan mereka berdua saat itu juga Ridwan menahan dirinya.
“Biarkan aja dia mah, dia sudah besar. Bara bisa memilih wanita yang dia cintai, kita sebagai orang tua tidak boleh melarang kebahagian anaknya.” ucap Ridwan membuat Manda terdiam, saat perkataan suaminya benar.
Jadi selama ini dialah yang mengatur kehidupan anaknya, sampai-sampai ketiga anaknya pada menentang tapi akhirnya hidup mereka baik-baik saja.
Dengan cepat Mawar mendorong Bara, membuat lelaki itu menatap Mawar dengan datar. Kenapa wanita ini malah melepaskan ciuman mereka, apa dia tidak tau kalau dirinya sangat merindukan wanita ini.
“Kamu kenapa melepaskan ciumanku, apa kamu tidak tau kalau aku sangat merindukan kamu. Apa kamu tidak tau kalau aku sampai mati gara-gara kamu, aku sudah menunggu kamu lama saat di rumah sakit. Malah kamu membalas ku seperti ini, apa kamu tidak menyukai aku berada di samping kamu.” ucap Bara yang meminta jawaban dari Mawar.
__ADS_1
“Aku...”