
Akhirnya mereka berdua sampai di rumah sakit, vanesha dan aric langsung saja masuk ke ruang rawat ayahnya.
“Pagi yah,” sapa vanesha
Alison yang mendengar suara pintu terbuka langsung melihat kearah pintu ternyata yang datang adalah putrinya, tapi siapa laki-laki itu?
“Pagi sayang,” jawab Alison
“Gimana keadaan ayah?” tanya vanesha
“Ayah sudah baikan, dokter hamzah bilang ayah besok bisa pulang ke rumah,” ujar Alison
“Kamu siapa? sepertinya saya tidak pernah melihat kamu,” Alison melihat kearah aric
Aric menyalami tangan alison, “Vanesha dia pacar kamu?” tanya alison kepada putrinya
Saat vanesha ingin menjawab sudah disela oleh aric, “Belum pacaran si om tapi lagi pendekatan saja.” jawab aric tanpa dosa
Vanesha langsung mencubit tangan aric dengan keras dan pemilik tangan yang vanesha cubit merasakan kesakitan akibat ulahnya.
“Ayah harap kalian bisa bahagia bersama dan bersatu, apalagi kalo kalian sampai menikah ayah sangat senang sekali mendengarnya,” tutur Alison
Vanesha hanya tersenyum kecut sedangkan aric dia malah kelihatan bahagia mendengar ucapan alison.
“Om saya sudah berikan buah untuk om, jangan lupa dimakan ya om. Semoga om cepat membaik seperti dulu,” kata aric
“Makasih ya nak aric,”
“Iya om, Sama-sama,”
Vanesha menarik aric keluar, “Apa-apaan si pak, kenapa bapak ngomong kaya gitu. Pendekatan-pendekatan saya kerja sebagai Asisten pribadi bapak bukan sebagai pasangan bapak, awas aja kalo bapak sampai ngomong kaya gitu lagi sama ayah saya.” ancam vanesha
“Kamu ngancem saya,”
“Iya, kenapa?”
“Ancaman kamu tidak ada manfaatnya, malah saya berharap omongan saya menjadi kenyataan,” ucap aric sambil mendekat kearah vanesha
“Bapak jangan macam-macam sama saya, kalo bapak macam-macam saya teriak disini,” ujar vanesha
Tapi aric tidak peduli dengan ucapan vanesha malah dia semakin mendekati vanesha, sampai-sampai vanesha tidak bisa mundur lagi karena sudah terhalang oleh tembok, aric menaruh tangannya ke tembok dan tangan satu lagi.
“Kamu taukan akibatnya kalo kamu sampai ngancam saya,”
“Akibatnya apa?”
__ADS_1
Aric membisikkan kata-kata yang membuat vanesha merinding, “Saya akan menangkap kamu dan menjadikan kamu sandra untuk kepuasan seorang singa.” lontar aric
Vanesha menelan ludahnya, Gila ni cowok ngeri amat liatnya, berasa gue diterkam sama harimau. batin vanesha
Dengan cepat vanesha mendorong tubuh tegap aric biar bisa menjauh dengannya, “Permisi mba mas, pasien bernama alison ingin bertemu dengan anda pak.” ucap suster yang merawat alison
“Baik Sus. saya akan ke sana,”
Aric membuka pintu ruang inap alison dan aric langsung duduk di samping alison, “Nak maafin vanesha ya, kalo dia melakukan hal yang tidak baik sama kamu. Vanesha sebenarnya bukan seperti itu orangnya dia anak yang baik dan pekerja keras. Walaupun dia keras kepala tapi saya yakin kalo dia bisa menjaga dirinya baik-baik. Nak ayah boleh minta satu permintaan sama kamu?” ujar alison
“Silahkan om, om bilang aja saya akan mendengarnya,”
“Nak aric. Ayah minta kamu jagain vanesha baik-baik ya, jangan membuat dia menangis buat dia bahagia nak. Ayah belum sempat membahagiakannya jadi ayah mohon berikan dia senyuman dan kebahagiaan yang selalu dia kenang. Semenjak ibunya meninggal ayah tidak pernah melihat dia tersenyum malah ayah melihat dia menderita,” alison menghentikan ucapannya dan alison memegangi tangan aric dengan satu tangan, “Kamu bisa kan mengikuti keinginan ayah untuk membuat putri ayah bahagia.” sambung alison
Aric tersenyum kearah alison dan mengangguk, alison yang mengetahui jawaban dari aric hanya bisa bernafas lega. Akhirnya ia bisa menitipkan putrinya kepada laki-laki yang tepat. Dan alison menjatuhkan tangannya ke kasur, aric yang merasakan ada hal yang aneh langsung memanggil dokter.
“Dok.. dokter,” panggil
Vanesha yang melihat atasannya panik langsung menanyakannya, “Pak, bapak kenapa?”
Aric hanya diam tidak menjawab pertanyaan vanesha akhirnya dokter hamzah datang memasuki ruangan inap alison, dokter hamzah memeriksa tubuh pasien dan juga denyut nadinya. Hamzah melihat atasannya sudah tidak bernyawa lagi, dia langsung menyuruh suster untuk mengurus jenazah alison.
Beberapa menit kemudian dokter hamzah keluar dari ruangan tersebut dan dia melihat vanesha, dia tidak tega memberi kabar duka ini kepada vanesha.
“Vanesha,” panggil dokter hamzah
Dokter hamzah menghela nafasnya, “Maafkan saya vanesha, saya sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan berkata lain.” tutur dokter hamzah
Vanesha menggeleng kepalanya, “Itu tidak mungkinkan dok, dokter jangan bohongin saya dong. Gak mungkinkan ayah ninggalin aku, gak mungkinkan dok. Jawab dok, JAWAB.” papar vanesha sambil memukul dan menarik baju dokter hamzah.
“Gak mungkin, ayah gak mungkin ninggalin aku. Ayah,” ujar vanesha menangis tersedu-sendu
Aric yang melihatnya hanya bisa menenangkan vanesha, “Vanesha kamu yang sabar ya, aku yakin kamu pasti bisa ngelewatin ini semua.” Ujar aric sambil mengelus pundak vanesha
“Hiks.. Hiks.. gak pak, ayah saya gak mungkin ninggalin saya. Ayah sudah janji mau pulang bareng saya ngumpul seperti dulu lagi. Saya hanya mimpikan pak,” jawab vanesha sambil melihat kearah aric
Aric langsung memeluk vanesha untuk menenangkan vanesha, “Pak ayah saya.. pak, hiks. hiks... gak mungkin.. semuanya gak mungkin, kenapa semuanya pada ninggalin saya pak, KENAPA.” tutur vanesha sambil menangis didalam pelukan aric
Akibat menangis vanesha tidak sadarkan diri, aric yang tidak mendengar suara vanesha langsung memeriksa vanesha, ternyata vanesha pingsan langsung saja dia memanggil suster untuk memeriksa vanesha.
“Sus.. suster,” panggil aric
Suster pun datang, “Tolong saya Sus, vanesha pingsan.” ujar aric dengan nada khawatir, aric mengangkat vanesha ketempat tidur dan suster membawa vanesha untuk diperiksa.
Aric masuk keruang rawat, “Gimana keadaan kamu?” tanya aric
__ADS_1
“Kenapa kepala saya pusing banget,” jawab vanesha sambil memegangi kepalanya.
“Tadi kamu pingsan,”
Pingsan? yang dia ingat dia bertemu dengan ayahnya dan..
“Gimana sama ayah saya pak, omongan dokter hamzah gak benarkan pak. Jawab pak,” ujar vanesha sambil menatap aric
“Yang dikatakan dokter memang benar, ayah kamu sudah tidak ada,”
“Gak mungkin pak, gak mungkin,” Vanesha melemparkan semua barang-barang yang ada disekitar kamar rawatnya dan dengan sigap aric menahan vanesha melakukan hal bodoh lagi.
“Saya bilang hentikan, kamu gila ya. Kamu jangan melakukan hal yang bodoh vanesha, saya tau kamu sedih tapi saya mohon jangan lakukan itu, saya tidak mau kamu melukai diri kamu sendiri,” tutur aric dan aric memeluk vanesha dan menenangkannya.
“Kamu bisa nangis sepuasnya saya tidak akan melarang kamu, tapi saya mohon jangan menyakiti diri kamu sendiri apalagi melakukan hal bodoh seperti tadi,” ungkap aric
Akhirnya vanesha bisa tenang dengan sikap aric, “Saya akan nganterin kamu pulang, masalah ayah kamu nanti saya akan mengurusnya.” ujar aric dengan lembut
***
Pagi harinya vanesha terbangun dari tidurnya dan vanesha hanya termenung menatap kearah jendela kamarnya, Ayah kenapa ayah ninggalin vanesha secepat ini, ayah janji sama vanesha untuk kumpul seperti dulu lagi. Kenapa ayah malah ninggalin vanesha. batin vanesha tanpa disadari air matanya tumpah membasahi pipi.
Aric sedang menyiapkan susu coklat hangat dan roti yang di oleskan selai coklat dan membawanya ke kamar vanesha.
“Kamu sudah bangun,” ucap aric saat melihat vanesha duduk sambil menatap kearah jendela. Aric meletakkan sarapan vanesha di atas meja.
Aric mendekati vanesha dan mengelus tangan vanesha, “Saya tahu kamu masih sedih dengan kematian ayah kamu, tapi kamu jangan terlalu terpuruk dengan semuanya. Kamu tidak sendirian kamu masih ada aku dan yang lain.” kata aric sambil menenangkan vanesha.
“Kamu ingin ke pemakaman ayah kamu atau ingin istirahat saja di rumah,” tanya aric
Vanesha menatap wajah aric, “Saya ingin ke makam ayah saya pak.” jawab vanesha
“Baik. Tapi kamu makan dulu, selesai sarapan kamu bisa siap-siap ke pemakaman ayah kamu.” lontar aric
Vanesha hanya mengangguk dan menerima sarapan yang diberikan aric kepadanya, selesai sarapan aric mengantarkan vanesha ke tempat pemakaman ayahnya.
Sampai di sana vanesha melihat batu nisan yang tertulis nama ayahnya, dia langsung jongkok dan menatap batu nisan tersebut.
“Maafin vanesha ayah, vanesha tidak bisa menjaga ayah. Semoga ayah tenang di sana, vanesha akan datang menemui ayah lagi semoga ayah tenang di sana,” ujar vanesha
Aric melakukan hal yang sama kepada vanesha, “Om saya janji akan menjaga putri om, saya tidak akan membuat dia menangis, saya akan membuat dia bahagia.” tutur aric
Vanesha yang mendengar ucapan aric hanya tersenyum, apakah tuhan sudah mengirimkan seseorang untuk menjaga dirinya dan menggantikan sosok ayah dalam hidupnya.
“Kita pulang yuk,” ajak aric
__ADS_1
Vanesha mengangguk dan mereka berdua menuju mobil untuk kembali ke rumah.