
Mereka berdua sekarang sedang menikmati kencan yang dibuat Aric, dia sungguh merindukan jalan berdua dengan Vanesha. Apalagi saat Vanesha pergi hidupnya benar-benar hampa.
Saat mereka asik dengan kencan berdua tiba-tiba saja Dara memeluk Aric membuat Vanesha terkejut melihat itu semua, sedangkan Dara meledek dirinya dari belakang. Dengan cepat Aric melepaskan pelukan Dara dengan kasar membuat pemilik badan meringis kesakitan.
“Kamu kenapa kasar seperti ini! Kamu tidak tau kalo aku ingin di peluk seperti dulu dan melakukan banyak kenangan yang kita lakukan dulu,” ucap Dara membuat Vanesha hanya bisa berdiam melihat interaksi mereka berdua.
“Dulu sama sekarang sudah berbeda, dulu aku menganggap kamu sebagai sahabat bukan lebih dan sekarang aku sudah mendapatkan wanita pilihanku,” kata Aric sambil memeluk Vanesha dengan erat.
“Dia Vanesha calon istriku,” kata Aric untuk meyakinkan Dara bahwa dirinya sudah ada yang punya.
“Dia? Calon isti mu! Tidak mungkin,” lontar Dara yang tidak percaya menerima kenyataan yang sebenarnya. “Dia hanyalah pengganggu hubungan kita dan dia wanita murahan yang hanya merebut kamu dari aku,” timpal Dara penuh emosi dan saat itu juga Aric menampar Dara.
Plak
“Jaga ucapan kamu, kalo kamu berani menghina calon istriku aku tidak akan segan-segan membuat kamu menyesal atas ucapan kamu,” murka Aric saat dia tidak terima bahwa Vanesha dikatain wanita murahan.
Aric langsung menarik tangan Vanesha dan membawa Vanesha pergi, Vanesha kaget saat dia melihat Aric marah. Baru kali ini dia melihat Aric marah segitunya, biasanya dia tidak pernah melihat Aric marah.
Saat Aric mengetahui bahwa Vanesha berhenti dari langkah kakinya dan dia pun ikut berhenti sambil melirik kearah Vanesha, “Ada apa? Kenapa kamu berhenti!” kata Aric.
Dia tau bahwa Vanesha ketakutan apalagi saat dia emosi pasti Vanesha baru pertama kali melihat dia emosi, biasanya dia tidak pernah meluapkan emosi kepada siapapun kecuali musuhnya.
Aric mendekapkan Vanesha ke pelukannya untuk menenangkan Vanesha, dia tau pasti Vanesha kaget melihat dirinya emosi apalagi sampai menampar perempuan. Tapi yang di lakukan Aric sudah benar apalagi Dara memperlakukan Vanesha sebagai wanita murahan.
“Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk menakuti kamu, aku marah karena aku tidak suka kalo wanita yang aku cintai diperlakukan seperti itu. Kamu taukan kalo aku benar-benar mencintai kamu,” walaupun Vanesha merasa ketakutan tapi Vanesha mendengar ucapan Aric dan membuat dirinya mengangguk.
Dan dia langsung melepaskan pelukannya sambil menatap mata Vanesha, “Kamu jangan takut lagi ya! Aku tidak akan memperlakukan kamu seperti tadi, aku hanya ingin melindungi kamu dari orang-orang yang berniat jahat sama kamu!”
Setelah Aric meyakinkan Vanesha dia pun menggandeng tangan Vanesha ke sesuatu tempat yang belum pernah mereka datangi. Saat itu juga Vanesha benar benar terpukau melihat pemandangan yang dia lihat, sungguh baru pertama kali dia merasakan hadiah yang membuat dirinya senang.
“Gimana kamu suka sama hadiahku?” tanya Aric saat dia masih menatap Vanesha.
__ADS_1
Vanesha melirik Aric dan tiba-tiba saja Vanesha mencium pipi Aric membuat Aric terkejut dengan perlakuan Vanesha, dia senang melihat Vanesha bahagia apalagi hanya Vanesha satu-satunya perempuan yang dia miliki.
***
Sekarang mereka sedang berada di ruang tamu sambil menonton televisi dan posisi mereka bersandar satu sama lain, “Aku boleh tanya sama kamu!” ucap Vanesha membuat Aric mengangguk.
“Kenapa kamu memilih aku untuk jadi calon istri kamu—” kata Vanesha yang masih menatap kearah Aric. “Bukannya diluar sana masih banyak wanita cantik yang ingin menjadi pendamping kamu, kenapa harus aku yang kamu pilih?” sambung Vanesha dengan penuh penasaran.
Aric hanya tersenyum saat Vanesha menanyakan pertanyaan membuat dirinya gemas, “Karena kamu cantik—” belum juga Aric melanjutkan perkataannya sudah dicekal oleh Vanesha.
“Oh cantik ya!” gumam Vanesha dengan pelan yang masih di dengar oleh Aric.
“Bukan hanya cantik tapi hatinya baik, perempuan kuat, pemberani dan tidak pantang menyerah. Walaupun cobaan yang kamu hadapi banyak tapi kamu tidak pernah mengeluh dari situlah aku mulai jatuh cinta sama kamu,” kata Aric sambil mencubit hidung Vanesha.
Aric berhasil membuat Vanesha malu apalagi perkataan yang dia ucapkan, sebenarnya dia bukan sesempurna itu. Dirinya hanya wanita biasa yang harus tegar dengan keadaan, dunia yang dia hadapi harus kuat, tidak boleh tergores seperti luka yang sudah ditusuk tapi bekasnya tidak bisa hilang.
“Ada lagi yang ingin kamu tanyakan!” ucap Alister membuat Vanesha menggeleng.
“Memang kamu yakin kalo aku bakal mau menikah sama kamu,” ucap Vanesha yang ingin mengerjai Aric.
Aric yang mendengar perkataan Vanesha langsung menatap mata Vanesha dengan tatapan tajam tapi Vanesha tidak takut dengan tatapan yang diberikan Aric.
“Kalo kamu tidak mau menikah denganku, aku bakal paksa kamu untuk menikah sama aku dan aku bakal melakukan hal lebih sebelum kita menikah,” godaan Aric sukses membuat Vanesha terdiam. Ancaman yang diberikan Aric sukses membuat dirinya membatu.
Dengan cepat Aric menarik pinggang Vanesha dan memeluk Vanesha dengan erat, “Lebih baik kita menikah dari pada aku melakukan hal yang tidak-tidak sama kamu!” wajah Aric semakin mendekati Vanesha membuat Vanesha menelan saliva.
Aric mematikan televisinya saat dia melihat jam dinding sudah pukul 11 malam, “Kenapa dimatiin televisinya,” ucap Vanesha saat film yang dia suka di matiin.
“Sudah malam sayang waktunya tidur,” kata Aric dan Aric langsung menggendong Vanesha dengan lihai sambil membawa Vanesha ke dalam kamar.
Aric menutup pintu kamar dengan kakinya dan meletakan Vanesha di atas ranjang dengan sangat hati-hati, “Kamu tidur duluan ya! Aku masih ada urusan pekerjaan yang belum aku selesaikan,” ujar Aric sambil mencium kening Vanesha.
__ADS_1
Sudah berapa kali Vanesha menutup matanya tapi hasil nihil malah sekarang dia tidak bisa tidur, dia bingung harus apa. Malah sekarang matanya tidak bisa di kompromi untuk tidur, akhirnya dia terpaksa untuk bangun dan keluar untuk mengambil cemilan.
Saat Vanesha menuju dapur dia tidak sengaja mendengar suara dari balik kamar sebelah, saking penasaran dia langsung menuju kearah sumber suara. Ternyata dia melihat Aric menelpon seseorang yang dia tidak tau mereka membicarakan apa?
Saat dia ingin mendengar secara dekat tiba-tiba saja Aric mematikan sambungan teleponnya dan membuat Vanesha dengan cepat keluar dari persembunyiannya.
Saat Aric mematikan sambungan telepon dia merasakan ada seseorang yang mendengarkan pembicaraannya dan saat dia keluar ternyata tidak ada orang, mungkin perasaannya. Vanesha penasaran dengan Aric kenapa Aric menelpon seseorang dari jauh, biasanya tidak seperti ini.
Saat dia mendengar suara langkah kaki dia langsung tertidur walaupun dia hanya pura-pura tidur saja, Aric yang membuat pintu kamar ternyata Vanesha masih terlelap dan dia langsung menutupnya kembali.
Akhirnya Vanesha bisa bernafas lega, untung saja dia tidak ketahuan. Kalo ketahuan bisa bahaya, sekarang yang dia lakukan hanyalah tidur dan tidak boleh memikirkan macam-macam.
Pagi harinya seperti biasa Vanesha terbangun dan menuju kamar mandi, setelah mandi dia langsung menuju meja makan. Tapi di sana dia tidak melihat Aric dan dia hanya melihat asisten rumah tangga yang berada di dapur.
“Bi, bibi liat Aric gak?” tanya Vanesha.
“Den Aric tadi sudah pergi non, tapi bibi tidak tau mau kemana? Soalnya yang bibi liat dia buru-buru,” urai asisten rumah tangga.
Sebenarnya dari semalam dia sudah curiga ada sesuatu yang Aric sembunyikan darinya, tapi apa yang dia sembunyikan.
Apa dia menyelidikinya secara langsung dari pada dia dibuat penasaran lebih baik dia menyelidiki secara langsung, tapi dia tidak tau harus kemana dulu? Dia aja tidak tau Aric kemana.
Selesai sarapan dia langsung menuju kantor dan bertemu dengan Ava, saat mengetahuinya ekspresi yang diberikan Ava biasa saja dan tidak biasanya Ava seperti ini.
Ava tau kalo atasannya tidak mudah mempercayai drinya apalagi dia sudah berjanji kepada Aric untuk merahasiakan semuanya, “Kenapa mba melihat saya seperti itu?” tanya Ava yang masih tetap tenang walaupun dia takut kalo ketahuan dengan bosnya.
“Tidak, hanya saja sifat kamu tidak seperti biasanya!” benarkan yang dia pikirkan bosnya ini tidak mudah dibohongi apalagi dia sudah menyembunyikan rahasia yang diberikan Aric.
“Hahaha, mungkin perasaan mba saja!” kata Ava sambil tertawa untuk menghindari tatapan bosnya yang ingin memangsa musuhnya.
“Sudahlah lagian juga Ava tidak tau apa-apa tentang hubungannya,” batin Vanesha.
__ADS_1
“Kalo gitu aku kembali ke ruangan ku dulu,” ucap Vanesha membuat Ava mengangguk. Dan Ava akhirnya bisa bernafas lega untung bosnya tidak curiga kepadanya.