BosQ Pemikat Hati

BosQ Pemikat Hati
Awal Baru Sebuah Misi


__ADS_3

Keesokan harinya vanesha dikabarkan oleh aric untuk datang kerumahnya jam sepuluh pagi, jadi ia masih banyak waktu untuk datang ke kantornya.


Vanesha sudah rapih dengan stelan kantor yang ia kenakan, saat ia turun dari bawah frey orang kepercayaan ayahnya datang menemuinya.


“Ada apa frey?” tanya vanesha


“Maaf mba saya kesini gak ngabarin mba, tapi saya diperintahkan sama dokter pribadi ayah mba untuk menemui mba. Ada hal yang ingin dibahas oleh dokter hamzah,” Jelas frey


“Baik saya akan ke sana, tolong kamu cek perusahaan bilangin ke ava sekretaris saya untuk menghandle urusan kantor,” ujar vanesha


“Baik mba, kalo begitu saya permisi,” jawab frey


Vanesha langsung saja ke rumah sakit untuk menemui dokter hamzah, saat ia sudah sampai di rumah sakit ia langsung saja menemui dokter hamzah di ruangannya.


“Ada apa dok?” tanya vanesha


“Sepertinya mba vanesha harus mengambil bunga autaristik secepat mungkin mba, karena saya takut Kondisi pak Alison menurun,” jelas dokter hamzah


“Baik dok, saya akan berusaha semaksimal mungkin,”


Vanesha menjenguk ayahnya diruang inap, di sana ia merasakan sedih melihat ayahnya berbaring di brankas tempat tidur. Jujur seharusnya dia tidak mempercayai ibu tirinya, seharusnya ia menjaga ayahnya bukan membiarkan ayahnya masuk ke rumah sakit.


Sebelum vanesha berangkat ke rumah aric dia tidak lupa mengganti pakaian yang menurutnya sangat sopan, selesai mengganti pakaian ia langsung bergegas ke rumah aric.


Dia ke rumah aric tidak memakai mobil melainkan pakai motor, karena bagi dia motor lebih cepat dari pada mobil. Sampai di rumah aric ia langsung memasuki halaman rumah aric.


Dia terkesan dengan apa yang ia lihat, ini benar rumahnya pak aric, sumpah ini mah besar Benget rumahnya. lebih besar dari rumah ayah gue. batin vanesha


Vanesha langsung menuju pintu rumah dan memencet bel.


Ting.. nong


ART yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk majikannya langsung menuju bel yang berbunyi. ART membuka pintu rumah majikannya dan dia melihat seorang perempuan yang sangat cantik dan berpenampilan sederhana.


“Ada yang bisa dibantu mba,” ucap art


“Didalam ada pak aric bu,” jawab vanesha


“Oh den aric, den aric ada didalam mba. Mba siapa ya?” ucap art


Belum sempat vanesha menjawab aric sudah menyambar pembicaraannya, “Siapa bi.” ucap aric yang melihat art berbicara kepada seseorang.


“Seorang perempuan den,”


Perempuan? Dia langsung menghampiri art dan benar saja perempuan tersebut adalah vanesha yang meminta untuk bekerja dirumahnya sebagai art.


“Biarkan dia masuk bi,” perintah aric


“Mari non masuk,”


Vanesha mengangguk dan dia langsung masuk kedalam, “Kamu tunggu disini, saya akan kembali.” ucap aric


Vanesha hanya mengangguk dan aric kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu, saat ia menemukan apa yang dia cari langsung saja ia memberikan sebuah buku catatan yang sudah ia tuliskan dari malam.


“Itu catatan yang harus kamu baca, kamu bekerja bukan jadi asisten rumah tangga tapi sebagai asisten pribadi saya,” ucap aric sambil mengangkat kakinya ke kaki sebelah.


Vanesha terkejut dengan ucapan aric, ini serius gue jadi asisten pribadi pak aric, kan gue minta asisten rumah tangga bukan asisten pribadi dia. batin vanesha


“Kenapa kamu tidak suka dengan perintah saya, kalo kamu tidak suka lebih baik kamu pergi saja. Kamu yang minta bekerja di rumah saya bukan saya,” jelas aric


“Tidak pak, saya hanya heran saja. Kenapa bapak menjadikan saya asisten pribadi bapak bukan asisten rumah tangga,” ucap vanesha


“Karena di rumah saya sudah banyak pembantu, saya tidak ingin menambah pembantu lagi. Jadi kamu saya tugaskan untuk mengatur jadwal sehari-hari saya dan kamu harus pelajarin semuanya yang sudah saya berikan ke kamu,” tegas aric


“Baik pak. Kalo begitu saya permisi,”

__ADS_1


Belum sempat vanesha pergi sudah dicegah oleh aric, “Saya tidak menyuruh kamu pergi.” ucap aric dengan wajah datar.


“Kamu harus tinggal di rumah saya dan saya beri kamu waktu untuk mengambil barang-barang kamu yang ada di rumah,” ujar aric


“Tapi pak, saya punya tempat tinggal. Kenapa bapak menyuruh saya tinggal di rumah bapak,”


“Ya karena saya tidak mau kamu telat makanya saya suruh kamu untuk tinggal di rumah saya,” ucap aric dengan santai


“Tapi pak,”


“Lebih baik kamu ambil barang kamu di rumah dari pada saya berubah pikiran, lebih baik kamu ikutin perintah saya,” tegas aric


“Baiklah kalo itu mau bapak saya akan pulang untuk mengambil barang-barang saya,”


Vanesha pun pergi tanpa pamit sama pemilik rumah, dia langsung mengambil motor matic nya di bagasi rumah aric.


Sampai di rumah ia langsung menuju kamarnya dan mengambil koper untuk memasukkan pakaian dan lainnya, saat ia sedang membereskan pakaian tiba-tiba saja bi surti melihat majikannya membereskan barang-barang.


“Non.. non mau kemana? kenapa non membawa semua barang-barang,” ucap bi surti


Vanesha menghentikan aktivitasnya dan menatap kearah bi surti, “Bi saya hanya melakukan tugas saya sebagai seorang anak, saya akan mencari obat penawar untuk ayah bi, bibi do'ain aku ya supaya aku berhasil mendapatkan obat penawar untuk ayah.” jawab vanesha


“Ya non, bibi pasti akan dukung non dan bibi akan do'ain non supaya tuan bisa sembuh dan berkumpul seperti dulu lagi non,” tutur bi surti


“Makasih ya bi, aku minta tolong untuk jaga rumah kalo ada apa-apa bibi tinggal bilang sama aku ya bi,” ucap vanesha


“Baik non,”


Selesai membereskan pakaian vanesha pun pamit kepada bi surti dan dia langsung menuju rumah aric, sampai di rumah aric ia langsung memencet bel.


Ting.. nong


Aric yang sedang santai diruang tamu dan ditemani oleh cemilan tiba-tiba saja ia mendengar bel rumahnya berbunyi langsung saja ia kearah suara bel.


Saat ia membuka pintunya ternyata vanesha yang sudah datang sambil membawa barang-barangnya, “Silahkan kamu masuk dan kamar kamu ada dilantai dua tepat di samping kamar saya, selesai rapikan barang kamu, tolong kamu ambilkan saya laptop yang ada dikamar saya.” perintah aric


Sampai dikamar barunya ia langsung saja membereskan pakaian ke dalam lemari, mungkin saat ini ia kagum dengan fasilitas yang ada di kamarnya. Baru pertama kali dia melihat fasilitas yang menurutnya sangat besar dan banyak.


“Sumpah tuh cowok punya rumah udah kaya istana, rumah bokap gue aja gak segede ini. Udah tinggal cuman sendiri sama pembantu, kalo gue jadi dia lebih baik gue tinggal ditempat sederhana dari pada beli rumah semewah ini tapi cuman tinggal sendiri,” tutur vanesha


“Dasar orang kaya,” gumam vanesha


Selesai merapikan pakaian ia langsung saja mengambil laptop majikannya, setelah mendapatkan barang yang ia cari. Ia langsung turun kebawah menuju ruang tamu.


“Ini laptopnya pak, kalo begitu saya permisi,” ucap vanesha


Saat vanesha ingin pergi tiba-tiba saja kakinya tersandung meja alhasil ia terjatuh menimpa aric.


Gila nih orang kalo diliat-liat ganteng juga. batin vanesha.


Vanesha langsung menepis pikirannya dan, “Jangan mandangin saya seperti itu nanti kamu jatuh cinta sama saya,” lontar aric


Dengan cepat vanesha mengubah posisinya, “Dih, siapa yang mandang bapak. kepedean banget jadi orang.” jawab vanesha


“Saya tidak yakin kalo kamu tidak jatuh cinta dengan saya,” ngelak aric


“Saya yakin.. pakai banget malah,” ucap vanesha


Aric yang melihat vanesha dengan wajah kesal hanya bisa tersenyum, jujur melihat vanesha ngamuk dan menggoda perempuan itu sangat menyenangkan.


“Nyebelin banget jadi cowok, baru kali ini gue nemuin Cowok yang kepedean banget,” gerutu vanesha


****


Pagi harinya vanesha terbangun lebih awal dan mempersiapkan apa yang diperintahkan yang ada dibuku, saat ia sedang mempersiapkan semuanya tiba-tiba saja aric memanggil dirinya.

__ADS_1


“Vanesha,” panggil aric dengan nada sedikit keras


Vanesha berlari menghampiri aric dan benar saja atasannya ini sedang mengalami kesulitan.


“Ada apa pak?” tanya vanesha


“Ambilkan saya dasi sama jam tangan saya di laci, dan sekalian pakaikan saya dasi,” perintah aric


Tanpa pikir panjang vanesha langsung mengikuti perintah dari majikannya, setelah ia mendapatkan dasi yang senada dengan bajunya ia langsung saja memakainya.


Dengan fokus vanesha memakai dasi majikannya, tidak dengan aric malah aric memperhatikan wajah vanesha yang begitu serius.


Baru kali ini saya lihat kamu dari dekat, biasanya saya tidak pernah sedekat ini sama perempuan. Mungkin cuman almarhumah ibu saya yang selalu ada buat saya, diliat-liat kamu berbeda dengan perempuan lain. batin aric tanpa membuang wajahnya malah ia dengan inci melihat wajah vanesha


Selesai memakai dasi vanesha langsung meminta izin untuk pergi dari kamar majikannya, “Kalo begitu saya permisi pak.” ucap vanesha


Selesai memakai pakaian kantor dan sarapan dimeja makan ia langsung saja pergi ke kantor. Saat vanesha ingin naik ke lantai atas tiba-tiba saja aric balik lagi.


“Ada apa pak?” ucap vanesha


“Kamu ikut saya ke kantor,” jawab aric


“Tapi pak..,”


“Kamu mau ikut saya atau mau saya pecat,” tegas aric


“Baik pak. Saya akan ganti pakaian dulu,” ucap vanesha


“Buruan, saya tidak suka menunggu lama,” sambung aric


Vanesha langsung saja ke kamarnya untuk mengganti pakaian, selesai semuanya ia langsung turun menemui aric.


“Maaf pak saya telat,”


“Buruan, kamu setir mobil saya,” ujar aric sambil memberikan kunci mobil kepada vanesha


“Baik pak,”


Vanesha menuju mobilnya aric dan dia langsung saja menjalankan mobil menuju kantor aric. Sampai di kantor vanesha turun dari mobil dan membukakan pintu mobil yang ada di kursi belakang.


“Habis ini kamu bikinin saya kopi, tapi ingat kopinya jangan manis banget dan jangan pahit banget. Kamu paham,” ucap aric


“Saya mengerti pak,”


Vanesha masuk lagi ke dalam mobil untuk memarkirkan mobil atasannya, selesai mobilnya terparkir dia langsung ke pantry untuk membuat kopi.


“Ini gimana cara bikin kopi kalo gue salah buat kopi gimana. Nanti gue dipecat lagi, biarin ajalah yang penting gue bikin kopi,” ucap vanesha berdialog sendiri.


Vanesha langsung saja membuat kopi, selesai membuat kopi vanesha menuju ruangan atasannya.


Tok.. tok


“Masuk,” ucap aric dari dalam ruangan


Vanesha membuka pintunya dan meletakkan kopinya di atas meja aric, “Ini pak kopinya kalo begitu saya permisi.” jawab vanesha


Aric meminum kopinya ternyata kopinya langsung disembur, “Kamu tidak bisa buat kopi apa, ini kopi gak enak rasanya hambar. Kan saya sudah bilang sama kamu gulanya jangan banyak dan tidak terlalu pahit, ini mah bukan kopi tapi air comberan.” bentak aric


Sabar vanesha sabar, lu harus sabar demi bunga autaristik. batin vanesha


“Maaf Pak, kalo begitu saya buatkan yang baru,” ucap vanesha dan vanesha mengambil gelas yang ada dimeja aric.


“Tidak perlu, lebih baik kamu keluar dari ruangan saya,” perintah aric


“Baik pak,”

__ADS_1


Vanesha keluar dari ruangan aric tidak itu saja malah vanesha terus saja memaki-maki aric.


“Dih, nyebelin banget jadi cowok udah untung gue buatin kopi malah bilang gak enak lagi. Dasar cowok rese gak pernah ngerti perasaan orang, kalo gak enak sama kopinya gak usah diminum, gimana cewek mau sama dia. Sifatnya aja udah kaya iblis,” gerutu vanesha


__ADS_2