
Malam harinya vanesha menuju dapur untuk sarapan, belum sempat ia sampai ke sana tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seseorang dan orang tersebut langsung membungkam mulut vanesha. Dia langsung mengikuti orang tersebut ternyata orang itu adalah zaky yang sempat ia hubungi.
“Kamu ngapain nutup mulut saya? kamu mau saya mati gara-gara kamu,”
Zaky hanya nyengir tanpa ada rasa bersalah sama sekali, “Sorry gue gak sengaja.”
“Sekarang jelasin kenapa lu tiba-tiba datang tanpa bilang dulu ke gue,”
“Masalah itu gue minta maaf gak ngabarin lu dulu, tapi gue ada berita untuk lu.”
“Berita apa?” vanesha langsung penasaran mengenai berita yang mau disampaikan oleh zaky.
“Lu tahu azriel?”
“Iya gue tahu, kenapa lu nanyain azriel?”
“Ternyata azriel itu pacar saudara tiri lu,”
“Biarin aja. lagian juga gue gak peduli,”
“Seterah lu mau percaya atau gak yang penting gue mau memberikan info penting ke lu,”
“Lu kalo ngomong jangan ke belit-belit napa gue gak paham maksud lu,”
Akhirnya zaky menceritakan semuanya yang ia dapatkan dari anak buahnya, jujur saat vanesha mengetahui berita ini dia sangat terkejut dengan info yang diberikan oleh zaky. Tapi dia tidak yakin sama ucapan zaky.
“Lu serius. Gue gak yakin kalo azriel ngelakuin itu semua apalagi bantuin rencana mawar sama ibunya, yang gue tahu azriel pasti bakal bantu mawar tapi dia harus ada bayarannya,” tutur vanesha.
“Nah makanya itu, gue ngasih info ini ke lu. Coba deh lu pikir-pikir mengenai ini, siapa tahu mereka merencanakan sesuatu,” jelas zaky.
“Oke. Gue bakal cari tahu mengenai ini, awas aja lu kalo infonya gak sesuai fakta yang lu kasih ke gue,”
“Seterah lu dah. Yang penting gue udah kasih tahu dari awal sama lu, masalah lu mau percaya atau gak itu hak lu bukan gue,”
“Iya, nanti gue akan cari tahu mengenai ini, tapi tunggu kenapa lu bisa disini?”
“Hehehe, biasa urusan bisnis. Dan ternyata lu juga disini jadi gue kasih tau aja mengenai masalah ini,”
Vanesha hanya mengangguk, “Yasudah. Lu balik sana jangan kesini lagi.”
“Lu ngusir gue,” dengan wajah sedih.
“Bukan ngusir.. tapi gue takut ketahuan sama bos gue, kalo bos gue tahu lu ada disini bisa-bisa rencana gue gagal gara-gara lu,”
“Iya.. iya gue bakal pergi, tapi lu harus ingat mengenai adik tiri lu,”
“Iya, gue tahu. Udah sana pergi,”
“Iya bawel, udah kaya ibu-ibu komplek aja lu,”
Vanesha langsung menatap tajam kearah zaky dan zaky hanya tersenyum dan pergi begitu saja. Vanesha langsung kembali dan menuju meja makan untuk makan malam.
Dimeja makan mereka bertiga hanya fokus sama makanan mereka masing-masing tanpa berbicara satupun, saat bryan selesai dengan sarapannya dia langsung pergi begitu saja meninggalkan vanesha dan aric.
Aric memperhatikan vanesha yang serius dengan sarapannya, “Saya tunggu kamu di ruangan kantor saya, kalo kamu tidak datang kamu tahu akibatnya.” tegas aric.
Vanesha melihat kearah aric dan dengan cepat dia langsung mengangguk, selesai sarapan vanesha menuju kantor pribadi bosnya. Sampai di sana ia langsung mengetuk pintu tersebut.
__ADS_1
Tok.. tok
“Masuk,” ucap aric dari dalam ruangan.
krek
Vanesha membuka pintu dan menuju kearah aric, “Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Silahkan kamu duduk dulu,”
Vanesha pun duduk, “Kamu selesaikan tugas kantor saya.” sambil memberikan laptop kepada vanesha.
“Lah kenapa jadi saya pak? Kan bapak bosnya kenapa jadi saya yang ngerjain urusan kantor bapak,”
“Kamu bisa tidak jangan panggil saya bapak! saya bukan bapak kamu,”
“Bapak kan atasan saya. Terus kalo saya gak boleh manggil sebutan 'bapak' terus saya harus panggil apa?”
Aric sebenarnya juga bingung mau jawab apa malah ia melihat kearah vanesha dengan wajah polosnya, dia ingin sekali ketawa dengan wajah vanesha yang sekarang, takutnya dia akan marah sama candaannya.
“Iya seterah kamu, yang penting saya gak mau dipanggil bapak kalo bukan urusan kantor,” tegas aric.
Aduh manggil apa dong? masa iya gue panggil om entar dia marah lagi sama gue. batin vanesha.
“Saya bingung pak mau manggil apa?”
“Panggil nama aja bisa kan,”
Nama? apa sopan kalo gue manggil dia nama? batin vanesha.
“Bagus. Kalo bukan urusan kantor kamu harus panggil saya nama tapi kalo urusan kantor seterah kamu mau manggil apa?”
• • • •
Mawar mendapatkan pesan dari azriel untuk menemuinya di cafe, langsung saja ia menuju cafe yang sudah dikirim alamatnya oleh azriel. Sampai di sana mawar mencari tempat ternyata dia melihat kearah meja pojok yang di sana terdapat satu laki-laki sedang duduk sendirian.
“Sorry saya telat,”
“Tidak masalah. Kamu tidak pesan makanan atau minuman gitu?” tanya azriel.
“Tidak,” tolak mawar.
“Oke, saya tidak mau basa-basi sama kamu, saya akan menanyakan hal serius sama kamu. Jadi gimana? kamu mau kan bantuin saya untuk membebaskan mama saya,”
“Xixi, tidak usah buru-buru mawar. Saya tahu kamu butuh bantuan saya, tapi bantuan saya tidak ada yang gratis,”
“Iya saya tahu, silahkan kamu sebutkan nominal yang kamu inginkan nanti saya akan transfer ke rekening kamu,”
Azriel tersenyum dengan ucapan mawar, “Saya tidak butuh uang kamu, ada satu syarat supaya kamu memberikan apa yang saya mau.”
“Apa syaratnya?” tanya mawar.
“Jangan terburu-buru mawar. Saya hanya minta kamu harus turutin apa yang saya mau, gimana mawar apakah kamu bisa menuruti apa yang saya minta,”
Tanpa pikir panjang mawar menyetujui permintaan azriel, “Iya, saya akan turutin apa yang kamu inginkan, asalkan kamu bisa membebaskan mama saya dari kantor polisi.”
“Itu masalah gampang, yang penting kamu sudah menyetujui apa yang saya inginkan,” ujar azriel, saat azriel ingin pergi dia membisikkan sesuatu ke telinga mawar, “Jangan sampai kamu menyesal dengan apa yang kamu ucapkan kepada saya.” sambung azriel dan azriel pergi meninggalkan mawar.
__ADS_1
Setelah kepergian azriel, mawar pun pergi untuk menemui mamanya di kantor polisi.
“Gimana sama perkembangan kamu? Apa azriel ingin membantu mama keluar dari penjara,”
“Iya, mawar sudah bilang sama dia. Dan dia menyetujui perkataan mawar,”
“Bagus sekali. Mama bangga sama kamu, saat mama bebas dari penjara mama akan balas perbuatan vanesha kepada mama,”
Mawar hanya diam tidak menjawab satu katapun, dia berharap semoga mamanya akan bebas dari penjara. dan azriel tidak akan membohonginya.
Didalam ruangan kantor azriel sedang tersenyum kemenangan dengan apa yang ia raih, dia akan memperlakukan apapun untuk mendapatkan cinta dari mawar. Apapun yang akan dibuat mawar dia akan selalu membantunya tapi tidak gratis dengan bantuan yang ia berikan kepada mawar.
“Mawar.. Mawar, pantesan aja saya tergila-gila sama kamu ternyata kamu orangnya sangat polos dan mudah untuk dibohongi. Tapi saya akan mendapatkan apa yang saya mau dari kamu mawar,” gumam azriel dengan nada licik.
Azriel berjalan mendekati jendela kantornya di sana ia melihat banyak sekali gedung-gedung yang sangat besar dan dari bawah ia melihat mobil ataupun motor yang berukuran sangat kecil.
“Selangkah lagi saya akan mendapatkan kamu mawar, hanya selangkah lagi saya akan menjadikan kamu wanita seutuhnya untuk saya,” ucap azriel sambil meletakkan tangannya ke saku kantong celananya.
Tiba-tiba saja pintu ruangannya ada yang mengetuk.
Tok.. tok
“Iya masuk,” ucap azriel dari dalam
Pintu pun terbuka menampakkan seorang laki-laki yang memakai seragam seperti dirinya, laki-laki itupun masuk dan duduk di sofa.
“Ada yang bisa saya bantu kawan,” tanya daren.
“Sepertinya kamu tahu sekali apa yang saya inginkan,”
Azriel pun duduk dihadapan daren, “Saya ingin kamu melakukan sesuatu untuk saya.”
“Melakukan apa? ada imbalannya gak kalo saya membantu anda,”
“Pasti. Saya akan memberikan apapun yang kamu inginkan,”
“Termasuk kesenangan,”
“Iya,”
“Baik. Saya akan membantu kamu, silahkan kamu beritahu saya mengenai rencana kamu,”
Azriel pun memberitahu daren tentang kebebasan ibunya mawar dan daren hanya tersenyum sinis dengan apa yang diceritakan kepada azriel.
“Ternyata dengan satu perangkap kamu mendapatkan dua sasaran sekaligus, tidak salah saya memilih teman seperti kamu,”
“Hahaha, ini baru permulaan. Pas saatnya nanti saya akan mendapatkan apa yang saya inginkan,”
“Good job my brother,”
“Kamu mengerti kan apa yang akan kamu lakukan,”
“yes I really understand and I am interested in the assignment you gave me,”
“good, please do what i want,”
Daren pun pergi, sedangkan azriel hanya menunggu kabar dari perkembangan daren.
__ADS_1